LAKUNA - Epilog
Dua orang sipir mondar-mandir di tengah lorong sambil membawa pistol dan alat pemukul. Pengawasan mereka tidak lepas pada orang-orang yang berada di dalam jeruji besi itu. Hingga seseorang berteriak, “Bebaskan kami,” lalu diikuti oleh para napi-napi yang sudah lama menetap di dalam sel tahanan. Sambil menendang dan memukul jeruji besi itu, si sipir tidak mau kalah, dia balas memukul masing-masing jeruji besi dengan alat pemukulnya. Keributan itu mulai berubah saat salah seorang sipir berteriak “Diam!” sambil memukul jeruji besi. Di sel tahanan paling ujung, seseorang tengah meringkuk. Dia tidak berani menatap siapapun atau mengatakan apapun. Wajahnya lelah dan lesu. Kerut-kerutan juga sudah mulai tergurat di atas keningnya, hampir semua rambutnya memutih. “Tahanan No 186, Rawikara Aji Pamungkas ada yang ingin bertemu denganmu,” si sipir mulai angkat bicara. Lelaki tua itu mengangkat wajahnya yang lesu, setengah merangkak dia mendekat ke arah jeruji besi, tangannya masih di ...