Sampai Jumpa - Pindahan
Di langit
malam tanpa bintang. Angin malam yang lewat sangat dingin, hingga menembus
mantel dan menusuk kulit. Setiap ruas jalan di sisi kiri dan kanan, membentang
petakan sawah. Garis-garis penghalang selebar dua meter, juga ada yang seperempat
meter membentuk liukkan ular. Keluarga Kodachi baru saja pindah ke desa
Totsukawa. Salah satu anggota keluarganya adalah seorang gadis
berumur tujuh belas tahun yang berdiri di dekat tiang lampu yang redup. Matanya
sibuk menatap layar ponsel yang sedang menyala, melihat sebuah berita tentang ‘Ditemukannya Mayat Di Pinggir Sungai Kamo-Gawa’, dan ‘Penangkapan Perdana Menteri ‘Doujin
Shirakawa’ Di Kantornya’. Sebenarnya, ia tidak begitu suka membaca berita.
Ia memasang earphone ke telinga yang sejak tadi menggantung
di leher. Memutar lagu, One Ok Rock yang memenuhi daftar musiknya. Saat ia
ingin berpindah posisi dari tempatnya, tiba-tiba ia terpeleset dan terjengkang
ke sawah. Celana dan mantelnya terkena lumpur, untung saja tangannya sigap
mengangkat ponselnya tinggi, tapi kabel-kabel earphone-nya terkena cipratan lumpur.
“Aduh!”
Salju pertama
turun. Matanya menerawang ke langit, membiarkan bongkahan kecil-kecil itu jatuh
ke wajahnya. Dingin. Tempat itu sepi, mungkin orang-orang desa
jarang beraktivitas di malam hari. Tidak ada yang menarik di desa ini.
“Untung saja
tidak ada yang melihat,” gumamnya.
Tiba-tiba
lengan kanannya serasa ditarik oleh seseorang.
Siapa? Kenapa ada orang? Apakah dia melihatku terjatuh di sini?
Orang itu
membantunya keluar dari sawah.
“Uwaaa!”
“Kau tidak
apa-apa?”
Suara laki-laki,
ia melirik ke samping setelah berhasil berdiri. Lumpur basah itu serasa
merembes ke kaus kakinya. Orang-orang desa memang baik, seperti yang ibunya
pernah bilang, “Di desa kita tidak akan
kesusahan.”
Semua itu karena
solidaritas bermasyarakatnya cukup tinggi. Orang-orang desa cenderung membantu
orang lain, meskipun mereka baru mengenal orang tersebut.
“Iya, terima
kasih,” ujarnya.
Lelaki itu
menyentuh bahunya dan juga berhasil memutar tubuh sehingga mereka saling berhadapan
satu sama lain. Mereka sebaya, wajah lelaki itu mendekat ke arahnya sehingga ia
sedikit memundurkan tubuh. Ia mengerjap berkali-kali saat mata hitam lelaki itu
menatapnya.
“Aku tidak
pernah melihatmu. Apakah kau tinggal di dekat sini?”
Mantel
bulu-bulu yang dikenakan oleh lelaki itu tertutup bongkahan salju yang
kecil-kecil. Rambut hitamnya kelihatan berwarna putih karena salju juga
bersarang di sana, telinga dan hidungnya memerah menahan dingin.
“Aku baru
pindah ke sini.”
“Oh ... begitu.”
Kodachi Anna
memandang gelagat lelaki desa yang baru bertemu dengannya. Lelaki itu
mengusap-usap dagunya, kemudian memeriksa jam yang melingkar di pergelangan
tangan kanannya.
“Gawat,”
gumamnya. “Kalau aku terlambat pulang, bisa-bisa Nenek akan marah dan memukulku.
Kalau begitu, sampai jumpa ya.”
Lelaki itu
tersenyum, melambai, lalu berlari memunggunginya.
“Sampai jumpa,
Anna-chan.”
Lelaki itu
mengingatkannya pada seseorang. Mereka tidak akan bertemu lagi. Tidak akan
pernah. Kenapa orang-orang selalu memberi harapan yang justru akan dikhianati
sendiri? Di mana pun, pergi ke mana pun akan sama saja. Kalau pada akhirnya
akan tetap kehilangan, ia tidak butuh seseorang yang berharga. Kodachi Anna
menunduk, menatapi layar ponselnya. Sementara kedua telinganya masih
mendengar Wherever You Are lagu
band kenamaan Jepang yang ia sukai.
“Anna-chan.”
Mobil
pengangkut barang itu mendekatinya. Kepala ayahnya sudah muncul di jendela yang
setengah terbuka. Kodachi Anna memutar lewat depan mobil, dan duduk di kursi
penumpang yang ada di samping ayahnya.
“Percayalah,
kau akan senang berada di sini.”
Kodachi
Morino, seorang salaryman yang
bekerja untuk perusahaan besar sejenis korporasi. Salaryman pekerja serabutan, bahkan juga rela jika harus dipindah tugaskan.
Para pekerja salaryman membawa
keluarganya meninggalkan rumah dan tinggal di rumah dinas milik perusahaan.
Karena itulah, Kodachi Anna tidak pernah lama menetap. Lima tahun, dua tahun,
bahkan pernah satu tahun, Kodachi Anna harus ikut bertransmigrasi bersama
keluarganya. Berpindah dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain, bertemu
dengan teman baru, lalu mereka berpisah lagi. Begitu yang terjadi selama ini. Ia
tidak tahu, sampai kapan mereka akan tinggal di desa terpencil ini.
Mobil
pengangkut barang berhenti. Kodachi Anna dan ayahnya keluar, mereka menuju
teras yang selebar lima meter. Ibunya, Kodachi Uno sedang mengeluarkan
barang-barang yang ada di dalam kardus. Rumah itu lumayan luas. Di halaman
depan ada autumn leaves yang tumbuh tinggi.
Tangannya
kedinginan. Mungkin karena salju pertama turun di malam ini. Ia memegang pilar
kayu yang menyangga sudut teras, kayu-kayu itu juga terasa dingin. Ia melepas
sepatunya dan naik ke dalam rumah.
“Kau harus
membersihkan diri dulu, Ibu sudah menyiapkan air panas.”
Kodachi Uno
merapikan bingkai-bingkai foto di lemari besar yang berdempetan dengan sudut
tembok. Ia tidak memperhatikan kalau mantel dan celana anaknya kotor karena
terkena lumpur. Ayahnya juga sedang sibuk memasang paku di tembok dapur mereka.
Kenapa mereka bekerja malam-malam begini? Seharusnya mereka istirahat karena
perjalanan yang lumayan jauh dari kota.
Kodachi Anna
pergi ke kamar mandi dan berendam cukup lama, asap-asap air panas mengepul di
udara, menyentuh langit-langit kamar mandi. Busa-busa sabunnya beterbangan di
sekitar, ia masih asing di tempat yang baru. Besok ia juga akan mulai masuk
sekolah.
Jangan mencoba
dekat dengan siapa pun dan berteman dengan siapa pun. Kodachi Anna bertekad dalam hati.
Kodachi Anna
menenggelamkan diri di bak mandi. Ia merasa kamar mandi lebih hangat daripada
di luar.
“Anna-chan, Anna-chan.”
Itu suara
ibunya yang menggedor-gedor pintu kamar mandi. Ia membersihkan sisa sabun yang
masih menempel di tubuhnya.
“Jangan
lama-lama berada di kamar mandi. Kita harus makan malam.”
“Iya.”
Ia menyahut
dari kamar mandi. Terdengar suara langkah kaki ibunya yang sudah pergi dari
depan pintu kamar mandi. Kodachi Anna mengambil baju tebal berlengan panjang
yang ia simpan di kotak baju dekat pintu kamar mandi.
Ia keluar dan
mendapati orang tuanya sudah berada di meja makan, mendahuluinya makan malam.
Ibunya langsung menyodorkan mangkuk nasi untuknya. Suasana di meja makan
kelihatan lebih tenang.
“Besok hari
pertama Anna-chan masuk sekolah ya. Ibu
harap kau mendapatkan teman yang banyak. Kau harus membuka diri dengan
teman-teman barumu.”
Tidak juga.
Ibunya sudah
mulai angkat suara.
Dulu, saat di
sekolah lama, Anna langsung pulang ke rumah. Ia tidak pernah pulang bersama
teman-temannya, ataupun seperti gadis SMA lain, yang selalu mampir di kafe
pinggir jalan, juga ramai-ramai pergi karaoke. Anna sangat menjaga jarak dengan
orang lain. Ia hanya sesekali keluar bersama ibunya ke pasar, atau pergi ke
toko kue biasa yang menjadi langganan ibunya. Dan barulah di sana ia
memanfaatkan kesempatan untuk berkeliling dan bermain game, atau berbelanja aksesoris sendirian, sementara ibunya
mengobrol dengan paman dan bibi penjual kue yang sudah seperti teman akrab.
“Ah, ini,”
kata ibunya memberikan potongan wortel pada ayahnya. “Ada anak yang seumuran
denganmu tinggal di sebelah. Siapa tahu kalian satu sekolah, sehingga kalian
bisa berangkat dan pulang bersama,” lanjut ibunya.
Anna menyelesaikan
makannya dengan cepat. Ia tidak mau berlama-lama mendengar ocehan ibunya.
Selalu saja, yang menjadi speak leader di meja makan adalah
ibunya. Sementara ayahnya diam dan tidak peduli. Padahal, ia lebih suka saat
ibunya tidak membicarakan soal apa pun, suasana di meja makan yang tenang.
“Terima kasih
atas makanannya.”
Dia lebih dulu
meninggalkan meja makan dan menuju kamar barunya. Di kamar itu, masih ada bau
cat yang sepertinya sudah lewat dua atau tiga hari yang lalu. Mungkin rumah ini
direnovasi sebelum mereka menempatinya. Anna merebahkan tubuhnya di atas seprei
yang lembut. Untung saja ibunya sudah memasangkan seprei yang wangi di tempat
tidurnya.
Akhirnya, ia
terlelap juga.
Komentar
Posting Komentar