Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2020

LAKUNA - A Tabula Picta

Gambar
Langit mendung. Satu per satu orang mulai meninggalkan pemakaman, hingga Adhisti sendirian me mandang  pusara yang penuh dengan bunga tabur itu. Matanya sembab, gadis itu jatuh ke atas makam kekasihnya sambil terisak. Bibirnya pucat, ia menangis semalaman me r atapi dirinya yang sudah ditinggalkan oleh kekasih  yang dicintainya  itu. Dia kini  enggan hidup . Dia ingin berbaring di samping makam Atharya , kalau bisa, malaikat berbaik hati untuk mencabut nyawanya sekarang juga. “Hidup bersama seratus tahun katamu? Pembohong . ” Be rcak-bercak tanah menyatu dengan pakaian hitamnya. Gemuruh di langit mulai mendera, pelan-pelan sekali, langit menjatuhkan rintikannya. Saat ia mendongak, hujan tipis-tipis menyerbu wajahnya membuat matanya  agak perih. “Kenapa kau harus berjanji seperti itu? Lihat  … apa yang kau lakukan padaku? Kau membuatku menangis, kau menyakitiku, kau tidak menepati janjimu , ”  t eriaknya seperti orang gila. Dia berdiri, memutari makam k...

LAKUNA - Requiem

Gambar
Tidak apa-apa meninggalkan Disti  di tengah keramaian seperti itu. Atharya  berlari menyeberangi jalan karena tidak tahan mau buang air kecil. Di larang kencing di taman, juga tidak disediakan kamar kecil di area itu. Jadi Atharya  harus meliarkan pandangan ke segala arah untuk mencari toilet umum di tempat yang terdekat. Hanya saja, tidak sedekat yang ia pikirkan. Dia harus keluar dari taman dan menunggu jalanan yang padat oleh kendaraan. Sebenarnya, ada rambu-rambu lalu lintas, tapi jaraknya lumayan jauh dari tempat ia berdiri sekarang. Lebih lagi, toilet umum sekarang ada di depan mata , tinggal menyeberangi jalan. Tangannya merogoh saku jeansnya, benda itu masih ada di   sana. Sekembalinya  nanti  dari toilet, dia akan memberikannya pada Disti . Kendaraan sudah tidak terlalu ramai, Atharya menyeberang sambil merentangkan tangan kirinya saat ada mobil yang sedang melaju dari arah kiri. Untung saja toilet itu sepi, sehingga ia segera masuk dan menutup pin...

LAKUNA - Ode To Joy

Gambar
-CATANSIA- sebuah plat berbentuk persegi panjang itu melekat pada dinding kayu bagian luar bangunan itu. Catansia adalah toko bunga yang terletak di pinggir jalan. Ada sebuah lonceng yang menggantung di atas pintu. Biasanya, lonceng tersebut akan berbunyi kalau seorang pelanggan datang. Di sanalah Adhisti Lavanya  berada, gadis yang biasa dipanggil Disti  itu sedang menata bunga-bunganya di dalam kotak oasis, ada rose,   carnation,   baby’s breath  dan daun silver  yang sudah dikumpulkan. Dia b ersenandung mengikuti nada dari tape yang ada di anak tangga   dekat jajaran bloom box  yang sudah jadi. Disti  tersentak saat tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Atharya  baru saja kembali dari tugas layan antar pesan. Dia mengecup pipi Disti  dan membuat wajah gadis itu tampak memerah. “Kita mendapat pesanan baru lagi.  Pak Pawana  akan mengadakan pesta pernikahan putrinya, jadi dia memesan dua belas lusin carnation ...