LAKUNA - A Tabula Picta
Langit mendung. Satu per satu orang mulai meninggalkan pemakaman, hingga Adhisti sendirian me mandang pusara yang penuh dengan bunga tabur itu. Matanya sembab, gadis itu jatuh ke atas makam kekasihnya sambil terisak. Bibirnya pucat, ia menangis semalaman me r atapi dirinya yang sudah ditinggalkan oleh kekasih yang dicintainya itu. Dia kini enggan hidup . Dia ingin berbaring di samping makam Atharya , kalau bisa, malaikat berbaik hati untuk mencabut nyawanya sekarang juga. “Hidup bersama seratus tahun katamu? Pembohong . ” Be rcak-bercak tanah menyatu dengan pakaian hitamnya. Gemuruh di langit mulai mendera, pelan-pelan sekali, langit menjatuhkan rintikannya. Saat ia mendongak, hujan tipis-tipis menyerbu wajahnya membuat matanya agak perih. “Kenapa kau harus berjanji seperti itu? Lihat … apa yang kau lakukan padaku? Kau membuatku menangis, kau menyakitiku, kau tidak menepati janjimu , ” t eriaknya seperti orang gila. Dia berdiri, memutari makam k...