Sampai Jumpa - Perpisahan

 


Nakamura Akito masih berendam lama di kamar mandi. Ia bahkan tidak mendengar seruan Nenek Hiyoko memanggilnya dari luar. Padahal sudah hampir tiga puluh menit ia berada di kamar mandi. Ketukan pintu kamar mandi berikutnya membuat ia kembali sadar dan langsung mengambil handuk dan memasang bajunya lalu hendak keluar.

Hari ini adalah hari terakhir mereka bersama. Hari perpisahan, membuat Nakamura Akito selalu melamun. Bahkan saat ia berada di dalam kamar dan hendak mengambil celananya, Nakamura Akito mendesah panjang. Lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

“Dia akan pergi ya,” gumamnya pelan.

Nakamura Akito menutup matanya. Bagaimanapun juga ia berusaha menahan perasaan sedihnya. Tapi air bening itu suda jatuh di atas pipi. Ia tidak tahan dan mulai menangis. Padahal kemarin ia baik-baik saja dengan perpisahan itu. Padahal ia juga yang memberikan semangat pada gadis itu, tapi lihat sekarang. Ia juga merasa paling sedih saat ini.

***

Kodachi Anna duduk di beranda rumah sambil sesekali melirik ke arah rumah tetangganya. Hari ini ia belum melihat Nakamura Akito keluar dari rumahnya, biasanya setiap hari Minggu Nakamura Akito pagi-pagi sudah memanggilnya. Tapi kali ini tidak, Kodachi Anna hanya melihat Nenek Hiyoko yang menyapu halaman rumahnya.

Hari ini teman-temannya juga akan berkunjung ke rumahnya untuk mengucapkan salam perpisahan. Lagi-lagi Kodachi Anna memperlihatkan wajah murung. Ia menggeleng keras, menepis semua keraguan bahwa mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Tidak, mereka akan tetap bertemu. Bagaimanapun caranya, mereka pasti akan tetap bertemu. Nakamura Akito sudah berjanji padanya.

 Benar juga, tidak berapa lama setelah memikirkan teman-temannya itu, Mizutani Akira dan Yamaguchi Hasumi sudah kelihatan di depan gerbang rumahnya. Mizutani Akira melambai sambil melompat-lompat agar ia kelihatan oleh gadis itu. Kodachi Anna segera membukakan gerbang untuk kedua temannya dan mempersilahkan mereka duduk di beranda rumah. Dan seperti biasa, Kodachi Uno segera mengeluarkan beberapa makanan dan minuman untuk teman-teman anaknya.

“Kukira Akito-kun sudah ada di sini.”

 Mizutani Akira mencomot roti yang masih hangat dan baru saja disajikan oleh ibu Kodachi Anna.

“Aku belum melihatnya sejak tadi. Aku hanya melihat neneknya,” kata Kodachi Anna.

***

“Hei, teman-temanmu sudah datang. Kau tidak mau mengucapkan salam perpisahan pada Anna-chan? Sejak tadi ia sudah menunggumu di rumahnya,” kata Nenek Hiyoko. Ia mengetuk-ketuk pintu Nakamura Akito.

Nakamura Akito segera bangun dari tempat tidurnya. Lalu ia segera keluar dan tanpa mengucapkan apa-apa pada neneknya yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Nenek Hiyoko hanya geleng-geleng kepala, membiarkan cucunya pergi menemui teman-temannya.

Benar saja, di sana sudah ada Mizutani Akira, Yamaguchi Hasumi dan juga Kodachi Anna yang akan berpisah dengan mereka. Untung saja gadis itu tetap tersenyum. Seharusnya ia tidak usah kelihatan sedih karena semua orang kelihatan bahagia.

“Hei, Akito-kun, kenapa baru datang? Padahal rumahmu sangat dekat dengan Anna-chan?” tanya Mizutani Akira.

“Aku bergadang semalam, jadi ketiduran setelah mandi,” bohong Nakamura Akito.

“Anna-chan, siapkan barang-barangmu ya. Mobil akan segera tiba.”

Suara ibunya dari dalam membuat keempat anak itu menoleh.

“Baik, Bu!” teriak Kodachi Anna.

Kodachi Anna, juga teman-temannya membantu mengeluarkan semua barang ke beranda. Hingga mobil jemputan bersama Kodachi Morino tiba.

“Aku akan menulis surat untukmu, Anna-chan,” kata Mizutani Akira

“Kita saling kirim juga ya,” tambah Yamaguchi Hasumi

“Kirim email saja. Kukirim surat dan email juga. Sampai jumpa, Anna-chan.

Nakamura Akito tersenyum lebar sambil melambai saat Kodachi Anna hendak masuk ke dalam mobil.

“Sampai jumpa teman-teman,” kata Kodachi Anna yang sudah masuk ke dalam mobil bersama keluarganya. Ia melambai pada teman-temannya.

Supaya tidak kehilangan cahayanya, aku akan tetap memandang ke atas. Di langit mendung, aku menemukan satu-satunya bintang, yaitu ... dirimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah