LAKUNA - A Tabula Picta

Langit mendung. Satu per satu orang mulai meninggalkan pemakaman, hingga Adhisti sendirian memandang pusara yang penuh dengan bunga tabur itu. Matanya sembab, gadis itu jatuh ke atas makam kekasihnya sambil terisak. Bibirnya pucat, ia menangis semalaman meratapi dirinya yang sudah ditinggalkan oleh kekasih yang dicintainya itu. Dia kini  enggan hidup. Dia ingin berbaring di samping makam Atharya, kalau bisa, malaikat berbaik hati untuk mencabut nyawanya sekarang juga.

“Hidup bersama seratus tahun katamu? Pembohong.

Bercak-bercak tanah menyatu dengan pakaian hitamnya. Gemuruh di langit mulai mendera, pelan-pelan sekali, langit menjatuhkan rintikannya. Saat ia mendongak, hujan tipis-tipis menyerbu wajahnya membuat matanya agak perih. “Kenapa kau harus berjanji seperti itu? Lihat … apa yang kau lakukan padaku? Kau membuatku menangis, kau menyakitiku, kau tidak menepati janjimu, teriaknya seperti orang gila.

Dia berdiri, memutari makam kekasihnya. Lalu terjerembab dan jatuh ke tanah yang basah. Disti setengah menelungkupkan tubuhnya sembari memeluk pusara Atharya.

“Hey ... gadis yang semalam, apa yang sedang kau lakukan di sini?”

Isakannya berhenti, sesaat ia mendongak. Menatap sosok yang tengah berdiri sambil memegang payung berwarna hitam. Dia mengenakan kemeja yang kelihatan agak usang dan membiarkan kancing tangannya terbuka. Ia menaikkan tas yang disampirkan pada bahu kirinya, lalu duduk dihadapan Disti, memayungi gadis itu.

“Ayo ... aku akan mengantarmu pulang,” katanya mengulurkan tangan pada Disti.

Gadis itu terpaku sejenak, lalu menurut begitu saja. Meraih uluran sosok itu dan bersama-sama berdiri. Sebelum Disti meninggalkan makam, gadis itu menoleh ke belakang. Ia kembali sadar saat sosok itu menarik tangannya untuk meneruskan langkah.

***

Suasana di sekitar makam sudah sepi. Empat puluh menit yang lalu, para pelayat berdatangan mengantarkan jenazah ke pembaringan terakhir. Langit mendung, dan rasanya ia lebih pagi pulang dari hari-hari biasanya. Untung saja ia membawa payung, gemuruh petir berdatangan. Dari jarak enam meter dari tempat ia berdiri, dia melihat sebuah mobil yang tengah terparkir di tepi jalan.

Apakah mungkin masih ada orang di tempat pemakaman? Batinnya.

Sesaat ia mendengar isakan dari area makam, bercampur dengan suara hujan yang menyentuh dedaunan, pohon, tanah dan sekitarnya.

Matanya tidak terlepas dari mobil yang masih parkir di tepi jalan. Ia mengira bahwa si pemilik mobil sedang menangisi seseorang yang baru saja dimakamkan di dalam sana. Tapi tidak, mobil itu tiba-tiba melaju, melesak cepat menerobos hujan. Telinganya masih berfungsi, dia mendengar suara seseorang, kemarahan dan kesedihan. Di tengah hujan seperti ini? Kakinya melangkah memasuki area pemakaman, air hujan sudah menggenang membuat sepatunya jadi berat akibat dipenuhi air hujan.

Dari sela-sela rerimbunan, dia mengintip. Gadis yang sedang marah di atas pusara. Apa yang sedang ia lakukan? Pikirnya.

 Di sini tidak akan ada yang mendengarnya, apakah gadis itu sudah gila? Di sini hanya ada orang-orang mati. Dari jauh dia memperhatikannya lekat-lekat, lalu segera mengambil langkah menghampirinya.

Saat ia menyapa, gadis itu hanya mendongak, bingung, tapi ia berhenti terisak. Atau sebenarnya air matanya menyatu dengan hujan deras? Gadis yang semalam, yang berdiri hanya sendirian di taman.

“Ayo ... aku akan mengantarmu pulang.”

Gadis itu menyambut ramah uluran tangannya. Meski sudah basah kuyup, dia tetap memayunginya. Mereka menyusuri ruas jalan yang sepi, hujan semakin deras, gadis itu hanya menunduk tanpa mengatakan apapun.

***

“Hari ini adalah pemakamannya,desis Rawikara Pamungkas. Beberapa laporan tentang penyelidikan yang ia lakukan pada korban yang meninggal akibat tabrak lari. Nama, umur, rumah, pekerjaan dan juga tentang keluarganya. Dia mendapatkan kabar itu pukul tujuh pagi dari seorang saksi di tempat kejadian. Si korban meninggal di tempat. Hari ini, di pinggir jalan taman avenue garden menjadi lokasi kejadian tragis itu. Sejak semalam hingga siang tadi, tempat itu menjadi daerah terlarang untuk dikunjungi, kecuali oleh pihak polisi penyidik dan sebagian detektif yang menangani kasus itu.

Hari ini hujan. Rawikara baru saja memarkirkan mobilnya di depan halaman rumah. Anaknya tak kunjung keluar membawakan payung, padahal sudah berkali-kali ia menyembunyikan klakson mobil dari luar. Dia memutuskan membuka pintu mobil, angin agak sedikit kencang dan air hujan yang turun merayap di wajah dan sekitar pakaiannya. Perkiraan cuaca hari ini akan terjadi hujan badai yang melanda kota. Dia menutup kepala dan berlari menuju teras rumah.

“Aku baru saja--

Nararya Aji Pamungkas berdiri di depan pintu sambil membawa payung putih transparan, dia belum membuka payung itu saat melihat Rawikara menepuk-nepuk pakaiannya yang setengah basah. Rambut berubannya lembab, mata hijaunya melirik lelaki muda yang hanya tersenyum kikuk di hadapannya.

Dia pasti sibuk melakukan itu. Batinnya.

Rawikara melewatinya begitu saja, sementara Arya hanya menggendikkan bahu kemudian masuk menuju kamarnya. Di sana sudah ada easel, sebuah papan penjepit kanvas yang memiliki kaki dan berdiri agak miring. Di meja rendah yang ada di dekat jendela, ada pallet, cat minyak dan cat air yang berwarna-warni. Juga tergeletak beberapa batang kuas. Di dalam kamarnya penuh dengan lukisan, ada juga gambar seorang gadis yang sedang duduk di pinggir jendela, hujan yang melanda kota, juga ayah dan ibunya yang pernah ia lukis saat acara kumpul keluarga terakhir bersama keluarga lengakpnya. Beberapa lukisannya juga sudah laku di pasaran, betapa senannya karena Arya bisa mendapatkan penghasilan lewat hobinya itu.

Sejak ia berumur sembilan tahun, Lativa Kendari sudah memperkenalkannya dengan dunia lukis-melukis. Ayahnya yang seorang detektif jarang berada di rumah, sehingga Lativa sering mengajak Arya pergi ke tengah kota untuk melukis, atau  kadang juga mengajak anak laki-lakinya itu melihat pameran lukisan yang digelar di gedung Pain D’ Epict. Hubungan antara Arya dan Rawikara tidak terlalu kuat, karena Rawikara selalu berada di luar rumah. Tapi semenjak Lativa sakit-sakitan, Rawikara kerap kali meluangkan beberapa waktu untuk mengurus Arya. Kumpul keluarga lengkap terakhir mereka adalah saat Arya baru lulus SMA, dua hari setelah acara keluarga itu, ibunya meninggal.

Arya menutupi kesedihannya dengan melukis. Inilah dunianya, inilah keluarganya. Meski Rawikara akan lebih setuju kalau anaknya itu mau menjadi detektif seperti dirinya. Tapi Arya ogah-ogahan saat ia disuruh mengikuti tes calon detektif. Pada hari tes terakhir ia kabur dan menghilang, lalu satu minggu kemudian, dia baru pulang ke rumah.

Arya mengambil asbak dan sebatang rokoknya, dia memilih merokok di jendela sambil mengamati hujan yang membasahi seluruh kota. Menara Est Leon berada di tengah-tengah rumah elit dan kantor polisi. Pada kertas kanvasnya yang masih basah, ada sosok gadis berambut panjang yang terlihat murung. Asap-asap rokok menguar di udara, lalu lenyap menyatu dengan hujan.

Mereka belum pernah bertemu, sosok gadis itu semalam muncul di pikirannya. Dia belum bisa melampaui lukisan-lukisan ibunya, juga imajinasi ibunya yang hebat. Dia mengidolakan seorang Lativa Kendari, melebihi ayahnya, atau siapapun itu.

Arya melempar pandangan pada kanvasnya. Mata mereka bersitatap, membuat lukisan itu seolah hidup. Jantungnya tiba-tiba berdegup cepat, kemudian ia buru-buru berdiri tegap dari jendela lalu mematikan puntung rokoknya ke dalam asbak.

Hei ... itu hanya lukisan, dia tidak mungkin nyata. Tidak ada sosok yang seperti itu. Batinnya.

Lalu matanya berdalih pada bingkai foto berukuran 3 cm yang berdiri di meja rendahnya. Foto ketika ia masih SMA dan seorang gadis yang seumuran dengannya berada di tengah garden avenue. Mereka berpose ria, gadis itu adalah temannya, juga orang yang dicintainya. Tapi sampai sekarang, tidak ada yang berubah. Gadis itu tetap menganggapnya sebagai teman.  

Arya tergerak untuk mengambil ponselnya yang terbaring asal di atas tempat tidurnya yang kecil. Sudah ada tiga pesan masuk dan satu panggilan yang tidak terjawab saat ia baru saja menyalakan ponselnya. Ia terlalu asyik melukis, sampai-sampai ia tidak mendengar ponselnya yang berbunyi.

-Kau ada di mana? Aku ingin memberitahumu sesuatu.-

-Arya, angkat teleponku !-

-Hei Nararya Aji Pamungkas, jangan mengabaikanku.-

Ah ... gadis itu akan marah padanya. Ia buru-buru mencari kontaknya lalu meneleponnya. Ponselnya di lekatkan pada telinga kanannya, suara hujan mengiringi bunyi tut 3 kali, gadis itu tidak mengangkat panggilannya. Sebaiknya Arya menunggu suasana hati gadis itu membaik baru menghubunginya kembali. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah