LAKUNA - Ermittlung
Disti memperhatikan seorang
lelaki yang tengah berdiri di bawah lampu pijar di seberang jalan tokonya. Sesekali
pandangan lelaki itu tertuju pada tokonya hingga membuat gadis itu khawatir. Ia
jadi teringat soal berita pembunuhan yang di dengar dari Paman Rawikara. Disti
jadi parno. Ia pikir lelaki itu akan berbalik dan segera pergi, nyatanya tidak.
Lelaki itu melangkah menuju tokonya. Disti segera mendekat ke arah pintu,
mengambil sapu dan berdiri di belakang pintunya.
“Permisi.”
Suara lelaki yang sudah tiba
di depan tokonya itu membuat ia khawatir. Ia berpikir dua kali untuk segera
keluar dari balik pintu.
“Permisi.” Lelaki itu
kembali berujar.
Namun Disti hanya bergeming.
Ia setengah memgintip dari lubang-lubang pintu yang kecil.
“Permisi.” Lagi-lagi suara
lelaki itu terdengar.
Dengan penuh keberanian,
akhirnya Disti keluar dari persembunyian. Betapa kagetnya ia saat melihat wajah
lelaki itu.
“Hei.”
“Rupanya kau, selamat
datang,” katanya ramah.
Lelaki itu adalah si musisi
jalanan di garden avenue yang pernah ia tonton bersama Atha. Lelaki itu
pula yang ia temui di pemakaman saat upacara pemakaman kekasihnya.
“Ke mana saja kau? Aku baru melihatmu sekarang.
Bagaimana keadaanmu?” tanya Disti ramah.
“Baik. Bagaimana denganmu?”
“Baik. Mari silahkan masuk.”
Lelaki itu masuk ke dalam
tokonya dan melihat-lihat bunga yang ada di dalam box. Biasanya lelaki itu
pasti membawa alat musiknya, tapi kali ini tidak. Saat ia bertemu dengannya di
pemakaman juga begitu.
“Oh iya … aku Abhra.
Omong-omong tokomu laris, ya ….”
“Begitulah. Aku senang
melihatmu dalam keadaan baik. Sekarang kau jauh lebih sehat dan bersemangat.
Aku senang kau sembuh dari keterpurukan,” kata Abhra.
“Begitulah. Kalau kau
percaya bahwa di dunia ini kau tidak hanya sendirian, maka hidupmu jauh lebih
baik, duduklah, aku akan membuatkanmu kopi,” kata Disti.
Lelaki itu menurut. Lalu
matanya mengekor mengikuti ke mana Disti pergi. Setelah itu ia memperhatikan
sekeliling dan menangkap sesuatu di dalam ruangan. Ia melihat sebuah lukisan
yang di pajang di ruang tengah.
“Apa kau yang melukisnya?”
“Tidak. Itu lukisan Arya,
dia hebat yaa ….”
Disti menyajikan secangkir
kopi untuk Abhra, lelaki itu hanya manggut-manggut. Namun mata kedua orang itu
beralih pada sebuah ketukan di pintu. Di sana sudah berdiri Arya yang
tiba-tiba muncul dengan tatapan angkuhnya tertuju pada Abhra. Lantas ia segera
berjalan menuju ke arah mereka berdua.
“Ada tamu, ya?” Arya duduk
di samping Disti.
“Iya. Dia seorang musisi
jalanan. Dia pernah membantuku juga saat upacara pemakaman Atha,’ kata Disti.
Arya manggut-manggut,
“Kau mau minum kopi?”
“Tidak perlu,” katanya.
“O iya … Abhra kenalkan dia
Arya, pemilik lukisan yang tadi kubilang. Arya ini Abhra,” kata Disti
memperkenalkan kedua orang itu. “Kapan-kapan kau harus melihat permainannya,
dia luar biasa sekali,” tambah Disti.
“Tidak, kau jangan
melebih-lebihkan. Aku hanya seorang musisi jalanan,” kata Abhra.
“Kalau dia bilang bagus,
berarti benar-benar bagus,” kata Arya sopan.
Suara lonceng berbunyi
membuat Disti segera beranjak dari tempat duduknya. Ternyata di sana sudah
berdiri Pak Pawana tengah mengucap halo padanya. Pak Pawana datang membagikan
hasil penjualan bunga yang laku pada Disti. Gadis itu kelihatan senang karena
semua bunga laris di pasaran. Besok Pak Pawana akan memesan bunga lagi.
“Rupanya kau sedang ada
tamu, ya,” kata Pak Pawana sejenak menoleh pada dua orang lelaki yang tengah duduk
di sofa itu. “Maaf mengganggu, sekarang kembalilah dan temani para tamu-tamumu.
Aku akan segera pulang.”
Disti menggeleng, lalu
katanya, “Tidak sama sekali. Anda tidak mau duduk sebentar bersama kami?”
“Tidak. Istriku sudah
menunggu di rumah. Andi juga sudah menunggu di luar. Sampai jumpa Disti,”
katanya kemudian melambai sembari pergi meninggalkan Disti.
Tatapan Disti tetap
mengawasi Pak Pawana hingga mobilnya lesap. Kemudian setelah kepergian Pak
Pawana, Disti kembali menemui para tamunya. Kedua orang itu hanya diam.
“Darimana kau belajar
bermain biola?” tanya Disti memecah keheningan.
“Ayahku. Sejak kecil ayah
mengajarkanku bermain biola. Ode to joy yang kemarin kumainkan adalah musik
yang dimainkan oleh ayahku sebelum meninggal,” kata Abhra.
“Oh, maaf.”
Arya mencuri pandang pada
Disti karena gadis itu kelihatan sangat sungkan pada lelaki yang kini di
hadapannya itu. Merasa diabaikan, Arya menuju lukisannya dan melukis pada
kanvas yang kosong. Ponselnya berbunyi dan ia keluar saat kedua orang itu tengah
mengobrol. Seseorang dari seberang tengah berbicara.
***
-Bagaimana
kabarmu?-
Suara
gadis dari seberang itu terdengar lembut. Arya meremas jari telunjuknya dengan
jari tengah. Gadis yang sudah beberapa hari
diabaikan karena takut merusak kebahagiaannya itu terdengar parau.
Apakah dia baik-baik
saja? Batin Arya.
Arya menghela sangat lama.
Sakit hati yang menyeraangnya beberapa hari yang lalu kambuh lagi. Penuturan
gadis itu tentang caln tunangannya kini kembali terngiang di telinga. Kenapa
sih ia harus mengangkatnya? Kenapa sih ia harus mendengar suaranya? Padahal
lebih baik tidak perlu ada komunikasi lagi.
Aku baik-baik saja?
Bagaimana denganmu?
Aku juga baik-baik saja. Kau ada di mana sekarang?
Di luar. Sedang tidak di rumah.
Arya menjawab singkat. Dia
mendengar tarikan napas yang lama dari seberang. Memberitahu Naya kalau dia
sedang berada di tempat Disti akan membuat salah paham. Naya tidak mengenal
Disti, takutnya gadis itu akan menanyainya macam-macam.
Baiklah, sampai jumpa.
Dia mengklik tombol merah
setelah gadis itu mengakhiri kata-katanya. Tiba-tiba jip ayahnya sudah berada
di depannya. Arya sontak kaget melihat ayahnya dan Paman Niscala ke toko
catansia.
“Hei
ayah, Paman Niscala,”
sapanya.
“Kau sedang apa di luar? Mana Disti”
tanya ayahnya dan Niscala
berbarengan.
“Dia
sedang menemani tamunya
di dalam,” katanya kemudian melirik ke dalam toko. “Ngomong-ngomong, kenapa kalian ke sini? Ada korban lagi?” tanya Arya.
“Bukan
korban, hanya menemukan keberuntungan sedikit. Ada barang bukti di sekitar sini,” kata ayahnya setengah berbisik.
“Paman ….”
Raut wajah Niscala dan
Rawikara berubah ketika mendapati Disti sudah berada di pintu bersama seorang
laki-laki yang tidak mereka kenal. Disti hendak mengantar tamunya keluar.
“Sampai
jumpa Disti dan sampai
bertemu kembali, Arya,” pamit Abhra. Lelaki itu melempar senyum pada Rawikara dan Niscala,
lantas kedua orang itu membalas kikuk.
Setelah kepergian Abhra,
mereka berempat masuk ke dalam toko. Namun Niscala menarik lengan Arya dan
mereka mengekor di belakang Disti dan Rawikara. “Kau mengenal lelaki itu?”
Arya menggeleng, Ini kali
pertama aku bertemu dengannya. Kenapa Paman?”
Tidak apa-apa. Sudahlah.
Mereka duduk di sofa,
sementara Disti pergi membuatkan minuman. Bagaimana kasus yang sedang kalian
tangani? Sibuk sekali, ya,” kata Arya.
Rawikara menghela panjang,
Kami menemukan beberapa bukti di sekitar sini. Sarung tangan yang dilumuri
darah, juga beberapa alat bedah yang sudah berkarat di jalanan. Mungkin saja si
pembunuh sengaja membuang barang bukti atau bisa jadi tidak. Bisa pula si
pembunuh adalah seorang ahli bedah yang psikopat.”
Dokter psikopat?” selidik Arya.
Bukan. Bisa jadi bukan
seorang dokter. Bisa jadi orang biasa, orang-orang yang pernah berpapasan
dengan kita namun tidak kita sadari,” kata Niscala.
“Para
psikopat gila adalah pembunuh yang tidak kenal ampun. Para pembunuh biasanya
menyembunyikan identitas mereka dengan bergaul bersama orang-orang biasa,
sehingga kita sendiri tidak sadar bahwa di
masing-masing
orang banyak itu, ada salah satu diantara mereka adalah pembunuh berdarah
dingin. Para pelaku kejahatan seperti itu bergaul bersama orang-orang sehingga tidak mudah
ketahuan.”
Arya menghela panjang,
“Untuk itu ayah dan Paman harus berhati-hati pada bukti yang ada.
Terkadang bukti yang muncul bisa salah target. Apakah kalian mau menangkap
orang yang salah sementara si pembunuh melanjutkan aksinya di luar sambil
menertawai kebodohan polisi dan detektif? Tentu saja, tidak,kan?” Arya terkekeh.
Rawikara dan Niscala saling
tatap kemudian keduanya mengernyit sembari menatap lelaki muda yang ada di
hadapannya itu. “Lalu kenapa kau tidak jadi detektif saja?”
tanya Niscala.
“Aku
tidak tertarik, Paman,”
kata Arya.
Disti kembali sembari
membawa nampan minuman. Setelah beberapa lama memperbincangkan banyak hal,
kedua detektif itu memutuskan kembali ke kantor mereka.
Sementara Arya kembali duduk
di depan kanvasnya dan melanjutkan lukisannya yang belum selesai. Beberapa
menit berlalu dan rambutnya kelihatan acak-acakan. Kuas yang dipegang tidak
sengaja tersapu di wajahnya yang putih. Disti terkekeh melihat tingkah lelaki
itu.
"Arya,” panggilnya.
Lelaki itu menoleh sejenak,
lalu kembali berkutat pada kanvasnya. "Kenapa?” tanya Arya sambil fokus melukis.
"Kenapa kau tidak mau jadi
detektif seperti Paman Rawikara?”
"Tidak tertarik,” jawab Arya singkat. "Kenapa kau bertanya seperti itu?” Arya mengalihkan fokus ke arah Disti.
Kalau kau jadi detektif, aku
bisa minta tolong padamu untuk menyelidiki kasus tabrak lari yang menimpa Atha
malam itu. Karena kau adalah orang baik, kau adalah orang yang pengertian.
Batin Disti.
"Tidak apa-apa, lanjutkan
saja lukisanmu,” kata Disti sebmari beringsut pergi. Arya mengulum
senyum dan kembali berkutat pada lukisannya.
***
Mobil jip Rawikara baru saja
tiba di halaman rumah. Arya dan ayahnya keluar dari mobil dan mendapati
seseorang tengah duduk sendirian di beranda. Malam-malam begini, di tengah
cuaca dingin seperti ini, gadis itu menoleh pada keduanya. Arya dan ayahnya
saling pandang, heran, kenapa gadis itu berada di sana? Sejak kapan?
“Hei …” sapa gadis itu. Kau sudah kembali?” Wajahnya kelihatan sumringah kala melihat Arya
berdiri di hadapannya. "Hei Paman,” sapanya pada Rawikara.
“Bagaimana
kabarmu? Kenapa jarang berkunjung?” tanya Rawikara.
“Baik.
Aku sibuk,”
kata gadis itu singkat.
Rawikara tersenyum, "Ayo
mengobrolnya di dalam saja, di luar dingin,” katanya.
“Tidak perlu, di sini saja,” kata gadis yang tak lain adalah Naya.
"Ayo masuk. Di luar dingin,
nanti kau sakit,” ajak Arya.
Gadis itu mengangguk.
Mereka berdua duduk di ruang
tamu, sementara ayahnya langsung pergi ke kamar.
"Kalian berdua darimana?”
tanya Naya.
“Sejak
kapan kau di sini?” Orang yang ditanya malah balik bertanya.
“Ah,
itu ... baru tiga puluh menit yang lalu.”
“Kami dari rumah gadis itu.
Gadis yang pernah kuceritakan padamu.”
“Ahh ... aku ingat. Bagaimana kabarnya?”
“Baik.”
Suasana berubah jadi
canggung. Arya sebetulnya ingin sekali istirahat, tapi ia urungkan karena Naya
adalah teman baiknya. Ia juga tidak enak hati jika harus mengusir gadis itu
karena sudah lama menunggu kepulangannya.
“Kau ada perasaan pada gadis itu, kah?” tanya Naya pelan-pelan.
Tidak tahu. Arya sebenarnya tidak tahu apakah dia menyukai Disti
atau tidak. Ia senang berada di dekat gadis itu. Ia ingin melindungi gadis itu.
Lalu setelahnya ia mengangguk singkat.
Naya terdiam di tempat. Lalu
dua menit kemudian ia bangkit dari tempatnya duduk dan berjalan gontai ke luar
rumah. Arya mengekor di belakang, gadis itu tak mengatakan apa-apa, juga tidak
pamit saat menuju mobilnya.
Arya yang melihat tingkah
Naya sebenarnya merasa khawatir, namun ia sudah tak kuasa menahan kantuk. Ia
langsung menutup pintu dan menuju kamarnya.
Pikiran Naya kosong, air
matanya merembes jatuh saat ia sudah berada di dalam mobil. Malam ini kian jadi
malam yang panjang baginya. Mengetahui Arya memendam perasaan pada gadis yang
baru saja ditemui oleh temannya itu, entah kenapa membuat dada Naya jadi sesak.
Sesuatu serasa mengbrak-abrik hatinya. Mobilnya melesat begitu saja setelah
meninggalkan halaman rumah Arya. Sepanjang jalan, ia menangis terisak.
Tiba-tiba di depannya ada seekor anjing yang lewat, membuat ia membanting stir
dan menabrak pos polisi yang berada di dekat lampu merah. Tubuhnya kaku, penuh
darah. Naya tidak sadarkan diri.

Komentar
Posting Komentar