Sampai Jumpa - Luka Ringan
Mereka
memutuskan untuk membagi tugas, Kodachi Anna membuat rancangan gambar,
sementara Mizutani Akira dan para lelaki akan mencari kardus, silet, gunting,
lem kertas dan sebagainya. Beberapa menit setelahnya, Mizutani Akira dan para
lelaki sudah tiba dengan kardus dan alat-alat lainnya yang mereka butuhkan.
Pak
Urahara masuk lagi, karena sebelumnya ia meninggalkan keempat siswa itu keluar.
Ia senang melihat para siswanya aktif dan menghidupkan klub astronomi kembali.
“Anak-anak,
seperti rencana sebelumnya. Planetarium ini akan kita buka dalam dua hari ke
depan ini. Bagaimana?”
Pak
Urahara menggaruk-garuk tengkuknya, rambutnya yang setiap hari berantakan malah
semakin acak-acakan dibuatnya. Sementara keempat siswanya hanya saling pandang,
tidak percaya dengan keputusan pak gurunya yang tiba-tiba itu.
Apakah mereka
khawatir planetarium bisa selesai dalam dua hari ini?
“Saya
sudah terlanjur mengatakan pada kepala sekolah, bahwa planet ini akan dibuka
untuk umum. Pak kepala sekolah sangat senang sekali saat mendengarnya.” Pak
Urahara tersenyum kikuk.
“Hei,
Paman!”
“Karena
Akito-kun sangat cekatan, jadi saya
pikir tidak masalah jika memberikan waktu selama itu.”
“Ah,
kalau ada aku, sebenarnya memang selalu tepat waktu.”
Nakamura
Akito sangat senang setelah dipuji oleh gurunya itu. Ia ingin agar gurunya itu
semakin memujinya lagi.
Ayo,
katakan sesuatu yang baik tentang diriku.
Pasti aku akan semangat menyelesaikan semua pekerjaan.
Saking
terlalu senangnya, Nakamura Akito yang saat itu sedang memotong kardus dengan
silet yang tajam, tiba-tiba mengenai celah jemari antara ibu jari dan
telunjuknya. Akibatnya, jemarinya mengucurkan darah.
“Wah,
darah. Akito-kun, apakah kau
baik-baik saja?”
Mizutani
Akira mendekatinya sambil melihat tangan Akito yang mengucurkan darah. Hal itu
karena Akito tidak fokus dan senang mendapat pujian, sampai-sampai ia tidak
sadar kalau tangannya tergores silet yang tajam. Nakamura Akito menahan perih.
“Daraaahh!”
Pak
Urahara yang melihat tangan Nakamura Akito langsung berteriak histeris. Ia lari
bolak-balik, ke sana-ke mari melihat salah satu siswanya yang terluka.
“Kalau
dijilat, pasti akan sembuh.” Yamaguchi Hasumi ikut mengerumuni Nakamura Akito.
“Jilat?
Memangnya bisa langsung sembuh?” Mizutani Akira menggeleng tidak percaya.
“Pak
guru, tolong tenanglah!” Mizutani agak kesal karena Pak Urahara yang paling
berisik dan histeris di dalam ruangan. Ia tidak bisa diam.
Kodachi
Anna yang mendengar keributan tentang luka dan semacamnya, langsung bergerak
cepat. Ia menarik kursi dan berlari ke arah Nakamura Akito, ikut mengerumuni
lelaki itu. Ia menarik tangan Nakamura Akito yang terluka. Lelaki itu juga
sempat meringis akibat tarikan yang tidak tanggung-tanggung tersebut.
“Anna-chan!”
Nakamura
Akito kaget. Kodachi Anna memeriksa lukanya yang cukup lebar, lalu dengan wajah
takut dan kasihan, Kodachi Anna meniup sabetan luka yang tak henti mengucurkan
darah. Ia menengok ke arah kiri-kanan, seperti mencari sesuatu.
“Apakah
ada yang mempunyai kain kasa atau sapu tangan yang bersih?” tanyanya pada semua
orang.
“Ada!”
Pak
Urahara merogoh saku kemejanya, lalu menyodorkan sapu tangan berwarna hijau cerah
itu pada Kodachi Anna.
“Terima kasih” Kodachi Anna membungkus luka
Nakamura Akito. “Tahan, ya,” perintah Kodachi Anna.
Gadis
itu sudah seperti seorang perawat. “Kami ke UKS dulu.”
Lalu
mereka berdua meninggalkan ruang klub. Semua orang hanya tercengang, melihat
kedua orang yang sangat bertolak belakang itu, jadi sangat akrab saat salah
satu di antara mereka ada yang terluka.
***
Nakamura
Akito tenang saat Kodachi Anna mengobati tangannya yang terluka. Lelaki itu
hanya memandangi wajah khawatir gadis itu. Beberapa helai keluar dari rambutnya
yang terpelintir hingga punggung. Dia tidak merasa kesakitan saat gadis itu
menyiram lukanya dengan obat antiseptik, bahkan hingga lukanya diperban
membentuk beberapa lilitan yang bagus, Nakamura Akito bahkan sangat senang
dengan bentuk kreasi yang dibuat oleh
Kodachi Anna di tangannya. Menarik!
“Terima
kasih, Anna-chan.”
“Ini,
bukan apa-apa.”
Nakamura
Akito tersenyum ramah, lelaki itu memain-mainkan tangannya yang terbalut perban
di udara. Diam-diam Kodachi Anna melirik ke arahnya. Menyadari lirikan dari
gadis itu, Nakamura Akito menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum puas pada
gadis yang sedang berada di hadapannya.
“Batas
waktunya sebentar lagi ‘kan?”
“Apakah
sebaiknya kita menye—”
“Tenang
saja. Pasti bisa.”
Wajah
murung Kodachi Anna yang hendak menyerah untuk membuat planetarium dan
memamerkannya untuk umum itu sedikit melihat harapan. Kenapa Nakamura Akito
selalu optimis? Sekarang pun ia masih tetap tersenyum meski sudah tidak ada
lagi harapan. Ia selalu berpikir positif.
“Ayo
kita kembali. Yang lain pasti sudah menunggu.”
Nakamura
Akito mendorong tubuh Kodachi Anna hingga mereka keluar dari ruang UKS. Mereka
kembali ke ruang klub dan menemukan teman-temannya sudah menyelesaikan
sebagian.
“Akito-kun, kau tidak apa-apa?”
Mizutani
Akira kelihatan lega setelah melihat kedua temannya sudah kembali dengan
baik-baik saja. Pun begitu dengan tangan Nakamura Akito yang sudah diperban
rapi.
“Ah,
ini hanya luka ringan. Aku baik-baik saja.”
“Aku
pikir jarimu terpotong.”
“Hahaha.
Itu hanya pikiranmu saja, Hasumi-kun.”
Ia
memukul kepala Yamaguchi Hasumi dengan tangan sebelah yang tidak terluka,
Yamaguchi Hasumi meringis sesaat, lalu membenarkan kembali kacamatanya yang
hampir jatuh. “Tenang saja, kita pasti bisa menyelesaikannya.”
Bagi
Nakamura Akito, luka yang ia alami bukanlah masalah besar. Lelaki itu masih
tetap menatap ke atas sambil tertawa. Sedangkan Kodachi Anna, ia selalu
menunduk karena takut akan terluka. Kodachi Anna tidak mau berhubungan dengan
orang lain.
“Anna-chan juga
harus ikut ya?”
“Nanti kita akan
nikmati bersama-sama.”
Kodachi
Anna memang tidak mau terluka. Kalau dipikir-pikir....
“Nakamura-kun!”
“Ya,
Anna-chan?”
“Uhm
... tugasku hampir selesai. Jadi aku, uhm ... apakah aku boleh membantu kalian
membuat kubah?”
Kodachi
Anna tampak malu-malu. Nakamura Akito dan yang lainnya melompat riang.
“Yeay!
Anna-chan terpengaruh oleh sikap
positif Akito-kun.”
Hanya sekali ini
saja. Tidak apa-apa.
Setelah mereka menyelesaikan planetariumnya,
Kodachi Anna akan kembali menyendiri lagi.

Komentar
Posting Komentar