LAKUNA - Unfall
“Di mana keranjang sampahmu?” tanya Arya setelah ia baru saja selesai mengumpulkan sampah di bagian sudut luar Catansia. Arya tengah memegang sapu lidi dan sekop sembari mengintip ke dalam.
“Disti,” panggil Arya
Masih terdengar suara musik yang berasal dari radio. Seketika pandangan Arya menyapu sekeliling dan melihat suasana tampak asri dan nyaman, membuat orang-orang yang tinggal di sana betah dan ingin berlama-lama tinggal. Apalagi suasana pagi yang jauh dari polusi, hanya ada aroma tanaman alam yang tumbuh merambat di pilar-pilar bangunan catansia.
“Kau memanggilku?”
Arya menoleh seketika melihat kepala Disti tiba-tiba menyembul dari balik pintu. “Ada di mana keranjang sampahmu?” katanya.
Gadis itu kembali masuk ke dalam toko dan beberapa menit setelahnya keluar menenteng tempat sampah berwarna merah ukuran selutut.
Setelah memungut semua sampah di luar, Arya memutuskan jalan-jalan di sekitar tempat tinggal Disti. Beberapa orang menyapanya ramah, ia sesekali tersenyum membalas keramah-tamahan tersebut. Meski jarak antara rumah Arya dan Disti hanya beberapa kilo, Arya jarang keluar jalan-jalan di sekitar kalo tidak mencari sesuatu di supermarket. Bagi orang-orang, Arya adalah wajah baru yang muncul di sekitar lingkungan. Ada beberapa orang yang mulai berbisik-bisik, namun Arya hanya menanggapi dengan senyuman. Lalu setelah itu Arya kembali lagi ke Catansia.
Kayu penopang tembok yang agak retak itu tiba-tiba bergerak, sepertinya kayu tua itu tidak cukup kuat untuk menopang tembok bangunan di atasnya. Remahan kecil-kecil dari tembok itu berjatuhan di atas kepala Arya, lelaki itu tidak sadar. Dia masih tetap berdiri di sana. Tepat saat dia mendongak, remahan tembok seukuran lengan laki-laki dan kayu yang sudah patah itu jatuh di atasnya dan tepat mengenai kepalanya, ia tersungkur jatuh dan tidak sadarkan diri.
Disti yang mendengar suara bedebam keras langsung keluar. Dia berteriak membuang keranjang sampahnya asal, kemudian berlari menghampiri Arya yang sudah tidak sadarkan diri. Di tengkuk kepalanya mengucur darah segar yang membuat Disti semakin khawatir.
“Arya, Arya, bangun. Arya, bertahanlah!” seru Disti.
Arya tidak juga membuka mata.
Tiba-tiba saja gadis itu merasa de javu. Bayang-bayang kala kematian Atharya berkelebat seketika di depan mata. Gadis itu terus saja memanggil Arya dan menangis. Ia berusaha menyingkiran patahan kayu yang menindih bahu Arya. Beberapa orang menghampiri mereka, kemudian langsung membawa Arya ke dalam mobil hendak menuju rumah sakit.
Sebagian pakaian Disti berlumuran darah. Tangannya terus saja menggamit tangan Arya, memohon agar lelaki itu segera sadar.
“Ah, tss,” suara itu seketika berhasil menghentikan isakan Disti. “Jangan khawatir, aku tidak apa-apa. Ah, ada darah ya,” katanya lagi.
Disti yang saat itu tengah khawatir langsung melepaskan genggaman tangannya dan mengatakan, “Kita akan segera sampai di rumah sakit,” katanya sesenggukan. “Sakit sekali ya?” tanya Disti polos.
Arya mengangguk, “Lumayan perih, di sini,” katanya meringis sembari menyentuh darah yang masih mengucur di tengkuknya.
“Setidaknya saat sampai di rumah sakit lukaku langsung ditangani,” kata Arya. “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja,’ katanya kemudian tersenyum pada Disti. Kepalanya ia biarkan bersender di bahu gadis itu, mendengar helaan nafas panjang gadis itu.
***
“Kenapa bisa seperti ini?”
Melanie sendiri yang langsung merawat luka Arya. Melingkarkan perban pada kepalanya, juga di bagian belakang punggungnya. Sewaktu Melanie tengah bersama suster lain sedang menemani seorang pasien di taman rumah sakit, dia melihat Disti memapah Arya masuk lewat pintu rumah sakit, wanita paruh baya itu jadi khawatir dan bergegas menghampiri mereka berdua.
“Dia terkena bangunan yang jatuh di tokoku,” kata Disti pelan.
Gadis itu merasa bersalah.
“Aku ceroboh karena tidak tahu bahwa bangunan itu rusak. Aku lega karena korbannya bukan dia,” kata Arya sejenak menoleh pada Disti, “Bisa-bisa dia menjadi langganan tetap di rumah sakit ini,” kekehnya.
Melanie hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Lebih baik tidak ada yang jadi korban. Bagaimana jika ayahmu tahu, dia pasti khawatir,” kata Melanie.
“Tidak apa-apa. Nanti aku yang bilang padanya,” kata Nick. “Terima kasih bibi Melanie, kau memang selalu bisa diandalkan,” katanya lagi saat Melanie berdiri membawa perlengkapan kotak obatnya kluar dari ruangan.
“Bagaimana kepalamu?”
“Sedikit perih, tapi tidak apa-apa. Aku,kan lelaki sejati, luka seperti ini tidak mmbuatku cengeng,” guarau Arya.
Disti mendekati Arya, mengamati punggung bidang yang sudah dibalut perban. “Apa kau mau aku ambilkan pakaian ganti untukmu?” tanya Disti.
“Sudah, tidak perlu repot. Nanti akan kusuruh ayah antarkan ke rumah sakit,” kata Arya.
Seketika Disti teringat tokonya yang ditinggalkan begitu saja karena mengkhawatirkan keadaan Arya. Disti langsung menepuk keningnya, “Oh, astaga … toko. Aku harus pulang, nanti aku kembali lagi ke sini.”
Disti tergopoh-gph, tidak peduli dengan Arya yang memanggilnya. Kali ini ia berlari sambil mengkhawatirkan kondisi toknya yang ia tinggalkan dalam keadaan pintu terbuka lebar. “Semoga tidak ada pencuri, semoga tidak ada pencuri,” gumamnya terus-menerus.
Dengan pakaian yang masih penuh darah, Disti menyetop angkutan umum yang lewat di jalan. Dia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang pastinya heran dengan pakaian kumal penuh darah yang masih melekat di badannya.
Macam-macam pertanyaan pastinya di dalam benak-benak orang-orang. Ada apa dengan gadis ini? Apakah dia baru saja kecelakaan, atau apakah dia hampir dibunuh, mungkin dia yang membunuh, Gadis ini aneh, jangan dekat-dekat, dan sebagainya. Disti hanya tersenyum canggung pada orang-orang itu, nanti setelah sampai di rumah, ia akan membersihkan diri dan kembali ke rumah sakit.
Disti diturunkan di depan tokonya, lalu ia berlari ke dalam mengambil uang untuk diberikan kepada si sopir angkutan umum. Dia mengucap terima kasih dan masih berdiri di depan toko hingga angkutan umum itu menghilang.
“Semoga tidak ada pencuri yang masuk ke tokoku,” gumam Disti.
“Bagaimana keadaan laki-laki itu?”
Ada seorang wanita tua baru saja lewat menyapanya, dia adalah salah seorang yang melihat lelaki itu ditimpa bangunan toko Catansia
“Dia baik-baik saja, Nek. Rumah sakit sudah menangani keadaannya.”
“Syukurlah. Nanti apa kau akan kembali ke rumah sakit?”
Disti mengangguk, “Aku pulang karena lupa mengunci pintu toko. Aku mau membersihkan diri sebentar lalu kembali ke rumah sakit,” katanya, kemudian si Nenek mengangguk, lantas tersenyum dan berlalu meninggalkan Disti.
Disti segera masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu rapat. Kemudian ia bergegas membersihkan diri, meghilangkan noda darah yang berkerak di leher juga tangannya.
***
Disti mengubek-ubek lemari pakaian milik mendiang kekasihnya-Atha. Dia hendak mencari baju ganti untuk Arya. Ia merasakan sensai yang ia rindukan saat berada di dalam kamar Atha. Dia rindu dan membuat tangisnya seketika pecah. Rindu yang amat dalam. Setelah menemukan pakaian untuk Arya dan menghabiskan tangis, ia segera keluar dengan mata sembab.
***
“Kenapa bisa terjadi seperti ini? Barusan Melanie meneleponku, katanya kau ditimpa bangunan.”
Rawikara dengan wajah khawatir berdiri di samping anaknya. Ia datang bersama Niscala beberapa menit yang lalu.
Niscala mengulum senyum pada Rawikara yang gelisah. “Lihat, anakmu sekarang sudah membaik. Biarkan dia istirahat dulu dan sekarang tenangkan dirimu,” katanya.
“Iya ayah, aku baik-baik saja. Untung ada bibi Melanie yang langsung menanganiku saat melihat kami memasuki rumah sakit. Oh, iya, ayah … gadis itu, maksudku Disti. Apa mungkin kita bisa menyuruh seseorang untuk memperbaiki atap tokonya. Kalau tidak segera diperbaiki, nanti akan menimbulkan korban berikutnya lagi,” kata Arya, mengingat Disti yang hanya tinggal sendiri, alih-alih gadis itu menjadi korban dari atap tokonya yang roboh.
“Ehm ….”
Deheman Niscala membuat ayah dan anak itu mengalihkan pandangan pada gadis yang sudah berada di pintu. Gadis itu mengulum senyum, “Maaf aku baru kembali, aku membersihkan diri sebentar dan mengambil pakaian ganti untuk Aryaa,” katanya.
“Dia akan menginap dulu malam ini di rumah sakit,” suara Melanie membuat semua orang langsung mengalihkan pandangan ke arahnya. Wanita paruh baya itu menarik kedua sudut bibirnya, lalu, “Dokter perlu memeriksa dan memastikan keadaannya,” katanya. Lantas semua orang mengangguk.

Komentar
Posting Komentar