Sampai Jumpa - Sekolah Baru
“Sampai
ketemu nanti di rumah.”
Kodachi
Anna melambai pada ayahnya yang baru saja meninggalkan ia di depan sekolah
barunya. SMA Totsukawa yang tidak sebesar SMA-nya yang ada di Kyoto mulai ramai
oleh remaja-remaja yang seusianya, juga ada yang di bawahnya. Untung saja,
ayahnya sudah memberitahu letak ruang kepala sekolah yang harus pertama kali ia
kunjungi, sehingga ia tidak kesulitan saat ke sana.
Ruangan
kepala sekolah terletak di paling ujung dan saling berhadapan dengan ruang
guru. Kodachi Anna masih ragu-ragu, apakah ia harus masuk atau tidak. Sesekali
matanya mengintip lewat jendela, dia juga mondar-mandir di koridor, di antara
ruang guru dan ruangan kepala sekolah.
Ia
terkesiap.
Seseorang
menyentuh bahunya. Apakah kepala sekolah sudah berada di belakangnya? Apakah
kepala sekolah melihatnya mondar-mandir di depan ruangannya dan akan memarahinya?
Sepertinya tidak, ia ‘kan seorang murid baru. Atau mungkin saja siswa lainnya
yang kebetulan lewat sini dan melihatnya seperti seorang yang kebingungan.
“Kau
murid baru itu ya?”
Ia
berbalik dan memandangi lelaki dewasa mengenakan kemeja abu-abu yang dimasukkan
ke dalam celana formalnya. Lelaki itu berkumis, dan rambutnya acak-acakan.
Kodachi Anna menautkan kedua alisnya. Apakah
dia kepala sekolah?
“Saya
Urahara Seto. Wali kelas 2 B, kepala sekolah sudah memberitahuku kalau kau akan
datang pagi ini, Kodachi-san.”
Lelaki
dewasa yang baru saja memperkenalkan diri itu tersenyum sambil memperlihatkan
giginya yang rapi.
“Kudengar
kau pindah dari Kyoto ya? Keluargaku juga ada yang di sana.”
Pak
Urahara mendahuluinya masuk ke ruang
kepala sekolah. “Tunggu apalagi? Ayo, kita akan menunggu kepala sekolah di
dalam!”
Kodachi
Anna dan Pak Urahara Seto duduk di sofa. Tak menunggu lama, lelaki pendek
dengan perut buncit serta kaca mata yang bertengger di atas hidungnya muncul. Ia
mengenakan setelan jas cokelat tua. Kepala sekolah baru saja datang. Ia menaruh
tas di atas meja kerjanya, lalu bergabung bersama mereka.
“Ternyata
kalian lebih pagi ya. Untung saja Pak Urahara pertama kali menemukannya. Saya
khawatir sekali dengan murid baru, apalagi Kodachi Anna baru saja pindah dari
Kyoto. Dia masih asing dengan tempat ini.”
“Saya
Suzuki Ueda, selamat bergabung dengan sekolah baru, Kodachi Anna. Dan saya
yakin kalian berdua sudah saling kenal. Pak Urahara ini yang akan menjadi wali
kelasmu.”
Kodachi
Anna tampak malu-malu. Ia masih canggung dengan suasana asing seperti ini.
Seharusnya, ayahnya ikut menemaninya di sini hingga ia masuk kelas. Tapi
seperti biasa, Kodachi Morino diburu oleh pekerjaan.
“Antarkan
dia ke kelas,” suruh kepala sekolah.
Kodachi
Anna dan Pak Urahara Seto segera meninggalkan ruangan kepala sekolah.
Koridor-koridor
kelas sudah sepi. Semua siswa sudah masuk ke dalam kelas masing-masing, walau
kadang ada satu-dua murid yang sedang berkeliaran di sekitar. Kodachi Anna
berjalan di belakang Pak Urahara Seto, lalu berhenti di depan ruang kelas.
Kodachi Anna masih tampak malu-malu, ia menunduk menatapi lantai ubin ruangan.
Dia ingin benar-benar pergi dari situasi canggung yang sedang dihadapinya
sekarang ini.
“Woahh....”
Kodachi
Anna mengangkat kepalanya. Wajah itu tidak asing. Lelaki yang duduk di bangku
paling belakang itu berteriak sambil menunjuk ke arahnya. Lelaki desa yang
pernah menolongnya saat ia jatuh di sawah.
“Tenang,
Akito-kun.” Suara Pak Urahara
menguasai kelas. “Kalian kedatangan teman baru. Aku harap kalian ramah padanya.
Nah, Kodachi-san, silakan perkenalkan
dirimu di depan kelas.”
“Hai.
Namaku, Kodachi Anna.”
Semua
orang di dalam kelas diam. Menunggu Kodachi Anna melanjutkan perkenalannya.
Tapi tidak. Kodachi Anna tidak mengatakan apa-apa setelah itu, hanya perkenalan
singkat.
“Kodachi-san, kau boleh duduk di bangku kosong
yang ada di belakang sebelah Nakamura. Kalian semua, baik-baiklah pada Kodachi-san,” pesan Pak Urahara.
Kodachi
Anna menuju tempat duduknya. Di sebelahnya ada lelaki desa yang kemarin
menolongnya. Lelaki itu memiringkan badan. Kaki kanannya melewati batas bangku.
Ia terlalu ceria, bahkan mungkin ia tidak pernah kecewa dan sedih.
“Kita
bertemu lagi, Anna-chan. Salam kenal,
namaku Nakamura Akito! Panggil aku, Akito, Anna-chan.”
Ternyata aslinya
seperti ini?
“Kau
mengenalnya?”
Beberapa
siswa laki-laki berkerumun di sekitar bangku mereka. Kodachi Anna tampak acuh,
ia mulai mengasingkan diri. Mengambil buku dan pura-pura membaca. Ia
menginginkan dunianya sendiri. Lebih baik jangan ada yang masuk, jika pada
akhirnya akan tetap kehilangan juga. Ia mencoba menciptakan jarak dengan orang
lain. Orang-orang yang ada di sekitarnya.
“Kami
berteman kemarin.”
Suara
lelaki itu mencuri pendengarannya. Apaan
sih? Sok akrab!
Kenapa
sekolah mereka harus sama? Tempat duduk mereka juga bersebelahan. Ah ... ia
tidak mau peduli orang macam apa lelaki itu.
“Nakamura-san!” panggil Kodachi Anna.
Wajahnya tampak kusut dan sebal. Siswa
laki-laki yang berkerumun di bangku lelaki itu diam, mengangkat wajah
memandangnya. Mereka terlalu berisik. Baru saja ditatap seperti itu, semua siswa
laki-laki kelihatan ciut.
“Terima
kasih untuk yang kemarin. Tapi aku sama sekali tidak mau berurusan denganmu.”
Ia
tidak mau lagi berhubungan terlalu dalam dengan orang lain. Tidak akan pernah.
Ia menatap bukunya kembali.
“Hahahaha.”
Kodachi
Anna menoleh lagi saat mendengar gelak tawa yang berasal dari lelaki itu. Apakah
ia mengira kalau Kodachi Anna sedang bercanda? Apakah kalimat penegas itu tidak
mempan untuknya? Tidak lucu sama sekali.
“Dia
sangat menarik. Hahahaha!”
Menarik?
Lagi-lagi
lelaki itu tertawa. Padahal teman-temannya yang lain malah ingin menjauhi Kodachi
Anna, tapi ia sendiri? Bukankah kalimat Kodachi Anna barusan hanya dipertegas
untuknya? Ya ... walaupun nantinya akan berlaku bagi yang lain juga.
“Nakamura-kun, hatimu dari baja ya?”
Salah
satu siswa laki-laki di sana berujar, “Nee ... Nakamura-kun, apakah kau tidak mengerti maksudnya? Dia itu tidak mau
berurusan denganmu, berarti dia juga tidak mau mengenalmu,” tambahnya.
Kodachi
Anna menoleh lagi. Membenarkan. Tapi tetap saja, lelaki itu menertawainya.
“Kembali
ke tempat duduk masing-masing. Sisa berkenalannya dengan Kodachi-san bisa dilanjutkan nanti pada jam
istirahat.”
Melihat
siswa laki-laki ribut di belakang, suara Pak Urahara kembali mengisi ruang
kelas. Ia akan melanjutkan pelajaran setelah semuanya tenang. Kodachi Anna
merasa lega, setelah teman-teman Nakamura Akito kembali ke bangkunya
masing-masing. Situasi yang tidak mengenakkan, saat ia dikerumuni oleh
orang-orang baru. Apalagi oleh laki-laki yang tidak ia kenal.

Komentar
Posting Komentar