Sampai Jumpa - Tetangga Baru

 

Nakamura Akito menelusuri udara yang dingin. Apalagi ini adalah malam pertama turunnya salju. Semakin dingin, meski ia sudah membungkus tubuhnya dengan mantel berbulu. Nenek Hiyoko pasti sudah menungguinya di rumah. Wanita tua itu hanya menyuruhnya membeli obat pereda sakit kepala, di toko yang berada di ujung jalan. Dan untunglah ia sudah mendapatkan obat pesanan Nenek Hiyoko. Ia tidak mau berjalan ke apotek farmasi dengan menyeberangi jembatan yang lumayan jauh.

Sepertinya akan ada penghuni baru di lingkungan ini.”

Ia melihat mobil pengangkut barang yang baru saja lewat saat berangkat. Rupanya akan ada keluarga yang menempati rumah itu. Lagi. Setelah dua tahun rumah itu kosong, dan anak-anak kecil yang berada di lingkungan itu tidak berani lewat.

Ada hantu. 

Membuat semua orang ciut. Kousuke, anak kecil yang katanya pernah melihat bayangan putih atau entahlah, bercerita pada teman-temannya. Jadi, semua anak-anak yang sering bermain bersama Nakamura Akito jarang ke rumahnya, mereka takut. Padahal, tiap kali Nakamura Akito lewat sana, tidak ada apa-apa. Hanya rumah kosong, dengan lampu depan yang remang-remang. Tapi sekarang tidak lagi, karena lampu depannya sudah menyala sedikit lebih terang. Masih terlihat remang, karena pemilihan bola lampu dengan daya kecil.

Tidak salah lagi. Setelah kembali dari toko di ujung jalan sana, Nakamura Akito bertemu dengan seorang gadis yang sebaya dengannya. Ia sangat pendek dan jarang tersenyum.

Mungkin saja ia adalah penghuni rumah baru itu.

“Kenapa kau lama sekali?” Nenek Hiyoko sudah menungguinya di luar.

“Nenek, di luar sangat dingin. Nanti kau tambah sakit.”

Nakamura Akito membawa wanita tua itu masuk. Di ruang tengah sudah ada meja rendah dan suguhan makanan di atasnya. Nakamura Akito membantu wanita itu duduk di bantalan hangat.

“Rumah itu sudah ditempati. Besok aku akan menyapa tetangga baru kita.” Nenek Hiyoko menyumpit nasinya dan melahapnya dengan sangat pelan. Giginya masih kuat, tapi karena cuaca dingin membuat tubuhnya jadi lemah.

Nakamura Akito juga bertemu dengan orang baru. Gadis kota yang belum pernah dilihat di desanya. Mereka sebaya, tapi tubuhnya kecil, sehingga Nakamura Akito harus menunduk saat berbicara dengannya. Mereka tidak berbicara banyak, juga tidak sempat saling berkenalan.

“Akito-kun, kau juga harus menyapa dan membantu mereka.”

“Iya, Nek.”

Setelah makan malam selesai, Nakamura Akito kembali ke kamar. Kamarnya rapi, walau masih kelihatan ada debu yang membentuk sarang di sudut temboknya. Seragam sekolahnya berada di hanger, menggantung di paku yang sudah tertanam pada tembok kamarnya. Ia tidak memiliki buku yang banyak sehingga harus ia rapikan di atas meja belajar. Kamera milik temannya ada di atas tempat tidur, juga sepasang kaus kaki yang biasanya ia gunakan ketika dingin mulai merayap. Seperti malam ini.

Ada sebuah foto yang tergeletak di atas meja belajarnya. Seorang laki-laki dan wanita dewasa, juga anak kecil yang tak lain adalah dirinya. Mereka dulunya adalah sepasang keluarga yang utuh, sebelum kecelakaan itu terjadi. Peristiwa kebakaran di rumahnya, hingga membuat ia kehilangan kedua orang tuanya. Semuanya tidak ada yang tersisa. Hanya selembar foto yang selalu mengingatkan ia pada Ayah dan ibunya yang sudah jauh di atas sana.

Ia masih berumur tiga tahun. Masih sangat kecil saat kebakaran itu terjadi. Api itu berasal dari cerobong asap yang terlalu panas, apinya merambat pada gas yang biasa digunakan memasak oleh ibunya. Ia baru sadar saat tirai-tirai jendelanya berwarna merah membara, persediaan tabung-tabung gas untuk musim dingin meledak di gudang, sehingga membuat kobaran api semakin besar seperti raksasa yang siap melahap sekitarnya.

Ah ... saat itu.

Ia menangis dan bersembunyi di sudut kamarnya. Takut akan api yang terus berkobar dan hampir menyentuh tempat tidurnya. Kalau saja ayahnya tidak datang, mungkin ia tidak akan selamat. Nakamura Hayama, mendiang ayahnya menyelamatkannya pertama kali. Sementara ibunya, Nakamura Ichira terjebak di kamar.

Kebakaran di rumah keluarga Nakamura, hanya satu orang yang selamat. Dan itulah dirinya, Nakamura Akito. Sejak saat itu hingga sekarang, ia tinggal bersama Nenek Hiyoko, ibu dari ayahnya. Meski Nenek Hiyoko sering mengomel karena ia kadang terlambat pulang, baginya, itu adalah bukti kasih sayang yang diberikan oleh wanita berumur enam puluh dua tahun tersebut.

Dari jendela kamarnya, Nakamura Akito memperhatikan rumah itu. Tidak segelap sebelumnya, lampu tengah menyala, ia juga bisa melihat bayangan si pemilik baru yang sedang mondar-mandir, entah memindahkan barang dan sebagainya. Rumah itu tampak hidup, kelihatan ramai oleh keluarga yang baru saja menempatinya, meski lampu depan masih agak temaram. Mungkin besok, tetangga barunya harus mengganti lampu depan agar anak-anak tidak takut lagi saat melewatinya. Dan semoga saja tetangga barunya ramah.

Nakamura Akito memindahkan kamera ke meja belajar sebelum ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Menatap langit-langit kamarnya yang berwarna cokelat tua, rambut hitam ikalnya yang agak tebal menutupi jembatan dahinya, bahkan melewati garis alis yang hampir menyentuh mata.

Ah ... apakah sudah waktunya memotong rambut? Tapi ia lebih suka dengan rambutnya yang seperti ini. Ia juga tidak terlalu gondrong, sekolah juga tidak mengatakan apa-apa soal rambut. Jadi sepertinya tidak masalah. Warna rambutnya mirip mendiang ayahnya, makanya ia tidak seperti teman-temannya yang suka mewarnai rambut dan menirukan gaya rambut dari band-band yang teman-temannya sukai itu. Beberapa menit setelahnya, matanya terpejam. Dan ia tertidur pulas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah