LAKUNA - Versammein
Pagi harinya Arya mengunjungi toko catansia. Di sana
mendapati Disti tengah mengobrol dengan seorang wanita paruh baya.
“Oh, apakah ini orangnya?” tanya Ibu Adibya sambil
memandangi Arya.
Arya menautkan kedua alisnya pada Disti, gadis itu
terkekeh.
“Kau yang sering datang menemani gadis ini, ya. Senang
berkenalan denganmu,” ujar Ibu Adibya mengulurkan tangannya. Arya membalas
uluran tangannya.
“Saya istri Pak Pawana. Mungkin kau mengenal suamiku
atau mungkin kalian pernah bertemu. Orang tua itu sering pergi kemana-mana,”
celoteh wanita paruh baya itu.
Disti terkekeh, sebaliknya Arya hanya manggut-manggut
ragu karena menurutnya wanita paruh baya itu sok kenal dengannya.
“Saya Arya, senang berkenalan dengan bibi. Ini kali
pertama saya melihat bibi di sini, biasanya jarang-jarang ada orang yang
mengobrol sesantai bibi ketika bersama Disti,” jujur Arya, mengingat gadis lugu
itu agak pendiam dan kelihatan kaku ketika bertemu dengan orang lain.
“Aduh, kau
sangat lucu sekali, nak. Omong-omong, temani gadis ini. Dia akan tetap menjadi
Disti kami yang manis,” kata Ibu Adibya sembari mengelus pipi Disti. Istri Pak
Pawana menyodorkan keranjang makanannya pada Disti dan berlalu meninggalkan keduanya.
“Bibi itu baik sekali, ya,” kata Arya mengintip
keranjang makanan yang ada di tangan Disti, “Apa dia selalu membawakan makanan
untukmu?”
“Mereka keluarga yang baik. Kalau tidak ada Pak Pawana
dan istrinya itu, mungkin usaha tokoku tidak akan berjalan seperti sekarang
ini. Mereka telah banyak membantu kami,” gumam Disti.
“Makanan ini kelihatannya enak,” kata Arya melirik
keranjang itu, “Tiba-tiba aku jadi lapar. Mau berbagi denganku?”
Disti mengangguk.
Mereka hendak masuk ke dalam rumah, namun seseorang
tiba-tiba menarik kerah baju Arya dari belakang, membuat pria itu kaget dan
langsung berbalik. Rupanya, si nenek yang ramah itu. Disti pun ikut berbalik
dan kaget melihat Arya dan sang nenek yang saling berhadapan.
“Ternyata benar kau ke sini lagi. Kenapa buru-buru mau
masuk?”
Arya menarik napas panjang, kemudian mengulum senyum,
“Kenapa memangnya, Nek?” tanya Arya sopan.
“Ah, iya … aku
membawakan kue untukmu,” katanya dan menyodorkan bungkusan plastik pada Arya.
“Terima kasih, Nek.” Arya mengambil bungkusan plastik
itu.
“Ayo masuk dulu, Nek,” tawar Disti.
“Tidak usah. Aku mau langsung pulang. Ingat, kau harus
menghabiskan semuanya, ya …” kata si nenek menekan kalimatnya, kemudian berlalu
meninggalkan mereka berdua.
“Si nenek
menyukaimu, dia senang melihatmu,” kata Disti.
Mereka berdua masuk dan menaruh makanan yang diberikan
oleh istri Pak Pawana dan si nenek di atas meja makan. Mereka duduk berhadapan
dan diam selama beberapa menit, memperhatikan makanan yang banyak di atas meja.
“Bagaimana kalau kau menghubungi Paman dan temannya
agar mampir ke sini. Karena tidak mungkin kita menghabiskan makanan yang banyak
ini hanya berdua saja,” kata Disti.
“Baiklah,” kata
Arya.
Lelaki itu merogoh ponselnya dan mencari kontak ayahnya.
Lalu tidak menunggu lama, seseorang sudah menyahut dari seberang.
‘Ah ... ayahmu
masih tidur. Apa kau mau aku membangunkannya?’
tanya sebuah suara dari seberang. Arya yakin itu adalah suara Paman Niscala. ‘Tidak usah Paman. Aku cuman mau menyampaikan
pesan dari Disti bahwa kalian tidak perlu membeli makanan di luar. Ada banyak
makanan di sini, nanti paman dan ayah mampir ke sini saja, ya. Sampai jumpa,’
kata Arya dan langsung menutup telepon sebelum Paman Niscala berbicara.
“Aku sudah
memberitahu mereka. Mereka akan datang, tapi mungkin agak terlambat karena
Paman Niscala harus menunggu ayahku bangun dulu,” cengir Arya.
“Ayo makan!” kata Arya melihat Disti yang masih
menatapnya heran.
“Apa tidak apa-apa jika kita tidak menunggu mereka
datang?”
“Tidak apa-apa, nanti kita bisa menyisakan untuk
mereka,” kata Arya.
Disti menata makanannya di atas meja. Memindahkan
sebagian lauk ke dalam Tupperware. Lalu
keduanya duduk berhadapan sembari menikmati makanannya.
***
Sore hari Rawikara dan Niscala sudah berada di depan
toko catansia. Mereka tidak melihat sosok Arya dan Disti, sementara pintu toko
masih terbuka. Kedua orang itu masuk ke dalam dan mendapati Arya tengah melukis
sementara Disti berjaga di kasir. Gadis itu langsung berdiri saat melihat kedua
lelaki paruh baya itu tersenyum.
Arya yang sedang melukis tidak menyadari kalau sang
ayah dan pamannya sudah berada di sana. Dia sedang fokus pada lukisan yang ada
di hadapannya. Niscala mengambil tempat duduk di sofa tanpa lengan sembari
memperhatikan anak temannya itu tengah bekerja. Sementara Rawikara pergi ke
meja makan dan membuka tudung saji. Matanya keliatan berbinar, lantas ia segera
menarik kursi dan duduk di sana.
“Aku tidak ingin melewatkan makanan hari ini. Kalian
sudah makan?” tanyanya.
Disti mengangguk, “Itu untuk paman-paman berdua,”
ujarnya. “Kami sudah makan,” tambahnya.
Niscala berdiri dan menghampiri meja makan. Lalu tanpa
mengatakan apa-apa, lelaki itu langsung duduk di sana. Selagi mereka berdua
sibuk menyantapi makanannya, Arya yang sudah menyelesaikan pekerjaannya memandang
ayah dan pamannya itu.
“Hei Ayah, hei Paman … bagaimana hari ini?”
“Hei nak, kau kelihatan sangat sibuk melukis. Kami
kelaparan dan duluan makan,” sahut ayahnya tanpa menoleh kepada Arya.
Disti dan Arya saling tatap satu sama lain kemudian
mereka saling bertukar senyum. Arya berdiri dari kursinya dan menghampiri kedua
lelaki paruh baya itu.
“Bagaimana hari ini?”
“Lancar, tumben sekali kau bertanya soal hari kami?”
Arya mengulum senyum.
“Arya sering bermain di tempatku saat ibunya sedang
sibuk di luar,” kata Niscala tiba-tiba. Rawikara yang mendengar soal istrinya
disebut langsung menghentikan makan. “Ayo makan,” suruh Niscala menyadari reaksi
yang tiba-tiba berubah dari temannya itu.
“Arya mengikuti bakat ibunya,” kata Niscala, “Apa kau masih
ingat soal gadis kecil itu?” tambahnya.
Arya termenung sejenak. Ia memaksa otaknya untuk
mengingat-ingat kembali, sosok gadis kecil itu muncul dalam bayangannya. Mereka
pernah bertemu di tengah hutan, sosok kecil yang tengah berbaring ketakutan
itu. Bagaimana kabarnya?
“Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang, Paman.
Apa keluarganya tidak pernah menghubungimu lagi?”
Niscala menggeleng,
“Kami harus segera kembali ke kantor,” kata Rawikara
tiba-tiba, “Kau, nak …” katanya pada Arya. “Temani Disti sampai agak malam, dan
Disti jangan keluar malam-malam. Kunci semua pintu jika Arya sudah pergi,”
pesannya.
Disti dan Arya mengangguk.
Keduanya mengantarkan Rawikara dan Niscala hingga ke
mobil. Setelah mobil itu hilang, mereka kembali masuk ke dalam rumah.
***

Komentar
Posting Komentar