Sampai Jumpa - Melihat Bintang
Selesai.
Hampir
malam, mereka berempat bekerja lembur. Rupanya, kegiatan klub masih diperbolehkan
setelah pulang sekolah. Dan sekarang, kubah planetarium besar yang berbentuk
setengah lingkaran itu sudah berdiri di tengah-tengah ruang klub astronomi.
Fyuuh. Untung
saja bisa selesai hari ini.
Kodachi
Anna menghela lega. Sudah selesai, dan sekarang ia bisa kembali seperti
sebelumnya. Ia mau pulang sebelum malam. Ayah dan ibunya pasti akan mencari dan
khawatir karena ia juga belum memberi kabar.
“Tunggu,
Anna-chan!”
Nakamura
Akito menarik tangannya, gadis itu berhenti. Tubuhnya yang kecil ditarik
berlari oleh Nakamura Akito.
“Ini
pertunjukkan perdana,” seru lelaki itu. Ia menyingkap done sehingga mereka berdua bisa masuk ke dalam.
“Aku
tidak usah—”
“Ini
sudah diatur.”
Mereka
sudah berada di dalam planetarium. Pencahayaan oleh proyektor membuat mereka
seolah berada di bawah langit malam yang terbuka. Ada lusinan bintang, juga
bulan dan jajaran planet di sebelah sisi kiri lingkaran. Kedua anggotanya yang
lain juga baru saja masuk, tampak takjub dengan apa yang mereka lihat bersama.
“Keren.”
“Indah.”
“Syukurlah
kita bisa menyelesaikannya hari ini juga.”
“Iya,
iya.”
Keempat
anak itu memandang takjub pada apa yang mereka saksikan. Kodachi Anna
merasakan kepalanya disentuh oleh tangan
seseorang. Nakamura Akito yang sejak tadi berada di sisinya tersenyum manis.
“Untung
ada Anna-chan.”
Adrenalin Kodachi Anna berhenti sejenak, sentuhan
tangan lelaki itu membuatnya perlahan-lahan merasa nyaman. Tempat di mana
seseorang seharusnya berada adalah di antara orang lain. Hari-hari di mana
Kodachi Anna merasa sendirian tanpa ditemani oleh siapa pun. Seperti angkasa
tak berbintang. Kodachi Anna meneteskan air mata, merasa senang atas
kebahagiaan yang menurutnya terlalu berlebihan ini. Apakah mungkin karena ia
terlalu berhubungan dengan orang-orang itu? Sekalipun di sisinya, ada sebuah
bintang yang bersinar cemerlang.
“Aku
senang, terima kasih.”
Kodachi
Anna tersenyum malu. Ia membuang wajah ke arah lain saat menyadari bahwa
Nakamura Akito sedang memperhatikannya. Tapi, bagaimanapun juga ia tidak boleh
menyadari keberadaan bintang yang bercahaya itu. Karena Nakamura Akito adalah
bintang itu sendiri. Ia selalu menatap ke atas, tertawa, ceria. Ia seperti
bintang yang selalu bersinar.
“Wah
... kalau keluar sekarang, jadi silau ya. Padahal di dalam sudah seperti malam
saja.”
Mizutani
Akira menyingkap kain dan keluar dari planetarium, diikuti oleh Kodachi Anna,
Nakamura Akito dan Yamaguchi Hasumi.
“Di
dalam akan jadi romantis kalau bersama pasangan. Apakah Toru akan benar-benar
datang? Aku ingin mengajaknya ke dalam dan menyaksikan bintang-bintang.” Mizutani
kelihatan bahagia.
“Kita
semua luar biasa dan sudah bekerja keras.” Nakamura Akito menaruh kedua tangan
di pinggang.
“Kalau
begitu, ayo kita mulai rencana penangkapan alien
sekarang juga!”
Yamaguchi
Hasumi paling bersemangat, ia belum melupakan rencana penangkapan alien mereka berdua. Pak Urahara yang
sejak tadi berada di luar ruangan klub astronomi, dan baru saja tiba-tiba masuk
tampak takjub dengan kreativitas yang sudah dibuat oleh anak-anak didiknya itu.
“Wah
... luar biasa! Apakah kalian sudah masuk duluan?”
Pak
Urahara mendekati planetarium yang sudah jadi, lalu mengelus-elus kubah yang
berbentuk setengah lingkaran. “Kalau begitu, kita berkumpul sebentar,
Anak-anak!” serunya.
Mereka
membuat lingkaran di dekat planetarium. “Berikutnya adalah acara menginap untuk
observasi liburan musim dingin,” ajaknya.
Mengingat
sebentar lagi sekolah mereka akan libur, tapi tetap saja mereka akan membuka
planetarium untuk umum satu hari sebelum memasuki libur sekolah.
Serius?
“Wah,
pasti seru!”
“Aku
ingin melihat bintang.”
“Observasi,
observasi.”
Nakamura
Akito, Yamaguchi Hasumi, dan Mizutani Akira memberikan respons positif.
Sementara Kodachi Anna tidak mau ikut. Ia menyambar tasnya yang ada di kursi.
Sampai di sini. Sebaiknya ia pulang saja.
Nakamura Akito menyadari Kodachi Anna
kelihatan tidak tertarik dan baru saja melewati mereka hendak menuju pintu
keluar. Laki-laki itu langsung menarik pergelangan tangannya.
“Anna-chan, juga
harus ikut ya?”
Selalu
saja, wajah yang penuh senyuman tulus itu, wajah yang selalu ceria
menghambatnya untuk pergi ke mana-mana. Menghambat keinginannya untuk tetap
menyendiri di antara orang-orang ramai, membuat ia menginginkan hal yang lebih.
Tolong! Jangan
masuk ke dalam hidupku lebih jauh lagi.
Karena itu, ia tidak
boleh.
Kalau
pada akhirnya Kodachi Anna akan kehilangan bintang yang bersinar itu, lebih baik
Kodachi Anna pura-pura tidak menyadari keberadaannya. Wajahnya bersemu merah,
tapi bukan karena ingin menangis, juga bukan karena kedinginan. Wajahnya
memanas, mengingat kalau lelaki itu terus-terusan menempel padanya.
“Aku
tidak mau ikut, aku mau pulang ke rumah.”
Kodachi
Anna mengentak tangan Nakamura Akito, lalu berlalu begitu saja. Ia tidak boleh ...
pokoknya tidak boleh jatuh hati padanya. Entah karena perhatian lelaki itu
ataupun karena kebaikannya, juga karena ia telah merubah sebagian pandangan
Kodachi Anna pada beberapa hal.
“Apakah
dia sangat membencimu?”
Mizutani
Akira menepuk-nepuk punggung Nakamura Akito, sementara lelaki itu hanya duduk
berjongkok sambil menopang dagu.
“Benarkah?”
Punggung Kodachi Anna sudah lenyap di pintu,
Ehm ... sekilas wajahnya merona.
Apakah dia akan
tersenyum lagi?
Hanya
satu kali itu, ia melihat Kodachi Anna tiba-tiba tersenyum, saat mereka berada
di dalam kubah planetarium. Gadis itu,
benar-benar tersenyum untuk pertama kalinya.

Komentar
Posting Komentar