LAKUNA - Ode To Joy
-CATANSIA- sebuah plat berbentuk persegi panjang itu melekat pada dinding kayu bagian luar bangunan itu. Catansia adalah toko bunga yang terletak di pinggir jalan. Ada sebuah lonceng yang menggantung di atas pintu. Biasanya, lonceng tersebut akan berbunyi kalau seorang pelanggan datang. Di sanalah Adhisti Lavanya berada, gadis yang biasa dipanggil Disti itu sedang menata bunga-bunganya di dalam kotak oasis, ada rose, carnation, baby’s breath dan daun silver yang sudah dikumpulkan. Dia bersenandung mengikuti nada dari tape yang ada di anak tangga dekat jajaran bloom box yang sudah jadi.
Disti tersentak saat tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Atharya baru saja kembali dari tugas layan antar pesan. Dia mengecup pipi Disti dan membuat wajah gadis itu tampak memerah.
“Kita mendapat pesanan baru lagi. Pak Pawana akan mengadakan pesta pernikahan putrinya, jadi dia memesan dua belas lusin carnation dan rose untuk minggu depan.”
“Benarkah?”
Disti merasa risih dan terganggu saat Atharya melingkarkan tangannya di pinggang rampingnya. Padahal dia harus segera menyelesaikan bloom boxnya.
“Aku senang kalau toko bunga kita laris-manis seperti ini. Semoga sekarang, tahun ini dan tahun -tahun berikutnya, toko bunga Catansia tetap mendapat pesanan. Aku berterima kasih juga pada Pak Pawana karena sudah menjadi pelanggan tetap kita,” kata Disti riang.
Setelah selesai memasukkan bunganya ke dalam kotak oasis, dia berbalik memandangi Atharya. Tangannya menggerayang di wajah lelaki itu, sementara Atharya merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak perhiasan berwarna cokelat gelap. Disti tersenyum tipis pada kotak yang diperlihatkan oleh Atharya.
Atharya yang baik akan memberikannya hadiah. Lelaki itu melepas lingkar tangannya dari pinggang Disti, sementara gadis itu mengangkat kedua alisnya, menggoda.
Atharya membuka kotak kecil berwarna cokelat gelap itu, di dalamnya ada sebuah gelang perak tertata manis di bantalannya. Seketika lelaki itu meraih tangan kiri Disti dan melingkarkan gelang itu pada pergelangan tangannya. Gadis itu takjub melihat gelang perak yang bersinar saat terkena paparan matahari. Disti tertegun akan keindahan dari gelang cantik di pergelangan tangannya.
“Nanti malam, apakah kau tidak keberatan kalau aku mengajakmu makan malam di luar?”
Disti mengangguk lalu memeluk lelaki itu. Tidak dipungkiri lagi, hari-hari Disti selalu indah saat bersama Atharya, lelaki itu tidak pernah membuatnya kecewa.
“Kau sudah harus siap saat jam tujuh malam. Ada restoran baru di ujung jalan sana.”
Atharya tersenyum,
“Selamat datang,” katanya menoleh ke arah pintu saat suara lonceng terdengar. Mereka mendapati seorang pengunjung yang berdiri tersenyum di pintu dan melihat-lihat bunga yang berjajar di jendela toko.
“Jangan lupa, ” katanya sekali lagi sambil mengedipkan sebelah matanya pada Disti, gadis itu membalas kedipannya.
Atharya menghampiri pengunjung yang baru saja datang dan menawarkan buket bunga yang ada, tak lupa juga lelaki itu menyebutkan harga satuannya. Sementara Disti kembali berjaga di kasir dan memperhatikan kedua orang itu. Atharya memang terbiasa dengan pelanggan, dia juga besikap ramah, jarang para pelanggan yang ditemui mengeluh dengan pelayanan dari Atharya, mereka semua merasa puas.
***
Sudah setengah jam Disti membongkar isi lemari pakaiannya, dia belum juga menemukan jenis pakaian yang sesuai dengan seleranya. Padahal ini bukan hari pertamanya mereka berkencan, padahal ini bukan malam pertama dia pergi makan bersama Atharya.
Disti mondar-mandir di depan lemari pakaiannya, ini tidak satu, dua kalinya dia mengalami hal seperti ini. Pada akhirnya, Disti akan meminta tolong pada Atharya untuk memilihkan pakaian yang tepat untuknya.
“Disti ....”
Dia tersentak saat Atharya sudah mengetuk pintu kamarnya. Lihat, pakaiannya terlihat awut-awutan di atas tempat tidur. Atharya hanya geleng-geleng kepala seketika melihat isi lemari Disti sudah kosong.
“Kau mau melelang semuanya, ya?”
Atharya selalu kelihatan rupawan dengan apapun yang dikenakannya. Apalagi saat ini lelaki itu mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna abu dan celana jeans panjang yang menutupi kaki panjangnya. Dia melipat lengan bajunya hingga siku dan mengeluarkan bajunya. Rambut pirangnya semakin mengkilap, rambutnya berbau lemon scent yang menyeruak ke dalam hidung Disti.
“Kau bisa menggunakan ini.”
Atharya memilih gaun berwarna merah jambu sampai atas lutut, lengannya setengah meter melebihi siku. Ada pita berwarna putih terang di bagian pinggangnya, bagian bawah agak sedikit lebar yang membuat siapapun mengenakannya akan terlihat anggun.
Disti beringsut ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Sementara rambutnya diikat dengan model pita. Lalu mereka berdua keluar bersama-sama sambil sesekali Atharya memuji penampilannya.
***
Mereka menyusuri jalan trotoar yang padat oleh orang-orang. Restoran yang akan mereka kunjungi tidak jauh dari rumah, jadi mereka tidak perlu menggunakan kendaraan dan memilih jalan kaki. Sepanjang jalan, lelaki itu terus menggenggam tangan Disti, alih-alih gadis manisnya dicuri oleh beberapa pemuda yang mereka temui di sepanjang jalan.
“Jangan tersenyum pada lelaki selain aku,” sungut Atharya yang sepertinya tidak suka kalau melihat Disti yang sejak sepanjang jalan hanya tersenyum ramah pada semua orang yang berpapasan dengan mereka. Kenal atau tidak kenal, gadis itu tetap mengulum bibirnya.
“Kau cemburu, ya? Tenang saja, hatiku tidak akan pernah jatuh ke yang lain selain dirimu,” goda Disti. Gadis itu tampak manis saat tersenyum ditambah dengan lesung pipit yang membelah pipi tirusnya. Disti meringis saat Atharya mencubit pipinya.
Rupanya ada live musik acoustik, mungkin karena ini pertama kali restoran itu buka. Lampunya agak remang-remang, di setiap meja ada lilin-lilin yang ditaruh di dalam gelas, kelihatan romantis memang. Dan di setiap sudut meja, terdapat pita bunga berwarna merah muda. Restoran itu cocok untuk para pasangan muda-mudi yang berkunjung. Tempat itu juga kelihatan klasik, ada barang-barang antik yang tertata di meja besar yang berdekatan dengan tempat kasir. Di sana juga para pasangan bisa berfoto dan menempel foto mereka pada styrofoam lebar yang tertempel pada tembok restoran. Di sampingnya ada cermin dengan bentuk persegi panjang, serta balon-balon penuh berwarna-warni, di cermin itu juga ada tulisan kaligrafi menggunakan spidol warna-warni. Di lantai bawah cermin, ada segelas spidol kecil merk ‘glass marker’ dan beberapa pelayannya juga sedang mendekor tempat itu. Masih sangat baru sekali.
Disti dan Atharya mengambil meja di bagian tengah, tepat di depan para musisi yang sedang bernyanyi. Seorang pelayan laki-laki menghampiri mereka dan memberikan buku menu berwarna gold yang bagian atasnya ada tulisan kaligrafi La Feliz ... di bawahnya terdapat mawar merah yang dibuat dari pita.
Mereka memasan Taco, Temales dan Burito serta dua gelas horchata. Selama menunggu makanan mereka datang, Atharya mengajak Disti berfoto bersama, mengambil foto gadis itu di dekat cermin dan mengambil foto gadis itu yang sedang berpura-pura menulis di cermin. Kadang mereka juga minta para pelayan untuk mengambil foto mereka berdua. Lalu bersama-sama untuk menempelkan hasil foto yang sudah dicetak di dekat kasir dan menempelkannya pada styrofoam, sebagai bukti bahwa mereka berdua sudah mengunjungi restoran itu. Mereka hanya membayar delapan peso untuk satu hasil cetakan, karena mereka adalah pasangan, pelayan kasir memberikan mereka diskon.
“Sebelum itu, aku harus mengatakannya!” kata Atharya setelah mereka kembali ke meja mereka. Meja yang semula kosong, kini sudah diisi oleh pesanan mereka.
Disela-sela mereka makan, tiba-tiba Atharya teringat sesuatu. Wajah Disti tampak kebingungan, ia menunggu Mark yang tak kunjung melanjutkan pembicaraannya. “Tharya, ada apa?” tanya gadis itu khawatir.
Atharya hanya terkekeh, “Ah ... tidak,” katanya. Dia merogoh saku jeansnya. Dia membawanya, benda yang akan diberikan untuk Disti. Sejak awal dia sudah menyiapkan semuanya, tapi Atharya tidak mau buru-buru. Tentu saja dia akan melamar Disti, tapi tidak untuk saat ini.
“Ada apa?” Disti masih khawatir, dia tahu pasti ada yang sedang disembunyikan oleh pacarnya itu. Raut wajah Atharya yang baru saja bingung dan khawatir, kini berubah jadi ceria.
“Sungguh, tidak ada apa-apa. Ah ... kau sudah mengunci pintu toko,kan?”
Laki-laki itu berpura-pura, sebenarnya dia ingin mengalihkan pembicaraan agar gadis itu tidak khawatir padanya. Juga agar Disti tidak memaksanya untuk bicara lagi, karena kalau rasa penasaran gadis itu muncul, dia pasti akan terus mencari tahu. Sebisa mungkin, Atharya akan mengalihkannya.
Disti menyipitkan kedua bola matanya, “Sudah ... ada apa denganmu? Apa ada yang ketinggalan di rumah?” Dia mendorong piring makanannya ke tengah meja, sehingga Disti bisa melipat kedua tangannya di atas meja.
“Tidak. Makanlah, aku tidak ingin kau berpikiran yang aneh-aneh. Setelah ini kita akan ke suatu tempat,” senyum ramah Atharya membuat Disti merasa lebih baik, apalagi malam ini mereka akan mengunjungi tempat lain. Atharya akan mengajaknya berkencan semalaman.
Benar saja! Setelah membayar makanannya, mereka keluar dari restoran itu dan menyusuri trotoar yang ramai. Tidak jauh dari restoran La Felaz, ada sebuah taman yang biasanya tempat para pasangan muda berkencan. Di tengah-tengah taman, seorang lelaki muda dengan biola di atas pundaknya yang kurus, rambut tipis kecokelatannya sebatas leher, beberapa helainya merambat di atas kening. Pipinya yang tirus menekan pinggang biola, matanya terpejam seolah menikmati permainannya dengan khidmat, jari-jarinya yang panjang naik-turun di atas leher biola, tangan kanan yang memegang busur gesek, bergerak-gerak mengikuti nada yang sedang ia mainkan. ‘Ode to Joy’, milik Beethoven hampir mencapai klimaks, semua orang terpukau melihat permainan biola dari musisi jalanan itu.
Riuh tepuk tangan dari para penonton.
Atharya menyentuh bahu Disti, “Aku harus ke toilet, tunggu di sini,” katanya.
Disti mengangguk, membiarkan Atharya menjauh dari pandangannya. Setelah Ode to Joy berakhir, Ashkenazy milik Chopin Waltz kembali terdengar. Lelaki itu tidak seharusnya berada di sana, seharusnya ia berada di tengah-tengah panggung dengan ribuan penonton, seharusnya ia pentas di atas panggung Internasional. Dia berhasil mencuri perhatian orang-orang dengan permainan biolanya.

Komentar
Posting Komentar