Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2022

LAKUNA - Epilog

Gambar
  Dua orang sipir mondar-mandir di tengah lorong sambil membawa pistol dan alat pemukul. Pengawasan mereka tidak lepas pada orang-orang yang berada di dalam jeruji besi itu. Hingga seseorang berteriak, “Bebaskan kami,” lalu diikuti oleh para napi-napi yang sudah lama menetap di dalam sel tahanan. Sambil menendang dan memukul jeruji besi itu, si sipir tidak mau kalah, dia balas memukul masing-masing jeruji besi dengan alat pemukulnya. Keributan itu mulai berubah saat salah seorang sipir berteriak “Diam!” sambil memukul jeruji besi. Di sel tahanan paling ujung, seseorang tengah meringkuk. Dia tidak berani menatap siapapun atau mengatakan apapun. Wajahnya lelah dan lesu. Kerut-kerutan juga sudah mulai tergurat di atas keningnya, hampir semua rambutnya memutih. “Tahanan No 186, Rawikara Aji Pamungkas ada yang ingin bertemu denganmu,” si sipir mulai angkat bicara. Lelaki tua itu mengangkat wajahnya yang lesu, setengah merangkak dia mendekat ke arah jeruji besi, tangannya masih di ...

LAKUNA - Hilang

Gambar
  Arya tidak datang lagi. Pagi itu, Disti sudah membuka toko sambil menyetel musik keras-keras tanpa memedulikan penilaian orang yang lewat. “Adhisti, apa yang terjadi padamu?” gumamnya pada diri sendiri. Apa yang dilakukan Arya kemarin sore membuat ia kepikiran terus. Tiba-tiba saat ia tengah bersenandung ria, seseorang muncul dari belakang dan langsung membungkus kepalanya dengan kain hitam. Dia meronta, tangannya mencoba memukul-mukul ke belakang, berharap mengenai orang yang sedang berada di belakangnya itu. ‘Kena’ ia sempat mendengar, ‘aww’ dari orang itu. Disti merasa tidak punya kekuatan saat dirinya merasakan mata yang berkunang-kunang, semuanya gelap dan tubuhnya lemas. *** Sudah dua hari Niscala dan Rawikara menginap di dalam jip yang bersembunyi dibalik sesemakan. Mereka memantau keadaan tapi belum ada sesuatupun yang mencurigakan. “Bagaimana dengan Arya, apa dia tidak menanyakan sesuatu?” tanya Niscala. “Dia bertanya, apa kau mengetahui soal kecelakaan ...

LAKUNA - Jarak

Gambar
  “Apa yang sudah kau bilang pada Arya? Apa kau menceritakannya soal kecelakaan itu?” Niscala tiba-tiba menggerutu saat Rawikara menjemputnya pagi itu di toko Catansia. “Mau bagaimana lagi? Aku terpaksa memberitahunya karena aku akan merasa bersalah pada keduanya jika merahasiakan ini,” ujar Rawikara, “Aku tidak mau ada hubungan diantara mereka berdua. Aku tidak mau jika suatu saat Disti tahu soal kecelakaan itu dan akhirnya membenci Arya, karena bagaimana,pun aku tidak mau anakku terluka,” tegasnya. Niscala menarik napas panjang, lalu mengatakan, “Selama kita tidak pernah mengungkit-ungkit soal kecelakaan itu, semuanya aman-aman saja,” sembari memukul dashboard jip itu. “Padahal kau sendiri yang memintaku agar merahasiakan ini pada siapapun, tapi sekarang kau yang membocorkannya pada anakmu sendiri.” “Aku tahu apa yang terbaik untuk anakku.” Hening. Rawikara tetap fokus mengendarai jipnya sementara Niscala menyenderkan tangan kirinya. Pikiran mereka berkecamuk gusar. ***...

LAKUNA - Pengakuan

Gambar
Pakaian Atha membesar ketika dikenakan oleh Rawikara dan Niscala. Otot lengan dan dada keduanya kelihatan menonjol karena tubuh mereka yang berisi, setelah sebelumnya Disti dan Arya membongkar pakaian milik Atha dan berharap menemukan pakaian yang pas untuk keduanya. “Kenapa tidak ada kabar?” tanya Niscala ketika Disti membawakan kopi untuknya dan Rawikara. “Maaf paman. Kami pindah ke perbatasan kota, lalu ibu membawaku kembali ke sini dan membuka toko bunga ini,” jawab Disti. “Saya senang karena kamu tumbuh dengan baik.” Niscala memegang pucuk kepala Disti dan mengelusnya lembut. “Tiba-tiba aku lapar. Apa di sini ada makanan untuk kami?” tanya Rawikara tiba-tiba. “Dia tidak bilang mampir di supermarket sebelum ke sini, dia terburu-buru sekali,” lanjutnya. “Tenang, tenang, tenang … kami menyimpan makanan untuk kalian berdua,” kata Arya. Mereka berempat menuju meja makan. Kedua lelaki paruh baya itu tampak melahap makanan yang ada di meja makan dengan diwarnai celoteh juga c...