Sampai Jumpa - Jangan Menyerah Tentang Aku
Sudah
lima menit Kodachi Anna berdiri di samping gerbang sekolah. Sesekali gadis itu
melongokkan kepalanya, mengintip ke tempat parkiran. Biasanya, Nakamura Akito
berada di sana mengeluarkan sepedanya.
Mizutani
Akira dan Yamaguchi Hasumi sudah lebih dulu pulang, meninggalkan mereka.
Padahal, Yamaguchi Hasumi ingin pulang bersama dengan Nakamura Akito. Tapi
Mizutani Akira lebih dulu menarik-narik tasnya, sepertinya gadis itu ingin
memberikan ruang untuk Kodachi Anna dan Nakamura Akito, walaupun ia belum tahu
permasalahannya seperti apa.
Matanya
tertegun sejenak. Nakamura Akito sudah berada di hadapannya. Lelaki itu
menyeret sepedanya sambil menoleh pada Kodachi Anna. Ia harus menyampaikannya
sekarang. Kodachi Anna mengambil langkah, mendekat kepada Nakamura Akito.
“Ada
yang ingin kukatakan padamu.”
“Baiklah.”
“Ehm....”
Kodachi Anna mundur satu langkah saat tiba-tiba wajah lelaki itu berada sangat
dekat dengannya.
“Ukh.” Dia memutar lewat belakang Nakamura
Akito dan ikut memegang sepedanya. Tangan Nakamura Akito lepas begitu saja dan
sekarang Kodachi Anna-lah yang memegang kemudi sepeda. Tiba-tiba saja gadis itu
sudah naik.
“Ayo
naik!”
“Hah?”
“Naik.”
“Kenapa
tiba-tiba aku yang disuruh di belakang?”
“Cepat.”
“Baiklah.”
Nakamura
Akito akhirnya menuruti kata Kodachi Anna. Lelaki itu berpegangan pada bahu Kodachi
Anna yang kecil. Sepanjang jalan ia merasa tidak tenang. Apalagi jalan yang
mereka lalui tidak rata. Belum lagi, tubuh Kodachi Anna yang kecil membawanya
yang bahkan beratnya lebih dari gadis itu. Kodachi Anna kelihatan terengah
karena kelelahan mengayuh. Rambutnya sudah kelihatan semrawut di tengah musim
dingin.
“Nee,
Anna-chan, berhenti dan biar aku saja
yang berada di depan. Kau kelihatan menderita sekali.” Nakamura Akito
memelankan suaranya.
“Tidak.
Biar aku saja. Aku bisa.”
“Bu-bukan
begitu. Tanjakan yang ada di depan cukup tinggi. Kau tidak akan kuat membawa
kita berdua.”
Nakamura
Akito tetap berusaha membujuk Kodachi Anna agar mau menghentikan sepedanya,
tapi gadis itu tetap kukuh ingin membonceng Nakamura Akito. Dan benar saja, di
depan sana sudah kelihatan tanjakan yang lumayan tinggi. Kodachi Anna mungkin
tidak akan kuat jika terus memaksakan diri.
“Na-Nakamura-kun.” Sebentar lagi mereka akan menempuh
tanjakan yang lumayan terjal. “Aku suka padamu.”
Hening.
Wajah
Kodachi Anna merah menahan malu karena pernyataan cinta yang ia lakukan di atas
sepeda. Sementara Nakamura Akito berhenti membujuk Kodachi Anna agar bergantian
yang jadi pengemudi sepedanya.
Apakah Nakamura
Akito benar-benar mendengar pernyataan cintanya?
“Maaf,
karena aku selalu memikirkan diri sendiri dan sangat egois.”
Kodachi Anna berusaha naik pada tanjakan yang
cukup terjal, sementara Nakamura Akito hanya diam di belakang punggungnya
mengamati gadis itu. “Aku selalu menyerah, sebelum tahu bahwa apakah aku akan
benar-benar terluka karena kehilangan sesuatu.”
Kodachi
Anna terdengar seperti menekan seluruh kalimatnya, karena ketika ia naik
tanjakan rasanya berat sekali dan kakinya yang mengayuh sepeda semakin lambat.
“T-t-tapi,”
desisnya. “Aku tidak mau kehilangan Nakamura-kun.”
Suaranya hampir meninggi tapi ia berhasil
melewati tanjakan yang terjal, “Hanya Nakamura—”
Laju
sepeda semakin kencang saat melewati turunan, remnya tidak berfungsi. Meski
Kodachi Anna mencoba menggunakan kakinya agar mau berhenti, tapi tetap saja. Sepeda
itu terus melaju. Sesaat keduanya berteriak. Dan....
Bruk!
Kodachi
Anna dan Nakamura Akito mendarat di pinggir jalan. Sementara sepedanya
terbanting agak jauh dari tempat mereka. Tapi syukurlah mereka berdua kelihatan
baik-baik saja. Salju masih turun, Nakamura Akito yang mengkhawatirkan Kodachi
Anna lantas buru-buru menggerak-gerakkan tubuh gadis itu.
“Anna-chan, Anna-chan. Bangunlah. Apakah kau mendengarku?”
Nakamura
Akito kelihatan gelisah dibuatnya. Kodachi Anna yang terkapar di sebelahnya
mengerjap beberapa kali. Ia melihat wajah khawatir Nakamura Akito, lalu
tersenyum. Lelaki itu merasa lega, dan akhirnya Nakamura Akito merebahkan
tubuhnya di samping Kodachi Anna. Mereka membiarkan salju turun di atas wajah
mereka berdua.
Kodachi
Anna sesekali melirik pada Nakamura Akito, memperhatikan wajah lelaki itu yang
kelihatan tenang. Matanya terpejam, seolah menikmati salju dingin yang tengah
berjatuhan di atas wajahnya.
Rasa
takut Kodachi Anna belum hilang. Kalau bisa, ia ingin lari dari apa pun yang
membuatnya terluka. Namun, sekarang ia sudah bertekad, meskipun takut ataupun
terluka, Kodachi Anna tidak akan menyerah. Karena sekarang ini, ia sudah
memiliki sesuatu yang berharga.
“Terima
kasih, Nakamura-kun,” gumamnya.
Ia
menoleh pada Nakamura Akito, begitu pun lelaki itu. Tiba-tiba saja, Nakamura
Akito duduk dan wajahnya berada di atas wajah Kodachi Anna. Mereka jadi sangat
dekat sekali.
“Anna-chan
... aku tidak akan melepaskanmu. Jadi, kau juga jangan menyerah tentang aku.”
Nakamura Akito tersenyum lebar.
“Iya,”
jawab Kodachi Anna.
Air
mata bahagia itu keluar dari matanya, menggenang dengan buliran-buliran salju
yang jatuh di pipinya kecil.
Perasaan ini
membuatku jadi lebih baik.

Komentar
Posting Komentar