LAKUNA - Hilang
Arya tidak datang lagi.
Pagi
itu, Disti sudah membuka toko sambil menyetel musik keras-keras tanpa
memedulikan penilaian orang yang lewat.
“Adhisti,
apa yang terjadi padamu?” gumamnya pada diri sendiri. Apa yang dilakukan Arya
kemarin sore membuat ia kepikiran terus.
Tiba-tiba
saat ia tengah bersenandung ria, seseorang muncul dari belakang dan langsung
membungkus kepalanya dengan kain hitam. Dia meronta, tangannya mencoba
memukul-mukul ke belakang, berharap mengenai orang yang sedang berada di
belakangnya itu. ‘Kena’ ia sempat
mendengar, ‘aww’ dari orang itu.
Disti merasa tidak punya kekuatan saat dirinya merasakan mata yang
berkunang-kunang, semuanya gelap dan tubuhnya lemas.
***
Sudah
dua hari Niscala dan Rawikara menginap di dalam jip yang bersembunyi dibalik
sesemakan. Mereka memantau keadaan tapi belum ada sesuatupun yang mencurigakan.
“Bagaimana
dengan Arya, apa dia tidak menanyakan sesuatu?” tanya Niscala.
“Dia
bertanya, apa kau mengetahui soal kecelakaan itu? Jadi ku jawab saja, Iya,”
kata Rawikara.
“Lalu?”
“Tidak
ada. Dia hanya diam. Dia mungkin sudah mulai menjaga jarak dengan gadis itu.”
“Kurasa
Arya tidak mungkin berani muncul dihadapan Disti lagi,” katanya.
“Iya,
aku tahu--”
“Gadis
itu akan kesepian lagi. Dia akan merasa sendirian. Bagaimana perasaannya, ya?
Padahal kemarin dia bersama orang itu, dan sekarang orang itu menjauhinya. Dia
tidak tahu apa-apa,” celoteh Niscala. “Ah, sudah kubilang anak-anak tidak perlu
tahu hal ini, kau hanya akan menghancurkan kebahagiaan mereka. Mengapa tidak
biarkan saja jika mereka ingin bersama!” cerocosnya.
“Aku
akan minta maaf padanya.”
“Lantas?
Kau pikir dengan minta maaf, Arya akan melupakan semuanya? Tidak. Dia tidak
akan punya muka bertemu dengan gadis itu.”
Rawikara
bergeming. Sekarang semuanya nampak rumit, mau bagaimana lagi? Seharusnya Ia
bersyukur dengan keberadaan Arya di sisi Disti.
“Lihat.
Ayo fokus lagi, dia datang.”
Mereka
melihat sosok lelaki serba hitam tengah menggendong seorang gadis dibahunya.
Namun yang lebih mengejutkannya, kali ini adalah sosok gadis yang mereka
kenali. Adhisti.
“Cepat
hubungi Arya, suruh dia memeriksa toko Disti,” suruh Niscala yang segera
melepas sabuk pengaman dan langsung keluar dari jip. Diam-diam membuntuti
lelaki itu.
Sementara
Rawikara segera mencari ponsel di jok belakang. Sial, benda yang dicari tidak
juga ketemu. Ia membongkar tumpukan snack mereka dan menemukan benda itu
terselip diantara minuman kaleng dan bekal sarapan mereka.
***
Arya
baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengenakan celana hitam di bawah
perut, rambut bagian depannya sudah panjang dan menutupi sebagian wajah
aristokratnya. Dia memeriksa ponselnya yang berbunyi sejak tadi.
Ayah.
Benda
itu dilekatkan di telinganya. Kemudian mendengar seseorang berseru dengan
nyaring.
Cepat pergi ke Catansia, dan periksa gadis itu apakah berada disana
atau tidak!
Sebelum
ia mengatakan sesuatu, ayahnya sudah menutup telepon. Arya bergegas memasang
kemejanya dan segera pergi menuju toko gadis itu.
Sesampainya
di sana, ia tidak menjumpai gadis. Arya memeriksa keadaan sekitar, namun tak
juga menjumpai gadis itu. “Adhisti, Adhisti …” panggilnya. Ia menyusuri seisi
rumah dan mematikan music bervolume tinggi itu. “Kenapa gadis itu meninggalkan
rumah dengan suara musik yang besar,” omel Arya. Lelaki itu memeriksa bagian
belakang dan mendapatkan satu set bunga berserakan di lantai. “Ah, apa yang
sudah terjadi?” Kini ia nampak khawatir dan segera menghubungi ayahnya.
“Disti
tidak berada di tokonya,” kata Arya. “Ayah, jawab aku!” hardiknya. Dari
seberang sana terdengar ayahnya dan Niscala tengah mendiskusikan sesuatu.
“Cepat
beritahu saja dia!”
“Paman,
kalian ada dimana?”
“Kau
tahu jalan yang menuju gubukku? Kami berada di sekitar jalan itu. Disti dalam
bahaya,” ujar Niscala. Arya dengan gesit kearah mobilnya dan segera menuju ke
tempat itu.
***
“Apa
kau serius mengijinkannya ikut dalam penyelidikan ini? Sejak dulu Arya tidak
tertarik menjadi detektif,” kata Rawikara yang sebenarnya tidak setuju kalau
Arya bergabung bersama mereka.
“Jika
seseorang punya keinginan untuk melindungi sesuatu, dia pasti rela melakukan
apapun. Dia akan menjaganya agar tidak tersakiti oleh siapapun,” kata Niscala.
“Arya sedang berada dalam kondisi itu, seperti halnya bagaimana dia ingin
melindungi Disti. Biarkan saja dia bersama kita, bukankah itu yang kau inginkan
sejak dulu? Menjadikannya sepertimu,” ujarnya.
“Ini
berbeda, bagaimana jika sesuatu terjadi padanya?”
“Itu
sudah resiko.”
Mereka
mengakhiri percakapan itu saat mobil Arya sudah berada di belakang jip mereka.
Wajah Arya nampak gelisah, tidak tenang. Apalagi mengingat banyaknya kasus
pembunuhan yang terjadi selama ini, membuat dirinya bergidik ngeri. Belum lagi
yang menjadi korbannya adalah Disti. Gadis yang sudah mendapat tempat di hatinya
itu.
“Apa
ayah dan paman yakin kalau gadis itu adalah Disti?” ujarnya saat Niscala
memberikan sebilah belati dan pistol padanya. Dia jadi ragu karena tidak pernah
menggunakan benda itu.
Ketiganya
menyusuri jalanan menurun, mata mereka tetap awas memerhatikan sekeliling.
Setelah sampai di sebuah bangunan tua itu mereka masuk lewat pintu belakang.
Sebelumnya, Rawikara dan Niscala jauh-jauh hari menguntit si lelaki misterius
yang membawa Disti. Mereka berhasil menemukan kunci cadangan setelah berhasil
mencoba sebanyak 234 kunci.
Mereka
memauki ruangan yang gelap, namun diujung sana muncul siluet cahaya dari
ventilasi jendela yang tua. Arya menyalakan ponselnya. Ditempat itu terdapat
sofa tua dan dibungkus kain yang sudah melepuh. Ada alat musik harpa yang
berdiri di samping tembok dan piano tua.
“Tempat
apa ini?” tanya Arya setengah berbisik.
Dia
mengekor diantara kedua detektif itu. Lahan-perlahan mereka menuruni anak
tangga. “Matikan ponselmu!” perintah Niscala. Anak tangga yang mereka lewati
masih kokoh. Rupanya, anak tangga itu terhubung dengan ruangan bawah tanah.
Tempat itu nampak luas dan agak remang. Terdapat pilar-pilar kokoh dengan
tekstur klasik. Di ruangan itu terdapat 8 tempat tidur.
Di
sana terbaring dua orang gadis, salah satunya mereka kenal sementara gadis yang
lain, entah siapa. Saat mendengar suara derit pisau yang sedang diasah,
ketiganya berpencar dan bersembunyi di balik pilar. Seketika Arya mencium bau
darah saat hidungnya tak sengaja bersentuhan dengan pilar tersebut. Dia terduduk
lesu, kaget, karena lantai yang dia pijaki juga banyak darah yang sudah
berkerak.
Pelan-pelan,
Arya berpindah dari pilar yang satu ke pilar yang lain supaya bisa mendekati
tempat Disti berbaring. Suara derit pisau yang tengah diasah terdengar amat
dekat, artinya dirinya sudah berada tidak jauh dari si lelaki misterius.
Sesekali
Arya merasa jijik, karena penciumannya sangat sensitive dengan bau darah itu.
Dia menoleh ke arah ayahnya, yang masih bersembunyi di pilar lain tak jauh
darinya. Tentu saja ayahnya merasakan hal yang sama. Darah-darah itu serasa
mengaduk-aduk isi perutnya.
Lalu
terdengar suara tawa keras. Lelaki misterius itu mendekati tempat tidur Disti
dan membuka kain penutup wajah gadis itu. Sontak Arya kaget dan hendak keluar
dari persembunyian, namun Niscala dari pilar yang lain mengingatkan supaya
tidak gegabah.
Mereka
semakin mendekat kearah si lelaki misterius. Yang pertama keluar adalah Niscala
dan langsung memukul punggung si lelaki misterius dari belakang. Rawikara
memelintir tangannya, namun si lelaki misterius berhasil meloloskan diri.
Terjadilah baku hantam di tempat itu, sementara Arya mendekati tempat tidur
Disti, membuka ikat tangan dan membangunkan gadis itu. Arya juga melepas ikat
tangan gadis lainnya dan melakukan hal yang sama.
Pergulatan
terjadi antara si lelaki misterius dan kedua detektif itu. Sesekali Niscala
terjengkang ke belakang akibat tendangan si lelaki misterius. Namun sesekali
pula si lelaki misterius terhuyung karena pukulan tangan Rawikara. Keduanya
kadang menyerang secara brutal, hingga si lelaki misterius agak kewalahan.
Arya
menyuruh kedua gadis itu naik lewat anak tangga. Tapi Disti menolak dan memilih
bersama mereka. Arya membantu kedua detektif itu, dia menarik topi hitam yang
selama ini menyembunyikan wajahnya, untungnya Arya mengetahui beberapa pukulan
judo, sehingga dia bisa menghindar saat lelaki misterius itu hendak melayangkan
bogeman pada wajahnya.
Keempat
orang itu kaget setelah topinya terbuka. Rupanya dia adalah si pemain biola dan
pembeli bunga yang pernah mampir di toko Catansia. Abhra. Lelaki misterius itu
sempoyongan, namun tidak henti ingin menyerang. Arya menarik kerah bajunya dan
melayangkan pukulan berkali-kali ke wajahnya. Saking kesal dan geramnya, dia
mematahkan jari-jari si lelaki misterius.
“Bagaimana
rasanya? Kau melakukan ini pada korbanmu, kan? Bahkan lebih jauh dari ini.
Mereka tidak bersalah. Heh, kau pikir akan selamanya bisa menghindar dari semua
masalah yang kau buat sendiri?” Arya menarik seluruh jari-jari tangan kirinya
ke belakang hingga patah, lelaki misterius itu berteriak kesakitan.
“Sudah
Arya,” kata Niscala.
Arya
menghampiri Disti dan memeluk gadis itu. “Kau sudah aman sekarang,” katanya.
Sementara kedua detektif itu sibuk mengumpulkan barang bukti dan segera
menghubungi polisi. Namun tidak ada yang menyadari bahwa si lelaki misterius
masih bisa bergerak dan mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Di tangan
kanannya memegang belati tajam, dia merangkak ke arah Arya dan langsung
menyerang punggungnya. Menusuknya berkali-kali, sementara Disti melotot dan
berteriak.
Niscala
dan Rawikara berlari menangkap si lelaki misterius yang tak lain adalah Abhra.
Abhra yang jago bermain biola, yang selama ini disangka baik oleh orang-orang.
Selama ini, sebagai pemain legal di taman demi menyembunyikan kedoknya yang
adalah seorang psikopat gila. Dia bersembunyi lewat wajah lembut dan tutur kata
halus yang dapat menarik perhatian orang-orang.
Abhra
mendorong tubuh Disti hingga terbanting ke tembok. Sementara Arya
berdarah-darah mencoba menghampiri. Niscala mengejar Abhra yang terseok-seok,
sementara Rawikara berusaha menghentikan pendarahan yang terus keluar dari
punggung dan mulut anaknya.
Tatapan
Arya mulai memburam. Disti yang merasakan kehilangan sebelumnya nampak tidak
terima. Berkali-kali dia memanggil lelaki itu, “Kau harus hidup,” katanya
terdengar egois. Nampaknya, lelaki itu sudah berada diambang kematian, dia
sekarat.
“Arya,”
panggil ayahnya. “Bertahanlah,” suara Rawikara memohon sambil merangkul anak
semata wayangnya itu. Sejenak dia menyesal karena melibatkan anaknya dalam
kasus itu. “Kau seharusnya tidak ikut campur, seharusnya aku dan Niscala yang
membereskan semua ini,” katanya berurai air mata.
“Apa
yang ayah katakana? Aku tidak bisa mendengar suaramu,” katanya terbata sembari
darah mencuat dari mulutnya.
“Tidak.
Kau masih mendengarku, aku masih bersuara. Arya, hei … Arya. Dengar, nak!”
Rawikara melambai-lambaikan tangan di depan wajah Arya yang hampir tertutup.
“Aryaaaaa.”
Disti berteriak histeris. Keduanya menangisi mayat Arya yang tergeletak tidak
bernyawa lagi. Ini kedua kalinya Disti merasa kehilangan, dan kedua kalinya
pula gadis itu menyaksikan kematian di depan matanya sendiri.
***
Abhra
terus berlari menyusuri kebun-kebun yang penuh daun berguguran dan pohon-pohon
besar. Sesekali dia bersembunyi, mengatur nafasnya yang tersengal. Sial,
tubuhnya mulai meradang kesakitan akibat pukulan lelaki itu. Sesekali dia
menengok ke belakang, memastikan apakah ada yang tengah mengejarnya atau tidak.
Dia harus segera menjauh dari tempat itu dan bersembunyi di tempat yang aman.
Apalagi wajahnya sekarang sudah dikenali, akan sangat sulit baginya untuk
keluar.
Niscala
masih diam-diam membuntutinya, dia juga sengaja bersembunyi di balik pohon yang
tidak jauh dari tempat Abhra. Sesekali Niscala mengintip apabila lelaki itu
melakukan pergerakan, beberapa menit setelahnya, Abhra menjauh. Lelaki itu
tidak menyadari kalau Niscala berada dibelakangnya, dia mendekat dan muncul
tiba-tiba menonjok hidung Abhra hingga bengkok, lalu tubuhnya terpelanting
membentur pohon. Wajahnya kelelahan, Niscala memukul dan memukulnya lagi.
“Kau
membunuh keponakanku, brengsek,”
geramnya.
Lelaki
itu balas memukulnya, hingga Niscala terpental. Abhra berdiri hendak kabur,
sementara Niscala menyergap dari belakang. Mereka berguling-guling diatas
dedaunan yang kering. Sesekali Niscala berada diatas tubuhnya sambil memukul
wajahnya. Mereka berdarah-darah, hingga lelaki itu berhasil mengambil sebatang
kayu tipis menusukkannya ke bahu Niscala, membuat detektif itu meraung kesakitan.
Niscala
berusaha mencabut kayu yang menancap di bahunya, lantas berlari mengejar Abhra
yang sebentar lagi sampai di jalanan besar. Sesekali Abhra menoleh ke belakang.
Namun dia tidak sadar kalau ada mobil truk yang tengah melaju dari arah kiri
dan menghantam dan menggilas tubuhnya. Sebagian otaknya hancur dan terceer di
jalanan, pelaku pembunuhan itu menjadi korban tabrak lari dan seketika tewas di
tempat.
Si
sopir truk keluar dan berujar kaget. “Aku tidak sengaja, dia tiba-tiba berlari
di jalan. Mau ngerem mendadak tapi tidak bisa.”
“Iya.
Dia seorang tersangka pembunuhan. Nanti kau bisa jelaskan di kantor polisi. Dia
merogoh ponselnya, hendak menghubungi polisi. Sementara si sopir truk hanya
diam di tempat dengan berkeringat di sekujur tubuhnya. Alih-alih, dirinya di
salahkan atas kasus kecelakaan yang tidak disengaja itu.

Komentar
Posting Komentar