Sampai Jumpa - Rasa Takut Kehilangan

 

Tidak salah lagi. Nakamura Akito pasti menyembunyikan sesuatu darinya. Ada sesuatu yang tidak diketahui oleh Kodachi Anna, di antara para anggota klub, mungkin hanya dirinya yang tidak tahu apa-apa. Tapi kenapa lelaki itu menyembunyikannya dari Kodachi Anna?

“Pak guru, nasinya sudah matang.”

Kodachi Anna terbelalak saat tiba di ruang klub astronomi. Orang yang dipanggil rupanya sedang bermalas-malasan tidur, menempelkan kepalanya di atas meja rapat. Dengan suara dengungan kasar dari hidungnya.

Dia tertidur pulas.

Kodachi Anna mendekati Pak Urahara, lalu menggerak-gerakkan tubuhnya. “Pak, ayo makan!”

Ia terus saja menggerak-gerakkan tubuh Pak Urahara, meski yang didengar hanya erangan halus. Sepertinya Pak Urahara belum mau beranjak dari alam tidurnya,

“Makan! Makan!” Kodachi Anna semakin keras menggerakkan tubuh Pak Urahara, sehingga sebuah lembaran foto berbentuk kotak kecil terbang di udara. Sebuah foto yang mungkin sejak tadi berada di dekat Pak Urahara.

Kodachi Anna berjongkok, dan memungutinya kembali. Matanya menelisik dua sosok yang melekat pada lembaran foto. Seorang anak kecil yang tersenyum ceria dan seorang wanita paruh baya yang sedang memegang puncak kepalanya. Mungkinkah keluarga Pak Urahara? Tiba-tiba ia jadi teringat si pemilik senyuman ceria yang khas dan warna rambut itu, mungkin sejak dulu rambutnya memang seperti itu. Rambut yang melewati batas telinga.

“Nakamura-kun.”

“Aku merasa mual—” Pak Urahara masih merasa linglung. Ia memijit kepalanya yang terasa sakit. “Kenapa ya?” Lagi-lagi ia merebahkan kepalanya di atas meja.

“Pak guru.”

Sebelum Pak Urahara kembali terpejam lagi, Kodachi Anna langsung memanggilnya. Gadis itu mendongak, memandangi lelaki yang terpaut delapan belas tahun dengannya itu. Lelaki itu balas memandangnya sambil mengerjap dua kali.

“Di mana orang tua Nakamura-kun?”

Lelaki itu beralih pada lembaran foto yang berada di tangan Kodachi Anna. Ia terpaku sejenak, keringat dingin tiba-tiba saja mengalir di pelipisnya. Lalu ia melempar pandang ke arah lain.

“Pak guru.”

“Ah, itu....”

Pak Urahara kembali memandangi Kodachi Anna, sepertinya gadis itu sedang menunggui Pak Urahara untuk segera melanjutkan kalimatnya. Ia penuh tanda tanya.

“Sewaktu Akito-kun masih kelas dua SMP, orang tuanya meninggal karena kecelakaan.”

 Pak Urahara menyodorkan album foto yang berwarna cokelat, ujungnya agak sedikit lusuh. Tangan Kodachi Anna pelan-pelan saat membolak-balik album foto milik keluarga Nakamura. Di sana, Nakamura Akito kelihatan sangat ceria. Ia juga melihat foto kedua orang tua Nakamura Akito. Sepertinya, sejak dulu Nakamura Akito selalu ceria, bahkan di foto. Wajahnya selalu bersinar, sama seperti sekarang.

“Aku dan ayahnya mengikuti klub astronomi sewaktu kuliah dulu. Karena itu aku tahu tentang Akito-kun. Ah, aku bahkan mengenalnya sebelum ia lahir.”

Pak Urahara menyampingkan tubuhnya, ia melirik pada album foto yang sedang diperhatikan oleh Kodachi Anna, “Akito-kun kelihatan manis saat tersenyum,” lirihnya. “Tapi....”

Pak Urahara mengangkat wajahnya, seperti tengah membayangkan sesuatu. “Setelah kecelakaan itu, Akito tidak pernah tertawa lagi, juga tidak pernah menangis. Dia hanya terus menunduk.”

Bayangan Nakamura Akito tiba-tiba muncul. Seketika Pak Urahara mengingat masa lalu. Bocah SMP itu tengah duduk sendirian di pinggir sungai. Wajahnya murung. Dia melipat kedua lututnya sambil merasakan angin malam dingin yang lewat di sekelilingnya. Langit di atas sana tampak mendung. Dia merenung, dan seketika kedua bahunya bergerak saat seseorang menyerukan namanya.

“Akito-kun.”

Wajah itu familiar. Pemilik wajah itu menaiki sepeda, syal abu-abunya melingkar di leher, rambutnya kelihatan berantakan. Pemilik wajah itu melambai padanya saat ia berbalik, menoleh ke belakang.

“Kau sedang apa?”

Suara ketukan sepatu di atas rumput agak halus. Nakamura Akito melirik, dan memandangi sepatu cokelat itu sudah berada di sampingnya. Pemilik wajah itu tersenyum riang sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.

“Sedang observasi astronomi ya?”

Pemilik wajah yang tak lain adalah Pak Urahara itu menatap ke atas langit. Tapi sejak tadi, bocah SMP itu tidak juga bersuara. Dia semakin memeluk kedua lututnya erat. Wajahnya tambah murung, tidak suka jika ada orang yang memergoki ritual malamnya. Seperti saat ini.

“Waahh, tapi di langit yang seperti itu, bagaimana bisa melihat bintang?”

Pak Urahara menatap lurus, langit tampak pekat. Tidak ada bintang gemintang, juga bulan. Hujan baru saja reda, musim hujan sudah datang beberapa hari yang lalu, jadi langit di atas sana akan selalu terlihat mendung. Bahkan bintang nyaris tidak pernah kelihatan.

“Baiklah. Kalau begitu, ayo kita cari bintang,” ajak Pak Urahara bersemangat.

Lelaki itu menarik paksa tangan Nakamura Akito. Ia tidak peduli meskipun bocah SMP itu merengek, minta untuk dilepaskan. Pak Urahara sembari bersenandung ria, menyeret bocah itu menuju tempat sepedanya di parkirkan. Setelah memastikan Nakamura Akito sudah naik di belakangnya, Pak Urahara mulai mengayuh sepedanya.

“Paman, sebenarnya kita mau ke mana?” Bocah itu mulai bersuara, karena suasananya terlalu sunyi di atas sepeda. Untung saja jalanan yang mereka lewati sepi, sehingga Pak Urahara bebas membawa sepedanya dengan laju yang cukup kencang, ataupun menggerak-gerakkannya di tengah jalan.

“Tempat agar kita bisa melihat bintang,” katanya. “Ayah dan ibumu sudah jadi bintang,” serunya. Pak Urahara mengangkat kepalanya, memandangi langit yang gelap. Nakamura Akito mempererat pegangannya pada Pak Urahara, takut lelaki itu menabrak sesuatu karena pandangannya tidak fokus ke depan.

“Apa? Jangan membodohiku!” sungut Nakamura Akito. Tapi diam-diam bocah itu mendongak. Ia terus menatap ke atas memandangi langit yang pekat.

“Teruslah memandang ke atas. Ada bintang,” seru Pak Urahara. Nakamura Akito terpaku, ketika mereka melewati dua buah bintang yang berpijar di langit malam. Ternyata memang benar, masih ada bintang di tengah-tengah langit mendung itu. “Oh ... itu sirius, bintang yang paling terang di langit.”

Meski begitu, itu bisa membuat Nakamura Akito merasa tergugah, ia tidak mengalihkan matanya dari langit.

“Keren! Selama ini bintang itu ada di langit ‘kan?”

“Iya. Bintang itu selalu ada. Kalau kau terus mendongak, menatap ke atas, bintang itu akan kelihatan. Karena bintang itu berada di langit.”

Pak Urahara melirik ke arah Nakamura Akito, “Bahkan meski kau tidak bisa melihatnya, tetaplah memandang ke atas.”

Dan saat itulah, tangis Nakamura Akito pecah. Pak Urahara hanya diam, tidak mengatakan apa pun lagi. Lalu bocah SMP itu hanya mendesis, “Aku melihat bintang. Aku melihatnya. Aku melihat bintang, Paman,” katanya berkali-kali sambil berurai air mata.

***

Pak Urahara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu tersenyum kikuk pada Kodachi Anna yang sedang duduk berjongkok di depannya. Ceritanya mengenai Nakamura Akito sudah berakhir. Gadis itu menutup sebagian wajahnya dengan buku album yang sejak tadi ia pegang, merasa tersentuh dengan kisah yang barusan diceritakan oleh Pak Urahara.

Ia penasaran, bagaimana perasaan Nakamura Akito ketika ia mengatakan hal itu?

 Aku melihat bintang.”

“Akito-kun yang selalu menatap ke atas, menyadari bahwa masih ada orang yang memikirkan dirinya. Pelan-pelan, senyumnya pun kembali.”

Pak Urahara menghela pelan, “Meski kadang aku merasa kalau dia memaksakan diri untuk tersenyum.” Pak Urahara menumpu kedua sikunya di atas lutut, memperhatikan gadis yang masih bersembunyi di balik buku album itu. “Kodachi-san juga merasa begitu-kan?”

Kodachi Anna tersentak. Ia langsung mengulurkan buku album keluarga Nakamura itu. Perasaan yang menyakitkan, perasaan yang tidak nyaman, sisi lain dari Nakamura Akito, bayangan Nakamura Akito terus-terusan mengusik kepalanya. Karena itulah, Kodachi Anna jadi ingin tahu lebih banyak tentang Nakamura Akito. Lelaki itu, kadang sulit ditebak, kadang mengeluarkan ekspresi yang sering kali tidak dipahami oleh Kodachi Anna. Meskipun Nakamura Akito selalu ceria, ada sisi lain yang tidak pernah disadari oleh orang lain.

“Karena Akito-kun tidak mengatakan apa-apa, aku jadi ingin lebih banyak tahu tentang dirinya. Aku penasaran, mungkin ini hanya egoku saja.”

Pak Urahara terkekeh. Ia mengambil buku album dari Kodachi Anna.

“Pak guru, saya duluan ya.” Kodachi Anna hendak keluar.

“Ah, iya. Kalau semua sudah beres, saya akan langsung ke sana.” Pak Urahara menguap.

“Kami tunggu. Apakah Pak guru masih mengantuk? Kodachi Anna menghentikan langkahnya sebelum ia benar-benar meninggalkan pintu.

“Tidak, tidak. Aku akan ke sana sebentar lagi,” katanya terkekeh.

Kodachi Anna langsung melesat pergi. Dari cerita Pak Urahara, sosok Nakamura Akito adalah lelaki yang tegar. Bagaimanapun juga, rasa ingin tahu Pak Urahara, bukan hanya ego semata. Tapi itu adalah cinta. Rasa kepedulian dan kasih sayang seseorang kepada orang lain. Nakamura Akito tidak membentuk dinding pemisah. Lelaki itu tetap menjaga hubungan baik dengan orang lain. Nakamura Akito paham akan rasa takut kehilangan sesuatu.

Ahh!

Kodachi Anna diam sesaat. Raut wajah yang selalu ceria milik lelaki itu muncul di hadapannya. Nakamura Akito menghadapi rasa takutnya, meski takut akan terluka karena berhubungan dengan orang lain. Nakamura Akito tidak lari, ia tetap tertawa. Selalu ceria. Nakamura Akito sangat tegar. Berbanding terbalik dengan dirinya, yang malah kabur dan menjadi pengecut. Tetap menjaga jarak dengan orang lain, melindungi diri dari ketakutan agar tidak tersakiti. Kodachi Anna bahkan menahan diri agar tidak menyukai orang lain, juga tidak boleh jatuh cinta kepada orang lain. Ia benar-benar pengecut.  

Komentar