Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah

 

“Pelajaran hari ini sampai di sini.”

Bel istirahat berbunyi tepat saat Pak Urahara mengakhiri kelasnya. Di ruang kelas 2 D semua murid bangun dan memberi hormat saat Pak Urahara meninggalkan kelas. Di deretan bangku belakang, seseorang sedang tidur. Tapi tidak benar-benar tidur. Ia adalah Nakamura Akito yang hari ini merasa sangat malas untuk melakukan apa pun. Ceria atau bahkan menyapa teman-temannya pun tidak.

Ia berdiri dan menarik kursinya ke belakang. Kodachi Anna yang sejak tadi memperhatikannya langsung membuang pandang ke arah lain. Kodachi Anna melirik ke arah jendela. Di luar salju masih turun. Nakamura Akito melewatinya tanpa mengatakan apa pun. Kodachi Anna hanya menatap punggung lelaki itu yang keluar kelas.

Wajar saja. Nakamura Akito yang biasanya menarik tangannya, menyemangatinya, dan berusaha memahaminya, kini jadi mengabaikannya.

Nakamura-kun tidak akan mengerti.

  Padahal Kodachi Anna hanya ingin berada di sampingnya. Tapi malah sekarang, ujung-ujungnya Kodachi Anna hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Kodachi Anna keluar dari dalam kelas sambil membawa bukunya. Ia tidak mungkin datang dan berkumpul bersama anggota klub astronomi. Juga, ia sudah menyebabkan masalah dengan Nakamura Akito yang merupakan salah satu anggota klub itu. Jadi ia tidak memiliki keberanian untuk datang, daripada ia akan diabaikan lagi.

Ia menyingkir di antara murid-murid yang berkeliaran dan sedang mengobrol di koridor kelas. Sambil memeluk bukunya, ia memilih tempat yang sepi ketimbang keramaian. Jadi ia memutuskan untuk ke bawah pohon yang berjarak tiga meter dari lapangan sekolah. Tapi sebelum ia sampai di bawah pohon yang hendak ia tuju, ada suara yang memanggilnya.

“Anna-chan.

Mizutani Akira memanggilnya sambil berlari ke arahnya. Mungkin Mizutani Akira akan bertanya, kenapa ia memilih di luar pada saat salju seperti ini?

“Kenapa kau tidak ke ruangan klub?”

“Memangnya kenapa?”

Mizutani Akira melipat kedua tangan di bawah dada. Ia menekan tubuh ke arah Kodachi Anna, sehingga gadis itu tidak berani menatap mata Mizutani Akira.

“Apakah kalian berdua sudah janjian untuk tidak berkunjung ke klub? Ini mencurigakan.”

Kodachi Anna mundur beberapa langkah. “Nakamura-kun juga tidak datang?”

 Kodachi Anna mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Mizutani Akira yang mengangguk cepat. Lagi-lagi Kodachi Anna menunduk, mungkinkah karena ada dirinya, karena itulah Nakamura Akito tidak mau datang ke ruang klub lagi? Gadis itu merasa bersalah, ia mulai mengingat kejadian saat ia dan Nakamura Akito hampir bertengkar. Padahal hanya gara-gara pindah saja, mereka sampai adu mulut dan semuanya jadi runyam. Nakamrua Akito jadi mengabaikannya.

“Anna-chan, tahu tidak, gunung yang ada di belakang sekolah memiliki pemandangan yang bagus. Di sana juga pas kalo kita mau lihat bintang,” kata Mizutani Akira yang terus saja mengoceh sampai ia tidak sadar kalau Kodachi Anna sudah tertinggal di belakangnya. “Apakah orang-orang akan menganggapku gila karena bicara sendirian?”

Mizutani mulai sadar, lantas menepuk keningnya. Ia mundur menghampiri Kodachi Anna, “Anna-chan,” panggilnya sembari menepuk bahu gadis itu. “Ada apa denganmu? Sejak tadi kau tidak mendengarku ya?”

Kodachi Anna tersentak. “Ah, tadi apa? Sungai ya?”

Mizutani Akira melipat tangan di bawah dada sambil menggeleng cepat, tidak membenarkan perkataan Kodachi Anna. “Gunung! Aku sejak tadi bicara soal gunung. Hei, Anna-chan. Sebenarnya ada apa? Sepertinya tubuhmu ada di sini, tapi pikiranmu sedang mengembara bebas,” omel Mizutani Akira.

“Ah, maaf, Mizutani-san, aku ada urusan.”

Kodachi Anna melesat meninggalkan Mizutani Akira yang masih melongo ditinggal begitu saja. Kodachi Anna menyusuri lorong-lorong sekolah. Baginya, keluar satu orang tidak akan jadi masalah. Toh pada akhirnya klub astronomi mereka akan tetap dibubarkan karena kekurangan anggota. Setelah sampai di depan pintu ruang klub astronomi, Kodachi Anna menarik napas dalam-dalam. Ia hendak membukka pintu semakin lebar untuk masuk.

“Kenapa sifat Anna-chan negatif ya, Paman?”

Kodachi Anna mengurungkan niat. Ia terkesiap saat mendengar seseorang baru saja menyebut namanya. Mungkin lebih tepatnya sedang membicarakan dirinya. Nakamura Akito sedang berada di dalam sana.

 

***

 

“Sifat masing-masing orang memang berbeda.”

Di dalam ruangan itu tidak hanya Nakamura Akito saja, tapi Pak Urahara yang memilih berkunjung ke ruang klub astronomi. Sambil membawa daftar nilai siswa dan buku tentang etika yang selalu ia bawa. Di dalam sana, Nakamura Akito kelihatan jengkel, mengingat bahwa ia dan Kodachi Anna sudah mulai renggang. Sejak pertengkaran hari itu, jarak kembali muncul lagi. Padahal ia tidak bermaksud seperti itu. Ia tidak menginginkan hal itu. Kodachi Anna terlalu mengkhawatirkan banyak hal, gadis itu selalu menakutkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Nakamura Akito menghela panjang, kepala dan tangannya digeletakkan di atas meja.

“Paman, berikan jawaban yang bagus. Bukankah seharusnya ia tidak menyerah begitu saja? Padahal aku berusaha untuk mengerti dirinya, dan ia juga berusaha mengerti aku. Nee, Paman, benar ‘kan?” Wajah Nakamura Akito berubah serius.

Pfft.

Pfft.

Pfft.

Pak Urahara bersiul, membuat wajah Nakamura Akito jadi merah. “Benarkah? Jadi apa maksudnya?”

Pak Urahara memindahkan pandangannya dari buku pada Nakamura Akito, lelaki dewasa itu tengah menggodanya. Sementara Nakamura Akito masih kelihatan gusar di tempat.

“Padahal tadinya aku merasa senang. Maksudku, setelah pindah, bukan berarti kami tidak bisa bertemu lagi,” Nakamura Akito duduk tegap, matanya menelisik ke arah meja yang sebagian dikuasai oleh pekerjaan sekolah murid-murid Pak Urahara.

 “Jika kami ingin bertemu, kami masih bisa bertemu kapan saja, selama masih hidup. Begitu, Paman, tapi Anna-chan tidak mau mengerti.”

Sementara di balik pintu, Kodachi Anna tengah bersender sambil memeluk kedua lututnya, ia terisak perlahan.

Kodachi Anna membenci sifatnya yang suram.

Kodachi Anna membenci sifatnya yang mudah menyerah. Menjadikan pindah adalah sebagai alasan saat mengetahui bahwa ia akan kehilangan sesuatu yang berharga. Padahal, pada akhirnya ia sendiri yang melepaskannya.

Kodachi Anna selalu merasa cemas pada semua hal. Gadis itu mengusap buliran air matanya yang tumpah begitu saja. Ia akan menemui Nakamura Akito. Bukankah yang paling penting adalah perasaannya saat ini?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog