LAKUNA - Astuccio
Disti sudah bisa menjalani hari-hari seperti biasa. Lagu Amor Mio milik Sergio Santos berasal dari radio di atas meja rendah dekat tangga. Disti menggerak-gerakkan kemocengnya, menari seorang diri. Adenium merah terselip diantara telinga dan rambutnya. Celemek berwarna abu-abu kelihatan kotor akibat debu yang ia bersihkan dari ventilasi tokonya.
Dari kemarin dan juga hari ini, Disti kelihatan mandiri dan bersemangat. Ia mencuci semua pakaian kotornya, menjemurnya di belakang rumah, membersihkan kebun di belakang dan membersihkan gudang yang penuh debu, juga mengepel dan membersihkan dapur. Kali ini tidak ada plastik makanan, ia membersihkan tokonya kemudian menata bunga di dalam box. Setelahnya ia akan beristirahat.
“Hai, apa aku mengganggu?”
Betapa kagetnya Disti saat seseorang muncul dari balik pintu dan menyapanya.
Pemilik wajah aristokrat itu tengah tersenyum padanya kemudian melambai. Di tangan kanannya ada sekantung platik yang sudah bisa ditebak apa isinya oleh Disti. “Ayah menyuruhku membawa ini untukmu,” lelaki yang kini sudah berada di hadapannya itu menyodorkan kantung plastik padanya.
“Kenapa kalian repot sekali, nanti aku bisa keluar membeli makan sendiri. Bilang pada paman Rawikara, terima kasih,” ujar Disti menaruh kantung plastik itu di atas meja.
Lelaki itu melihat-lihat isi dalam tokonya sementara Disti menaruh kembali kemoceng ke tempatnya. Toko itu sudah kelihatan lebih bersih dari sebelumnya.
***
Arya memperhatikan bunga-bunga yang ditata rapi, toko itu kelihatan sejuk dan estetis. Ini kali pertama Arya datang ke tempat ini, sebelumnya ia sama sekali tidak pernah berkunjung. Dengan alasan bahwa sang ayah menitipkan makanan pada gadis manis yang tengah sibuk menata roti di atas piring itu, ia sampai di tempat ini. Gadis itu memiliki banyak kenangan, karena itu ketika mereka membahas soal toko ini, tampak gadis itu kelihatan melamun.
Sebenanya, sang ayah tidak pernah menyuruh atau menitipkan makanan pada gadis itu. Arya juga tidak memberi tahu ayahnya bahwa dia ingin mengunjungi si gadis manis itu. Hanya karena kebetulan cat air untuk melukis sudah habis, ia pergi ke supermarket dan membelikan gadis itu makanan pengganjal perut.
Arya mengelilingi isi toko itu, betapa takjubnya ia karena toko bunga itu begitu luas. Suara musik dari radio terus mengalir.
“Mau minum apa?” tanya Disti menaruh piring roti di atas meja.
“Tidak usah repot-repot. Aku minum itu saja,” kata Arya mengambil sebotol aqua dan meneguknya. “Kau di sini sendirian, ya?” Arya mendekati jejeran box bunga di atas meja kayu yang panjang. “Pasti selalu banyak pesanan,” katanya lagi kemudian duduk di atas meja yang kosong.
“Lumayan,” balas Disti.
“Apa kau juga mau memesan bunga untuk seseorang? Teman gadismu mungkin?” tambah Disti.
Mata cokelat Arya melebar, lalu tertawa keras membuat gadis itu mengernyit heran.
“Tidak, aku tidak punya orang yang mau kuhadiahi bunga. Maksudmu teman kencan,kan?” bohong Arya terkekeh.
Disti mengangguk,
“Ada yang bisa aku bantu? Biar kau tidak menginterogasiku soal teman kencan,” kata Arya membuat Disti tersenyum samar.
Gadis itu menata box-box kosong yang ada di bawah meja, sementara Arya hanya tersenyum samar. Siluet cahaya diam-diam mengintip lewat ventilasi dan alunan musik dari radio menggema.Leila melanjutkan pekerjaannya. 7
***
“Bagaimana dengan gadis itu? Apakah dia baik-baik saja?”
Niscala sedang duduk di kursi dengan sekaleng coca cola di atas meja kerjanya. Rawikara yang baru saja kembali dari mini market yang berada di samping kantor detektive tempat mereka bekerja.
“Dia sudah kembali ke rumahnya. Aku senang karena dia sudah sehat,” kata Rawikara.
“Baguslah.”
Rawikara mengangguk, “Aku sudah memperkenalkannya dengan Arya, karena sepertinya anak itu curiga dan berpikir yang tidak-tidak. Karena itu agar tidak mengundang masalah, aku mempertemukan mereka berdua di rumah sakit,” kata Rawikara.
Niscala mengangguk, “Menurutku harus begitu. Mereka berdua bisa menjadi teman baik,” katanya. Niscala mengambil berkas dari dalam lacinya, “Ah, bagaimana dngan kasus barcode itu? Apa sudah melihat laporannya? Maaf karena tugas ini kualihkan padamu. Orang-orangku mengalami kesulitan menyelesaikannya, karena itulah aku butuh bantuanmu,” tambah Niscala.
“Menurutku ada beberapa hal yang ganjil. Mungkin sebaiknya kita memeriksa kembali ke tempat di mana korban hilang. Aku melihat cctv di pinggir jalan, hanya saja di menit berikutnya, video cctv itu hilang. Aneh,” kata Rawikara.
Kasus pembunuhan yang keji pada perempuan itu memakan lima korban. Pelaku mencari gadis muda dan melakukan tindak asusila. Semua rambut korban di gunduli kemudian pelaku menulis barcode dengan benda tajam di bagian tengkuk sang korban. Dari hasil autopsi yang dilakukan oleh pihak penyidik, korban di perkosa lalu disiksa selama beberapa hari dan akhirnya dibunuh kemudian membuat jejak tanda, seperti barcode itu. Penyidik menemukan beberapa luka memar pada punggung, tangan, wajah dan perut korbannya.
“Pembunuh ini seorang psikopat, tidak ada orang waras yang tega melakukan tindakan kejam seperti itu.” Salah seorang anggota di divisi mereka angkat suara. Dia adalah salah seorang bawahan Niscala yang menemukan korban ketiganya di sungai pinggir kota.
“Melihat bagaimana cara pelaku membunuh para korbannya, kita belum tahu apa motiv dari pembunuhan itu. Yang jelas, polisi harus menghimbau agar warga sekitar antisipasi. Bisa jadi korbannya bukan hanya gadis-gadis muda saja, bisa saja anak-anak, atau orang tua, yang jelas, jangan pernah berjalan sendirian ketika malam hari, “ kata Rawikara. “Sebaiknya polisi setempat juga mau berjaga-jaga di sekitar, baik di jalan-jalan atau gang yang sepi, harapannya agar tidak ada korban berjatuhan lagi, “ tambahnya.
Rawikara mengambil rokok dan menyalakan korek. Menghisap dalam-dalam, lalu bergumam, “Sebenarnya kepuasan si pembunuh terletak dari bagaimana cara ia menyiksa korban. Setelah ia bosan dengan siksaan seperti ini, dia pasti akan mengganti cara penyiksaannya. Mungkin dengan cara yang lebih kejam lagi.”
Semua orang tampak tercengang. Mereka menelan ludah hampir bersamaan, lalu saling tatap.”Apa ada tindakan yang lebih kejam dari ini?” tanya salah seorang anggota baru.
“Tentu saja. Mungkin dengan memotong-motong tangan korban, menulis barcode di punggung tangan korban dan bisa jadi di tempat lainnya. Semua itu bisa dilakukan karena mereka benar-benar memiliki hasrat membunu,” jawab Niscala santai.
“Yang jelas kita belum tahu apa motiv pembunuhan ini. Kita semua harus berhati-hati, awasi orang-orang yang berkelakuan aneh di sekitar, cari juga informasi di warga. Kalau menemukan sesuatu yang ganjil segera hubungi aku atau Pak Niscala. Kita akan melakukan penyelidikan lanjut,” kata Rawikara.
Setelah diskusi tidak terencana mereka berakhir, Niscala dan Rawikara segera keluar meninggalkan ruangan, lalu mereka mengunjungi bar yang tidak jauh dari kantor detektif tempat mereka bekerja. Seperti biasa, di hari yang sibuk dan penuh pekerjaan, mereka memutuskan untuk menghabiskan dua gelas kopi agar pikiran mereka bisa lebih terbuka.

Komentar
Posting Komentar