Sampai Jumpa - Pulang Bersama

 


Bel pulang sekolah berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas, sementara Kodachi Anna masih memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Ia tahu jalan pulang, ayahnya, Kodachi Morino, tidak akan datang menjemput. Setelah tadi pagi, ayahnya sudah menunjukkan lewat jalan pulang tercepat meski nanti ia harus melewati sawah-sawah lagi. Ah, ia masih kepikiran tentang pertemuannya dengan Nakamura Akito. Untung saja lelaki itu tidak menertawainya, ataupun membahasnya di sekolah. Sepertinya, Nakamura Akito lebih disibukkan dengan kegiatan klub astronomi, karena lelaki itu begitu bersemangat.

Beres! Tidak ada yang ketinggalan.

Ia keluar kelas, dan mendapati Nakamura Akito dan teman-teman klubnya sedang menunggu di dekat loker.

Lalu apa sekarang?

Kodachi Anna tidak memedulikan mereka. Tidak ada kegiatan klub setelah pulang sekolah. Jadi, jangan harap mereka berhasil menyeret Kodachi Anna kembali ke ruangan itu lagi. Tapi, tahu-tahu Nakamura Akito sudah menyentuh bahunya.

“Anna-chan, kenapa kau meninggalkan kami. Kita bisa pulang bersama-sama. Lagi pula, kau belum terlalu mengenal tempat ini. Tenang saja, semuanya serahkan padaku.”

Nakamura Akito mulai berceloteh. Teman-teman klubnya sudah mendekati mereka berdua. Kodachi Anna tidak pernah menginginkan ini. Ia juga tidak pernah membuat rencana pulang bersama teman-teman sekelasnya. Ataupun mampir di mana pun itu, bermain selama berjam-jam dan sebagainya. Kodachi Anna mendahului mereka. Walau begitu, teman-temannya mengikuti di belakang.

Mereka melewati jalan di persawahan. Sebenarnya, Kodachi Anna tidak suka jalan pintas yang seperti ini. Ini semua usulan Nakamura Akito. Ia harus melompat di tengah pematang sawah yang penuh air dan bersalju. Semalam adalah pertama kali turunnya salju, padi-padi harus tertumpuk oleh bongkahan salju yang kecil-kecil. Jalanan licin. Tapi lihat, teman-temannya senang. Apakah orang-orang desa suka dengan tindakan-tindakan yang merepotkan seperti ini? Sepulang sekolah bermain di pematang sawah, lalu berkejar-kejaran di pinggir jalan, saling mengolok, ah ... itu hal yang biasa. Tapi pematang sawah, Kodachi Anna masih agak trauma.

Nakamura Akito meraih tangannya. Dan hup, ia melompat dengan benar. Mizutani Akira merentangkan kedua tangannya saat mereka berempat berjalan di pematang sawah yang kecil, alih-alih jatuh pada genangan air sawah, mereka semua harus berhati-hati.

Hingga mereka berhasil dengan selamat sampai di jalanan yang cukup lebar. Mereka berpisah dengan Yamaguchi Hasumi dan Mizutani Akira. Kedua orang itu melambai dan jalan bersama-sama hingga berpisah di jalur yang berbeda. Sementara Kodachi Anna menatap sinis pada Nakamura Akito.

Ke mana lelaki ini akan pergi?

Ia mendahului Nakamura Akito, tapi sepertinya lelaki itu mengkutinya. Mungkin saja nanti mereka akan berpisah di jalur yang berbeda. Sama seperti Yamaguchi Hasumi dan Mizutani Akira. Tapi selama seterusnya ia berjalan, Nakamura Akito tetap melangkah mantap di sampingnya.

Apakah lelaki itu akan mengikuti sampai ke rumah?

“Nakamura-kun!” panggil Kodachi Anna.

Gadis itu tiba-tiba berhenti begitu saja, sehingga Nakamura Akito juga menghentikan langkahnya.

“A-K-I-T-O. Akito.”

Nakamura Akito seperti tidak terima dengan panggilan yang disebutkan oleh Kodachi Anna barusan. Apa pun itu, Akito, ataupun Nakamura, terserah. Bukankah mulutnya yang bersuara? Jadi ia berhak memanggil dengan sebutan apa pun lewat mulutnya.

“Sebenarnya kau akan pulang ke mana, Akito-kun?”

Kodachi Anna sengaja menekan kata per kata yang ia ucapkan. Suasana di jalanan itu sangat sepi, angin baru saja lewat, menyapu bongkahan salju hingga terbang seperti debu-debu di udara. Suhu di sekitar jadi sangat dingin, bahkan melebihi suhu yang sebelumnya.

“Aku pulang ke sana.” Nakamura Akito menunjuk ke arah jalur kiri yang memasuki gang besar. Sehingga gang itu masih bisa dimasuki oleh bus-bus atau truk-truk besar lainnya.

Tidak mungkin! Apakah rumah Nakamura Akito berada di sekitar gang itu? Padahal ia juga akan memasuki gang itu. Mereka akan pulang searah. Di mana rumah Nakamura Akito? Di depan rumahnya? Di samping rumahnya? Apakah mereka bertetangga? Atau malah di ujung sana? Kodachi Anna melanjutkan langkahnya, sambil berpura-pura tenang. Ia menunduk dalam diam.

“Anna-chan, apakah kau tidak mau bergabung bersama kami seperti rencana Paman Urahara?”

Nakamura Akito mulai bersuara. Tapi yang ditanya hanya diam. Kodachi Anna tidak mau membuka mulut lagi. Kenapa lelaki itu selalu saja di sekitarnya. Di sekolah yang sama, kelas yang sama, bahkan duduk bersebelahan, bertemu di klub yang sama, dan sekarang mereka juga pulang ke arah yang sama. Apa maksud semua ini? Karena terlalu banyak berpikir, bahkan sampai tidak menjawab pertanyaan Nakamura Akito, tiba-tiba saja ia sudah sampai di depan pagar rumahnya.

“Sampai jumpa.”

Kodachi Anna berhenti, tangannya yang telanjang menggigil saat menyentuh pagar rumahnya. Ia menatap punggung Nakamura Akito yang berjarak beberapa meter darinya. Lelaki itu tidak menoleh, ia sudah tidak kelihatan lagi setelah memasuki pagar rumahnya. Ternyata rumah Nakamura Akito berada di depan rumahnya. Mereka adalah tetangga?

Kodachi Anna buru-buru masuk dan menutup kembali pagar rumahnya. Ia duduk sebentar di lantai ubin yang rendah dan dingin. Rumah mereka hanya terhalangi jalan. Tidak mungkin. Kodachi Anna masih tidak percaya dengan apa yang ditemukan pada sosok laki-laki yang bernama Nakamura Akito itu.

“Bagaimana di hari pertamamu masuk sekolah, Anna-chan?”

Ibunya, Kodachi Uno sudah berdiri di belakangnya. Kodachi Anna bergegas berdiri, membuka sepatu dan masuk ke dalam rumah.

“Biasa saja. Aku masuk klub astronomi dan bertemu beberapa orang,” sahutnya malas.

“Beberapa orang? Teman maksudmu? Kapan-kapan kau harus mengajaknya ke rumah.”

Kodachi Anna mendengar suara teriakan ibunya setelah ia masuk ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu memejamkan mata sejenak. Nakamura Akito, kenapa mereka selalu terhubung. Ternyata lelaki itu adalah tetangganya? Apa pun, selain itu. Jangan Nakamura Akito. Semua tentang lelaki itu penuh tanda tanya di benak Kodachi Anna.

Komentar