LAKUNA - Pertemuan 2
“Aku senang melihatmu.”
Kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Disti membuat Arya heran. Apa
maksudnya? Bukankah sejak tadi ia berada di sana? Mata cokelatnya membesar saat
Disti memeluknya erat.
“Arya, ini aku, gadis kecil yang pernah tinggal di tengah hutan,”
katanya, ia berlari ke kamar dan mengambil sesuatu dari nakas.
“Ini, aku ingat liontin yang pernah kau berikan itu.”
“Jomu yang aneh,” gumam Arya, “Apa ini yang namanya takdir karena kita
dipertemukan kembali?” gurau Arya kendati begitu ia sangat bahagia.
“Sekarang Disti, Adhisti Lavannya. Ibu angkatku memberikan nama itu
untukku setelah kami pindah rumah,” katanya.
Arya menarik napas lega.
“Arya, ambillah. Ini satu-satunya kenangan dari Ibumu, maka ambillah.”
“Tidak, aku ingin kau menyimpannya,” kata Arya menggenggam tangan
Disti.
Saking bahagianya, Arya lalu mengambil ponsel dan segera menghubungi
seseorang. Mereka berdua mendengar suara dari seberang,
…
Ada apa, Arya? …
… Paman,
aku menemukan Jomu … Jomu kita yang tak lain adalah Disti … Paman, takdir
berpihak kepada kami …
Arya langsung menutup
telepon
***
Takdir? Anak itu ada-ada saja. Tapi
syukurlah mereka sudah bertemu. Begitu pikir Niscala. Rawikara menoleh pada
Niscala yang menatap ponselnya yang masih menyala.
“Anakmu sedang bahagia,” katanya tiba-tiba.
Niscala sudah lama mencari gadis itu, tapi ia masih heran darimana
Arya tahu kalau Disti adalah Jomu? Gadis kecil yang pernah tinggal di hutan itu.
Niscala tersenyum, pantas saja gadis itu kelihatan tidak asing. Gadis kecil yang
hanya menangis, gadis kecil yang tidak mau berbicara dengannya, gadis yang
hanya mau berbicara dengan Arya dan Lativa, gadis yang tersenyum pertama kali
padanya saat akan meninggalkan gubuk.
Jomu tumbuh dengan sangat baik, gumamnya pelan. Ternyata Tuhan punya
banyak cara untuk mempertemukan dua orang yang telah lama berpisah. Sejauh
apapun, jika sudah waktunya maka mereka pasti akan bertemu. Seperti itulah takdir,
batin Niscala.
“Apa yang membuat Arya bahagia?” tanya Rawikara setelah berhenti
mengetik diatas keyboard, ia tengah membuat laporan soal kasus pembunuhan.
“Kau ingat gadis kecil yang dulu aku temukan di hutan itu?” kata
Niscala ragu.
“Ah, gadis itu? Kenapa?”
“Arya menemukannya. Kabar yang mungkin tidak mengenakkan untukmu
adalah, ternyata gadis itu adalah Disti.” Niscala memelankan suaranya.
“Hah?”
“Setelah ini kita harus berkunjung ke tokonya. Aku ingin menyapa gadis
itu lagi,” kata Niscala.
Rawikara mengangguk lemah. Namun ia kembali terusik, bagaimana bisa?
Gadis yang dulu ia tolak untuk menjadi keluarganya itu justru ia perhatikan dan
jaga saat ini. Kenyataannya, gadis itu adalah Disti yang membuat ia harus bertanggung
jawab atas duka yang dialami oleh gadis itu.
***
“Sekarang kedua detektif itu sudah pergi. Tenang ya, sebentar lagi aku
akan mencarikan teman untukmu,” lelaki yang mengenakan topi hitam itu menyentuh
dagu seorang gadis yang tengah terkulai di kursi dengan kedua tangan terikat, mulut
dibekap, dan kedua mata ditutup. Wanita itu tampak jijik, saat si lelaki
mengelus wajahnya, ia berusaha menjauhkan wajah agar lelaki itu tidak
menyentuhnya lagi. “Jangan takut sayang. Aku akan memainkan sesuatu untukmu,”
katanya tertawa.
Fugue in D Minor mengalir di sela sambaran petir dan hujan lebat yang tiba-tiba
turun di tengah kota. Jemari tangannya lemah-gemulai memainkan biola, kepalanya
tidak berhenti mengikuti irama yang tengah dimainkan.
Tempat itu sepi sementara gadis itu hanya menangis dan tidak merasa
terhibur. Musik yang dimainkan oleh lelaki itu baginya sangat mengganggu dan
menjijikkan. Jikapun ia dapat melihat wajah sang pemain, mungkin ia sudah
meludahinya saking marah dan bencinya.
***
“Ah ... hujan,”
seru Arya.
Arya membantu Disti memasukkan bunga-bunga yang ada di luar dan mereka
segera menutup toko. Disti yang sudah basah karena hujan segera menuju kamar
mandi hendak keramas, sementara Arya menunggu di ruang tamu menunggu ayah dan
pamannya yang akan berkunjung.
“Bersihkan dirimu dulu, nanti sakit,” kata Disti menyadari Arya yang
juga basah.
Mereka bergantian, Disti memberikan pakaian milik Atha yang langsung
dikenakan oleh Arya.
“Apa mereka jadi datang?”
“Iya, Paman ingin bertemu denganmu,” jawab Arya.
Disti mengangguk dan meminum chamomilenya, “Kenapa tiba-tiba hujan,
ya?” gumamnya.
“Cuaca sekarang tidak menentu. Akibat perubahan cuaca seperti ini,
banyak orang sakit.” Arya membeo, “Jangan sampai sakit lagi, ya, banyak orang
yang khawatir,” tambahnya.
“Terima kasih,” ujar Disti tersenyum simpul.
“Omong-omong, bagaimana pertama kali kau bertemu dengan Atha?”
Kenangan itu kembali terulang, segala hal tentang Atha tergambar jelas
diingatannya. Lelaki yang baik hati, lelaki yang lembut, lelaki yang melakukan
apa saja untuknya, lelaki yang tidak pernah membuat ia menangis selama mereka
bersama. Lelaki yang bertemu dengannya dua belas tahun yang lalu. Ia dan ibu
angkatnya menemukan Atha duduk di bawah gerobak dorong. Wajah bocah kecil itu
terlihat kumal, ia meringkuk, memeluk kedua lututnya.
Ibu angkatnya yang baik menyuruh anak laki-laki itu keluar dari bawah
gerobak, namun si kecil Atha menggeleng dan menerima roti yang diberikan
untuknya. Karena bocah itu tidak juga mau keluar, ibu angkat mereka meminta
seorang bapak-bapak memindahkan gerobak dorong tersebut.
Atha kecil nampak ketakutan, matanya liar memandang sekeliling. Ibu angkatnya
yang baik, Catansia namanya, memeluknya erat, menenangkannya. Ibu angkat mereka
kemudian membawa Atha pulang ke rumah, merawatnya, menjadi satu keluarga.
Setelah Ibu angkat mereka meninggal, Atha bertanggung jawab terhadap
Disti. Kenangan itu begitu banyak sehingga ia mampu melupakan hal-hal sedih. Atha
yang juga baik, sadar diri karena mereka berasal dari tempat yang sama,
seseorang yang ditemukan dan di asuh, juga lelaki itu amat mencintainya.
“Kami sama-sama berasal dari tempat yang ditemukan. Juga diasuh oleh
orang lain. Tapi bagaimanapun juga, keluarga kami bahagia,” kata Disti.
“Apa lelaki itu begitu berharga bagimu?”
Disti terdiam, Arya memainkan jari-jarinya di atas lengan sofa, “Lantas,
bagaimana jika ada seseorang yang datang-,” kalimatnya terpotong saat sebuah
ketukan terdengar di pintu, “Ah, biar aku saja,” katanya mendahului Disti menuju
ke arah pintu.
Arya menemukan dua orang yang mereka tunggu terlihat basah kuyup di
depan pintu. “Hei.” Paman Niscala tersenyum lebar sambil menyapa. Air menetes berasal
dari pakaian keduanya dan langsung masuk ke dalam rumah, sementara Disti mencari
baju ganti untuk kedua tamunya itu.
Komentar
Posting Komentar