LAKUNA - Epilog
Dua
orang sipir mondar-mandir di tengah lorong sambil membawa pistol dan alat
pemukul. Pengawasan mereka tidak lepas pada orang-orang yang berada di dalam
jeruji besi itu. Hingga seseorang berteriak, “Bebaskan kami,” lalu diikuti oleh
para napi-napi yang sudah lama menetap di dalam sel tahanan. Sambil menendang
dan memukul jeruji besi itu, si sipir tidak mau kalah, dia balas memukul
masing-masing jeruji besi dengan alat pemukulnya.
Keributan
itu mulai berubah saat salah seorang sipir berteriak “Diam!” sambil memukul
jeruji besi.
Di
sel tahanan paling ujung, seseorang tengah meringkuk. Dia tidak berani menatap
siapapun atau mengatakan apapun. Wajahnya lelah dan lesu. Kerut-kerutan juga
sudah mulai tergurat di atas keningnya, hampir semua rambutnya memutih.
“Tahanan
No 186, Rawikara Aji Pamungkas ada yang ingin bertemu denganmu,” si sipir mulai
angkat bicara. Lelaki tua itu mengangkat wajahnya yang lesu, setengah merangkak
dia mendekat ke arah jeruji besi, tangannya masih di borgol. Si sipir mencari
kunci jeruji besinya, lalu menyeret lelaki tua itu keluar.
“Bicara
sepuluh menit!” suruh si sipir.
Lelaki
yang seumuran dengannya itu duduk hanya menghela nafas. Mereka diawasi oleh beberapa
polisi. Lelaki tua itu bersender sambil melipat tangan di bawah dada.
“Lihat!
Inikah yang kau inginkan? Mendekam di penjara padahal kau bisa membalasnya
dengan tetap menjaga dan bertanggung jawab atas gadis itu? Aku tidak pernah
menyuruhmu untuk menyerahkan diri,” tatapan lelaki itu masih tetap sama,
tatapan persahabatan.
“Aku
kehilangan anakku.”
“Itu
balasan. Kau tidak mengerti rencana-rencana Tuhan? Tuhan sudah mengambil satu
darinya, Tuhan juga sudah mengambil satu darimu. Impas? Jadi kenapa kau repot-repot
menyerahkan dirimu ke penjara?”
“Aku
tidak punya anak. Aku tidak punya siapa-siapa, aku kehilangan Arya.”
“Waktu
berkunjung sudah habis,” suara si sipir menghentikan pembicaraan mereka berdua,
lalu lelaki tua itu digeret kembali ke dalam selnya.
Sementara
si penjenguk bergegas pergi, dia keluar dari pintu sambil menghela panjang.
“Dia membuat semuanya jadi rumit, padahal gadis itu belum tentu membencinya.”
***
Jalanan
setapak yang mereka lewati masih basah bekas hujan semalam. Tempat pemakaman
hari itu sangat sepi, bahkan kelihatan tidak ada orang yang berkunjung selain
mereka. Bunga yang dia bawa kini bertambah untuk satu orang.
Disti
dan Melanie berhenti di makam Atharya. Baru kali ini Melanie melihat Disti
tersenyum saat berkunjung ke makam kekasihnya itu. Melanie tidak berkomentar
banyak, dia hanya ikut mencabuti rumput-rumput yang sudah mulai tinggi di atas
makamnya.
Lalu
mereka beralih ke makam yang berbeda. Disitu tertulis nama Nararya Aji
Pamungkas, lelaki itu meninggal lima bulan yang lalu. Dimakamkan di samping
ibunya. Mereka mencabuti rumput-rumput yang sudah tumbuh diatas dua makam itu.
“Arya
pasti sudah bertemu dengan ibunya,” gumam Bibi Melanie. “Anak ini, kenapa dia
cepat sekali pergi? Padahal dia sangat hebat seperti ibunya.” Melanie menaruh
bunga rangkai diatas makamnya, juga pada makam Lativa.
“Yah,
semuanya tanpa rencana. Ini sudah menjadi kehendak Tuhan,” kata Melanie
membantu Disti berdiri.
***
Renaya
duduk di atas tempat tidurnya sambil memperhatikan suasana di luar rumah sakit
lewat jendela kamar. Dia sudah lama koma. Mendengar berita kematian Arya satu
bulan yang lalu membuat kondisinya tidak membaik. Bahkan saat Ricky atau Ibunya
tidak berada di sisinya, diam-diam dia merindukan lelaki itu. Mengapa Arya
cepat sekali pergi? Padahal ada yang juga harus dia katakan pada lelaki itu,
tentang perasaannya.
Lamunannya
buyar saat terdengar ketukan pintu. Ricky yang selama ini setia di sisinya
muncul sambil tersenyum dan berkata,“Bagaimana keadaanmu sekarang?”
“Baik-baik
saja.”
Ricky
memeluk gadis itu erat dan berjanji akan segera melamar setelah pulang dari
rumah sakit. “Tahu tidak, selama ini aku sangat merindukanmu” katanya setengah
berbisik di telinga gadis itu.
“Aku
juga.”
***
Disti
memandangi lukisan dirinya yang dipajang di tengah-tengah ruangan. Lukisan itu
adalah milik Arya. Entah kapan, lelaki itu melukis dirinya dengan wajah sendu.
Paman Rawikara memberikan benda berharga itu setelah sehari pemakaman anaknya.
Disti
tiba-tiba bergumam, “Kenapa cepat sekali pergi? Padahal aku ingin melakukan
banyak hal bersamamu.”
Suara
lonceng di depan tokonya berbunyi. Disti langsung berlari ke pintu dan
mendapati bibi Melanie dan paman Niscala berdiri di sana. Gadis itu
mempersilahkan keduanya masuk. Bibi Melanie membawa banyak makanan, Disti sibuk
menyiapkan segala sesuatunya di dapur.
Setelah
semua tertata di atas meja, mereka lalu makan bersama. Disti tampak banyak
bercerita dan sering tertawa, membuat
Paman Niscala dan Bibi Melanie senang melihatnya. Apalagi melihat mata
gadis itu bersinar saat menceritakan larisnya bunga-bunga yang dititipkan pada
Pak Pawana untuk di jual di pasar.
End

Komentar
Posting Komentar