LAKUNA - Requiem

Tidak apa-apa meninggalkan Disti di tengah keramaian seperti itu. Atharya berlari menyeberangi jalan karena tidak tahan mau buang air kecil. Di larang kencing di taman, juga tidak disediakan kamar kecil di area itu. Jadi Atharya harus meliarkan pandangan ke segala arah untuk mencari toilet umum di tempat yang terdekat. Hanya saja, tidak sedekat yang ia pikirkan. Dia harus keluar dari taman dan menunggu jalanan yang padat oleh kendaraan. Sebenarnya, ada rambu-rambu lalu lintas, tapi jaraknya lumayan jauh dari tempat ia berdiri sekarang. Lebih lagi, toilet umum sekarang ada di depan mata, tinggal menyeberangi jalan.

Tangannya merogoh saku jeansnya, benda itu masih ada di sana. Sekembalinya nanti dari toilet, dia akan memberikannya pada Disti. Kendaraan sudah tidak terlalu ramai, Atharya menyeberang sambil merentangkan tangan kirinya saat ada mobil yang sedang melaju dari arah kiri. Untung saja toilet itu sepi, sehingga ia segera masuk dan menutup pintu.

Sementara di taman yang semakin ramai oleh para penonton yang berdatangan, Disti sendirian menunggui lelakinya.

Kenapa lama sekali? Ia membatin.

Si musisi jalanan mengakhiri permainan biolanya, kemudian menyodorkan topi flat cap sambil berkeliling, meminta upah dari pekerjaan penghiburan yang baru saja ia lakukan. Setelah topinya dipenuhi koin, dia mundur kembali dan mengucapkan terima kasih. Semua orang bubar, meninggalkan ia yang sedang memasukkan biola ke dalam tasnya.

Sementara diantara orang-orang yang sudah bubar itu, Disti meliarkan pandangan ke sekeliling. Berharap Atharya segera kembali. Dia khawatir lelaki itu tidak menemukannya, sementara tontonan musisi jalanan sudah berakhir. Tempat itu mulai sepi, di sana hanya ada si musisi jalanan yang baru saja selesai menghitung uangnya, si musisi jalanan menatapnya, membuat ia merasa risih.

“Nona, kenapa kau belum beranjak dari sana padahal pertujukkanku sudah selesai,” kata lelaki itu sambil mendekat ke arahnya. Lelaki itu menenteng tas biola berwarna hitam, lalu mengenakan topinya dan menyimpan seluruh koinnya ke dalam kantung tas nya yang kecil.

Belum saja lelaki itu tiba di tempatnya berdiri, Disti sudah melesak pergi begitu saja. Tidak juga ia menengok ke belakang, langkahnya terburu-buru.

Mungkin Atha mencari toilet di seberang jalan. Batinnya.

Lalu ia memutuskan menunggui lelaki itu di depan pintu masuk.

“Hei ....”

Baru saja punggungnya bersender pada pepohonan yang tinggi, seseorang sudah melambai dari arah seberang jalan. Disti langsung berdiri tegap, dia tersenyum sembari membalas lambaiannya. Atharya, lelaki itu sudah berdiri di sana. Kendaraan semakin padat saat ia mendekat ke tepi jalan,

“Aku akan ke sana,” suara Atharya meninggi, beberapa orang di sekitar menoleh ke arah mereka.

Disti mengangguk.

Mereka melihat ke arah kiri-kanan jalan, menunggu jalan raya sepi. Namun malah jadi semakin ramai oleh kendaraan besar-besar yang lewat, juga laju motor yang kencang. Dari seberang jalan sana, Atharya tetap tersenyum padanya. Disti sudah tidak sabaran ingin segera menemui pacarnya itu. Lama-lama jumlah kendaraan mulai sedikit, Atharya hendak melangkah ke arahnya. Keduanya bertemu pandang, Atharya tidak mengalihkan pandangannya dari Disti, sebaliknya gadis itu.

Tiba-tiba dari arah yang tidak terduga, sebuah mobil melaju dengan kencang, sementara Atharya belum sampai juga ke tempat Disti. Cahaya lampu mobil menyorot wajah dan mengaburkan penglihatannya. Dari seberang jalan, Disti berteriak menyerukan nama Atharya. Di detik itu juga, kaki Atharya tidak bisa bergerak dan jantungnya berdegup cepat. Kejadiannya sangat singkat saat mobil hitam itu melibas tubuh Atharya hingga terpental cukup jauh dari tempat sebelumnya ia berdiri. Tubuhnya melayang di udara dan ambruk di tengah aspal jalanan, sementara mobil hitam itu sudah melaju jauh. Disti berlari ke arahnya, kendaraan-kendaraan yang lain ikut berhenti. Tubuh Atharya yang bersimbah darah mulai di kerumuni oleh orang-orang yang lalu-lalang.

Darah kental itu menggenang di tengkuk kepalanya, juga mengalir hangat di bagian pelipisnya. Sebagian lagi keluar dari mulutnya. Matanya masih terbuka, memandangi Disti yang berlari sambil menangis ke arahnya. Gadis itu menjatuhkan dirinya di samping tubuh Atharya, lelaki itu terpaku padanya sambil tangannya yang lemas penuh darah membelai wajah gadisnya. Air mata Disti berubah jadi merah, jatuh mengalir ke wajah Atharya yang tengah tersenyum getir.

“Hei ... ahku akan bhai-bhaik sajha,” katanya. Mengetahui sisa ia bernafas tinggal sedikit lagi. Wajah Disti tertekuk menangis di atasnya, gadis itu menggeleng keras seolah itu adalah kebohongan dan akan menjadi kata-kata terakhirnya.

Tangan lemas Atharya mulai menyelinap ke dalam saku jeans-nya. Dengan sekuat tenaga, ia menarik benda yang tersimpan di sana. Wajah lelaki itu masih tersenyum, dia memberikan kotak perhiasan pada Disti yang masih sesenggukkan. Orang-orang yang membentuk lingkaran hanya menutup mulut dengan kedua tangannya, juga ada yang tengah sibuk menelepon ambulan. Tidak ada pertolongan pertama, seolah mereka semua tahu bahwa itu adalah saat-saat terakhir bagi Atharya.  

“Seharusnya mhalam inhi aku mhelamarmu,” katanya belum mau berhenti bicara.

Sebenarnya Disti masih tidak tega melihat kekasihnya menderita seperti itu, dia ingin mengatakan ‘Sebaiknya kau diam saja sampai ambulan datang!’ Tidak. Dia tidak jadi mengatakannya. Bibirnya kaku, lidahnya kelu, dan tenggorokkannya serasa serak. Dia hanya bisa memeluk tubuh lelakinya dan menangis.

“Ma-af Disti, akhu menchintaimuh.”

Itulah kalimat terakhir Atharya sebelum matanya tertutup dan tidak lagi bernafas. Dia meninggal dalam pelukan Disti, sementara semua orang hanya diam di tempat menatap kasihan pada kedua pasangan yang tidak mereka kenal. Suara sirine mobil ambulan memecah malam yang sedih. Tubuh Atharya dibawa ke dalam mobil ambulan, tidak ada yang bisa menolong lelaki itu. Tidak ada yang bisa menghidupkannya kembali, beberapa jam yang lalu mereka bersama. Mereka tertawa bersama. Mereka makan bersama. Mereka menonton musisi jalanan. Gaun merahnya menyatu dengan darah lelaki yang dicintainya, dia sadar bahwa nanti, besok dan seterusnya mereka tidak akan bersama lagi. Menyadari hal itu, Disti berteriak histeris seperti orang gila.

***

Sementara di jalanan yang gelap dan sepi, sebuah mobil hitam menyimpir ke tepi jalan. Si pengemudi bernafas tidak beraturan sambil memegang dadanya. Berkali-kali ia melirik dari side mirror, alih-alih ada yang mengikutinya dari belakang. Saat ini dia berada dalam pengaruh alkohol, mobilnya melaju cukup kencang dan tidak sadar kalau ada orang di depan sana. Buru-buru ia meraba dashboard mobil, mencari ponselnya. Tangannya yang gemetar mencari kontak seseorang, dan menghubunginya. Kedua kakinya tidak bisa diam karena khawatir, benda pipih itu dilekatkan pada telinga, ia menunggu seseorang menjawab panggilannya.

Kumohon, cepat angkat teleponku!desisnya.

Dari raut wajahnya tampak jelas ia khawatir. ‘Ah ... hallo, Niscala, aku akan  ke tempatmu, katanya singkat dan langsung mematikan teleponnya. Ia melesakkan mobil, menembus jalanan yang sepi. Memutari ruas jalan yang panjang, hendak kembali ke tempat yang ia kunjungi sebelumnya.

Perjalanan dua puluh menit itu terasa singkat baginya. Lelaki itu memarkirkan mobilnya di basement bawah, kemudian naik melewati undakan tangga yang kecil. Tempat itu masih ramai seperti sebelum ia meninggalkannya. Di bawah lampu yang meremang dan dibagian konter minuman, seseorang tengah meneguk sebotol bir. Lelaki yang seumurannya itu menoleh sambil melambai, ada tiga botol bir di hadapannya dan masih seperti kondisi saat ia meninggalkannya. Dia memang kuat minum.

“Kenapa kau kembali lagi? Ada apa?” tanyanya, seorang bartender menyuguhkan satu gelas seloki dihadapannya.

Wajahnya pucat. Dia enggan minum lagi. Sudah cukup, lima seloki saja sudah membuat ia terpengaruh oleh alkohol hingga membuat kesalahan. Apakah orang itu mati? Apakah orang itu segera dilarikan ke rumah sakit? Apakah ada saksi mata? Dia kabur begitu saja, dan merasa beruntung karena tidak ada yang mengikutinya dari belakang.

“Hei ….

Lelaki yang ada dihadapannya itu menyadarkan ia dari lamunan. Wajahnya masih kusut.

“Aku mau air putih,” katanya.

Dia menghela panjang,

Niscala,” katanya, “Aku menabrak seseorang dan meninggalkannya di jalan.”

Dia menunduk dengan rasa bersalah. Wajahnya nampak letih dan kebingungan. Lelaki yang di panggil Niscala kaget sebentar, lalu meneguk birnya. “Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mau di penjara, aku tidak mau di penjara, katanya sengau, lalu segelas air putih yang baru saja dipesannya datang.

“Tenanglah! Minum dulu!

Lelaki yang dipanggil Niscala itu menyodorkan gelas berisi air putih itu padanya kemudian ia meneguknya hingga habis. Niscala menggaruk-garuk tengkuk kepala yang tidak gatal. Mengeluarkan sebungkus rokok dan menyalakan batangan rokoknya. Keluar gumpalan asap dari mulutnya, berbentuk lingkaran dan menyebar di udara sekitar mereka.

“Merokoklah, karena merokok akan membuatmu lebih tenang,” suruhnya.

Lelaki itu mengikuti sarannya, mereka bersedekap di meja konter. Gumpalan asap rokok semakin banyak menyeruak di sekitar mereka. Tempat itu memang diperbolehkan untuk merokok, tidak ada yang melarang selama tidak ada narkoba dan pembuat kekacauan.

“Buang mobilmu atau kau menyerahkan diri pada polisi,” kata Niscala tiba-tiba.

Dia tersentak. Dia harus merelakan salah satunya. Tidak. Dia tidak mau di penjara, orang brengsek mana yang mau menyerahkan diri begitu saja? Dia tidak mau tercatat sebagai salah seorang kriminal karena kasus tabrak lari. Lalu membuang mobilnya begitu saja? Bagaimana kalau orang-orang atau anaknya menanyakan di mana keberadaan mobilnya?

“Jual mobilmu dan bertanggung jawab atas lelaki itu jika dia masih bisa diselamatkan. Atau, mm ... kalaupun dia meninggal, maka kau bertanggung jawablah untuk keluarganya. Itu mungkin tidak akan setimpal dengan dosamu, tapi aku hanya bisa menyarankan itu sebagai teman jika kau tidak mau menyerahkan diri ke polisi.

Niscala menyesap dalam rokoknya. Mudah sekali ia mengatakan hal seperti itu, tapi bagaimanapun juga, tidak ada pilihan lain. Pada akhirnya lelaki itu mau mengikuti sarannya.

Sebelum itu, “Bagaimana mungkin aku akan menemukan keluarganya? Aku tidak mengenalnya,” katanya mulai goyah.

“Hey, menebus dosa itu tidak mudah. Tuhan memang maha pemaaf, tapi dia harus melihat usaha dulu. Kalau usahamu diterima, maka kau akan disayangi dan dimaafkan,kata Niscala kemudian.

Dia menuangkan birnya ke dalam gelas seloki dan meneguknya hingga habis. “Asal kau tahu saja, kebanyakan dari para pengabdi Tuhan sebelumnya adalah para pendosa.” Niscala menekan sisa puntung rokoknya di dalam asbak.

Lelaki itu  diam, merenung sambil memikirkan kalimat Niscala. Dia tidak langsung pulang, melainkan memilih tinggal hingga fajar menjemput. Bagi Niscala, setiap dosa manusia hanya pantas di hukum oleh Tuhan. Setiap orang adalah pendosa. Dan tidak seharusnya masing-masing dari mereka berhak menilai kesalahan orang lain.

 

 

Komentar