Sampai Jumpa - Lebih Dekat Dengannya

 

Suara di dapur jadi sangat tenang. Nakamura Akito, Mizutani Akira dan Yamaguchi Hasumi sepertinya sedang menikmati sukiyaki yang sudah jadi. Kalau soal makan, mereka bisa saja melupakan Kodachi Anna dan Pak Urahara yang tidak ikut bergabung. Suara sumpit nasi Nakamura Akito terdengar, bahkan sampai kunyahannya juga. Mereka bertiga serempak menoleh saat suara derak pintu dapur. Di samping pintu yang terbuka lebar, Kodachi Anna berdiri memandangi ketiga temannya yang sedang menyantap makanan tanpa mengingat dirinya.

“Ah, Anna-chan, kenapa lama sekali? Dagingnya hampir habis.”

Nakamura Akito kini berbalik ke arahnya. Memandanginya sambil memegang dua sumpit di tangan kanannya.

“Hei. Habiskan dulu makanmu, baru bicara.”

Mizutani Akira tidak tahan melihat mulut Nakamura Akito yang sudah penuh oleh makanan, apalagi sisa remahan makanannya jatuh ke lantai.

“Paman di mana? Apakah dia tidak bersamamu?”

Nakamura Akito menelan semua makanannya. Lalu menghentikan kunyahannya dan memandang lurus ke arah Kodachi Anna yang masih berdiri di samping pintu.

“Ayo, Anna-chan, kita makan. Nanti semuanya dihabiskan oleh Hasumi dan Akito-kun. Cepatlah, nanti kau tidak dapat bagian,” seru Mizutani Akira. Melihat kedua teman lelakinya itu sangat rakus, bahkan lagi-lagi menambah isi mangkuknya.

“Akira-chan sangat berisik!”

“Payah. Apakah kamu diajari oleh orang tuamu agar tenang saat makan? Aku mau lihat bagaimana wajah orang tua yang mengajarimu itu?”

“Wajahnya seperti ini.”

Nakamura Akito mengacungkan jempol sambil memperlihatkan wajah konyolnya, lalu tertawa terbahak-bahak. Suasana dapur yang semula tenang, kini jadi berisik. Kodachi Anna hanya terpaku melihat kekonyolan ketiga temannya itu, tapi beberapa detik ia mulai sadar. Gadis itu mengambil langkah dan mendekati Nakamura Akito. Ia menarik lengan baju lelaki itu, sehingga suasana yang tadi berisik jadi diam seketika. Alih-alih Kodachi Anna merasa tersinggung dengan tingkah ketiganya. Tapi sebenarnya tidak.

“Ada apa, Anna-chan?”

Nakamura Akito melirik ke arahnya, Kodachi Anna merunduk. Nakamura Akito merasa khawatir, kalau ia sudah menyinggung perasaan Kodachi Anna. Padahal ia tidak bermaksud begitu. “Jangan khawatir, dagingnya masih ad. Eh?”

Kodachi Anna sudah membawa Nakamura Akito melesat keluar dari dapur, melewati lorong-lorong yang sepi. Nakamura Akito hanya menurut karena ditarik paksa oleh gadis itu. Meskipun Nakamura Akito terus memanggilnya berkali-kali, mungkin gadis itu tidak akan berhenti. Jadi sebaiknya Nakamura Akito diam saja. Barulah ia sadar, ketika Kodachi Anna mengajaknya naik tangga hingga pintu yang menuju atap sekolah terbuka. Atap sekolah?

“Salju-salju ... woah!”

Nakamura Akito membuka telapak tangannya, membiarkan bongkahan salju yang kecil-kecil itu bertengger di telapak tangannya. Tanpa alas, tanpa sarung tangan. Diam-diam Kodachi Anna meliriknya, memperhatikan wajah ceria milik lelaki itu. Di semua fotonya juga, ia selalu tersenyum seperti itu.

“Nee, Nakamura-kun, kalau kau terus menatap ke atas terus, lehermu bisa sakit.”

Nakamura Akito menoleh ke arahnya, membuat Kodachi Anna jadi salah tingkah.

“Anna—”

“Ma-maaf.”

“Tunggu. Kau mau menanyakan soal apa?”

Nakamura Akito menarik bahu Kodachi Anna yang saat itu hendak berbalik dan pergi. Kodachi Anna yang tanpa pikir panjang mengambil keputusan untuk membawa Nakamura Akito ke atap sekolah jadi blank di tempat. Ia jadi kikuk sendiri.

“Aku tidak tahu apa-apa—”

Kodachi Anna berbalik. Ia meraih kedua tangan Nakamura Akito lalu menutup kedua matanya, sementara Nakamura Akito bergeming di tempat. Saat ini, Kodachi Anna jadi ingin lebih dekat dengan Nakamura Akito. Ia sadar akan perasaannya, bahwa ia membutuhkan Nakamura Akito. Juga, ia menyukai lelaki itu. Matanya kelihatan sayu saat bertemu pandang dengan mata lelaki itu.

“Aku tidak tahu apa-apa tentang Nakamura-kun,” lirihnya pelan. “Apa yang bisa kulakukan untuk Nakamura-kun?”

Wajahnya kembali bersemu merah. Nakamura Akito pun begitu, di tengah salju keduanya saling tatap satu sama lain.

“Kalau begitu,” Nakamura Akito mengambil beberapa langkah, memastikan tubuhnya semakin dekat dengan Kodachi Anna. Lelaki itu tersenyum sambil menarik kedua tangan Kodachi Anna hingga bersentuhan dengan dadanya, “saat aku menunduk, maukah kau tetap berada di sampingku?”

Kedua bola mata Kodachi Anna membulat. “Ah ... ehm.”

Tetap berada di samping Nakamura Akito?

Ia mau. Ia sangat mau. Ia ingin jadi penolong Nakamura Akito. Wajah mereka sangat dekat, sementara Nakamura Akito semakin melekatkan kedua tangan Kodachi Anna di dadanya. Waktu serasa berhenti, tatapan mereka intens. Keduanya hanya menatap ke dalam bola mata masing-masing, tiba-tiba....

KLEK.

Suara pintu terbuka, wajah Mizutani Akira dan Yamaguchi Hasumi tiba-tiba muncul dari balik pintu. “Ketemu!”

Mendadak Nakamura Akito melepas tangan Kodachi Anna dan keduanya saling berjauhan. Kodachi Anna berpegangan pada penyangga besi atap sekolah, sementara Nakamura Akito berbalik memunggunginya. Mizutani Akira dan Yamaguchi Hasumi heran, apa yang baru saja dilakukan oleh kedua temannya itu? Seperti mengelak karena baru saja melakukan kesalahan.

“Kalian sedang apa?”

Mizutani Akira mendekati Kodachi Anna, kedua bahu gadis itu bergerak. Kaget.

“Ah ... Apakah sebaiknya kembali saja? Mungkin Paman sudah menunggu di ruang klub?”

Nakamura Akito hendak mengambil langkah, tapi beberapa detik kemudian ia berbalik. “Ayo, Anna-chan” wajahnya kembali bersemu merah.

Mizutani Akira mendahului mereka. Gadis itu merangkul Yamaguchi Hasumi yang sudah hampir mendekati pintu. “Hasumi-kun, di sini dingin sekali ya,” serunya.

Lalu mereka mendahului keduanya. Sementara Kodachi Anna dan Nakamura Akito berjalan bersisian, merasakan sesuatu yang aneh, dan juga suhu badan mereka jadi panas. Sepertinya produksi kolagen mereka mulai berkurang akibat tatapan barusan. Di acara menginap itu, hubungan Kodachi Anna dan Nakamura Akito jadi lebih baik. Perlahan-lahan mereka mulai saling memahami satu sama lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah