Sampai Jumpa - Rencana Untuk Menangkap Alien

 

Nakamura Akito merasa bosan. Tidak ada apa-apa di klub ini, selain kedua anggota klubnya yang aneh, Mizutani Akira dan Yamaguchi Hasumi. Kedua temannya itu sedang berdebat soal planet-planet tata surya. Yamaguchi Hasumi, lelaki berkacamata yang penuh dengan kumpulan imajinasi di kepalanya. Mizutani Akira, gadis berambut hitam sebahu yang manis dan lucu, ia menyukai bulan karena wajahnya yang bulat seperti bulan. Ia juga ingin menjadi seorang peramal, tapi ramalannya tidak pernah benar.

Nakamura Akito berjongkok di atas kursi, membolak-balik buku tentang metafisika yang diambil asal dari rak buku.

“Semuanya, kita kedatangan anggota baru.”

Pak Urahara sudah berdiri di ambang pintu dengan raut bahagia. Bagi Nakamura Akito, Pak Urahara adalah seorang paman. Paman yang menyelamatkannya dari kesedihan. Klub ini juga pertama kali dibentuk



oleh Akito dan gurunya itu.

Saat Pak Urahara bergerak ke samping pintu, mata Nakamura Akito membulat, tidak percaya pada apa yang dilihatnya.

“Woah ... serius?”

Pak Urahara tertawa kikuk, ia melirik ke arah Kodachi Anna yang kelihatan terkejut. Nakamura Akito melompat dari kursinya, lalu berlari ke arah mereka berdua. Pak Urahara mempersilakan Kodachi Anna masuk. Gadis itu kelihatan ragu-ragu. Matanya yang bersinar memperhatikan sekeliling. Ruangan yang agak kotor, rak buku yang tidak terawat, dan jendela yang penuh debu.

“Anna-chan mengikuti aku ya?”

Ya ampun. Nakamura Akito merasa sangat senang.

“Aku sama sekali tidak tertarik padamu maupun klub ini,” sewot Kodachi Anna.

Ia membuang pandang ke arah lain, sepertinya gadis itu memang tidak suka berhadapan dengan Nakamura Akito. Tapi Nakamura Akito tidak begitu, ia berteman dengan siapa saja, mendekati orang yang tidak menyukainya. Seperti sekarang ini, ia senang mendekati Kodachi Anna yang selalu acuh tak acuh padanya. Tapi mereka selalu bertemu di mana pun, juga selalu terhubung oleh apa pun. Contohnya, berada di kelas yang sama, berdekatan tempat duduk, dan sekarang, mereka juga bergabung dengan klub yang sama.

“Hahahaha. Benarkah?”

Nakamura Akito menggodanya. Kodachi Anna tampak acuh, berpikir bahwa sikap Nakamura Akito sangat mengganggu. Lihat, ia juga malas melihat Nakamura Akito. Apalagi saat ia tertawa ceria. Kodachi Anna sangat sebal melihatnya.

“Aku juga sebenarnya tidak tertarik pada klub astronomi,” bohong Nakamura Akito. Ia menggosok-gosok bawah hidungnya, menahan tawa, karena sejak bertemu dengan Kodachi Anna ia selalu kelihatan ceria.

“Hei, hei, Akito-kun, kau tidak boleh seperti itu!” teriak Pak Urahara.

Kalau tidak ada klub ini, mungkin mereka tidak akan dapat bersenang-senang seperti sekarang. Yah, walaupun mereka jarang ada kegiatan. Setidaknya, para anggota memiliki tempat untuk dikunjungi selain kantin, atap sekolah, dan ruangan kelas.

“Aku kenal Paman ini dari dulu. Lebih tepatnya sih ... aku terpaksa mengenalnya. Yap sangat terpaksa. Dia sendirian dan tidak punya teman,” kata Nakamura Akito.

“Aku mau menangis kalau kau bilang seperti itu.”

Pak guru yang dipanggil Paman oleh Nakamura Akito berpura-pura menangis, Nakamura Akito merasa sangat senang. Kedua anggota yang lain menghampiri mereka bertiga. Melihat kalau sepertinya percakapan ketiga orang tersebut sangat seru.

“Hasumi dan Akira-chan juga tidak tertarik sama sekali kok,” kata Nakamura Akito enteng.

Kodachi Anna yang sepertinya malas mendengar drama serta cerita Nakamura Akito dan pak guru yang sudah membawanya bergabung ke tempat ini, segera menuju meja besar yang biasa digunakan para anggota rapat atau membicarakan sesuatu.

“Kodachi-san, apakah kamu percaya kalau UFO itu benar-benar ada?”

Lelaki berkacamata, Yamaguchi Hasumi sudah berdiri di belakang Kodachi Anna. Ia tampak malu-malu dan sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Kedua telunjuk dan ibu jarinya ia satukan sehingga membentuk sudut segitiga.

“Aku tidak tahu dan tidak tertarik,” sahut Kodachi Anna. Ia lebih memilih komiknya daripada berhubungan dengan para anggota klubnya.

“Nee ... zodiak Anna-chan apa? Aku membuka situs yang berisi ramalan-ramalan tentang karier, masa depan, dan jodoh. Setiap ramalan di situs ini tepat, orang-orang banyak yang mengikutinya.”

Gadis berambut hitam sebahu itu menggeser kursinya agar berdekatan dengan Kodachi Anna. Mizutani Akira, gadis itu juga yang memanggilnya di kelas dan memberitahu kalau Pak Urahara menyuruhnya ke ruang guru. Jadi, bukan hanya Pak Urahara saja, ternyata gadis itu juga salah satu yang menyebabkan ia bergabung dengan klub tersebut. Coba saja kalau ia tidak dipanggil ke ruang guru. Mungkin ia tidak akan di sini sekarang.

“Aku tidak tertarik,” sahut Kodachi Anna malas.

Walau begitu, Mizutani Akira terus melekat pada Kodachi Anna. Sementara Nakamura Akito juga nampak sibuk membaca tentang metafisika, dan Yamaguchi Hasumi malah sibuk membentuk galaksi dan tata surya di jendela yang berdebu. Melihat klub hanya seperti itu-itu saja, Pak Urahara berpikir kalau klub astronomi apakah sebaiknya dibubarkan. Padahal ia hanya ingin membuat klub astronominya jadi ramai dan seru. Pak Urahara menggigit ujung lengan kemejanya, lalu separuh air keluar dari sudut matanya.

“Aku hanya ingin membuat klub ini jadi ramai dan seru,” lirihnya.

Akhirnya ia memikirkan sesuatu. Dengan segera Pak Urahara mengambil posisi di kursi tempat ketua. Sambil meletakkan kedua tangan di pinggangnya, ia berseru, “Rencana Darurat!”

Tangannya menghantam meja dengan cukup keras, seluruh anggota klub melongok menatapnya. “Kita akan membuat Planetarium, dan dibuka untuk umum.”

Suaranya begitu keras, sehingga semua anggota klub menatapnya heran, lalu semuanya berkedip dua kali. Nyatanya yang paling bersemangat di sini adalah Pak Urahara yang sekaligus pembimbing klub astronomi.

“Saya jelaskan, ya,” serunya mengambil posisi.

Pak Urahara mengambil kaca mata yang berada di saku kemejanya. Lalu seperti seorang profesor yang ahli tentang astronomi, ia berdiri dengan penuh rasa percaya diri sambil melipat kedua tangan di dada.

“Rencananya adalah, kita akan menyatukan seluruh anggota klub dan membuat planetarium. Dengan begitu, kalian akan menyadari betapa hebatnya teman satu klub kalian dan luar angkasa yang akan kita ciptakan bersama-sama. Setelah itu, kita akan membuka planetarium ini secara umum. Murid-murid yang terkesan pasti tertarik dan berminat masuk klub ini. Anak-anak, ini adalah rencana yang sempurna dan luar biasa.”

Pak Urahara mengakhiri kalimat sambil mengendus pelan, dan tersenyum miring. Semua anggota tidak ada yang bereaksi, memberikan tepuk tangan pun, tidak. Padahal ini adalah rencana terhebat yang dipikirkan oleh seorang Urahara Seto.

“Rencana apa itu?” Nakamura Akito menyela. Selama satu menit, semua yang ada di dalam ruangan jadi hening. “Wah, sepertinya akan seru.” Wajah Nakamura Akito ceria.

“Heeehh?”

Semua anggota kaget, tidak percaya atas perubahan sikap Nakamura Akito. Ia menutup buku metafisikanya, sekarang perhatiannya beralih pada Pak Urahara.

“Baiklah teman-teman, sekarang saatnya berkumpul!” serunya kencang.

“Aku tidak mau,” Yamaguchi Hasumi menyahut. Ia melipat tangan di bawah dada sambil sesekali memperbaiki kacamatanya.

“Malas, tidak seru.”

Begitu pula Mizutani Akira, ia cuek dan berhenti bergelayut pada Kodachi Anna yang sejak tadi mengabaikannya. Ia menyangga dagu di atas meja sambil mengetuk-ketuk jari telunjuknya.

“Tidak tertarik.”

Jawaban singkat itu dari Kodachi Anna, yang lebih memilih tidak membaur dengan siapa pun. Padahal, kata Pak Urahara, klub astronomi tidak ada kegiatan. Kodachi Anna menggigit bibir bawahnya. Ah ... ia merasa ditipu!

Nakamura Akito berbalik pada Yamaguchi Hasumi, ia menyipitkan matanya. Yamaguchi Hasumi masih diam di tempat, kini mereka saling berhadap-hadapan.

“Di tempat seperti luar angkasa yang akan kita ciptakan, kau bisa bertemu dengan mereka loh. Bagaimana Hasumi-kun? Apakah kau masih tidak mau bergabung. Atau kau tidak tertarik sama sekali untuk bertemu dengan mereka?”

Nakamura Akito menggunakan jurus terakhirnya. Kodachi Anna dan Mizutani Akira memperhatikan kedua lelaki itu, sepertinya, Yamaguchi Hasumi sedang mempertimbangkan perkataan Nakamura Akito. Ia kelihatan sangat serius dan fokus, kacamatanya tidak berhenti jatuh ke atas hidungnya.

“Begitu, ya? Jadi maksudmu, apakah pembuatan planetarium ini—”

Yamaguchi Hasumi mengambil langkah lebar menuju ke arah Nakamura Akito. Lelaki itu mengangguk, mengiakan. Positif. Sementara Kodachi Anna dan Mizutani Akira saling tatap, tidak paham dengan maksud kedua lelaki itu, ataupun kode-kode yang baru saja mereka perlihatkan dengan gerak tubuh dan mimik wajah. Kelihatan drama sekali, apalagi saat Nakamura Akito mengangguk lagi dengan pasti.

“Rencana untuk menangkap alien?!” seru Yamaguchi Hasumi.

“Benar sekali!”

Nakamura Akito dan Yamaguchi Hasumi kelihatan bersemangat, apalagi sampai mereka menyatukan jari telunjuk masing-masing. Mereka berdua saling merangkul satu sama lain, kemudian sambil membuat gerakkan melempar kaki bersamaan, seperti menendang bola. Yeay! Pasti bisa tertangkap hidup-hidup!”

Lebih anehnya lagi, Yamaguchi Hasumi mengatakan, “Aku pasti bisa mengoleksi banyak alien.”  

Mereka berdua tidak tanggung-tanggung.

“Seraam!  Kalian semangat sekali,” seru Mizutani Akira.

Rencana macam apa itu? Kodachi Anna tidak tertarik sama sekali. ‘Amit-amit’.

“Nee, Hasumi. Kau kenal Yamada Toru yang dari kelas dua D? Dia sepertinya suka juga observasi soal astronomi.”

Nakamura Akito berpura-pura berbisik pada Yamaguchi Hasumi, tapi suaranya saja sampai kedengaran di telinga Mizutani Akira. Menurut gosip yang beredar di sekitar klub astronomi, Mizutani Akira tergila-gila pada Yamada Toru, lelaki yang beda kelas dengannya itu.

“Wah, sebenarnya aku juga suka penelitian tentang angkasa. Aku juga suka melihat bintang Saturnus,” kilah Mizutani Akira.

Nakamura Akito merasa puas. Mizutani Akira menempel pada kedua lelaki itu, sementara Kodachi Anna hanya melongo melihat perubahan aneh gadis yang sebelumnya menolak untuk bergabung dengan rencana para lelaki itu. Apa-apaan mereka? Apakah semua anggota klub astronomi aneh? Apakah di hari pertamanya masuk sekolah, ia sudah berhubungan dengan orang-orang yang aneh? Kodachi Anna hanya menatap bingung.

Nakamura Akito menoleh pada Kodachi Anna, ia lalu menghampiri gadis itu, menarik tangannya. Sontak Kodachi Anna kaget, “Berarti, Anna-chan juga harus ikut ya?”

 Nakamura Akito sudah berdiri di sampingnya dengan memasang wajah ceria.

“Tidak mau.”

Teng. Lampu merah tetap menyala, Kodachi Anna tetap pada pendiriannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah