Sampai Jumpa - Menginap Di Sekolah (2)
Kodachi
Anna mengeringkan rambutnya menggunakan hair
dryer. Sebagian rambutnya basah, karena terkena buliran salju, juga karena
mereka terlalu keasyikan bermain. Rambut Kodachi Anna yang panjang dikibas ke
belakang, mesin pengering rambut berhasil menghangatkan lehernya yang
kedinginan.
“Apakah
Pak guru belum datang? Bukankah dia yang menyuruh kita agar datang jam segini?”
Mizutani Akira berceloteh. Ia menidurkan kepalanya di atas meja, lalu jemarinya
menggerayang bebas, mengetuk-ketuk tanpa henti.
“Dia
sendiri yang terlambat. Kita semua sudah berkumpul di sini, tapi dia belum
datang. Apakah jangan-jangan masih tidur ya?”
Mizutani Akira langsung tegak, mungkin saja Pak
Urahara ketiduran dan lupa dengan rencana mereka untuk menginap di sekolah.
“Aku
coba hubungi sebentar.”
Paman di mana? Kami sudah berkumpul di klub
astronomi. Cepatlah!
Nakamura
Akito mengirim pesan yang baru saja diketik, tapi sesaat perhatiannya beralih
pada Kodachi Anna yang sedang menatapnya. Rambut gadis itu terurai, lalu mesin hair dryer dimatikan. Nakamura Akito
mendekatinya, lalu tiba-tiba menyentuh ujung rambut gadis itu hingga wajahnya
bersemu merah. Kodachi Anna yang sedang duduk di hadapannya kelihatan manis dan
kalem. Kedua alis Kodachi Anna menyatu, heran.
Apa yang sedang
dilakukan oleh lelaki itu?
“Kalau
rambutnya digerai seperti ini, Anna-chan
kelihatan sangat manis.”
Nakamura Akito memuji sambil tersenyum. Tangannya mengusap
ujung rambut Kodachi Anna. Gadis itu sempat terpaku beberapa saat, tapi setelahnya
ia merengut dan menarik rambutnya sehingga terlepas begitu saja dari jemari
Nakamura Akito yang sangat sibuk. Kodachi Anna buru-buru mengambil ikat rambut
dan langsung segera menguncirnya.
“Eh?
Kenapa?”
Nakamura
Akito terbelalak. Kenapa Kodachi Anna langsung menguncir rambutnya di saat ia
sedang senang-senangnya melihat wajah manis oleh rambut yang tergerai indah
itu.
“Jijik!
Kalau di sebuah perusahaan, dan kau adalah seorang atasan, lalu kau melakukan
itu,” Mizutani Akira geleng-geleng, sejenak ia menghela panjang, lalu mendekatkan
wajahnya pada Nakamura Akito. “Itu termasuk pelecehan. Jika kau tinggal di
Amerika, maka Akito-kun akan
diadili.”
Mizutani
Akira memundurkan tubuhnya, ia membusung penuh percaya diri. Sementara Nakamura
Akito terkejut. Ia tidak mau dikira sudah melakukan pelecehan begitu saja, lalu
ia segera berdalih, “Tidak benar,” sungut Nakamura Akito menyadari Mizutani
Akira tersenyum mengejeknya.
“Menurutku ... model rambut Hasumi-kun juga manis,” kata Akito sambil
menunjuk bentuk rambut Yamaguchi Hasumi yang berbentuk batok kelapa. Sementara
orang yang ditunjuk dan sebenarnya tidak mau ikut campur hanya diam saja, tapi
nyaris kaget karena Nakamura Akito menaik-naikkan namanya pada perdebatannya
dengan Mizutani Akira.
“Hah?
Yang seperti itu? Mirip jamur.”
“Bukan
jamur, tapi UFO. UFO.”
“Mirip
jamur, mirip jamur, pokoknya mirip jamur. Matamu buta ya?”
“Bukan!
Bukan! Mizutani Akira, jaga ucapanmu ya. Kau akan menyinggung Hasumi-kun”
Sementara
Yamaguchi Hasumi hanya diam saja. Sejak awal ia sudah merasa tersinggung dengan
kekonyolan Nakamura Akito dan Mizutani Akira. Kenapa sih, bentuk kepalanya
harus disinggung dalam perdebatan mereka. Malah semakin bertambah pula jadi
bahan olok-olokan mereka.
“Eh.
Sebentar!”
Ponsel
Nakamura Akito baru saja berbunyi, dan lelaki itu langsung tidak mau menggubris
Mizutani Akira.
Berkumpul di dapur.
Itulah
pesan singkat dari Pak Urahara yang sejak tadi mereka tunggu-tunggu, hingga
saat ini belum muncul di hadapan mereka. Dan sekarang menyuruh berkumpul di
dapur, memangnya ada apa di dapur? Bukankah mereka seharusnya berada di ruangan
klub astronomi sekarang juga?
***
“Kalian
sudah berusaha keras.”
Setiba
mereka di ruang masak, mereka mendapati Pak Urahara sedang duduk sembari
bertopang dagu dengan kedua tangannya. Di meja dapur sudah ada beberapa bahan
masakan yang belum dimasak. Belum sama sekali disentuh oleh para koki di
sekolah mereka. Keempat remaja SMA itu hanya mengernyit dan acuh saja.
“Planetarium
kita mendapatkan respons baik dari Pak kepala sekolah dan siswa lainnya. Kalian
sudah berusaha keras, Anak-anak.”
Air
mata Pak Urahara tiba-tiba tumpah begitu saja. Ia mengangkat wajahnya sambil
menatapi satu per satu anak didiknya yang sepertinya sedang menunggunya untuk
meneruskan kalimatnya lagi.
“Pak
kepala sekolah sampai menangis dan terus memuji kita.”
“Pak
kepala sekolah cengeng.”
Yamaguchi
Hasumi memukul kepala Nakamura Akito yang mengucapkan sesuatu tanpa
dipikir-pikir dulu. Ia tidak peduli meskipun Nakamura Akito meringis dan balas
memukul kepalanya yang berbentuk batok kelapa itu.
“Karena
itulah, malam ini kita akan makan sukiyaki!” seru Pak Urahara.
“Pak
Urahara, Bapak baik sekali.”
“Nice, Paman.”
Keempat
remaja itu berseru riang, lalu menghambur dan memeluk Pak Urahara.
“Anggaran
klub kita bertambah, tapi anggotanya tidak bertambah-tambah ya.”
Pak
Urahara tersenyum kikuk. Semua siswanya melepas pelukan mereka, lalu beralih
pada meja dapur yang sudah dipenuhi bahan-bahan untuk membuat sukiyaki.
“Kalau
begitu, ayo kita masak sekarang. Tapi aku hanya memotong saja ya.”
Nakamura
Akito bersemangat sekali. Ia langsung mengambil pisau dan beberapa bahan
lainnya, lalu mencari tempat yang lebih luas untuk memotong bahan-bahan yang
akan mereka gunakan. Ia juga mengambil celemek yang menggantung di samping
lemari es, lalu mengenakannya. Sementara yang lain hanya diam memperhatikan tingkah
Nakamura Akito yang penuh semangat itu.
“Aku
tidak pernah masak karena di rumahku ada chef.”
“Aku
juga tidak mau masak, nanti tanganku jadi kasar.”
Nakamura
Akito hanya menghela panjang. Yamaguchi Hasumi orang kaya, jadi mungkin saja ia
tidak pernah ke dapur ataupun mengiris daging. Mizutani Akira gadis yang
terlalu over protektif, mungkin saja ia
tidak pernah membantu ibunya memasak di dapur. Lalu, Nakamura Akito beralih
menatap gadis yang sedang berdiri di sampingnya. Bagaimana dengan Kodachi Anna?
Ia tidak mendengar keluhan-keluhan apa pun dari gadis satu itu.
“Baiklah,
kalau begitu kalian beli fu[1] saja.”
“Memangnya,
Akito-kun pernah pegang pisau?” ledek
Mizutani Akira. “Sepertinya belum pernah ya. Hahaha.”
Tawa Mizutani Akira membuat Nakamura Akito
agak kesal. “Lihat ya,” Nakamura Akito mengambil sebilah pisau kecil, “aku bisa
memotong semua bahan-bahan ini dengan sangat cantik,” katanya.
Ia
mulai memotong bahan-bahan masakan. Melihat tangannya yang cekatan itu, membuat
teman-temannya awas dan takut kalau tangan Nakamura Akito akan teriris lagi.
Kodachi
Anna melirik sesaat, apakah ibunya belum pernah memasakkan sukiyaki untuknya?
Sampai-sampai ia saja tidak tahu bagaimana caranya memotong bahan-bahan dengan
baik? Meskipun teman-temannya terpukau dengan kelihaian tangannya itu, tapi
potongan itu tidak benar sama sekali. Mungkin Nakamura Akito tidak pernah
melihat ibunya memasak.
“Saya
akan menyiapkan alat observasi. Panggil saja ya, kalau sudah matang.”
Pak Urahara meninggalkan dapur.
“Kami
pergi beli fu dulu ya. Ayo, Hasumi-kun !”
Mizutani
Akira dan Yamaguchi Hasumi pun juga ikut keluar. Keduanya meninggalkan Kodachi
Anna dan Nakamura Akito. Jantung Kodachi Anna hampir mau meledak saat ini juga.
Ia mulai panik, terutama ketika ia melihat Nakamura Akito tersenyum sambil
bersenandung riang sembari memotong bahan-bahan yang akan dimasak.
Sebaiknya diam
saja, biar Anna-chan tidak kabur.
“Jarimu...,”
lirihnya pelan sembari memperhatikan jari-jari Nakamura Akito dan pisau yang
berada di atas talenan. “Apakah baik-baik saja?” Kodachi Anna menghela, tangan
Nakamura Akito yang kemarin dibalut perban sudah terbuka lagi. Lelaki itu hanya
meliriknya sesaat, “Maksudku, apakah kau tidak takut jika tanganmu teriris
lagi?”
Kodachi Anna mendekatinya. Tiba-tiba saja ia
jadi menempel pada Nakamura Akito.
“Tidak.”
Nakamura
Akito tersenyum miring. Tiba-tiba suasananya jadi aneh saat tatapan mereka
bertemu. Membuat Kodachi Anna tidak nyaman. “Kalau mau makan yang enak, harus
begitu ‘kan? Jangan takut jika tangan teriris.”
Lagi-lagi
ia tersenyum. Detik itu juga, Kodachi Anna hanya berujar Ooh. Lalu ia berjongkok di depan lemari meja yang pendek, melihat
isi dalam lemari dan mengambil panci.
“Bagaimana
denganmu, Anna-chan?”
Kodachi
Anna terkesiap, suara ketukan pisau yang sedang memotong beradu dengan talenan.
Kodachi Anna hanya terpaku pada panci yang sejak tadi belum juga ditarik dari
lemari dapur.
“Kau
selalu saja menunduk, memangnya lehermu tidak sakit ya? Haahaa.”
Suara
tawa Nakamura Akito membuat Kodachi Anna mendongak.
Nakamura Akito
tertawa seperti biasa.
“Nakamura-kun sendiri, kenapa selalu melihat ke
atas?”
Kodachi
Anna berdiri sambil menutup lemari dapur. Di tangannya sudah ada panci yang
siap mereka gunakan. Ia memandangi Nakamura Akito lekat. Menyadari kalau
Kodachi Anna sedang memperhatikannya, Nakamura Akito balas memandangnya. Sekali
lagi, tatapan mereka bertemu. Kodachi Anna jadi ingin lebih tahu banyak tentang
Nakamura Akito.
“Aku—”
Wajah lelaki itu sendu. Kodachi Anna merasa bersalah saat menanyakan hal itu. Dengan
cepat, air mukanya berubah menjadi ceria. “Sedang melihat bintang.” Nakamura
Akito menunjuk ke langit-langit dapur.
Kodachi Anna jadi
sebal dibuatnya. Wajahnya menggembung.
“Tidak
seru.”
“Biar
saja.”
“Kalau
di sana, tidak mungkin bisa lihat bintang.”
“Aku
bisa melihatnya.”
Kodachi
Anna menggigit bibir bawahnya, lalu memeluk anak panci yang sejak tadi berada
di tangannya. Ia sebal melihat kekonyolan Nakamura Akito. Apakah lelaki itu
bermaksud menjahilinya? Padahal itu hanya bentuk langit-langit coffered, dengan bahan kassetony logam tipis.
“Ah,
bahannya sudah siap! Pancinya di mana, An—” Belum sempat Nakamura Akito
menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba dengan gerakan cepat, panci itu dilayangkan
ke bagian perut Nakamura Akito, sehingga lelaki itu sempat mengaduh.
“Aku
mau memanggil Pak Urahara,” sungut Kodachi Anna dan lekas meninggalkan Nakamura
Akito.
Gadis
itu berlari saat meninggalkan pintu dapur. Ia tidak menoleh lagi, tidak juga
memperhatikan raut Nakamura Akito. Dengan wajah menunduk, ia terus berjalan
menyusuri lorong-lorong kelas.
[1] Makanan
yang terbuat dari gluten (protein utama gandum) dan sering digunakan sebagai
pengganti daging.

Komentar
Posting Komentar