Sampai Jumpa - Menginap Di Sekolah (1)

 

Liburan musim dingin sudah tiba.

Keputusan Kodachi Anna ditentang oleh ibunya, saat Kodachi Uno mengetahui tentang rencana teman-teman anaknya di sekolah. Apalagi, ibunya dekat dengan Nenek Hiyoko, nenek Nakamura Akito. Wanita tua itu tentu saja memberitahu Kodachi Uno bahwa cucunya sudah agak akrab dengan anaknya. Mereka berada di kelas yang sama, mereka juga kadang pulang bersama, dan juga mengikuti klub yang sama.

Malam harinya, Kodachi Uno yang paling bersemangat. Bahkan ia menyiapkan bekal dan kue yang cukup banyak. Kodachi Anna tidak pernah memberitahu ibunya bagaimana ia mulai terhubung dengan teman-teman barunya itu, ia juga tidak pernah menceritakan hari-hari yang dialaminya di sekolah. Meskipun begitu, Kodachi Uno sangat senang mendengar bagaimana perkembangan anak gadisnya itu di sekolah. 

Kodachi Marino berhenti di depan pagar sekolah. Cuaca semakin dingin, tas ransel Kodachi Anna penuh dengan barang bawaan, padahal mereka hanya menginap satu hari. Awalnya ibunya mengusulkan agar ia berangkat dengan Nakamura Akito, tapi Kodachi Anna menolak dengan alasan salju hari ini lumayan lebat dan cuaca di luar jadi semakin dingin. Jadi ia minta kepada ayahnya yang kebetulan senggang itu agar mengantarnya ke sekolah.

Kodachi Anna berdiri di depan gerbang, sambil takut-takut masuk. Suasana di sekolah tidak seramai biasanya, tapi ada beberapa siswa yang masih berkeliaran di sekitar sekolah. Dua orang siswa yang tidak ia kenal melewatinya, Kodachi Anna menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya. Mungkin seseorang akan menanyainya, alasan apa ia datang ke sekolah di saat liburan musim dingin, apalagi di tengah cuaca dingin seperti ini.

“Hei, Nakamura-kun? Kenapa ke sekolah? Bukankah ini liburan musim dingin?”

Mendengar seseorang menyebut nama Nakamura Akito, Kodachi Anna mengangkat kepala. Itu adalah Nakamura Akito yang ia kenal, bukan orang lain. Benar saja. Lelaki itu sudah berada di halaman sekolah, dan ia berhenti saat seseorang menyapanya.

“Ada acara menginap satu hari untuk klub astronomi.”

Senyum lelaki itu membuat Kodachi Anna terpaku sejenak.

“Wah, Anna-chan juga datang ya?”

Mendengar namanya disebut, Kodachi Anna jadi salah tingkah. Ia melewati ketiga orang itu, Nakamura Akito dan dua orang siswa yang tidak ia kenal dan mendahului mereka menuju lorong gedung sekolah.

“Kalau begitu, sampai jumpa!”

Nakamura Akito mengejar Kodachi Anna yang sudah berjalan agak jauh, kemudian ia menempel padanya. Juga berjalan di sisi Kodachi Anna.

“Akhirnya Anna-chan ikut juga. Seru!”

Memangnya Nenek Hiyoko tidak memberitahu Nakamura Akito kalau ia mau ikut? Padahal ibunya terpengaruh karena sering bergaul dan mendengar kabar-kabar dari Nenek Hiyoko. Nenek Nakamura Akito pastinya sudah memperkenalkan diri dan menyapa keluarga Kodachi Anna.

“Ak ... aku juga terpaksa. I-ini juga untuk nilai.”

Kodachi Anna mempercepat langkahnya. Tapi Nakamura Akito berusaha mengejarnya, menyamakan langkah mereka. Lelaki itu juga berusaha menghibur. Ia kadang berdiri di depan Kodachi Anna, melangkah mundur, lalu sesekali memainkan bibir dan wajahnya seperti badut. Tapi Kodachi Anna selalu mengabaikannya. Nakamura Akito selalu gembira, saat lelaki itu selalu berusaha mencuri perhatiannya. Jantungnya berdegup cukup cepat. Ia berusaha menenangkan diri, jangan sampai ia tertarik pada Nakamura Akito.

“Anna-chan, mau ikut main bola salju?”

Perhatian Nakamura Akito teralihkan pada bongkahan salju yang sudah menutupi sebagian halaman, juga beton-beton bangunan yang ada di sekolah. Lelaki itu membuat bola-bola salju kecil, lalu mengumpulkannya di dekat kakinya.

“Teman-teman, kalian sudah duluan datang ya?”

Yamaguchi Hasumi dan Mizutani Akira datang bersama. Tidak seperti Kodachi Anna dan Nakamura Akito, kedua orang itu janji untuk berangkat bersama dan bertemu di perempatan biasa tempat mereka berpisah.

“Nih, Hasumi!”

 Nakamura Akito melempar bola salju pertamanya pada Yamaguchi Hasumi. Ia dan Mizutani Akira langsung bubar dan saling berjauhan karena takut terkena lemparan bola salju dari Nakamura Akito.

 “Latihan menghindari serangan alien.” Lagi, Nakamura Akito melempar bola salju yang kedua ke arah Yamaguchi Hasumi, lantas lelaki itu mengangkat tangan dan berteriak sembari menghindari bola salju yang dingin itu.

“Hallo, Anna-chan.”

“Hallo, Mizutani-san.”

“Apakah kalian sudah menunggu lama?”

Kodachi Anna menggeleng, lalu kedua gadis itu mendahului kedua lelaki yang sepertinya keasyikan bermain bola salju.

“Hei! Kalian berdua,” panggil Nakamura Akito.

Kedua gadis itu menoleh. Dua bola salju dengan bentuk yang lebih besar terbang ke arah mereka. Dan tepat, satu bola salju lemparan Nakamura Akito mendarat di wajah Kodachi Anna. Raut gadis itu langsung berubah. Ia hanya diam memandangi pecahan bola salju yang berjatuhan dan juga tersangkut di syalnya.

Gawat!

“Hee. Maaf, Anna-chan, aku nggak mengira kalau bola salju akan mengenaimu. Tepat sekali.” Nakamura tersenyum kikuk.

Ia ingat, lelaki itu memang seperti itu! Kodachi Anna berjongkok, lalu dengan sebongkah salju, ia melempar Nakamura Akito. Lelaki itu berteriak dan menghindar, bongkahan salju tidak membuat ia kedinginan dan lelaki itu tertawa, tapi tidak mengejeknya.

“Jangan menghindar, Nakamura-kun!” teriak Kodachi Anna. Gadis itu berlari mengejar Nakamura Akito yang sudah menjauh.

“Anna-chan juga barusan menghindar.”

Tapi tiba-tiba....

BRUK.

Kodachi Anna jatuh terpeleset, wajahnya mengenai gumpalan salju yang dingin. Saat ia bangun, hidungnya sudah merah, dan pipinya merona menahan dingin. Mengetahui Kodachi Anna tertelungkup di belakangnya, Nakamura Akito mendekati dan mengulurkan tangan sambil tersenyum pada gadis itu.

“Yah, kenapa harus jatuh?”

Salah siapa, hah?

Kodachi Anna melengos, namun beberapa detik setelahnya tawanya terdengar besar. Ia bahagia, benar-benar bahagia. Meskipun Kodachi Anna berusaha berpaling dari Nakamura Akito, tapi lelaki itu tetap saja mengejarnya. Kalau ia terus-terusan begini, sepertinya akan sulit untuk menjaga jarak. Keduanya terus tertawa.

“Hei,  kau semangat sekali. Ayo bangun. Nanti kau bisa terkena flu.”

Nakamura Akito membantu Kodachi Anna berdiri, tapi tawa gadis itu belum juga berakhir. Malah ia semakin menambah tawanya, juga memperbesar suara tawanya.

Hatchi.”

Benar kata Nakamura Akito. Akhirnya ia terkena flu. Ia baru saja bersin. Nakamura Akito menggamit tangan Kodachi Anna, lalu ia membantu gadis itu berdiri.

Ayo. Sadarlah, Kodachi Anna. Kau harus tetap tenang. Gadis itu berujar dalam hati sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah