Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

LAKUNA - Unfall

Gambar
    “Di   mana keranjang sampahmu?”  tanya Arya  setelah ia baru saja selesai mengumpulkan sampah di bagian sudut luar Catansia . Arya tengah  memegang sapu lidi dan sekop sembari mengintip ke dalam . “ Disti, ” panggil Arya Masih terdengar suara musik yang berasal dari radio. Seketika pandangan Arya menyapu sekeliling dan melihat suasana tampak asri dan nyaman, membuat orang-orang yang tinggal di sana betah dan ingin berlama-lama tinggal. Apalagi suasana pagi yang jauh dari polusi, hanya ada aroma tanaman alam yang tumbuh merambat di pilar-pilar bangunan catansia. “Kau memanggilku?” Arya menoleh seketika melihat kepala Disti tiba-tiba menyembul dari balik pintu. “Ada di mana keranjang sampahmu?” katanya. Gadis itu kembali masuk ke dalam toko dan beberapa menit setelahnya keluar menenteng tempat sampah berwarna merah ukuran selutut.   Setelah memungut semua sampah di luar, Arya memutuskan jalan-jalan di sekitar tempat tinggal Disti. Beberapa orang meny...

LAKUNA - Astuccio

Gambar
Disti sudah bisa menjalani hari-hari seperti biasa. Lagu Amor Mio  milik Sergio Santos berasal dari radio di atas meja rendah dekat tangga .  Disti menggerak-gerakkan kemocengnya, menari seorang diri. Adenium merah terselip diantara telinga dan rambutnya. Celemek berwarna abu-abu kelihatan kotor akibat debu yang ia bersihkan dari ventilasi tokonya.    Dari kemarin dan juga hari ini, Disti kelihatan mandiri dan bersemangat. Ia mencuci semua pakaian kotornya, menjemurnya di belakang rumah, membersihkan kebun di belakang dan membersihkan gudang yang penuh debu, juga mengepel dan membersihkan dapur. Kali ini tidak ada plastik makanan, ia membersihkan tokonya kemudian menata bunga di dalam box. Setelahnya ia akan beristirahat. “Hai, apa aku mengganggu?” Betapa kagetnya Disti saat seseorang muncul dari balik pintu dan menyapanya. Pemilik wajah aristokrat itu tengah tersenyum padanya kemudian melambai. Di tangan kanannya ada sekantung platik yang sudah bisa ditebak apa isin...

Lakuna - Catansia

Gambar
  “Apakah aku boleh ikut?” Nararya Aji Pamungkas  bersender pada pintu kamar ayahnya sambil melipat tangan di bawah dada. Rawikara, sang ayah  memberitahunya kalau hari ini gadis itu sudah diijinkan pulang dari rumah sakit dan Arya bersikukuh untuk ikut. “Ayolah, bukankah ayah sudah bilang akan memperkenalkan kami? Aku mau berkenalan dengan gadis itu , ” katanya. Rawikara menarik nafas panjang. Rawikara melepas jaket kulit yang sejak semalam melekat di badannya, lalu menyampirkannya pada sofa tanpa lengan dekat jendela. Arya menerobos masuk ke dalam ruangan sang ayah dan duduk di sofa. “Ayah   ... gadis itu si pemilik toko bunga di pinggir jalan, kan? Nanti aku bisa memesan bunga tabur ditaruh di makam ibu, ” kata Arya. Rawika menoleh pada Arya, "Kau boleh ikut, aku tunggu di mobil,” kata Rawikara. Arya keluar dari kamar sang ayah hendak berganti pakaian. Beberapa saat setelahnya mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Merengek seperti anak-anak membuat Arya meras...

Lakuna - Anerkennung

Gambar
  Diam-diam Arya membuntuti ayahnya ke rumah sakit. Setelah rasa penasaran mengusik pikirannya membuat ia merasa harus turun tangan. Sudah ada pertanyaan di kepalanya, ia ingin mendengar pengakuan ayahnya, setidaknya penjelasan mengenai toko bunga dan gadis muda itu.    Di sinilah Arya yang masih berada di dalam mobil yang ia parkir di depan   r umah sakit. Arya sengaja memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, kemudian setelah beberapa menit berlalu ia keluar dan menyelinap di antara orang-orang yang keluar-masuk dari pintu rumah sakit. Di dalam sana, ia melihat seseorang yang begitu familiar. Bibi Melanie, seorang suster yang juga merupakan kenalan mendiang ibunya. “Bibi Melanie,” panggilnya. Wajah suster yang ia panggil itu kelihatan ceria saat melihat dirinya berada di   sana. Melanie langsung menuju ke arahnya dan merangkul Arya  erat. “Apa kabarmu? Kenapa baru sekarang kau mengunjungiku?” tanya wanita itu sambil menuntun Arya  ke kursi tunggu yang a...