Sampai Jumpa - Sakit
“Kodachi
Anna absen hari ini ya?”
Setelah
memastikan sudah memanggil nama siswanya satu per satu, Pak Urahara mulai sadar
kalau Kodachi Anna hari ini tidak berada di kelas. Pak Urahara melempar pandang
ke arah Nakamura Akito yang sedang melamun. Mungkin ia tahu kenapa Kodachi Anna
tidak masuk hari ini. Bukankah sebelumnya mereka akrab?
Menyadari
tatapan tanda tanya pak Urahara, Nakamura Akito hanya mengendikan kedua bahu. Tidak tahu. Lalu ia melempar pandang ke
arah lain sambil bertopang dagu.
“Akito-kun, psst. Akito-kun.”
Mizutani
Akira setengah berbisik saat memanggil Nakamura Akito yang tak kunjung menoleh.
Yamaguchi Hasumi yang duduk di depannya juga mengetuk-ketuk meja Nakamura
Akito. Tapi sepertinya lelaki itu tengah larut dalam lamunannya sendiri. Hingga
dengan isengnya, Yamaguchi Hasumi menarik tangan yang menopang dagunya. Sontak
Nakamura Akito kaget dan melotot pada temannya yang sedang cekikikan di depannya
itu.
“Akira-san memanggilmu. Kau tidak dengar?”
Yamaguchi
Hasumi setengah berbisik. Alih-alih pak Urahara memergoki mereka yang sedang
berbicara di kelasnya. Nakamura Akito menoleh pada Mizutani Akira yang masih
menghadap ke belakang, lalu bersiap-siap mengangkat bukunya dan melirik ke belakang.
“Kenapa
Anna-chan tidak masuk sekolah? Kalian
‘kan bertetangga. Kau tidak bertanya sebelum berangkat sekolah, ya?”
Untung
saja Nakamura Akito memperhatikan gerakan bibir Mizutani Akira, sehingga ia
tidak perlu bersusah payah memahami perkataan gadis itu yang suaranya sendiri
tidak bisa didengar oleh semut yang lewat. Mungkin hanya bisikan angin, karena
takut ketahuan kalau mereka sedang berbisik-bisik di dalam kelas.
Pak
Urahara akan tampak berbeda kalau sedang mengajar. Ia bisa saja mempermalukan
siswanya yang tidak mengikuti aturan saat berada di dalam kelas, tapi kalau
menyangkut soal klub astronomi ataupun ia sudah berada bersama para anggota
klub astronomi, Pak Urahara akan berubah seratus delapan puluh derajat.
Bagaimana kalau
kita ke rumahnya nanti sepulang sekolah?
Nakamura
Akito menuliskan pesan singkat itu pada robekan kertas yang sudah dilipat jadi
kecil dan memberikannya pada Yamaguchi Hasumi. Lelaki itu membukanya dan
mengangguk. Tak hanya sampai pada Yamaguchi Hasumi saja, pesan singkat itu juga
dibaca oleh Mizutani Akira. Jadi mereka bertiga sepakat untuk mengunjungi
Kodachi Anna ke rumahnya sepulang sekolah nanti.
***
Sejak
semalam suhu badan Kodachi Anna tinggi, membuat ibunya khawatir. Ayahnya yang
sudah dua hari tidak pulang karena urusan pekerjaan juga harap-harap cemas.
Selama semalam itu, sudah lima kali ia menelepon istrinya, memastikan kondisi
Kodachi Anna. Tapi hari ini, kondisinya sudah lebih baik dari semalam. Suhu
badannya sudah turun dan normal. Hanya saja, Kodachi Uno tidak mengizinkannya
berangkat sekolah karena khawatir kalau putrinya itu drop dan pingsan di sekolah.
Suara
kenop pintu dibuka membuat ia membuka mata. Dari balik selimut, ia melihat
ibunya masuk sambil membawakan nampan minuman. Pasti ibunya akan menyuruh
meminum obat. Padahal ... bukankah satu jam yang lalu ia minum obat?
“Temanmu datang.”
Ibunya
menaruh nampan gelas minuman di atas chibudai[1] yang
ada di samping tempat tidur Kodachi Anna. Tatapannya masih agak buram, sehingga
ia melihat beberapa bayangan samar yang masuk mengikuti ibunya, lantas duduk di
lantai dekat chibudai–nya.
Kodachi Anna mengerjap beberapa kali, dan
menghela sesaat. Nakamura Akito tersenyum ramah sambil melambai ke arahnya.
Bukan hanya Nakamura Akito, tapi ada juga Yamaguchi Hasumi dan Mizutani Akira.
“Santai
saja ya, anak-anak. Anggap saja rumah sendiri.”
“Terima
kasih, Bibi.”
Mereka
bertiga menyahut setelah Kodachi Uno meninggalkan semua.
“Bibi
mempunyai semangat tinggi ya, tidak seperti Anna-chan,” sela Nakamura Akito. Ia melirik ke arah Kodachi Anna yang
sudah duduk di atas tempat tidurnya.
“Maaf
kalau aku ini pemurung,” jawabnya asal. Matanya menoleh ke arah Nakamura Akito
yang sangat dekat dengannya. Lelaki itu menyangga tangan di tepi tempat tidur
Kodachi Anna. Nakamura Akito tersenyum melihat Kodachi Anna yang akhirnya mau
menoleh ke arahnya. Karena sejak kemarin, sepertinya Kodachi Anna menghindari
dirinya dan semua orang. Beberapa saat setelahnya, gadis itu membuang pandang
ke arah lain. Gadis itu menutup kepalanya dengan selimut.
“Anna-chan demam ya? Kami mengkhawatirkanmu.
Makanya kami bertiga datang menjenguk Anna-chan.
Rasanya berbeda kalau Anna-chan tidak
masuk sekolah,” sela Mizutani Akira.
Kodachi Anna mengangkat kepalanya, menatap
Mizutani Akira yang tengah menatapnya juga. “Anna-chan tidak ada kabar. Belum lagi, lelaki ini,” Mizutani Akira
memukul kepala Nakamura Akito sehingga lelaki itu sedikit meringis, “ia bilang tidak
tahu kenapa Anna-chan tidak masuk
sekolah.”
“Bukan
begitu.”
Nakamura
Akito hendak menyanggah, tapi sesuatu sepertinya telah menyita perhatiannya,
sehingga ia tidak kembali berbicara. Ia bergerak menuju meja belajar Kodachi
Anna yang berada di dekat balkon jendela.
“Kenapa
kalian harus repot-repot datang menjengukku?”
Kodachi
Anna menundukkan wajah. Di satu sisi, ia merasa senang karena teman-temannya
datang, tapi di sisi lain, ia merasa seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya
mereka mengabaikannya juga, seharusnya mereka semua tidak mengkhawatirkannya.
Ini akan jadi sulit bagi Kodachi Anna. Malah sekarang ia jadi ingin lebih lama
menetap di tempat ini.
“Anak-anak,
sebelum pulang kalian harus makan dulu ya,” pinta Kodachi Uno dari balik pintu.
“Aku
akan membantu Bibi.”
“Aku
juga.”
Yamaguchi
Hasumi dan Mizutani Akira keluar meninggalkan Kodachi Anna dan Nakamura Akito.
Lelaki itu sedang memperhatikan sesuatu yang tergeletak manis di atas meja
belajar Kodachi Anna. Sapu tangan putih dengan gambar dua kelinci yang berada
di samping komik Good Night Memories karya Hifumi Sasaki. Sepertinya ia pernah
melihat sapu tangan itu, tapi di mana? Nakamura Akito mengusap ujung rambutnya
yang tebal. Lalu ia sadar, kalau Kodachi Anna sedang memperhatikannya.
Ia melangkah ke arah gadis itu dan berjongkok
di bawah tempat tidurnya. “Kenapa?”
Nakamura
Akito dan Kodachi Anna saling tatap satu sama lain. Lelaki itu seperti anak
anjing penurut yang sedang menunggu majikannya mengatakan sesuatu. Lagi-lagi
Kodachi Anna bersembunyi di balik selimut, dan hanya menatap ke seprei yang
penuh dengan bunga matahari.
“Tidak
apa-apa.”
“Begitu
ya?” Nakamura Akito ikut menunduk, menatap tepi tempat tidur Kodachi Anna.
“Kudengar, sebentar lagi Anna-chan
akan pindah ya?” Nakamura Akito mengambil gelas minumannya yang masih hangat,
lalu menyeruputnya pelan.
Ia sudah tahu!
Kodachi
Anna melirik pelan pada Nakamura Akito.
“Apa?
Ah, apakah kau sakit karena akan pindah? Ah, Seharusnya kau mengatakannya sejak
awal. Hehe.” Nakamura Akito terkekeh, namun pandangan Kodachi Anna tidak
terlepas dari dirinya.
Kenapa dia malah
tertawa?
“Hahaha.
Kau sakit hanya gara-gara mau pindah ya?”
Apakah
bagi Nakamura Akito itu adalah sesuatu yang lucu? Sesuatu yang pantas untuk ditertawakan?
Jadi apa maksudnya saat ia mengatakan, ‘Maukah
kau tetap berada di sampingku?’
Apakah
kalimat itu hanya mainan bagi Nakamura Akito? Padahal, ia sudah menganggap
serius kalimat itu. Gara-gara kalimat itu, ia sampai sakit karena khawatir
harus berpisah dengan seseorang.
“Nakamura-kun tidak akan mengerti,” desis Kodachi
Anna.
Nakamura
Akito mengangkat kepala memperhatikan gadis itu. Kali ini ia serius, Kodachi
Anna hanya seseorang yang lemah, sementara Nakamura Akito adalah seseorang yang
kuat dan tidak pernah menangis. Mereka berbeda, mungkin karena itu Nakamura
Akito hanya mengatakan sesuatu tanpa berpikir. Ia bahkan tidak memikirkan
dampak kalimatnya akan begitu istimewa bagi seseorang.
“Kalau
begitu, katakan padaku.” Nakamura Akito berdiri, lalu dengan sigap ia
menyingkap selimut yang menutupi kepala Kodachi Anna. “Katakan, apa yang kau
pikirkan?”
Kodachi Anna membuang wajah. Merasa diabaikan,
Nakamura Akito menangkup wajah kecil Kodachi Anna hingga gadis itu kembali
menoleh padanya. Saking dekatnya, Nakamura Akito dapat mendengar suara deru
napas yang naik turun. Sesaat, wajah gadis itu jadi panas.
“Jangan lari, Anna-chan.”
Ia
tersontak, karena mata lelaki itu melotot padanya. Menegaskan ia akan sesuatu,
mau tidak mau harus menerima semua ini. Ia jangan jadi pengecut.
“Lepaskan
aku.”
“Anna-chan.”
“Berisik,
biarkan aku sendiri.”
“Baiklah,
aku tidak akan peduli lagi.”
Nakamura
Akito menurunkan tangannya. Wajahnya muram, sementara Kodachi Anna hanya
menunduk. Apakah salah jika ia lari
dari hal yang menyakitkan? Ia hanya menatap punggung dingin Nakamura Akito yang
sudah menjauh.
“Aku
tidak mau pindah dari tempat ini,” katanya setengah berbisik dan hancur.
Kodachi Anna menggigit bibir bawahnya.
Sampai
saat ini, ia sudah banyak kehilangan akibat pindah-pindah tempat tinggal. Mulai
dari teman, kehidupan, dan tempat di mana seharusnya ia berada. Tidak ada yang
berubah, meskipun ia mengatakan kalau ‘Aku
tidak ingin pindah,’ pada orang tuanya.
Semua adalah keputusan ayahnya. Iia menyerah pada semuanya dan memilih
untuk melanjutkan hidup.

Komentar
Posting Komentar