Postingan

Menampilkan postingan dengan label Slice of Life

Sampai Jumpa - Prolog

Gambar
  Pertama kali aku pindah sejak kelas lima SD. “Anna-chan, aku pasti akan selalu mengirim surat dan meneleponmu. Biarpun berpisah, kita akan tetap berteman.” Pembohong.... “Sampai jumpa, Anna-chan.” Aku paling benci kata-kata itu. Aku pikir, kami berteman baik. Mudah bagi seseorang untuk melupakan orang lain. Sesenang apa pun, pada akhirnya hari perpisahan tetap datang. Bahkan hingga sekarang, aku tidak pernah bertemu dengan anak yang mengucapkan sampai jumpa itu.

LAKUNA - Versammein

Gambar
  Pagi harinya Arya mengunjungi toko catansia. Di sana mendapati Disti tengah mengobrol dengan seorang wanita paruh baya. “Oh, apakah ini orangnya?” tanya Ibu Adibya sambil memandangi Arya. Arya menautkan kedua alisnya pada Disti, gadis itu terkekeh. “Kau yang sering datang menemani gadis ini, ya. Senang berkenalan denganmu,” ujar Ibu Adibya mengulurkan tangannya. Arya membalas uluran tangannya. “Saya istri Pak Pawana. Mungkin kau mengenal suamiku atau mungkin kalian pernah bertemu. Orang tua itu sering pergi kemana-mana,” celoteh wanita paruh baya itu. Disti terkekeh, sebaliknya Arya hanya manggut-manggut ragu karena menurutnya wanita paruh baya itu sok kenal dengannya.   “Saya Arya, senang berkenalan dengan bibi. Ini kali pertama saya melihat bibi di sini, biasanya jarang-jarang ada orang yang mengobrol sesantai bibi ketika bersama Disti,” jujur Arya, mengingat gadis lugu itu agak pendiam dan kelihatan kaku ketika bertemu dengan orang lain.   “Aduh, kau sa...

LAKUNA - Date

Gambar
  Arya mendapat kabar dari Sam, salah seorang pendistributor lukisan di gedung Paint de Epick. Empat lukisan yang dikirim oleh Arya beberapa bulan yang lalu sudah laku terjual diborong oleh orang dari luar negeri. Mendengar kabar itu membuat Arya sangat senang. Lalu dia mengirimkan dua buah lukisannya lagi ke gedung itu. Arya keluar dari kamar, kemudian menuju meja dekat televisi. Memegang gagang telepon rumah sembari memencet beberapa digit nomor yang ada di atas kertas, menunggu seseorang menyahut dari seberang. ‘Hallo …’ Sebuah suara lembut dari seberang menyambutnya. Arya tersenyum tipis, ‘ Hari ini aku tidak ke rumahmu. Nanti malam berdandanlah yang cantik, aku akan menjemputmu.’ Arya langsung menutup telepon dan tersenyum puas. Entah apa yang akan dipikirkan oleh gadis polos itu. Diam-diam Arya mengaguminya. *** Disti terkseipan setelah mendapat telepon dari Arya. Lelaki itu akan mengajaknya keluar nanti malam. Mau ke mana? Mestinya lelaki itu memberitahu ke mana mer...

LAKUNA - Ermittlung

Gambar
  Disti memperhatikan seorang lelaki yang tengah berdiri di bawah lampu pijar di seberang jalan tokonya. Sesekali pandangan lelaki itu tertuju pada tokonya hingga membuat gadis itu khawatir. Ia jadi teringat soal berita pembunuhan yang di dengar dari Paman Rawikara. Disti jadi parno. Ia pikir lelaki itu akan berbalik dan segera pergi, nyatanya tidak. Lelaki itu melangkah menuju tokonya. Disti segera mendekat ke arah pintu, mengambil sapu dan berdiri di belakang pintunya. “Permisi . ” Suara lelaki yang sudah tiba di depan tokonya itu membuat ia khawatir. Ia berpikir dua kali untuk segera keluar dari balik pintu. “Permisi.” Lelaki itu kembali berujar. Namun Disti hanya bergeming. Ia setengah memgintip dari lubang-lubang pintu yang kecil. “Permisi.” Lagi-lagi suara lelaki itu terdengar. Dengan penuh keberanian, akhirnya Disti keluar dari persembunyian. Betapa kagetnya ia saat melihat wajah lelaki itu. “Hei.” “Rupanya kau, selamat datang,” katanya ramah. Lelaki itu ad...