Sampai Jumpa - Keputusan Ayah

“Apa yang membuatmu begitu senang? Saat kau bertemu dengan seseorang, lalu hubungan kalian jadi baik. Bahkan kalian mulai saling memahami, berbagi rahasia dan menyayangi satu sama lain.”

“Hm ... segarnya,”

Kodachi Morino baru saja keluar dari kamar mandi. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Kodachi Uno, istrinya sedang memasak di dapur. Dari meja bar yang melingkar di dapur kecil mereka, ia menyodorkan segelas kopi hangat untuk Kodachi Morino. Asapnya masih mengepul hangat di udara. Kodachi Morino menuju kursi makan. Sedangkan Kodachi Anna yang sepertinya enggan menyentuh air barang sejenak, hanya bersantai merebahkan dagu di atas meja. Jari-jemarinya mengetuk-ketuk kulit citrus yang berada di keranjang buah.

“Anna-chan juga harus mandi ya.”

Kodachi Uno memindahkan semangkuk sup daging yang masih panas ke atas meja. Wanita itu menepuk kedua bahu putrinya, agar Kodachi Anna segera berdiri, tapi sepertinya gadis lebih menikmati kegiatan bermalas-malasan di atas meja dapur ketimbang menuju kamar mandi. Sebenarnya, Kodachi Anna tinggal menyalakan kran airnya, sehingga dapat mengisi bak mandi yang baru saja dihabiskan oleh ayahnya.

“Ayo, Cepat! Kau harus mandi. Lalu kita akan segera makan malam,” seru Kodachi Uno yang belum juga beranjak dari meja makan.

“Ah, ada yang ingin Ayah sampaikan. Mungkin, Ayah akan pindah tugas—”

Kodachi Anna yang baru saja mendorong kursinya ke belakang, langsung terkesiap. Melempar pandangan pada Kodachi Morino yang sedang menyesap kopinya yang masih dengan asap mengepul di udara.

“Mungkin saat tahun baru nanti. Iya, kita akan pindah saat tahun baru nanti,” katanya terkekeh. Iaa menaruh kembali kopinya di atas meja.

Secepat ini?

Hanya beberapa bulan saja mereka berada di sini, lalu akan pindah atas tuntutan pekerjaan ayahnya. Kodachi Anna melangkah dengan gontai menuju kamar mandi. Menutup pintu, lalu bersender di baliknya. Satu, dua bulir air matanya mulai berjatuhan. Ia akan berpisah dengan teman-temannya. Padahal, baru saja ia mulai beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Ia menyukai tempat ini. Perlahan-lahan sekolahnya, teman-temannya, lingkungan sekitarnya. Ia sudah mulai menyukainya. Tapi ia sadar, bahwa ia tidak akan terus tinggal di tempat ini. Nyatanya, ia harus pergi. Meninggalkan semua orang yang sudah membuatnya merasa nyaman. Membuat ia merasa bahagia, dan seseorang yang membuatnya ingin melindungi.

Setelah Kodachi Anna menanggalkan seluruh pakaiannya, ia menuju bak mandi. Rupanya, ayahnya tidak mematikan air kran sehingga air tersebut hampir memenuhi bak mandi. Ia langsung turun dan berendam.

Aku akan kehilangan lagi.

Aku akan terluka lagi.

Suara itu tiba-tiba muncul. Suara dari dasar hatinya. Seharusnya ia tidak menghancurkan dinding yang sudah diciptakannya. Ia menenggelamkan separuh wajahnya, sehingga air di dalam bak membentuk ombak, menyudut di atas permukaan, lalu berjatuhan menggenangi lantai kamar mandinya.

Sejak pertemuannya dengan Nakamura Akito, awan mendung yang menutupi dunianya sedikit demi sedikit menghilang. Kodachi Anna merasakan hal yang seperti itu. Nakamura Akito lebih paham akan rasa takut kehilangan. Meski begitu, ia tetap membusung dengan penuh rasa percaya diri dan menatap ke atas. Ia ingin mendapatkan semangat yang dimiliki oleh Nakamura Akito, makanya ia selalu ingin berada di sampingnya. Pada akhirnya, ia memiliki alasan yang membuatnya ingin tinggal, dan ada sesuatu yang ingin dipertahankan.

Tapi....

“Sampai jumpa.”

Adalah kata yang paling dibenci oleh Kodachi Anna. Haruskah ia mendengarnya dari orang yang sebelumnya ingin dipertahankan? Kemudian sebentar lagi, bahkan sampai selamanya mereka tidak akan pernah bertemu kembali?

Nakamura Akito.

Tidak mau! Aku tidak mau berpisah dengan lelaki itu.

Jika kematian adalah salah satu car untuk melenyapkan ketakutannya, maka ia lebih memilih kematian itu saja. Daripada harus kehilangan lagi, juga daripada ia harus sendiri lagi. Dinding-dinding yang ia ciptakan itu sudah retak. Haruskah ia membangun dinding itu kembali?

Kodachi Anna merasa takut. Gadis itu akan selamanya ketakutan, selama ia masih memikirkannya.

BYUR.

Kodachi Anna menutup kedua mata dan telinganya, lalu menenggelamkan diri ke dalam bak air.

Sepuluh detik.

Tiga puluh detik.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga menit.

Ia muncul kembali ke permukaan, lalu bernapas dengan sangat cepat. Ia menangis. Hampir saja ia mengunjungi alam lain. Mungkinkah itu yang diinginkan?

 Suara air shower yang jatuh ke lantai kamar mandi menenggelamkan isakan tangis. Kata-kata yang paling dibenci adalah Sampai jumpa. Kodachi Anna sendiri tidak akan tahan betapa sakitnya kehilangan itu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah