LAKUNA - Bangunan

  


Aku akan mendoakan kebahagiaanmu. Kebersamaan kita memang sangat singkat, tapi aku senang bertemu denganmu. Jika nanti kita bertemu kembali, maka kuharap kau tetap baik padaku. Kuharap pula, takdir bisa bersahabat dengan kita.

Bocah laki-laki itu berwajah pias saat tahu bahwa gadis polos itu akan dibawa pergi. Lelaki paruh baya yang berada di gubuk kecil itu datang dan sebentar lagi adalah saat perpisahan. Gadis polos itu menunduk dan menangis, berat rasanya meninggalkan bocah laki-laki yang sudah begitu akrab dengannya.

Disti terbangun tiba-tiba. Ia memimpikan bocah laki-laki itu lagi. Sebenarnya siapa dia? Dia amat tidak asing dengan gubuk yang ada di dalam mimpinya itu. Setelah mengatur nafas, Disti membuka selimut, lalu beringsut menuju meja rendah dan membuka laci kecil. Di dalam laci itu ada liontin, ia mengambil benda itu dan memperhatikannya lama, lantas ia mengalungkan liontin itu  ke lehernya yang jenjang.

***

Ketika Disti membuka pintu depan tokonya, ia kaget melihat sosok Abhra yang sudah berdiri di seberang jalan sembari melambai ke arahnya. Lelaki itu menyelempangkan tas musik, Disti bergegas menyeberangi jalan dan menghampirinya.

“Kau akan berangkat bekerja?” tanya Disti.

“Seorang manajer restoran menyuruhku bermain di restoran tempat ia bekerja. Aku juga sudah menandatangani kontrak. Ngomong-ngomong, aku ke sini mau memesan bunga rangkai,” kata Abhra.

“Baiklah, ayo … kau adalah pelanggan pertama pagi ini,” ujar Disti dan berjalan mendahului Abhra. Lelaki itu mengekor di belakangnya. “Silahkan pilih-pilih, jangan segan kalau kau mau memberikan kritik,” kata Disti terkekeh.

Lelaki itu memesan bunga rangkai yang banyak membuat Disti ingin bertanya, untuk apa sebenarnya bunga rangkai yang begitu banyak itu. Mungkin saja untuk restoran tempat ia manggung. Ia urungkan untuk bertanya. Lelaki itu membayar dan segera pergi.

Sementara di pintu, Disti dapati Arya tengah bersender sambil melipat tangan di dada. Lelaki itu berdehem dan tersenyum, “Hei,” sapanya. Ia menghampiri Disti dan, “Pagi-pagi sekali sudah dapat pelanggan, ya,” katanya.

Disti mengangguk, hari ini suasana hatinya agak ceria.

“Dia memesan bunga rangkai yang lumayan banyak,” kata Disti

“Ah, begitu?” Arya duduk di sofa dan memandangi gadis itu yang tengah menata box-box bunga untuk dijual.

***

Mobil Rawikara berhenti di perjalanan menuju kantor. Padahal hari ini ia akan melanjutkan penyelidikan. Saat Rawikara membuka kap mobilnya, tiba-tiba keluar asap yang mengepul begitu banyak. Sebetulnya Rawikara tidak membawa alat-alat otomotif karena itu dia agak sebal sekarang, walaupun ia tidak ahli dalam hal itu, tapi harusnya ia sudah mempersiapkannya sejak awal.

“Sial,” rutuknya.

Itu berarti ia harus segera memberi kabar pada temannya, Niscala yang barangkali sudah stay di kantor. Saking kesalnya, ia menendang ban mobil yang tidak bersalah.

Rawikara mengutak-atik nomor milik Niscala di layar ponselnya. Setelah menemukan kontak milik temannya itu, dia menunggu selama beberapa detik, kemudian terdengar sahutan dari seberang. Suara mengantuk itu membuat Rawikara hanya geleng-geleng.

“Dia pasti baru bangun,” gumamnya.

Semalam mereka berdua menginap di kantor. Mereka begadang hingga jam dua malam karena membahas kasus yang sedang mereka tangani. Pukul lima pagi, Rawikara pulang duluan hendak mengambil sesuatu di rumahnya.  

‘Mobilku mogok, bisa ke sini sebentar? … Kau di sana sendirian, ya? ... iya, iya … cepatlah, di sini sepi dan kita harus segera pergi ke tkp …’

Rawikara menutup sambungan teleponnya. Dan saat itu matanya tidak lepas dari sosok yang menggunakan pakaian hitam serta penutup kepala. Matanya bergerak mengikuti sosok misterius yang masuk diantara pepohonan-pepohonan yang berada di pinggir jalan. Rawikara mengikuti diam-diam.

Hutan. Penuh dengan pohon-pohon besar, sesekali ia bersembunyi di belakang pohon dan sesemakan yang besar. Rawikara berusaha tidak bersuara, bahkan berhati-hati ketika ia berjalan.

Sosok misterius itu berhenti di depan sebuah rumah kosong yang kelihatan tua. Bangunan itu penuh lumut, beberapa akar tanaman merambat di tembok-tembok yang sudah agak kumal. Rawikara bersembunyi di belakang pohon jati besar, kemudian lelaki itu masuk lewat pintu cokelat tua yang sudah merapuh. Rawikara bergerak dan memutari bangunan itu.

Di belakang ia menemukan jendela kayu yang sudah berkarat dan dipenuhi sarang laba-laba. Di sana juga ia temuka remahan kayu kering. Rawikara coba mengintip dari sana, tapi bangunan itu begitu gelap dan tidak ada lampu.

Dia menuju ke samping bangunan itu. Ada sebuah pintu kayu yang sudah lapuk. Ia menarik gagang pintu tersebut dengan keras hingga akhirnya pintu itu terbuka. Rawikara hendak masuk ke dalam, namun suara langkah kaki membuat ia segera mengurungkan niat. Rawikara bergegas pergi sebelum ketahuan. Ponselnya berdering saat ia sudah berada di pinggir jalan.

‘Iya … aku akan kembali ke mobil segera … aku menemukan sesuatu … nanti kuberitahu …’ katanya.

Rawikara melambai ketika ia melihat Niscala sudah berada di sana.

“Kau darimana saja?” tanya Niscala.

“Ayo nanti aku ceritakan di dalam mobil,” kata Rawikara segera masuk ke dalam mobil.

Mobil melaju dan Rawikara menarik napas panjang. Ada hal yang baru saja ia temui, hanya saja ia belum bisa menyimpulkan hal tersebut. Sosok dan gubuk misterius itu. Entahlah, tapi dia masih belum begitu yakin, ia akan megajak Niscala untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.

“Ke mana kau barusan? Aku sudah memesan layanan vehicle pick up untuk memesan mobilmu.”

“Terima kasih.” Rawikara menarik napas pelan.

“Ada apa?”

“Aku melihat orang aneh dan masuk ke dalam hutan sana. Di sana ada bangunan yang kosong.” Rawikara tampak berpikir, “Orang misterius itu masuk ke dalam bangunan kosong itu. Aku penasaran dan ingin memastikan sesuatu di tempat itu,” katanya lagi. “Aku baru tahu kalau di tengah hutan ada bangunan yang sudah tua dan hanya dihuni oleh orang aneh, ah … entahlah ….” Rawikara tampak frustasi.

“Kau mau kita ke sana dan memastikannya sekali lagi?” tanya Niscala.

Rawikara mengangguk, “Jangan terburu-buru, kita harus mengatur rencana. Siapa tahu pembunuh berantai itu berada di sana,” katanya.

***

Sudah hampir dua menit wanita itu berdiri di depan toko Catansia. Sesekali dia memeriksa kertas alamat yang sejak tadi ia pegang itu. Berharap agar ia benar-benar sudah sampai di tempat yang ingin ia tuju. Saat ia melihat seseorang yang ia kenal baru saja keluar dari pintu toko, ia senang.

“Arya.”

Arya menoleh ketika namanya disebut. Seseorang yang familiar melambai dan berjalan ke arahnya. “Bibi Melani,” gumamnya.

“Apa yang kau lakukan di sini? Ah, apa benar toko ini milik Disti?”

Arya mengangguk,

“Syukurlah aku tidak salah alamat,” katanya sumringah.

“Darimana Bibi tahu kalau tempat ini milik Disti?”

“Disti yang memberitahuku alamat ini, dia menyuruhku berkunjung di waktu aku senggang. Untuk apa kau ada di sini? Ngomong-ngomong di mana Disti?”

“Dia berada di dalam, ayo masuk ….”

Melanie mengikuti di belakang, “Dia pasti akan senang kalau melihat bibi berada di sini,” kata Arya.

Melanie memandang ke sekeliling dan tampak terpukau dengan  bunga-bunga yang sudah dirangkai dan tertata rapi. Ada pot-pot yang menggantung dan bunga yang sudah ditata di dalam bloom box. Tiba-tiba ia merasa nyaman saat berada di sini, tempat itu begitu teduh dan menenangkan. Ia melihat Disti tengah membawa keranjang bunga yang kelihatan segar. Gadis itu memekik nyaring.

“Bibi ….”

Melanie melambai dan tersenyum sumringah, Disti meletakkan keranjang bunganya di atas meja dan menghampiri Melanie. Mereka berdua berpelukan, “Tumben Bibi ke sini, bagaimana kabar Bibi?” tanya Disti riang.

“Baik, bagaimana denganmu?”

“Baik juga Bi, ada Arya di sini membantuku,” kata Disti.

Bibi Melanie  mengekor ke arah Arya yang tengah menyibukkan diri dengan merapikan kanvas dan alat-alat melukisnya yang belum selesai ia bereskan sebelumnya. Yang dilihat, Arya sama sekali tidak membantu seperti apa yang dikatakan oleh ayahnya, justru pria itu lebih merepotkan Disti, membuat ruangan jadi berantakkan karena sisa-sisa catnya yang berjatuhan di lantai.

“Kenapa baru sekarang Bibi berkunjung?”

“Ada begitu banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan di rumah sakit,” kata Melanie.

“Kemarin paman Rawikara dan temannya datang ke sini,”

“Rawikara dan Niscala?”

Disti mengangguk.

“Aku mendapat banyak makanan dari para tetangga yang baik. Ketimbang tidak habis, aku membaginya dengan mereka,” kata Disti menuju dapur.

Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan secangkir kopi yang ia suguhkan dihadapan Bibi Melanie.

“Terima kasih,” gumam Melanie sembari menyeruput kopinya. “Ngomong-ngomong, besok kau senggang?” tanyanya.

Disti mengernyit,

“Aku mau mengajakmu pergi ke tempat pemakaman hendak mengunjungi seorang teman di sana,” kata Melanie.

“Boleh, aku akan menemani Bibi,” sambutnya riang.

Mereka berdua mengobrol dengan lebih terbuka. Sementara tak jauh dari tempat mereka, Arya memperhatikan sembari tersenyum dan melukis keduanya dengan penuh bahagia. Dua orang saling bercengkerama dan tertawa, menceritakan kisah-kisah menghibur dan lucu. Sesekali wanita yang lebih dewasa memberikan nasihat kepada gadis yang lebih muda.

Komentar