LAKUNA - Dies Irae
“Semuanya
sudah dimasukkan,”
kata Rawikara
sesudah Arya
memeriksa perlengkapan melukisnya di kursi belakang jip yang akan mereka naiki.
Arya
mengangguk, lalu berputar dari
depan
jip, dan masuk,
kemudian duduk
di kursi penumpang yang ada di sebelah
ayahnya.
“Apakah
Disti
tidak akan marah kalau kau membawa peralatan melukismu ke rumahnya? Kau tidak
akan merepotkannya, kan?”
“Tentu
saja tidak, ayah. Hanya
memandangi para pengunjung yang keluar-masuk dari dalam toko itu rasanya
membosankan. Dia nanti akan melarangku membantunya, padahal sekarang kondisiku
sudah memulih.”
Rawikara menyentuh bahu
anaknya yang habis kejatuhan bangunan itu, lalau sntak Arya meringis kesakitan..
“Bukankah
barusan kau bilang kau
baik-baik saja? Baru saja
kusentuh bahumu kau sudah kesakitan,” kata Rawikara.
“Ayah terlalu menekannya,
makanya sakit.”
“Alasan.”
Mobil
jip
itu berhenti di depan toko
Catansia. Rawikara membantu Arya mengeluarkan peralatan untuk melukis dan
membawakannya ke dalam toko. Di sana Disti sudah menunggu kedatangan mereka.
Pagi itu wajah gadis itu
kelihatan semringah, bahagia dan semangat. Lalu ia juga membantu membawakan
alat-alat lukis milik Atha masuk ke dalam toko.
Setelah mengeluarkan semua
barang milik Arya dari dalam mobil jip, Rawikara hendak pamit pada Disti. Gadis
itu mengantarnya hingga ke depan toko, lalu katanya, “Maaf karena hari ini
lagi-lagi merepotkanmu. Dia sendiri yang mau datang ke tempatmu, karena itu
kuharap kau tidak merasa aku memaksamu menemani orang yang tengah sakit.”
“Tidak apa-apa. Lagipula
Arya tidak merepotkanku. Aku senang karena dia berada di sini. Paman jangan
khawatir,” kata Disti lalu melambai setelah kepergian mobil jip milik Rawikara.
***
“Hari ini Andi akan
memperbaiki bangunan yang rusak.”
“Siapa dia?”
“Menantu
pak Pawana. Dia akan datang
pagi ini, begitu katanya kemarin.”
Arya merapikan alat-alat
lukisnya di ruang tengah di dekat tangga tempat jejeran box-box bunga yang
masih kosong. Orang yang mereka bicarakan sepuluh menit yang lalu sudah datang
dan memperkenalkan diri pada Arya. Keduanya lalu beramah-tamah. Arya
menunjukkan Andi bangunan yang roboh, kemudian mengawasi lelaki itu memperbaiki
atap yang rusak. Untuk sementara, bangunan itu ditutup menggunakan kayu.
Disti muncul membawa kopi
hangat untuk mereka berdua. Ia berdiri di samping Arya yang sedang mengawasi
Andi memperbaiki bangunan itu. Sesekali Andi meminta bantuan pada Arya untuk
mengambilkan alat-alatnya yang ada di dalam tas kerjanya.
Ada seorang nenek
menghampiri mereka, lalu bergelut pada tangan Arya. Sontak membuat lelaki itu
kaget seketika saat tangan si nenek melingkar di lengan kekar Arya.
“Akhirnya kau sudah kembali.
Aku senang melihatmu sembuh,” katanya.
Arya dan Disti saling tatap
satu sama lain. Heran, nenek yang Arya tidak kenal ini bersikap sok kenal sok
dekat dengannya.
“Dia pernah menanyakan soal
dirimu saat ka berada di rumah sakit,” kata Disti.
Arya cuma manggut-manggut.
“Aku sudah merasa lebih baik
dari sebelumnya, nek,” kata Arya.
Andi turun dari atap toko
dan bergabung bersama mereka bertiga. “Nenek sedang apa di sini?” tanya Andi
sambil mengambil segelas kopi yang dibawakan oleh Disti.
“Kau mengenalnya?”
Andi mengangguk, “Rumahnya
di seberang jalan sana. Aku sering mengantarkan makanan untuknya,” katanya.
Andi memutuskan untuk pulang
setelah menyelesaikan pekerjaan dan menghabiskan kopinya. Ia buru-buru ke pasar
hendak membantu mertuanya di sana. Lalu si nenek pulang setelah kepergian Andi,
sebelumnya dia juga berjanji akan mampir di toko Catansia, jadi dia berpesan
agar Arya tidak meninggalkan toko Catansia nanti sore.
Setelah itu, Arya dan Disti
kembali masuk ke dalam tok. Arya duduk di depan kanvasnya sembari tangannya
bergerak-gerak di atas kanvas putih. Arya kelihatan sangat menikmati
kegiatannya, tangannya pelan-pelan mengusap kuas di atas palet yang sudah diisi
dengan cat minyak. Hasil lukisannya kelihatan begitu hidup, sesekali ia melirik
pada Disti yang berada di seberang sana, yang tengah membungkus bunga carnation
dan eidelweist yang dipetik di belakang rumah. Suasan di dalam toko itu
berubah jadi hening.
***
“Ternyata si pembunuh tidak
hanya menggunakan metode pertama, dia sangat cerdik dan menggunakan beragam
metode. Karena itu kita jadi sulit untuk menemukan barang bukti.” Rawikara
angkat suara.
“Mungkin dia mau mengecoh
kita,” timpal Niscala.
“Mungkin sekarang dia sedang
mengawasi kita--” Rawikara menahan kalimatnya sembari melirik ke sekeliling
ruangan yang hening, “Aku tidak begitu yakin, karena si pembunuh selalu di
depan kita. Pergerakan kita sangat lambat, bisa jadi itu karena dia memantau
kita dari jauh.”
***
Ruangan
itu agak remang. Di dalam sana, terdapat dua tempat tidur kecil yang saling
berhadapan. Pada masing-masing tempat tidur terdapat meja rendah yang terletak
di kiri-kanan. Di atas meja rendah itu ada
perlengkapan bedah dan kain yang sudah berwarna merah kehitaman. Di bawah
tempat tidur, ada bercak-bercak merah yang sudah berkerak pada lantai ruangan.
Dua orang gadis muda duduk saling berhadapan
dengan
mulut dilakban, mata ditutup erat oleh kain dan kedua tangan diikat di belakang kursi. Kedua gadis itu
sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk meronta. Sudah hampir dua minggu mereka
di sekap di dalam ruangan itu, mereka hanya berharap agar seseorang segera
menyelamatkan mereka. Siapapun.
Kematian
seolah berada pada tangan si pembunuh. Suara laki-laki yang beberapa hari
mereka dengar, juga suara para gadis-gadis yang sudah menjadi mayat. Mereka
tidak tahu bahwa lelaki itu tengah duduk diantara mereka, memegang pisau tajam
dan sesekali melekatkannya pada wajahnya sendiri. Bola matanya berwarna biru
gelap, lalu ia berdiri dan melangkah, menyalakan tape yang ada di samping
televisinya. Dies Irae mulai menggema
di sekitar ruangan, lalu ia membopong salah satu gadis yang sudah tidak berdaya dan membawanya ke salah satu tempat
tidur kecil itu. Dia melepas tali ikatan tangannya dan mengalihkan ikatan itu
pada senderan tempat tidur. Gadis itu sudah tidak lagi berkutik, ‘apakah dia mati?’ dia menamparnya
sekali, lalu air mata mulai menggenang kembali, membasahi penutup matanya yang
tidak pernah dibiarkan lepas oleh lelaki itu.
“Kita
akan bersenang-senang hari ini,”
gumam lelaki itu di dekat
telinganya.
Ia
ingin berteriak, tapi suaranya tertahan di tenggorokkan. Lelaki itu tersenyum sinis. Dies
Irae terus mengalun. Kemudian tangan
lelaki yang memegang pisau itu sudah mulai bergerak-gerak di atas punggung tangannya. Gadis itu
hanya menahan kesakitan yang sangat, sementara darah-darah segar mengucur dan menggenang di atas senderan tempat tidur.
“Tenang ... ini akan menyenangkan sayang.
Seperti di surga,”
katanya.
Lalu
ia merobek gaun di bagian
perutnya, menaruh alat bedah itu di
atas
perutnya, dan mengukir tulisan ‘Heaven’.
Gadis itu menggelinjang kesakitan. Siapapun itu, tidak ingin merasakan siksaan
seperti ini, siapapun itu, lebih memilih mati saja.
Darah
menggenang di gaun putihnya. Gadis itu tidak berkutik lagi.
“Ah ... kenapa cepat sekali?” gumamnya kemudian lelaki itu berdalih pada
kakinya.
Meraba
bagian atas betisnya, lalu seketika mengirisnya pelan. Punggung gadis itu
terangkat, dia berteriak, tapi suaranya tidak terdengar. Hanya suara lagu Dies Irae
yang menggema. Suara tawa lelaki itu pecah. Sementara gadis yang satunya hanya
diam, tidak berkutik, menyadari bahwa gadis lain tengah menghadapi
sekarat.

Komentar
Posting Komentar