Sampai Jumpa - Epilog




Kyoto, 15 Juni.

“Siapa yang sudah membuatmu menangis?”

Nakamura Akito kecil menghampiri seorang gadis berambut pendek yang sedang berdiri di kotak pos. Gadis kecil itu menoleh, tali bajunya longgar hingga jatuh ke lengannya. Gadis kecil itu masih sesenggukan saat Nakamura Akito kecil memeluknya.

“Tenanglah.”

Nakamura Akito menepuk-nepuk bahu gadis itu, sementara si gadis kecil mengusap air matanya yang tak kunjung berhenti.

Kotak pos yang sudah delapan hari ia kunjungi itu masih saja kosong. Gadis kecil yang tak lain adalah Kodachi Anna itu merasa kecewa, padahal di minggu-minggu sebelumnya ia selalu mendapatkan surat balasan dari temannya yang berada di Tokyo.

“Apakah kau sudah merasa lebih baik?”

Kodachi Anna mengangguk. Nakamura Akito melepaskan pelukannya. Ia memberikan sebuah sapu tangan dengan background balok-balok berwarna biru tua. Dengan itu Kodachi Anna mengelap pipinya yang basah.

“Dia berhenti mengirimiku surat, dia juga tidak pernah meneleponku. Huwaaa.”

Tangisan Kodachi Anna tiba-tiba pecah, Nakamura Akito tidak tahu bagaimana mengatasi seorang gadis yang sedang menangis. Tapi ia memapah gadis kecil itu untuk duduk di akar-akar pohon yang besar. Tempat itu berdekatan dengan kotak pos, dan di sanalah Nakamura Akito menenangkan Kodachi Anna.

“Dia tidak sempat. Atau mungkin saja dia sedang sibuk, nanti pasti akan menghubungimu lagi. Jadi kau tidak boleh menangis, temanmu bukan hanya dia. Aku juga ada di sini,” hibur Nakamura Akito.

Ia berdiri, sementara Kodachi Anna tampak takjub melihatnya. Wajahnya terkena siluet matahari yang mengintip dari sela-sela dedaunan pohon yang rimbun.

“Kalau begitu, kau akan jadi temanku dan selalu bersamaku?”

Kodachi Anna ikut berdiri di samping Nakamura Akito. Wajahnya kelihatan riang. Sampai-sampai anak kecil itu tidak mau lagi membuatnya menangis.

“Eum.” Nakamura Akito mengangguk.

“Hei, apakah kau ada di sana?”

Seseorang berseru dari seberang kotak pos. Ia melambai ke arah mereka berdua. Nakamura Akito balas melambai.

“Aku harus pergi. Nah, gadis manis, jangan pernah menangis lagi. Kau harus tersenyum dan selalu ceria. Nanti wajahmu berubah jadi jelek.”

Nakamura Akito berlari meninggalkan Kodachi Anna. Berbicara sebentar dengan lelaki itu lalu mereka berdua menoleh pada Kodachi Anna. Keduanya melambai. Kodachi Anna tidak sempat berkenalan dengan bocah kecil yang sudah berlalu dan memberikan semangat untuk dirinya itu.

 

~o0o~

 

Tamat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah