LAKUNA - Pengakuan
Pakaian Atha membesar ketika dikenakan oleh Rawikara dan Niscala. Otot lengan dan dada keduanya kelihatan menonjol karena tubuh mereka yang berisi, setelah sebelumnya Disti dan Arya membongkar pakaian milik Atha dan berharap menemukan pakaian yang pas untuk keduanya.
“Kenapa
tidak ada kabar?” tanya Niscala ketika Disti membawakan kopi untuknya dan
Rawikara.
“Maaf
paman. Kami pindah ke perbatasan kota, lalu ibu membawaku kembali ke sini dan
membuka toko bunga ini,” jawab Disti.
“Saya
senang karena kamu tumbuh dengan baik.” Niscala memegang pucuk kepala Disti dan
mengelusnya lembut.
“Tiba-tiba
aku lapar. Apa di sini ada makanan untuk kami?” tanya Rawikara tiba-tiba. “Dia
tidak bilang mampir di supermarket sebelum ke sini, dia terburu-buru sekali,”
lanjutnya.
“Tenang,
tenang, tenang … kami menyimpan makanan untuk kalian berdua,” kata Arya.
Mereka
berempat menuju meja makan. Kedua lelaki paruh baya itu tampak melahap makanan
yang ada di meja makan dengan diwarnai celoteh juga canda tawa.
***
Arya
dan ayahnya menggunakan payung yang sama saat keluar dari toko bunga milik
Disti. Hujan belum juga reda hingga pukul 10 malam disertai dengan angin yang
kencang. Tadinya, Disti bersikukuh sebaiknya menyuruh para tamunya itu menginap
di rumahnya. Namun Rawikara menolak dengan alasan, tengah malam nanti ia dan
Niscala memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor.
“Bagaimana
menurut ayah?” tanya Arya tiba-tiba memecah keheningan di dalam mobil.
“Soal
apa?”
“Disti.
Siapa lagi? Dulu ayah pernah bilang kalau ayah mengenal keluarganya,” kata
Arya. “Dan sekarang terbukti bahwa dia adalah gadis hutan kenalan Paman
Rawikara,” tambahnya.
“Ya,
itu … maksudku.”
Rawikara
tiba-tiba menepi dan menarik napas panjang. Tanpa disadari Arya, Rawikara dan
Niscala bermain mata. Lalu pria paruh baya itu akhirnya memutuskan untuk
membuat pengakuan, khawatirnya, sebelum rasa simpati putranya itu berubah jadi
cinta. Kesalahan fatal yang telah ia perbuat membuat ia tidak tenang,
menurutnya, pengakuan itu akan melindungi anaknya dari karma yang sudah ia
perbuat.
“Ayah,”
panggil Arya.
“Apa
kau menyukai Disti?”
Kedua
bola mata Arya membulat, sambil menoleh ke arah lain, “Astaga, ayah ….”
Dia
ketahuan.
“Kau
sudah lama menyukainya?” tanya Rawikara bermain mata dengan Niscala.
“Memangnya
kenapa?”
“Kau
benar-benar sudah jatuh cinta padanya, boy?”
Sembari
memukul stir mobil, ayahnya menekan setiap kalimat yang dikeluarkan. Arya
menatap ayahnya heran, tumben sekali ayahnya bersikap seperti itu saat membahas
soal Disti. Arya memalingkan pandangan pada Niscala, seolah bertanya, ‘Paman,
ada apa?’
“Ayah,
kalau ada kekacauan di kantor tolong jangan bawa-bawa masalahmu itu di sini,
apalagi tiba-tiba membahas Disti dan kesal tidak karuan seperti ini.”
“Jangan menyukai gadis itu,” kata ayahnya
tiba-tiba.
“Memangnya kena—"
“Kau tidak tahu apa yang sudah terjadi,” katanya
memotong kalimat Arya.
Mobil mereka menepi di pinggir jalan sebelum
jembatan. Rawikara menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik stir. “Kau tidak
tahu apa yang sudah terjadi,” katanya mengulang kalimatnya.
“Memangnya apa yang sudah terjadi? Apa yang sudah
ayah lakukan pada Disti?”
“Ayah menabrak Atha,” kata ayahnya sedih.
Arya diam. Lampu jalanan terlihat meremang.
“Ayah yang melibas tubuhnya dan meninggalkan ia
terkapar di pinggir jalan,” ujarnya.
“Paman Niscala mengetahui hal itu?”
Rawikara mengangguk, tidak berani memandangi mata
anaknya. “Dia menyuruhku bertanggung jawab pada gadis itu seumur hidup,”
katanya parau. Air matanya menetes di kedua pipi, kemudian menyalakan kembali
mobilnya. Keduanya bergeming, sementara ada sebersit kecewa di hati Arya saat
mengetahui ayahnya menjadi seorang tersangka.
***
“Kenapa
mereka lama sekali?”
Niscala
dan Disti berada di ruang tamu menunggu Arya dan ayahnya yang belum juga
kembali, padahal jarak antara supermarket dari toko catansia tidak begitu jauh.
Sebenarnya, dengan berjalan kaki,pun bisa mereka tempuh, namun karena hujan
yang melebat membuat keduanya memilih menggunakan kendaraan milik Rawikara.
“Kuyakin
selama Aji berada disini kau pasti tidak kesepian, kan?”
“Iya,
dia selalu berhasil membuatku tertawa,” sahut gadis itu menerawang.
“Bagaimana
dengan Atha?”
Saat
nama mendiang kekasihnya itu disebut, Disti menoleh dengan mata lesu. Niscala
yang merasakan perubahan itu buru-buru berujar, “Arya memberitahuku. Kami
pernah mengunjungi makamnya beberapa hari yang lalu.”
Ah,
pantas saja kemarin saat dirinya berkunjung didapatinya bunga rangkai diatas
makam Atha. “Dia,” gumamnya ragu, “Kupikir dia akan menjadi kenangan,”
tambahnya.
Suara
deruman mobil di depan toko Catansia membuat keheningan beberapa menit diantara
kedua orang itu berakhir. Sekejap Disti sudah berdiri dan tergesa-gesa menuju
pintu menyambut Arya dan ayahnya yang baru saja tiba membawakan makanan. Disti
yang buru-buru mendekati Arya merasa aneh dan menyadari perubahan raut lelaki
itu saat berada di dekatnya. Hingga saat mereka menyantap makanan,pun Arya
masih bergeming tidak seperti biasanya.
Usai
makan malam berakhir, diam-diam Disti mendekati Arya yang tengah duduk
menyendiri di tempat biasa ia melukis. Nampak dari jauh Rawikara memperhatikan,
tadinya ia ingin mencegat gadis itu, tapi Niscala bilang, “Biarkan saja.”
Lantas keduanya membahas penyelidikan yang tengah mereka tangani saat ini.
***
“Arya,”
panggil gadis itu.
Menyadari
keberadaan gadis itu, Arya seperti hendak menghindar. Gadis itu merasa semakin
aneh. Kepalanya seperti memaksa berpikir keras saking bingungnya kenapa
tiba-tiba sikap lelaki itu berubah? Kali ini, Disti tidak mendapati sikap
lelaki itu seperti biasanya yang selalu semangat dan ceria.
“Ayah,
kita pulang sekarang,” ujar Arya tiba-tiba menjauh. “Kalau Paman masih mau di
sini menemani Disti ya, tidak apa-apa.”
Rawikara
dan Niscala saling pandang sekilas, lalu, “Aku akan pulang bersama Arya.
Bicaralah dengannya, karena pasti kalian sudah lama saling merindukan.”
“Sebelum
sempat meninggalkan tempat itu, Rawikara berbalik sembari berbisik, “Aku akan
menjemputmu besok pagi,” lalu pergi bersama anaknya.
Disti
mematung ditempat, memperhatikan punggung panjang Aji yang menjauh. Ia kecewa
dan bertanya-tanya, ada apa dengan lelaki itu?

Komentar
Posting Komentar