Lakuna - Catansia
“Apakah aku boleh ikut?”
Nararya Aji Pamungkas bersender pada pintu kamar ayahnya sambil melipat tangan di bawah dada. Rawikara, sang ayah memberitahunya kalau hari ini gadis itu sudah diijinkan pulang dari rumah sakit dan Arya bersikukuh untuk ikut.
“Ayolah, bukankah ayah sudah bilang akan memperkenalkan kami? Aku mau berkenalan dengan gadis itu,” katanya.
Rawikara menarik nafas panjang. Rawikara melepas jaket kulit yang sejak semalam melekat di badannya, lalu menyampirkannya pada sofa tanpa lengan dekat jendela. Arya menerobos masuk ke dalam ruangan sang ayah dan duduk di sofa.
“Ayah ... gadis itu si pemilik toko bunga di pinggir jalan, kan? Nanti aku bisa memesan bunga tabur ditaruh di makam ibu,” kata Arya.
Rawika menoleh pada Arya, "Kau boleh ikut, aku tunggu di mobil,” kata Rawikara.
Arya keluar dari kamar sang ayah hendak berganti pakaian. Beberapa saat setelahnya mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Merengek seperti anak-anak membuat Arya merasa jauh lebih baik, mengingat semalam ia telah menyatakan perasaan pada Renaya yang sudah pasti mendapat penolakan dari gadis itu. Daripada frustrasi karena patah hati dan hanya berdiam di rumah, lebih baik Arya keluar dan berkenalan dengan orang baru.
***
Arya dan Rawikara mendapati Melanie tengah berada di dalam ruangan Disti. Sejenak Arya tampak terpaku melihat senyum Disti.
“Apakah keadaanmu sudah membaik?” Rawikara berdiri di samping Disti, gadis itu mengangguk singkat. “O iya, dia Arya, putraku,” katanya memperkenalkan Arya.
Gadis itu mengulurkan tangannya lalu disambut ramah oleh Arya. “Adhisti Lavanya, panggil saja Disti. Senang bertemu denganmu,” kata Disti.
“Jangan khawatir, dia lelaki yang baik. Aku cukup mengenalnya, dan kuharap kalian bisa berteman,” kata Melanie setengah berbisik di dekat telinga Disti.
“Senang juga bertemu denganmu,” kata Arya.
“Aku harus ke tempat administrasi, kalian tunggu di sini,” kata Rawikara.
“Paman, biar aku saja yang membayar biaya perawatan di rumah sakit. Aku tidak mau merepotkanmu, terima kasih.”
“Tidak merepotkan sama sekali,” kata Rawikara tersenyum singkat. “Arya akan menemanimu di sini, sementara aku dan Melanie mau ke tempat administrasi,” tambahnya kemudian melangkah keluar meninggalkan ruangan di ikuti oleh Melanie.
“Kau benar-benar orang baik, Rawikara. Datang seperti malaikat tanpa sayap pada gadis muda yang tengah sebatang kara.”
Mendengar kalimat Melanie itu membuat Rawikara ciut. Tidak pantas dirinya disebut orang baik. Sangat tidak adil sebenarnya, terutama bagi gadis muda itu. Yang membuat hidup gadis muda itu sebatang kara adalah dirinya. Dan saat ini dia seperti berperan sebagai malaikat pendosa yang sedang kembali menyucikan diri.
***
“Jadi bagaimana keluargamu dan ayahku bisa saling mengenal?” tanya Arya yang sedang duduk di salah satu kursi yang ada di dalam ruang rawat.
Saling mengenal? Disti yang tidak tahu hanya menggeleng. Lelaki paruh baya itu hanya orang asing ketika mereka bertemu pertama kali. Kematian Atha membuat ia bertemu dengan beberapa orang asing lainnya. Lelaki paruh baya itu sangat peduli padanya. Disti sudah kehilangan ibunya saat berumur lima belas tahun, dia tidak punya siapa-siapa kecuali Atha, dia tidak begitu mengenal orang-orang selain para pelanggan bunga yang sering mampir di tokonya.
“Aku … tidak tahu.” Disti bersuara.
Dia baru sadar bahwa sejak dari tadi Arya menatapnya. Mata cokelat milik lelaki itu membuat ia canggung. Disti belum pernah berduaan dengan laki-laki selain Atha, belum pernah juga ia merasakan tatapan dari laki-laki selain Atha. Dunianya penuh dengan Atha.
“Aku kadang melewati toko bunga yang dipinggir jalan.”
Arya tersenyum.
Catansia.
Tempat itu penuh kenangan bersama Atha. Seketika mengingat tempat itu membuat adrenalinnya berpompa cepat. Toko dan rumah kecilnya diliputi kebahagiaan bersama Atha. Di tempat itu, mimpi-mimpi seribu tahun bersama Atha sudah musnah. Dia tidak akan mendapati kekasihnya di sana. Hati Disti kelu, seharusnya mereka berada di rumah sambil menata bunga soba dan mawar yang baru dipetik. Seharusnya mereka menyapa Pak Pawana, tuan pelanggan mereka yang tiap pagi lewat di depan toko.
“Apa kau baik-baik saja? Kau kelihatan begitu murung.” Arya berdiri menghampiri Disti, Lelaki itu tampak khawatir dan menyentuh kening Disti.
“Aku baik-baik saja.”
Disti menepis tangan Arya sontak membuat lelaki itu kaget. “Maaf,” katanya terdengar parau.
Arya menarik napas panjang, ia kembali memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Iris cokelatnya tak lepas dari gadis lemah di hadapannya itu. “Maaf, jika ada sikap dan perkataanku yang membuatmu tersinggung,” katanya beberapa detik kemudian.
Gadis itu mengangkat kepala dan menggeleng, “Aku bereaksi berlebihan ya,” kata Disti. “Paman adalah orang baik, dia tidak suka melihat orang lain kelaparan,” katanya lagi.
Arya mengangguk.
Tiba-tiba suara pintu berdecit, mereka berdua menoleh ke arah dua orang yang baru datang itu, Melanie dan Rawikara. Arya mundur beberapa langkah, menjauhi bangkar tidur Disti.
“Semua beres. Kau sudah boleh pulang,” kata Melanie yang mendekat pada Disti. Wanita paruh baya itu mengelus rambutnya lembut.
Hari itu Rawikara, Arya dan Disti akan menaiki mobil yang sama. Melanie mengantar mereka hingga ke depan rumah sakit dan melanjutkan pekerjaannya. Disti sebenarnya merasa senang ketika bersama suster itu, wanita paruh baya itu begitu menyenangkan dan sesekali waktu membuat ia terhibur selama berada di rumah sakit. Melanie berjanji akan berkunjung ke toko bunga miliknya.
Rawikara menepikan mobil di supermarket dekat pinggir jalan. Kemudian lelaki paruh baya itu keluar meninggalkan Arya dan Disti. Selama di dalam mobil, kedua orang itu hening, namun diam-diam Arya mengamati wajah Disti.
Beberapa menit kemudian, Rawikara kembali membawa plastik berisi snack dan botol minuman. Ia menaruhnya di kursi belakang dekat Disti. “Nanti jangan lupa makan, kau harus makan yang banyak biar bisa menjalankan bisnis bungamu itu,” kata Rawikara dan kembali melajukan mobilnya. Mereka berhenti di depan toko bunga milik Disti, gadis itu keluar.
“Hai … kapan-kapan aku akan mampir di tempatmu, yaa.”
Arya membuka jendela mobil.
Gadis itu mengangguk.
Seketika mobil melaju meninggalkan toko bunga. Disti kemudian masuk ke dalam tokonya dan hening itu kembali datang. Melihat keadaan di dalam tokonya yang begitu berantakan, ia berpikir hendak membersihkan tempat itu dan membukanya kembali. Demi menyambung hidup, ia harus melanjutkan usahanya.

Komentar
Posting Komentar