LAKUNA - Pertemuan
Mereka melewati jalanan yang sempit dan becek, beberapa kali berpapasan
dengan para pelayat yang berkunjung. Seperti pelayat lainnya, mereka juga
membawa karangan bunga untuk dua orang
yang akan mereka temui di makam masing-masing. Embun dari sudut daun jatuh ke
daun lainnya. Siulan burung menghinggap di dahan adenium yang sesekali
memperhatikan, sementara bunga adenium yang semerbak dan khas pemakaman
berguguran di atas tanah.
Disti dan Melanie berhenti di depan salah satu makam. Atharya Dipta,
wafat 21 Mei 2020 tertulis di batu nisan. Makam itu kelihatan lebih bersih dan rapi
semenjak terakhir kali Disti berkunjung ke tempat itu.
“Aku merindukanmu,” gumamnya tiba-tiba dan duduk di samping pusara.
“Disini aku baik-baik saja dan sekarang tetap makan yang banyak. Toko
kita, seperti biasa selalu didatangi pembeli. Ini aku kenalkan seorang teman
namanya bibi Melanie, lihat, dia orang yang baik,” tambahnya menoleh ke arah
Melanie yang duduk di sampingnya.
“Hei, Atha … senang berkenalan denganmu,” sapa Melanie duduk di samping
Disti. Wanita itu lantas mengelus rambut lebat Disti.
“Disti,” panggilnya kemudian. “Orang yang ditinggalkan harus hidup bahagia. Tidak apa sesekali
menangis, tapi harus kembali bangkit dan melanjutkan hidup dengan baik,” katanya sembari menabur bunga, “... namanya
juga kehidupan, pilih diam di tempat berbalut kehampaan dan kecewa atau melanjutkan
perjalanan meski melewati jalan terjal yang pada akhirnya membawa kita pada kereta berikutnya.”
Mendengar kalimat Melanie membuat Disti lega, lantas memeluk wanita
paruh baya itu dengan riang dan berucap, “Terima kasih.”
Mereka meninggalkan pusara Atha setelah beberapa menit kemudian,
lantas mengunjungi makam berikutnya. Disti memperhatikan nama yang ada di pusara
itu dan mengetahui bahwa pemilik pusara itu adalah ibu Arya. Melanie memberitahunya
ketika mereka sudah berada di sana.
“Seharusnya Arya ikut pagi ini bersama kita, dia pasti sangat
merindukan ibunya,” celetuk Disti.
“Aku datang Tifa. Maaf baru mengunjungimu sekarang.”
Melanie dan Disti menaburkan bunga rangkai diatas makam Lativa Kendari
dan mencabut rumput-rumput liar yang sudah besar. “Orang
hidup akan tetap hidup. Mereka butuh dicinti dan juga mencintai. Kadang, seseorang
yang memberi banyak sudah menerima lebih banyak luka,” gumam Melanie.
“Jika kita hidu hanya bahagia terus, bumi tidak akan
berputar pada porosnya. Semuanya harus seimbang, antara bahagia dan luka,” kata
Melanie.
“... melalui luka, seseorang bisa menjadi pendendam. Juga
melalui luka, seseorang bisa menjadi dewasa dan baik. Luka menentukan karakter
seseorang,” Melanie menoleh pada Disti, “Tuhan sudah mengatur semuanya secara seimbang, karena itu, manusia pun mesti belajar dari pengalaman,” sambungnya.
***
‘Kemana dia?’ batin Arya.
Hampir
1 jam pria itu berdiri di sana. Sesekali ia melompat
dan melihat ke lubang angin di atas pintu, ia juga memutari bangunan itu, mengetuk-ketuk
jendela belakang, namun gadis itu tidak juga ada di sana.
“Sebenarnya
kemana dia?” gumamnya
Seorang
nenek yang pernah mampir ke toko itu tiba-tiba muncul membawa beberapa bungkus
makanan dan menemaninya. “Kapan-kapan mampirlah ke rumahku,” kata si nenek.
Mereka duduk di undakan tangga, “Di sana banyak makanan. Nanti aku buatkan
makanan yang lezat untukmu,” katanya lagi.
“Nanti
kapan-kapan,” kata Arya.
“Aku
hidup sendirian dan hanya memasak untuk diri sendiri. Kau tahu anak muda, kau
sangat mirip sekali dengan cucuku, sayangnya dia tidak pernah mau
mengunjungiku,” cerita si Nenek hampir menangis.
“Eh,
iya, iya nenek, aku akna berkunjung jadi jangan menangis!” seru Arya mulai
khawatir alih-alih si nenek menangis keras. Ia mengambil kue di dalam plastic yang
dibawakan oleh Nenek dan memakannya.
“Wah,
ini enak sekali. Apa Nenek yang membuatnya?”
Si
Nenek mengangguk,
“Rugi
sekali cucumu jika tidak mau mengunjungimu, Nek. Padahal makanan buatan Nenek
sangat enak,” kata Arya. “Boleh tambah lagi?”
Nenek
yang tadinya mau menangis kini terlihat riang, “Tentu saja, makanlah yang
banyak,” katanya.
Mereka
berdua menoleh ketika sebuah taksi berhenti di depan toko. Nenek dan Arya
mengalihkan pandangan dan orang yang ia tunggu keluar dari dalam taksi itu. Bukan
hanya itu, dari sisi lainnya Melanie keluar lalu melambai ke arah mereka
berdua.
“Kalian
dari mana?” tanya Arya setelah keduanya sudah berada di hadapannya.
“Mengunjungi
pemakaman.”
“Kenapa
tidak mengajakku?”
“Kami
buru-buru Arya, lagi pula kau pasti sangat lelah melukis dan butuh istirahat,” kata
Melanie dan bermain mata dengan Disti. “Makam ibumu sudah kami bersihkan,”
tambahnya menyadari wajah Arya yang mulai kusut.
***
“Berikan aku rokok!”
Sudah hampir tiga jam Rawikara dan Niscala berada di dalam mobil.
Mereka berdua tengah menyelidiki seorang lelaki misterius yang pernah mereka lihat
berjalan sendirian keluar memasuki rumah tua yang kelihatan angker itu. Anehnya,
sudah dua hari tidak ada korban pada kasus yang mereka selidiki saat ini
semenjak mereka mulai menyelidiki lelaki misterius itu.
“Kau yakin dia akan kembali?”
Rawikara menarik napas, “Apa jangan-jangan dia membaca pergerakan kita.”
“Tunggu sebentar lagi. Biasanya pemburu menunggu suasana tenang sebelum
kembali berburu,” kata Rawikara menyulut rokoknya.
Rupanya dugaannya benar, lelaki itu muncul mengenakan jaket kulit dan
topi berwarna hitam dengan langkah terburu-buru. Mereka berdua tidak melihat
wajahnya karena tertutup masker. Rawikara keluar dari mobil tanpa suara, lalu
diikuti oleh Nisacala. Mereka berdua mengekori di belakang sesekali sembunyi di
bilik pohon besar.
Sesampai mereka di depan rumah tua dan lelaki itu sudah berada di
dalam, mereka berdua memutari rumah itu dan menemukan pintu tua yang terkunci. Di
bagian samping, ada jendela tua yang kayunya sudah melapuk, merekapun berhasil membobol
masuk lewat jendela itu.
Suasananya begitu hening, mereka berdua mengambil langkah pelan supaya
tidak ketahuan oleh sip ria misterius. Di sana, mereka menemukan lemari tua,
alat musik dan benda-benda tua lainnya yang dibungkus oleh kain putih.
“Tidak ada siapa-siapa,” bisik Niscala.
Nampaknya lelaki misterius itu sudah meninggalkan rumah, lalu mereka berdua
memutuskan keluar dan kembali ke mobil.
***
Sejak
tadi Disti memperhatikan Arya yang duduk di depan kanvasnya. Pria itu belum juga
mulai melukis, kuasnya masih berendam di dalam cat air, kanvasnya masih bersih.
Hari ini Arya sepertinya tidak ada mood untuk melukis karena tidak diajak pergi
ke pemakaman, lalu Disti sedang berusaha mengambil hatinya dengan membuatkan secangkir
kopi.
“Arya,
seperti apa ibumu?” tanya Disti tiba-tiba membuat Arya terkesiap.
Arya
memutar tubuh menghadap kearah Disti dan mengernyit, “Ibuku?” gumamnya. “Dia
wanita yang baik, tangguh dan setia. Dia mengajarkan banyak hal padaku. Karena
ayah jarang di rumah, aku lebih dekat dengan ibu, bagaimanapun kesibukan ayah
bekerja, ibu tidak pernah menghianati ayah,” katanya.
“Sewaktu
kecil, ibu sering mengajakku mengunjungi gubuk paman Niscala,” katanya lagi, “Paman
Niscala pernah menemukan gadis kecil di tengah hutan dan ia merawatnya. Kami
selalu bertemu dengan gadis kecil itu, ibu sering membawaku ke sana dan ibu menyukainya.
Dulu Ibu juga sempat mau mengadopsi anak itu, tapi ayah melarang. Ayah marah
dan bersumpah akan menceraikannya jika ibu mengadopsi anak itu,” suara Arya
berubah jadi kesal.
“Kenapa? Kenapa begitu?”
Arya mengendikkan bahu, “Aku tidak tahu bagaimana kehidupan gadis itu.
Paman Niscala menitipkannya pada seseorang yang katanya seorang kenalan Ibu. Sebuah
mobil warna putih datang menjemputnya dan itu terakhir kali kami bertemu,
sebagai kenang-kenangan aku memberikan liontin milik ibu,” cerita Arya.
“Liontin?”
Arya mengangguk, “Iya sebuah liontin, hmm ….”
***
Disti memperhatikan Arya lekat.
“Ada apa?” tanya lelaki itu.
Tidak mungkin anak kecil yang selama ini ada di dalam mimpinya itu
adalah Arya, duganya. Bagaimana dengan liontin yang selama ini ia simpan itu?
“Ada apa?”
Suara Arya terdengar samar di telinga Disti dan ia kembali teringat
pada mimpi yang beberapa malam ini terus mengganggu. Mimpi, bukankah mimpi
hanya bunga tidur, tapi mimpi juga bisa jadi peristiwa di masa lalu. Pikiran
Disti kembali terusik oleh beberapa hal, kenangan masa lalu kembali muncul, sebuah
rumah yang terbakar, hal-hal yang ia alami bersama ibu angkatnya, pertemuannya
dengan seorang laki-laki dewasa, dan yang ia ingat adalah ketika ia tertawa
bersama seorang anak laki-laki di dekat sungai.
“Jawab aku!”
Suara Arya kembali terdengar jelas, lantas ia bilang, “Aku senang
melihatmu.”
Komentar
Posting Komentar