Sampai Jumpa - Klub Baru
“Kodachi-san, Pak Urahara menyuruhmu ke ruang
guru.”
Gadis
berambut pendek sebahu itu tiba-tiba muncul di dekat meja Kodachi Anna.
Beberapa menit yang lalu, bel istirahat berbunyi. Tapi Kodachi Anna tidak juga
pergi ke kantin. Ia sebenarnya tidak membawa bekal. Kalaupun ia ke kantin, ia
tidak mau bertemu dengan teman sekelasnya itu. Nakamura Akito. Lelaki yang sok
akrab karena pernah menolongnya di sawah.
Kodachi
Anna mendorongnya, melewati gadis berambut pendek yang masih berdiri di dekat
mejanya. Gadis berambut pendek itu hanya geleng-geleng kepala, saat melihat
Kodachi Anna yang berlalu meninggalkan kelas.
Sepertinya
ia
memang tidak mau dekat dengan siapa pun. Ia terlalu menjaga jarak dengan
orang lain. Terutama dengan teman sekelasnya.
Kodachi
Anna memeluk komiknya, berhati-hati dan menunduk saat melewati lorong-lorong
kelas. Ramai. Siswa-siswa yang lain seperti sedang memperhatikannya. Sesekali,
Kodachi Anna melirik mereka yang berdiri di dekat tembok, atau juga yang sedang
duduk di tangga yang ia lewati.
“Dia
si murid baru itu. Iya, kudengar dari Kyoto.”
“Ah
... dia lumayan juga. Kau bisa berkenalan dengannya.”
“Kata
teman-temannya, dia berhati-hati dan
menjaga jarak dengan orang lain.
Independen sekali.”
Kodachi
Anna bosan mendengar bisikan-bisikan yang terus terdengar oleh gendang
telinganya. Ia merasa lega setelah sampai di depan ruang guru. Ia membuka pintu
geser itu, dan mendapati Pak Urahara sedang membongkar meja kerjanya.
Sepertinya sedang mencari sesuatu, sampai-sampai gurunya itu tidak menyadari
keberadaannya.
“Wah
... ketemu!”
Ada
selebaran berisi formulir siswa yang kosong di tangannya.
“Kau
sudah datang. Maaf mengganggumu Kodachi-san,
padahal kau harus berkenalan dengan teman-teman sekelasmu. Tapi ini penting
juga. Di sekolah kita ada beberapa kegiatan klub. Mungkin kau tertarik untuk
bergabung dengan beberapa kegiatan klub yang ada.”
Pak
Urahara mengambil kursi kosong, sehingga Kodachi Anna bisa duduk di sana.
Mereka saling berhadap-hadapan.
“Kegiatan
klub?”
Di
sekolahnya yang dulu, ia tidak pernah bergabung dengan klub mana pun. Sama
seperti sekarang, ia juga tidak ingin menyibukkan dirinya dengan bergabung
bersama orang-orang yang sibuk. Kalau ikut kegiatan klub, ia pasti akan
berkenalan dengan banyak orang, mengetahui masalah banyak orang, menjadi siswa
yang aktif dan dikenal di sekolahnya. Jika seperti itu, maka pertahanannya akan
runtuh. Sia-sia semua yang sudah ia lakukan untuk menjaga jarak dengan orang
lain.
“Aku
tidak mau ikut kegiatan klub.”
“Hei,
tidak boleh begitu. Kegiatan klub juga masuk nilai loh! Kalau kau tidak ikut,
nilai ‘Minat dan Bakat’ milikmu tidak
ada. Melalui kegiatan klub, kau bisa mengasah bakatmu yang sudah ada atau
mencari tahu apa yang sebenarnya kau inginkan,” jelas Pak Urahara.
Ia
tidak menginginkan apa pun.
“Atau,
bagaimana kalau kau masuk klub astronomi saja, ya. Aku pembimbingnya,” tawar Pak
Urahara menunjuk dirinya dengan penuh rasa percaya diri.
Klub astronomi?
Memangnya ada? Seperti apa?
“Di
desa terpencil ini, kau bisa melihat bintang dengan jelas.”
Pak
Urahara menunjuk langit-langit ruangan yang berbentuk kotak.
“Maaf,
Pak guru, aku tidak tertarik.”
“Eh
... hmm.”
Wajah
Pak Urahara muram, tapi itu tidak membuatnya menyerah. “Oh ya, di atas jam dua
pagi, kau bisa menggunakan teleskop juga loh.”
Pak
Urahara menyadari tatapan Kodachi Anna yang tidak tertarik. Juga mata besar
gadis itu yang kelihatan sensitif dan dingin.
“Apa
boleh buat. Klub astronomi ini senggang dan hampir dibubarkan. Padahal aku
sangat membutuhkan anggota untuk klub ini agar tidak dibubarkan oleh kepala
sekolah,” lirih Pak Urahara.
Senggang, hampir
dibubarkan. Kegiatan klub masuk nilai.
Kodachi Anna melirik pada gurunya. Lalu dengan
sigap meraih tangan gurunya dan melekatkan jemarinya di sana. Tatapannya
memohon, ia menginginkan klub astronomi itu.
“Pak
guru, aku mau masuk klub ini.”
Suaranya
tegas. Ia memang sedang mencari klub yang seperti itu. Senggang, hampir
dibubarkan, dan tidak ada kerjaan, jadi ia tidak perlu berurusan dengan orang
lain.
“Benarkah?
Kau serius?”
Kodachi
Anna mengangguk tiga kali. Setelah memastikan kesungguhan Kodachi Anna, Pak
Urahara kembali tersenyum riang. “Syukurlah. Asyik!” Berarti anggota klub akan
bertambah. “Meski klub astronomi jarang peminat, tapi anggotanya sangat menarik
dan menyenangkan,” katanya.
Apakah
ada anggota yang lain selain dirinya? Siapa? Berapa orang? Apakah dia akan
berhubungan dengan orang-orang itu? Tapi bukankah katanya klub itu sedang
senggang? Apakah sebenarnya bukan hanya dirinya saja yang tidak tertarik ikut
kegiatan klub, dan semua anggotanya hanya terpaksa untuk masuk di klub
astronomi? Yah ... mungkin saja mereka juga malas, sama seperti dirinya.
Kodachi
Anna mengekori Pak Urahara yang keluar dari ruang guru. Mereka melewati
lorong-lorong kelas yang masih ramai. Lalu lewat di pinggir lapangan sekolah,
siswa laki-laki sedang bermain sepak bola. Beberapa siswa lainnya juga sedang
menonton, bahkan sesekali berteriak pada seseorang yang mereka idolakan.
Di
bangunan paling ujung. Kelihatan kecil dan tidak terawat, ada pelat kotak dari
kardus di atas daun pintu yang bertuliskan Klub
Astronomi. Memiliki empat ekor bintang di setiap sudut-sudutnya. Di samping
pintu, ada keranjang yang dipenuhi oleh sapu lidi dan sapu biasa. Ruangan itu
juga berdekatan dengan gudang tempat penyimpanan alat-alat olahraga.
Pak
Urahara dan Kodachi Anna sudah berdiri di sana. Ia kaget saat pintu terbuka, Pak
Urahara bergabung dengan yang lainnya, sementara ia hanya terpaku di depan
pintu menatap tidak percaya. Rasanya ia ingin mengurungkan niatnya agar tidak
ikut kegiatan klub apa pun.

Komentar
Posting Komentar