Lakuna - Anerkennung

 

Diam-diam Arya membuntuti ayahnya ke rumah sakit. Setelah rasa penasaran mengusik pikirannya membuat ia merasa harus turun tangan. Sudah ada pertanyaan di kepalanya, ia ingin mendengar pengakuan ayahnya, setidaknya penjelasan mengenai toko bunga dan gadis muda itu.  

Di sinilah Arya yang masih berada di dalam mobil yang ia parkir di depan rumah sakit. Arya sengaja memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, kemudian setelah beberapa menit berlalu ia keluar dan menyelinap di antara orang-orang yang keluar-masuk dari pintu rumah sakit. Di dalam sana, ia melihat seseorang yang begitu familiar. Bibi Melanie, seorang suster yang juga merupakan kenalan mendiang ibunya.

“Bibi Melanie,” panggilnya.

Wajah suster yang ia panggil itu kelihatan ceria saat melihat dirinya berada di sana. Melanie langsung menuju ke arahnya dan merangkul Arya erat.

“Apa kabarmu? Kenapa baru sekarang kau mengunjungiku?” tanya wanita itu sambil menuntun Arya ke kursi tunggu yang ada di depan administrasi.

“Baik. Kau sendiri?”

“Baik,jawab wanita itu singkat.

Melanie bisa menebak alasan kedatangan Arya ke rumah sakit pasti karena ayahnya. Entah darimana lelaki muda itu tahu bahwa ayahnya sedang mengunjungi seseorang di rumah sakit. Tapi itu tidak penting sekarang, Arya sudah berada di sini, berarti dia sedang mencaritahu informasi tentang hal itu.

“Kau sudah mengunjungi ibumu?” Melanie berpura-pura mengalihkan pembicaraan saat memperhatikan arah mata Arya yang mencari sekeliling

“Belum. Aku belum pernah lagi mengunjunginya,” ada raut bersalah yang muncul di wajah Arya.

“Kau jahat sekali. Kenapa kau bersikap seperti itu pada temanku? Ayahmu saja sudah mengunjunginya. Kalau begitu kapan-kapan kita akan mengunjunginya bersama-sama, oke!”

“Ayah?”

Melanie mengangguk singkat. Arya hanya diam melamun. Seketika Melanie angkat bicara lagi, “Kenapa kau datang ke sini? Apakah kau mengenal seseorang yang sedang di rawat di sini?”

Seseorang yang dikenal oleh ayahku.”

Ayahmu masih di dalam sana, mau menemuinya?

Arya mengangguk.

“Ayo, aku akan mengantarmu.”

Mereka melangkah menuju ruangan gadis yang tengah dirawat itu. Melanie berkata, “Gadis itu seumuran denganmu. Dia lumayan manis, jangan berpikiran macam-macam soal ayahmu.” Dia menghela, “Ayahmu mengenal keluarganya. Dia tinggal sendirian, gadis penjual bunga yang malang,” tambahnya sebelum mereka tiba di lrong ruang rawat yanng akan mereka tuju.

“Saat aku melihatnya menangis, aku berpikir dia menjalani kehidupan yang sulit. Suaranya terdengar putus asa, gadis semuda itu ingin mengakhiri hidupnya dengan tidak makan berhari-hari. Untung saja ada ayahmu.

Mereka berhenti di ruang rawat.

Arya melihat ayahnya bersama gadis yang tengah berbaring lewat kaca pintu ruangan yang transparan. Namun sepertinya Rawikara menyadari kehadirannya, kemudian ayahnya keluar menemui Arya dan Melanie.

Arya?” panggil Rawikara kaget kemudian menutup pintu ruangan secara perlahan. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Rawikara menghela panjang dan melirik ke arah Melanie.

“Hanya ingin melihat anak teman ayah yang sedang di rawat. Apakah dia baik-baik saja?” Arya mengintip dari balik bahu ayahnya, tapi tetap saja dia tidak melihat wajah gadis itu dengan jelas.

“Dia sudah lebih baik dari sebelumnya. Kapan-kapan aku akan memperkenalkan kalian,kata Rawikara.

Rawikara hendak mengajak Arya agar segera meninggalkan tempat itu, untung saja  Arya tidak banyak bertanya. “Dia harus beristirahat,” katanya, “Ayo kita pulang,” tambahnya kemudian Arya dan Melanie mengikutinya. Ruangan itu kembali lengang.

***

Sekembali mereka dari rumah sakit, Arya berlari ke dalam rumah, menuju kamarnya, hendak mengambil ponsel yang ia tinggalkan di dekat pallet dan perlengkapan lukis lainnya. Ia melupakan rencana dinner bersama Renaya dan tunangannya. Sejak awal, Arya memang tidak mau datang. Melihat orang yang dicintai bersama lelaki lain membuat ia cemburu, berada di sana hanya akan menambah luka di hatinya. Arya tidak tega menolak ajakan Renaya saat mereka berbicara di telepon, bahkan ia hendak mengirimkan gadis itu pesan penolakan secara halus, namun seketika gadis itu bersikukuh menyuruhnya agar tetap datang. 

Tetiba siluet Renaya dan kekasihnya tengah berdiri dan berdansa mengikuti musik yang mengalun pelan. Gadis itu tampak cantik dengan balutan dress hitam berenda, sementara sang kekasih mengenakan tuxedo hitam yang membuat mereka nampak serasi. Kedua pasangan yang ada di hadapannya begitu romantis, melihat mereka bercumbu membuat dada Arya teriris. Sontak suara ponselnya menggelegar di tengah-tengah kamarnya yang sepi, kedua bayangan itu menghilang seketika, Arya kembali tersadar dari lamunan.

Setelah menekan tombol berwarna hijau di layar ponselnya, ia kemudian melekatkan benda pipih itu ke telinganya. Dia mendengar helaan panjang dari arah seberang,

‘Hei … maaf, tadi aku ada urusan dengan ayahku. Baiklah, aku akan segera ke sana.’

Arya bergegas keluar menuju mobil tanpa mengatakan apapun pada ayahnya yang sedang duduk di ruang tengah. Ia melesatkan mobilnya menuju jalan besar. Menyalip truk-truk besar dan kendaraan lainnya, mungkin jika dia tengah bersama seseorang di dalam mobil, orang tersebut akan ketakutan setengah mati saking takutnya melihat Arya membawa mobil dengan kecepatan penuh.

Arya menepikan mobilnya ketika sampai di depan sebuah kafe, ia memasuki basement dan memarkir mobilnya di dekat mobil berwarna merah yang sudah sangat ia kenal. Arya menaiki anak tangga kecil yang terhubung langsung bagian dalam kafe. Tempat itu kelihatan romantis. Banyak pasangan yang tengah berdansa mengikuti musik. Ada meja-meja cantik berwarna beludru, di bagian sudutnya ada ukiran duftwolk. Arya langsung menemukan Renaya yang tengah duduk di bagian meja tengah.

“Hei.”

“Hei. Aku senang kau datang, ayo pesan!” kata Renaya memberikan buku menu pada Arya 

Di depan mereka ada segelas kopi yang menghadap ke arah kursi yang kosong. Rupanya, beberapa menit sebelum kedatangannya, tunangan Renaya sudah berada di sini. Sayang sekali, Arya tidak bertemu dengan tunangan temannya itu.

“Kau terlambat. Dia ada pekerjaan, padahal aku ingin memperkenalkan kalian berdua,” kata Renaya sembari menyesap teh rosella hangatnya.

Setelah tiga menit kemudian, secangkir kopi yang dipesan Arya sudah datang.

“Dia pasti sangat sibuk.”

“Aku berusaha memahami kesibukannya.”

“Kau jangan sedih.”

“Aku tidak sedih, aku hanya sedikit kecewa. Seharusnya malam ini kau datang tepat waktu, apakah kau tidak senang melihat hari-hari bahagia temanmu ini?” kata Renaya sedih.

Bukan begitu. Bagaimana aku akan bahagia sementara gadis yang kucintai malah mencintai orang lain? Bagaimana aku akan bahagia, gadis itu sudah mendeklarasikan diri bahwa sebentar lagi ia akan menjadi milik orang lain? Pada kenyataannya, hatiku sudah hancur. Maaf!

Kata-kata itu hanya terucap dalam hati Arya. Kemudian lelaki itu tersenyum, Maaf ya, aku ada urusan mendadak. Ada anak teman ayahku sedang dirawat di rumah sakit.”

Arya melipat tangan di atas meja, “ Gadis itu sebatang kara, dia tidak punya keluarga.”

Renaya mengangguk, “Seorang gadis ya? Aku boleh tahu sudah sejauh apa hubungan kalian?”

Arya mengernyit heran,

“Tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja. Mungkin Paman Rawikara ingin kalian bersama,” kata Renaya yang sudah terlanjur salah paham.

Arya tidak mau pusing menjelaskan semuanya pada gadis itu. Toh, tidak ada gunanya, gadis itu juga tidak akan menjadi miliknya.

“Aku memang sedang menyukai seseorang, kata Arya tiba-tiba.

Mata Renaya bersinar, penasaran menunggu kalimat Arya. Berharap agar lelaki itu lebih berterus terang kepada siapa hati teman lelakinya itu tertaut.

Arya menghela sangat panjang, “Erm ....” katanya membasahi bibirnya. Ia menatap dalam pada Renaya. Sejenak gadis itu tertegun, menyadari ada sesuatu yang salah. Seolah tatapan lelaki yang ada di hadapannya sudah menjelaskan semuanya.

Aku menyukaimu. Aku menyukaimu, bahkan sebelum lelaki itu melamarmu. Aku sudah lebih dulu menyukaimu, jauh sebelum lelaki itu menyatakan perasaannya padamu,” kata Arya tiba-tiba, tatapan tajamnya  menembus ke dalam mata Renaya membuat gadis itu memalingkan pandangan darinya.

A-Aku?

Arya menarik nafas pelan, “Jangan khawatir aku tidak akan mengacaukan pernikahanmu,gumam Arya, “Kau pantas bahagia bersama orang yang kau cintai,” katanya lagi.

Arya.

Tidak apa-apa. Mungkin jika aku mengutarakan perasaanku lebih dulu padamu, apa kau akan menerimaku? Jika begitu, maka aku akan sangat bahagia, Naya. Tapi aku terlalu pengecut memberitahumu soal perasaanku ini. Alih-alih takut jika nanti kau akan membenciku.

Arya.

Arya mengulum senyum, “Ini sudah berakhir, aku senang kau bersama orang yang kau cintai.”

“Arya,” gumam Renaya.

“Naya, aku sebaiknya pulang sekarang. Maaf tidak bisa menemanimu lebih lama di sini,” kata Arya dan meninggalkan gadis itu sendirian. Sebenarnya Arya tidak buru-buru, hanya saja pengakuan itu membuat ia tidak enak hati duduk berhadapan dengan Renaya. Bagaimanapun juga, perasaan itu harus segera di hilangkan, mengingat Renaya akan bersama orang lain.

Arya langsung menuju kasir dan tidak menengok ke belakang, tidak peduli pada keadaan gadis itu yang sedang diliputi perasaan sesal dan gelisah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah