Sampai Jumpa - Jarak

 

Salju masih turun, berarti musim dingin masih terus saja mengintai. Setelah libur berkepanjangan, dan jarang berkomunikasi dengan teman-temannya, Kodachi Anna kembali menyendiri. Meskipun ia dan Nakamura Akito bertetangga, tapi lelaki itu jarang juga berkunjung ke rumahnya. Mereka bersama hanya pada saat acara menginap anggota klub astronomi di sekolah. Kodachi Anna juga sebenarnya jarang keluar. Karena cuaca dingin dan sering mendatangkan badai salju. Akhirnya ia hanya berada di rumah, bermain sendiri di kamarnya, menghabiskan waktu untuk membaca buku dan komik.

Kodachi Anna mengabaikan orang-orang yang ada di sekitarnya. Pandangannya fokus pada buku kecil yang sejak tadi berada di tangan kanannya. Siswa-siswi di sekitarnya tampak riuh bertegur sapa dengan teman sekelasnya, menceritakan bagaimana suasana liburan yang dialami oleh mereka masing-masing. Memperlihatkan oleh-oleh dari tempat liburan bagi yang pergi ke kota, ataupun oleh-oleh dari kerabat yang berkunjung dan berjalan bersama-sama menuju kelas.

Tahun baru sudah berakhir. Hal yang diwanti-wanti namun sangat ditakutkan oleh Kodachi Anna. Tahun baru yang dijanjikan oleh ayahnya, itu berarti sebentar lagi mereka akan meninggalkan desa ini. Sekolah ini, juga teman-temannya yang ada di sini. Untuk saat ini, kenangan yang paling melekat adalah bersama para anggota klub astronomi, meskipun ada seseorang yang ia selipkan pada bagian hatinya yang terdalam.

Desah angin yang dingin lewat di sekitar, membuat Kodachi Anna ingin menenggelamkan wajahnya pada syal hangat melingkar di lehernya yang kecil.

Suara berisik dari semak tak jauh dari tempat ia berjalan. Semak di sana masih agak tinggi sehingga ia tidak bisa melihat ada apa di balik semak tersebut. Tapi Kodachi Anna mengabaikannya, meskipun ia sedikit penasaran. Kenapa di musim dingin begini masih ada yang senang bersembunyi di balik rerumputan yang tinggi. Apalagi, masih dalam keadaan pagi hari. Air embun membasahi tumbuhan, biasanya akan jadi sangat dingin.

Tapi beberapa saat setelahnya, seseorang sudah muncul dan membusungkan dada di depannya sambil menaruh kedua tangan di pinggang. Seseorang yang dikenalnya. Nakamura Akito. Rambut hitamnya sedikit berantakan. Lelaki itu muncul dari tempat yang tidak terduga. Wajahnya yang serius berubah jadi konyol saat melihat Kodachi Anna sedang menatapnya. Lelaki itu melambai, beberapa siswa yang lewat berhenti. Sama seperti Kodachi Anna, mereka kaget melihat kemunculan yang tidak biasa itu.

“Selamat tahun baru!” serunya pada semua orang.

Tubuhnya yang ramping meniru gaya robot mainan yang ada dalam anime Sinchan. Wajahnya yang konyol membuat semua orang di sekitarnya tertawa kecuali, Kodachi Anna yang sepertinya enggan tersenyum atau bergabung bersamanya. Gadis itu kembali lagi menjadi pasif.

“Selamat tahun baru, Nakamura-kun!”

Nakamura Akito merasa tercekik, saat tangan seseorang tiba-tiba muncul dan menarik lehernya ke belakang. Ia terbatuk-batuk sehingga orang di belakangnya tertawa.

“Lephas, ukh, hei ... lephaskhan!”

“Maaf, maaf.”

Nakamura Akito memegang lehernya yang dibalut syal berwarna hitam, lalu mengelusnya. Mensterilkan tenggorokannya. Teman sekelasnya, Shinya Harumi menepuk punggungnya. Ia menatap sebal pada lelaki sebayanya itu.

“Hei, hei, hei. Aku tidak bermaksud membunuhmu. Aku hanya sedikit mengagetkanmu.”

Shinya Harumi memberikan kedipan sebelah matanya, membuat ia langsung mengernyit seketika. Ia tidak merespons saat Shinya Harumi merangkulnya. Malah sebaliknya Nakamura Akito langsung menegur Yamaguchi Hasumi yang sedang berjalan menghampiri mereka.

“Hei, Nakamura, kenapa kau tidak datang pada ritual hatsumode[1]?”

“Maaf, aku menonton Kohaku Uta Gassen[2].”

“Woah, siapa yang menang, Akito-kun?”

“Yamada Furusaki.”

Tatapan Nakamura Akito tidak terlepas pada Kodachi Anna yang sedang sibuk membaca buku kecil. Sejenis tulisan tangan. Gadis itu memang tipikal murid rajin, sehingga kalau ke mana-mana ia selalu membawa buku. Nakamura Akito mengira, hanya perasaannya saja saat melihat Kodachi Anna yang mengabaikannya. Gadis itu seperti kembali pada saat pertama kali ia menjadi murid baru. Jelas sekali saat Mizutani Akira muncul dari gerbang dan langsung menepuk bahunya. Kodachi Anna tidak menoleh, malah ia menghindari semua orang.

“Jangan abaikan kami,” seloroh Nakamura Akito. Ia melepas diri dari rangkulan Shinya Harumi lalu mengejar Kodachi Anna.

“Suasananya berisik sekali. Sana, kembali saja pada teman-temanmu.”

Kodachi Anna mempercepat langkahnya. Ia tidak tahan untuk menatap Nakamura Akito yang sepertinya masih mengekorinya. Secepatnya lelaki itu akan menyadari sikap Kodachi Anna. Entah, tapi ia akan segera menyadarinya. Lama-lama, gadis itu tidak bisa menatap wajahnya, juga tidak bisa berbicara seperti biasanya. Semuanya berubah, sudah berubah sejak pertama kali ia ingin menjadi penolong bagi Nakamura Akito. Sejak ia tidak bisa mengabaikan semua tingkah lelaki itu, dan juga sejak lelaki itu menyuruhnya agar tetap berada di sampingnya. Saat itulah, ia menyadari bahwa ia menyukai Nakamura Akito.

“Berisik,” gumamnya.

Nakamura Akito berhenti dan tidak lagi mengekorinya. Wajah lelaki itu tiba-tiba berubah jadi kusut. Matanya tidak lepas dari punggung Kodachi Anna yang mulai menjauh meninggalkannya. Memangnya ia sudah membuat kesalahan apa? Sepertinya gadis itu mulai lagi menjauhinya.

Pun saat mereka berada di dalam kelas, Kodachi Anna hanya diam. Jadinya Nakamura Akito yang biasanya ribut jadi pendiam juga. Padahal mereka sudah berbagi rahasia, padahal mereka juga sudah memutuskan untuk saling menemani satu sama lain. Nakamura Akito tidak melihat lagi senyuman dari gadis itu. Yang ada hanya, penghalang yang mulai lagi diciptakan oleh Kodachi Anna.

***

“Kau, apa yang sebenarnya terjadi pada kita?” tanya Nakamura Akito saat mereka berdua pulang bersama.

 Yamaguchi Hasumi dan Mizutani Akira sudah berpisah dengan mereka. Nakamura Akito berjalan di belakang Kodachi Anna, dan sedari tadi gadis itu hanya diam. Meskipun kericuhan selalu dibuat oleh ketiga orang itu, Mizutani Akira, Nakamura Akito dan Yamaguchi Hasumi. Mungkin dua orang itu tidak sadar, tapi Nakamura Akito sendiri menyadarinya.

“Tidak ada apa-apa.”

Kodachi Anna hanya menjawab singkat. Gadis itu semakin mempercepat laju langkahnya. Nakamura Akito menaruh kedua tangannya di belakang kepala sambil bersiul asal. Ia selalu memperhatikan punggung kecil milik Kodachi Anna.

“Benarkah?”

Setibanya di depan rumah Kodachi Anna, gadis itu tidak mengatakan apa-apa. 8a mendahului Nakamura Akito. Gadis itu menutup pagar tanpa memedulikan Nakamura Akito yang sengaja masih berdiri di luar rumahnya.

Setelah memastikan Kodachi Anna masuk ke dalam rumahnya, Nakamura Akito melanjutkan langkah dan masuk lewat pagar depan rumahnya. Di beranda rumah, ia menjumpai Nenek Hiyoko dan tetangga sebelahnya yang tak lain adalah ibu Kodachi Anna yang belum lama ini jadi akrab. Sering kali, kedua orang itu saling mengunjungi. Nakamura Akito membungkuk memberi hormat, lalu mendahului neneknya dan wanita paruh baya itu.

“Jadi sebentar lagi kalian akan meninggalkan desa ini? Padahal aku sudah merasa senang karena ada penghuni rumah itu.”

Suara Nenek Hiyoko terdengar dari luar saat Nakamura Akito baru saja menyimpan sepatunya di bagian rak sepatu.

“Kenapa tidak suamimu saja yang pindah dan kalian berdua, maksudku kau dan Anna-chan yang tinggal di sini. Ia bisa mengunjungimu di hari liburnya.”

Nakamura Akito belum beranjak dari tempatnya berdiri. Lagi-lagi ia mencuri dengar dua orang yang sedang berada di beranda rumah.

“Dia tidak setuju kalau kami tidak ikut. Aku sudah berbicara dengannya, mau bagaimana lagi? Tapi dari perusahaan sendiri belum menentukan tepat tanggal berapa dia akan dipindahkan.”

Ibu Kodachi Anna menyerut ingusnya. Mungkin sejak awal mereka mengobrol, kedua wanita itu sudah saling menangisi satu sama lain. Yang satu sudah merasa betah dengan keadaan lingkungan barunya, dan satunya tidak kesepian lagi karena dia merasa sudah mendapat keluarga baru yang sering mengunjunginya. Nenek Hiyoko sudah menganggap ibu Kodachi Anna sebagai anaknya sendiri. Bagaimana tidak? Setiap kali Nenek Hiyoko membutuhkan pertolongan, ibu Kodachi Anna selalu datang menolongnya.

Jadi begitu ya?

Nakamura Akito dengan malas menuju kamarnya. Ia langsung berbaring asal, apakah karena itu Kodachi Anna seperti mulai menjaga jarak lagi? Apakah karena itu wajah Kodachi Anna tampak murung hari ini? Apakah karena itu juga, Kodachi Anna tidak tertawa meski ia membuat lelucon yang aneh-aneh? Nakamura Akito meletakkan lengannya di atas kening, lantas menghela panjang dan memejamkan mata.



[1] Ritual pergi ke kuil di hari pertama tahun baru

[2] Acara musik malam tahun baru yang di produksi stasiun televisi NHK Jepang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah