Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pelukis

LAKUNA - Versammein

Gambar
  Pagi harinya Arya mengunjungi toko catansia. Di sana mendapati Disti tengah mengobrol dengan seorang wanita paruh baya. “Oh, apakah ini orangnya?” tanya Ibu Adibya sambil memandangi Arya. Arya menautkan kedua alisnya pada Disti, gadis itu terkekeh. “Kau yang sering datang menemani gadis ini, ya. Senang berkenalan denganmu,” ujar Ibu Adibya mengulurkan tangannya. Arya membalas uluran tangannya. “Saya istri Pak Pawana. Mungkin kau mengenal suamiku atau mungkin kalian pernah bertemu. Orang tua itu sering pergi kemana-mana,” celoteh wanita paruh baya itu. Disti terkekeh, sebaliknya Arya hanya manggut-manggut ragu karena menurutnya wanita paruh baya itu sok kenal dengannya.   “Saya Arya, senang berkenalan dengan bibi. Ini kali pertama saya melihat bibi di sini, biasanya jarang-jarang ada orang yang mengobrol sesantai bibi ketika bersama Disti,” jujur Arya, mengingat gadis lugu itu agak pendiam dan kelihatan kaku ketika bertemu dengan orang lain.   “Aduh, kau sa...

LAKUNA - Date

Gambar
  Arya mendapat kabar dari Sam, salah seorang pendistributor lukisan di gedung Paint de Epick. Empat lukisan yang dikirim oleh Arya beberapa bulan yang lalu sudah laku terjual diborong oleh orang dari luar negeri. Mendengar kabar itu membuat Arya sangat senang. Lalu dia mengirimkan dua buah lukisannya lagi ke gedung itu. Arya keluar dari kamar, kemudian menuju meja dekat televisi. Memegang gagang telepon rumah sembari memencet beberapa digit nomor yang ada di atas kertas, menunggu seseorang menyahut dari seberang. ‘Hallo …’ Sebuah suara lembut dari seberang menyambutnya. Arya tersenyum tipis, ‘ Hari ini aku tidak ke rumahmu. Nanti malam berdandanlah yang cantik, aku akan menjemputmu.’ Arya langsung menutup telepon dan tersenyum puas. Entah apa yang akan dipikirkan oleh gadis polos itu. Diam-diam Arya mengaguminya. *** Disti terkseipan setelah mendapat telepon dari Arya. Lelaki itu akan mengajaknya keluar nanti malam. Mau ke mana? Mestinya lelaki itu memberitahu ke mana mer...

LAKUNA - Ermittlung

Gambar
  Disti memperhatikan seorang lelaki yang tengah berdiri di bawah lampu pijar di seberang jalan tokonya. Sesekali pandangan lelaki itu tertuju pada tokonya hingga membuat gadis itu khawatir. Ia jadi teringat soal berita pembunuhan yang di dengar dari Paman Rawikara. Disti jadi parno. Ia pikir lelaki itu akan berbalik dan segera pergi, nyatanya tidak. Lelaki itu melangkah menuju tokonya. Disti segera mendekat ke arah pintu, mengambil sapu dan berdiri di belakang pintunya. “Permisi . ” Suara lelaki yang sudah tiba di depan tokonya itu membuat ia khawatir. Ia berpikir dua kali untuk segera keluar dari balik pintu. “Permisi.” Lelaki itu kembali berujar. Namun Disti hanya bergeming. Ia setengah memgintip dari lubang-lubang pintu yang kecil. “Permisi.” Lagi-lagi suara lelaki itu terdengar. Dengan penuh keberanian, akhirnya Disti keluar dari persembunyian. Betapa kagetnya ia saat melihat wajah lelaki itu. “Hei.” “Rupanya kau, selamat datang,” katanya ramah. Lelaki itu ad...

LAKUNA - Dies Irae

Gambar
  “Semuanya sudah dimasukkan , ” kata Rawikara se sudah Arya memeriksa perlengkapan melukisnya di kursi belakang jip yang akan mereka naiki. Arya mengangguk, lalu berputar dari depan jip, dan masuk, kemudian duduk di kursi penumpang yang ada di sebelah ayahnya. “Apakah Disti tidak akan marah kalau kau membawa peralatan melukismu ke rumahnya? Kau tidak akan merepotkannya , kan?” “Tentu saja tidak, ayah. Hanya memandangi para pengunjung yang keluar-masuk dari dalam toko itu rasanya membosankan. Dia nanti akan melarangku membantunya, padahal sekarang kondisiku sudah memulih.” Rawikara menyentuh bahu anaknya yang habis kejatuhan bangunan itu, lalau sntak Arya meringis kesakitan. . “Bukankah barusan kau bilan g kau baik-baik saja? Baru saja kusentuh bahumu kau sudah kesakitan, ” kata Rawikara. “Ayah terlalu menekannya, makanya sakit.” “Alasan.” Mobil j ip itu berhenti di depan toko Catansia. Rawikara membantu Arya mengeluarkan peralatan untuk melukis dan membawak...