LAKUNA - Jarak

 

“Apa yang sudah kau bilang pada Arya? Apa kau menceritakannya soal kecelakaan itu?” Niscala tiba-tiba menggerutu saat Rawikara menjemputnya pagi itu di toko Catansia.

“Mau bagaimana lagi? Aku terpaksa memberitahunya karena aku akan merasa bersalah pada keduanya jika merahasiakan ini,” ujar Rawikara, “Aku tidak mau ada hubungan diantara mereka berdua. Aku tidak mau jika suatu saat Disti tahu soal kecelakaan itu dan akhirnya membenci Arya, karena bagaimana,pun aku tidak mau anakku terluka,” tegasnya.

Niscala menarik napas panjang, lalu mengatakan, “Selama kita tidak pernah mengungkit-ungkit soal kecelakaan itu, semuanya aman-aman saja,” sembari memukul dashboard jip itu. “Padahal kau sendiri yang memintaku agar merahasiakan ini pada siapapun, tapi sekarang kau yang membocorkannya pada anakmu sendiri.”

“Aku tahu apa yang terbaik untuk anakku.”

Hening. Rawikara tetap fokus mengendarai jipnya sementara Niscala menyenderkan tangan kirinya. Pikiran mereka berkecamuk gusar.

***

Arya berdiri di depan jendela kamarnya sambil menyesap rokok. Tatapannya tertuju pada menara est leon yang berjarak sekitar 15 kilometer dari rumahnya. Tempat itu pasti tengah ramai pengunjung, apalagi di pagi yang cerah begini. Ah, seharusnya ia dan gadis itu berkunjung ke sana sebelum adanya jarak ini. Namun, karena pengakuan ayahnya semalam membuat ia terpukul dan merasa bersalah. Walau bagaimanapun juga, ia merasa seperti seorang anak pembunuh dan tidak pantas berada di samping gadis itu.

Dirinya masih menyimpan lukisan wajah milik gadis itu. Arya memerhatikan lukisan yang berada di samping tempat tidurnya. Wajah yang sedih dan murung. ‘Akankah ia berwajah seperti itu jika aku tidak mengunjunginya lagi?’ batinnya. Ada beberapa lukisan gadis itu juga dipajang di tembok kamarnya, sial, apakah sebegitu sukanya ia pada gadis itu? Sehari saja tidak bertemu rasanya rindu sekali.

***

Arya belum juga datang, biasanya lelaki itu pasti sudah sibuk menyiapkan alat lukis, juga berkeliaran membantunya menyiapkan bunga di depan toko. Pasti sangat ramai dan ceria. Tapi sudah siang begini, Arya tak juga kelihatan. Disti khawatir dengan perubahan sikap semalam itu, apa yang sebenarnya terjadi? Sekarang pikirannya tidak karu-karuan.

Ketidakfokusan Disti disadari oleh Istri Pak Pawana, sebab sewaktu Wanita paruh baya itu mengajak Disti mengobrol, gadis itu tidak memperhatikannya. Yang dilihatnya, Disti hanya memandang kosong ke arah lain sementara pikirannya entah kemana. Saat Istri Pak Pawana bertanya, apakah dirinya baik-baik saja, ia hanya mengangguk.

“Dimana lelaki yang biasanya disini?”

“Tidak tahu,” jawab Disti singkat.

“Apakah kalian berdua sedang ada masalah? Kenapa tidak dibicarkan dengan baik-baik?”

“Sejak semalam sikapnya berubah. Dan hari ini dia tidak datang, padahal kemarin kami baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi, kami tidak bertengkar,” kata Disti nampak berpikir keras.

“Kenapa kau tidak ke rumahnya dan menanyakannya langsung ?”

“Aku tidak tahu dimana rumahnya.”

“Mau ku antar?”

“Memangnya anda tahu dimana ia tinggal?”

“Tentu saja.”

“Baiklah, tapi jangan sekarang. Nanti sore saja karena aku harus menjaga tokoku,” ujar Disti.

***

Sore itu Arya memutuskan pergi ke rumah Renaya. Dia sudah bersiap-siap dengan kemeja kotak-kotak dan celana hitam polos panjangnya. Ia mengkhawatirkan gadis itu karena tidak bisa dihubungi. Saat Arya membuka pintu rumahnya, seseorang sudah berdiri di depan pintu sambil menyapa.

“Hei.”

“Hei.” Arya nampak kaget, sejak kapan gadis itu sudah berada di sana?

Gadis itu tampak gusar dan sesekali tampak malu, “Kau mau keluar ya? Kunjunganku tidak tepat rupanya.”

“Ada apa?”

“Di toko sangat sepi, kenapa hari ini tidak ke toko?”

Arya menggaruk tengkuknya, “Aku ada kerjaan di rumah.”

“Melukis?”

“Iya, dan lainnya.” Arya menjawab asal.

“Arya,” panggil Disti malu-malu. “Kalau kau ada masalah denganku, bilang! Jangan mendiamkanku, jangan berhenti dating ke toko, aku tidak mau sendirian,” katanya. “Hmm, sepertinya kau sangat sibuk, aku pergi!”

Sebelum gadis itu meninggalkannya, Arya meraih tangan Disti, menggamitnya erat. Gadis itu terkesiap saat Arya tiba-tiba merangkulnya dari belakang. “Aku antar pulang,” katanya.

“Arya,” lirih Disti lalu berbalik arah, berusaha keluar dari rangkulan lelaki itu, lantas menatapnya canggung dan berkata, “Aku bisa pulang sendiri.”

Arya terkesiap dan menjambak rambutnya keras setelah melihat gadis itu mulai menjauh dari pandangan. Ah sial, apa yang sudah ia lakukan?

***

Seorang pembantu rumah tangga menemui Arya saat lelaki itu sudah menunggu di beranda luar. Dia memberitahu lelaki itu baha anak majikannya sedang dirawat di rumah sakit. “Koma,” katanya membuat Arya kaget setengah mati. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi pada Naya.

Arya buru-buru ke rumah sakit dan menemukan Melanie, memberitahu wanita itu bahwa temannya saat ini sedang dirawat. Setelah mengetahui namanya dan memeriksa dibagian administrasi, Melanie kembali ke ruang tunggu menemui Arya di sana. “Nomor 305, korban kecelakaan,” katanya.

Arya mengangguk dan langsung mencari kamar Naya. Matanya melirik kesana kemari, memerhati nomor-nomor di koridor rumah sakit. Setelah memastikan bahwa yang sedang duduk di kursi depan pintu nomor 305 itu adalah Ibu Naya, Arya mendekati.

“Arya, ya Tuhan.”

Ibu Naya memeluknya.

“Bagaimana keadaan Naya?”

“Koma.”

“Astaga.”

Arya mendekat kearah pintu dan melihat seorang laki-laki yang tak lain adalah tunangan Naya. Ricky. Arya melega, karena lelaki yang dinikahi oleh temannya itu adalah sosok yang baik dan mencintainya.

“Selama ini, Ricky yang selalu merawatnya. Kami selalu berharap agar dia segera bangun. Melihat kondisinya yang seperti itu, Tante khawatir ia tidak bangun-bangun,” kata wanita paruh baya itu.

“Dia pasti akan bangun. Tante tenang aja,” kata Arya menenangkan.

Usai mengobrol dengan ibu Naya, Arya memutuskan pulang. “Aku akan berkunjung lagi, sampaikan salamku pada Ricky,” katanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah