Kyoto, 15 Juni. “Siapa yang sudah membuatmu menangis?” Nakamura Akito kecil menghampiri seorang gadis berambut pendek yang sedang berdiri di kotak pos. Gadis kecil itu menoleh, tali bajunya longgar hingga jatuh ke lengannya. Gadis kecil itu masih sesenggukan saat Nakamura Akito kecil memeluknya. “Tenanglah.” Nakamura Akito menepuk-nepuk bahu gadis itu, sementara si gadis kecil mengusap air matanya yang tak kunjung berhenti. Kotak pos yang sudah delapan hari ia kunjungi itu masih saja kosong. Gadis kecil yang tak lain adalah Kodachi Anna itu merasa kecewa, padahal di minggu-minggu sebelumnya ia selalu mendapatkan surat balasan dari temannya yang berada di Tokyo. “Apakah kau sudah merasa lebih baik?” Kodachi Anna mengangguk. Nakamura Akito melepaskan pelukannya. Ia memberikan sebuah sapu tangan dengan background balok-balok berwarna biru tua. Dengan itu Kodachi Anna mengelap pipinya yang basah. “Dia berhenti mengirimiku surat, dia juga tidak pernah meneleponku. Huwaaa.” Tangisan Kodachi...
Komentar
Posting Komentar