LAKUNA - Date
Arya
mendapat kabar dari Sam, salah seorang pendistributor lukisan di gedung Paint
de Epick. Empat lukisan yang dikirim oleh Arya beberapa bulan yang lalu sudah
laku terjual diborong oleh orang dari luar negeri. Mendengar kabar itu membuat
Arya sangat senang. Lalu dia mengirimkan dua buah lukisannya lagi ke gedung
itu. Arya keluar dari kamar, kemudian menuju meja dekat televisi. Memegang
gagang telepon rumah sembari memencet beberapa digit nomor yang ada di atas
kertas, menunggu seseorang menyahut dari seberang.
‘Hallo …’
Sebuah
suara lembut dari seberang menyambutnya. Arya tersenyum tipis, ‘Hari ini aku tidak ke rumahmu. Nanti malam
berdandanlah yang cantik, aku akan menjemputmu.’ Arya langsung menutup
telepon dan tersenyum puas. Entah apa yang akan dipikirkan oleh gadis polos itu.
Diam-diam Arya mengaguminya.
***
Disti
terkseipan setelah mendapat telepon dari Arya. Lelaki itu akan mengajaknya
keluar nanti malam. Mau ke mana? Mestinya lelaki itu memberitahu ke mana mereka
akan pergi. Sebenarnya Disti ingin meneleponnya kembali, sayangnya, ia tidak
punya nomor telepon lelaki itu.
Ia
pun tidak menyadari bahwa istri Pak Pawana sudah berdiri di depan pintu
tokonya. Wanita paruh baya itu mengulum senyum, mungkin heran karena Disti
tidak mendengar suara lonceng yang beberapa kali berbunyi. Disti menghampiri
wanita paruh baya itu dan menyapanya ramah, mereka berdua saling bertukar kabar
dan cerita.
“Aku
senang kalau kau baik-baik saja. Suamiku bilang, kau punya teman baru ya?
Siapa?”
Disti
yang mendapat pertanyaan itu hanya kikuk di tempat. Dia tersenyum sambil
mengusap pelipisnya. “Seorang teman yang tinggal di dekat sini,” jawabnya.
“Apa hari ini dia akan datang lagi?” goda
istri Pak Pawana
“Tidak.”
“Padahal
aku ingin melihatnya langsung.”
Wanita
paruh baya itu menyodorkan keranjang yang sejak tadi dibawanya. Istri Pak
Pawana amat baik, wanita paruh baya itu seperti menganggap Disti sebagai anak
sendiri.
“Makanlah.
Jangan menolak pemberianku. Aku sudah tidak memasak lagi untuk anak gadisku
karena dia sudah punya tanggung jawab mengurusi rumah tangganya sendiri. Jadi
aku ingin berbagi denganmu, jangan sungkan. Kaupun bisa membaginya dengan
temanmu itu,” kata Ibu Adibya, istri Pak Pawana.
“Terima kasih,” kata Disti sembari memeluk
wanita itu.
Disti
merasa terharu karena diperlakukan sangat baik oleh orang lain. Istri Pak
Pawana mengulum senyum lantas menepuk-nepuk punggung Disti. “Keluarga kalian
selalu baik padaku, juga pada Atha. Terima kasih,” gumam Disti sampai-sampai
tak bisa menahan air matanya yang mengalir di pipi.
***
Di
dalam rumah sakit yang lengang, ada
seorang pasien yang nyaris tidak terselamatkan. Tubuhnya dililit oleh
selang-selang infuse yang tertanam di punggung tangan kirinya. Garis-garis
kecil bergerak naik-turun di dalam layar monitor yang ada di atas meja nakas.
Sungkup oksigen terpasang di atas hidungnya sebagai alat untuk penyambung
hidup. Sejak semalam, ia belum membuka mata. Seorang wanita paruh baya yang tak
lain adalah ibunya mondar-mandir di depan ruang rawat, kelihatan begitu
khawatir. Sesekali ia duduk di kursi tunggu sembari berdoa untuk keselamatan
anak gadisnya.
“Dia
mengalami koma. Berdoa dan berharap keajaiban datang agar ia segera sadarkan
diri.”
Begitu
kata dokter setelah selesai memeriksa keadaan anak gadis satu-satunya itu.
Orang tua mana yang tidak sedih dan khawatir ketika melihat anak semata
wayangnya kini terkapar tidak berdaya, wanita paruh baya itu tak bisa menahan
sedih. Tiba-tiba tangisnya pecah begitu saja, namun sesekali ia menarik nafas
dan membesarkan hati.
Sementara
lelaki yang tak lain adalah calon tunangannya itu tetap setia menjaganya di
luar. Sesekali lelaki itu mengintip dan masuk ke dalam ruang rawat, lalu
menemani calon ibu mertuanya sembari menenangkan.
“Tante
pulang dan beristirahatlah, aku akan menjaga Naya di sini,” kata Ricky melihat
calon mertuanya dalam keadaan lemas.
Sementara
wanita paruh baya itu hanya menggeleng lemah. “Bagaimana bisa aku tenang jika
berada di rumah? Naya dalam kondisi seperti ini. Jika di rumah, aku akan
semakin khawatir, aku ingin melihat putriku bangun,” katanya. Wajahnya tampak
lesu, “Terima kasih Ricky, kau sudah mau menemani tante dan menjaga Naya,
padahal kau juga pasti sangat sibuk.”
“Tidak
apa-apa, tante. Aku bisa menyuruh orang-orangku untuk menyelesaikan pekerjaan
di kantor.”
Wanita
paruh baya itu tersenyum dan mengangguk. Kemudian suasana lengang kembali,
keduanya diliputi harapan agar Naya segera bangun sadarkan diri.
***
Pada
pukul tujuh malam, Arya sudah berpakaian rapi. Sudah beberapa hari ini
FURY-mobilnya tidak keluar dari bagasi. Ayahnya belum pulang sejak semalam
karena kesibukan kasus yang tengah ditangani.
Arya
mengendarai mobilnya menuju toko Catansia. Setelah sampai di sana, ia segera
keluar dari mobil dan mengetuk pintu. Padahal sebelumnya ia berharap agar gadis
itu sudah berdiri di depan toko dan menyambutnya. Beberapa menit ia menunggu di
luar, gadis itu membuka pintu. Namun betapa shocknya Arya saat melihat gadis
itu masih memakai pakaian yang biasanya ia pakai.
Apakah untuk pergi
makan malam, ia akan mengenakan pakaian seperti ini, huh?
Dengus Arya dalam hati.
“Apa
kau tidak lupa dengan pesanku tadi pagi? Aku, kan menyuruhmu berdandan,” kata
Arya menahan emosi.
“Kau
mau mengajakku keluar?” tanya Disti polos.
Arya
mengangguk,
“Oh
begitu? Baiklah, tunggu sebentar. Aku mau bersiap-siap dulu. Habisnya kau
langsung mematikan telepon. Tidak mengatakan apapun selain menyuruhku
berdandan,” kata Disti.
Arya
menarik napas, “Maaf,” katanya.
Disti
meninggalkan Arya dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai ia duduk di depan
cermin. Disti jadi ingat pada Atha, saat mendiang kekasihnya itu mengajaknya
pergi berkencan. Ia ingat ketika ia bingung mau mengenakan gaun yang mana dan
meminta Atha untuk memilihkan gaun yang akan ia kenakan malam itu.
Atharya.
Andai saja lelaki itu masih hidup, mereka pasti akan bahagia dan pergi
berkencan tiap malam. Melakukan apapun yang mereka inginkan. Atha akan
mengatakan bahwa dirinya sangat cantik setiap hari, Atha akan selalu membuatkan
Disti sarapan, Atha yang selalu membangunkan Disti tiap pagi. Ah, Atha … ia
jadi merindukan lelaki itu.
Namun
ia segera ingat pada Arya yang sedang menunggunya di luar. Ia melihat pantulan
dirinya di depan cermin rias, mengenakan gaun biru gelap selutut berenda bunga.
Ia mengambil liontin perak di dalam laci meja rias dan melingkarkannya di
leher. Setelah merasa sudah siap dengan dandanannya, ia segera keluar dan
mendapati Arya yang tengah bersender di mobil dan sibuk mengutak-atik
ponselnnya.
“Hei,” sapa lelaki itu ketika melihatnya
mendekat.
“Maaf karena membuatmu menunggu lama,”
katanya.
“Tidak apa-apa. Ayo masuk!”
Lelaki
itu membukakannya pintu mobil dan mempersilahkan Disti masuk. Mobil melaju
meninggalkan pekarangan toko catansia. Disti tidak menyadari kalau sesekali
Arya meliriknya, lelaki itu kagum melihat Disti yang berbeda dari biasanya.
Disti memang cantik, apalagi dengan polesan makeup yang tidak menor. Intinya
hari ini Disti kelihatan lebih cantik dan manis
dari biasanya.
“Kita
mau ke mana?” tanya Disti.
“Oh
iya. Aku mau mentraktirmu makan malam di luar, lukisan yang beberapa bulan lalu
ku kirim ke Paint de Epick sudah
laku. Jadi aku mau merayakannya denganmu.,” ujar Arya.
“Benarkah?
Selamat ya,” balas Disti ikut senang.
***
Tempat
itu kelihatan klasik, di pintu terdapat lampu-lampu kecil berkelap-kelip,
suasana di dalam agak meremang, tapi romantis bagi pasangan kekasih. Di bagian
depan restoran, ada kolam dan patung-patung ikan kecil yang terselip di antara
batu-batu alam. Ikan-ikan kecil itu mengeluarkan air dari dalam mulutnya, juga
dari sela-sela batu alam mengalir air bening. Arya dan Disti menyantap makanan
yang sudah mereka pesan.
“Setelah
ini, mau ke garden avenue melihat
permainan temanmu itu?” tanya Arya setelah ia membersihkan mulutnya dengan tisu
pembersih mulut yang sudah disiapkan di masing-masing meja mereka.
“Boleh.”
Setelah
membayar di kasir, mereka berdua menuju garden avenue dan mendapati Abhra
tengah larut dalam permainan biolanya. Para penonton mengelilingi Abhra yang
tengah memainkan For Elise hingga
selesai. Semua memberi tepuk tangan, kemudian Abhra berkeliling meminta bayaran
sembari menyodorkan topi flat capnya.
Arya
dan Disti meninggallkan tempat itu sebelum menyapa Abhra. Mereka tidak tahu
kalau diam-diam mata Abhra mengekor ke arah mereka dengan memasang senyum
sinis. Setelah tempat itu sepi, Abhra bersiul dan memasukkan alat musiknya ke
dalam tas.

Komentar
Posting Komentar