Sampai Jumpa - Pertemuan Kembali

Sudah tiga bulan berlalu setelah Kodachi Anna pindah dari desa Totsukawa. Kota yang ia tempati sekarang begitu hangat. Saat ini adalah musim semi. Di undakan tangga dasar halaman sekolah Miyori, Kodachi Anna duduk sendirian sambil mengutak-atik ponselnya.

Sakura di sini sudah mulai berjatuhan, di sana bagaimana?

 Lagi-lagi ia menghapus ketikannya.

Aku ingin segera bertemu Nakamura-kun

 “Ah, tidak, tidak. Apa yang akan Nakamura-kun pikirkan nanti?” Kodachi Anna menggeleng keras

Tapi ia sudah terlanjur menekan tombol kirim tepat saat salah seorang temannya memanggilnya. Nakajima Mia dan Marina Yuno datang dari arah seberang sambil melambai ke arahnya.

“Kodachi-san!” teriak mereka berdua serempak.

“Kenapa di sini sendirian? Makan bareng yuk!”

 Nakajima Mia duduk di sampingnya.

“Baiklah.”

 Kodachi Anna dan Nakajima Mia kembali berdiri, mereka bertiga menuju ruang kelas. Sekarang, Kodachi Anna sudah tidak takut lagi berhubungan dengan orang lain. Karena Nakamura Akito mengajarinya agar tidak kehilangan sesuatu yang berharga.

“Kodachi-san, besok ada waktu? Kita main yuk!” ajak Marina Yuno

“Maaf, besok aku ada janji.”

“Bertemu pacarmu, ya?”

“Bukan, dengan temanku.”

“Kau punya pacar ya? sudah berapa lama kalian pacaran?” Nakajima Mia nimbrung

“Su-sungguh, bukan pacarku.”

Bukan pacar. Ingat!

“Huwaa....”

Tapi tiba-tiba teriakan Kodachi Anna mengagetkan Nakajima Mia dan Marina Yuno.

“Ada apa?”

“Kau kenapa?”

“Sebenarnya dia tahu perasaanku. Aku pernah mengatakan kalau aku menyukainya. Tapi dia tidak pernah bilang jika kami berpacaran. Dengan kata lain dia itu bukan siapa-siapaku.”

“Ah, begitu. Sudahlah, tidak apa-apa Kodachi-san. Mungkin dia belum terlalu paham dengan pernyataan cintamu it,” hibur Marina Yuno.

“Benar, mungkin caramu menyampaikannya membuat dia beranggapan kalau kalian hanya teman dekat. Jangan khawatir, kau masih ada waktu untuk menyampaikannya.”

 “Kalau begitu, ayo kita makan siang. Aku sudah lapar.”

Tapi Kodachi Anna tengah gelisah, Nakamura Akito tidak membalas pesannya. Selama makan siang, berkali-kali ia mengalihkan pandangan dari bekal makan siangnya pada ponselnya. Kenapa Nakamura Akito belum juga membalas pesannya? Apakah sekarang dia sibuk? Apakah Nakamura sudah melupakannya? Apakah Nakamura dan yang lainnya tengah sibuk di ruang klub? Berbagai apakah hinggap di kepala Kodachi Anna. Hingga teman-temannya melihat kegusaran yang jelas di wajahnya.

Ponselnya berbunyi. Kodachi Anna jadi girang. “Aku ke toilet sebentar,” pamitnya berlari di tengah makan siang meninggalkan teman-temannya.

Kalau begitu, besok kita bertemu di stasiun jam 10 ya?

Hati Kodachi Anna melonjak riang.

***

 Hingga menjelang pagi, Kodachi Anna tidak bisa tidur karena memikirkan banyak hal. Bagaimana saat ia bertemu dengan Nakamura Akito, bagaimana dengan pakaian yang ia gunakan. Saat ini, Kodachi Anna merasa gugup.

“Anna-chan.”

Ia menoleh saat suara familier itu menyerukan namanya. Di sana sudah ada Nakamura Akito, Mizutani Akira juga Yamaguchi Hasumi.

“Lama tidak bertemu ya?”

Kodachi Anna merasa gembira, apalagi saat melihat raut wajah Nakamura Akito yang juga ikut gembira dengan pertemuan mereka.

“Tidak terasa ya, ini sudah tiga bulan,” kata Nakamura Akito

“Waktu bersama Anna-chan, rasanya cepat sekali ya,” sahut Mizutani Akira.

Di depan mereka, Mizutani Akira dan Yamaguchi Hasumi berjalan bersama sementara Nakamura Akito dan Kodachi Anna berada di belakang dan sangat dekat. Hampir saja kedua tangan mereka bersentuhan satu sama lain, tapi Kodachi Anna langsung menarik tangannya cepat.

“Maaf, Anna-chan.”

“Tidak apa-apa.”

Mereka berjalan-jalan di sekitar desa, juga mengunjungi sekolah lama dan beberapa tempat yang belum pernah dikunjungi oleh Kodachi Anna.

“Nah, sekarang kita mau ke mana?”

Mizutani Akira dan Yamaguchi Hasumi berhenti, lalu berbalik ke arah mereka berdua yang sedang merasa canggung satu sama lain.

“Akito-kun.”

Seseorang menyerukan Nama Nakamura Akito, sehingga lelaki berbalik ke belakang. “Wah, teman sekelasku.”

“Hei, Kodachi-san. Kau ke sini ya? Ternyata benar kau berpacaran dengan si Akito-kun ini ya?”

Hah?

“Tidak. Tidak benar!” elak Nakamura Akito. “Kami tidak pacaran.”

“Oh, iya juga ya. Kau memang tidak mungkin memiliki pacar, hahaha.”

Karena kesal, Nakamura Akito menarik kerah bagian belakang baju temannya yang berlari menghindarinya lalu memukul kepalanya berkali-kali. “Jangan sembarangan bicara, kau!” katanya kesal.

“Kalau begitu sampai jumpa Akito-kun, Kodachi-san dan yang lainnya.”

Teman sekelas mereka melambai setelah salah satu dari mereka mendapat pukulan dari Nakamura Akito.

“Sebentar lagi, kita harus berpisah,” kata Mizutani Akira.

“Apa?” Kodachi Anna mengangkat kepalanya, padahal ia belum mau berpisah dengan Nakamura Akito dan yang lainnya.

“Masih ada waktu,”  kata Kodachi Anna.

“Tapi rumahmu jauh,” sahut Nakamura Akito.

Kodachi Anna hampir menangis. Ia tertunduk, merasa dirinya seperti orang bodoh yang terlena sendiri. Padahal ia masih ingin bersama-sama dengan yang lainnya

“Maaf, Anna-chan, aku dan Hasumi-kun ada urusan, jadi kami tidak bisa mengantarmu ke stasiun,” kata Mizutani.

“Oh, begitu.”

“Tapi tenang saja, Akito-kun tidak ada urusan. Jadi, laki-laki ini bisa mengantarmu hingga ke stasiun.”

Mizutani Akira menarik Nakamura Akito ke hadapan Kodachi Anna hingga tubuh mereka hampir berdekatan. “Terima kasih ya sudah berkunjung, Anna-chan. Lain kali kami yang akan berkunjung ke tempatmu,” tambahnya

“Terima kasih juga Mizutani-san.” Kodachi Anna melambai saat kedua orang itu sudah menjauh dari tempat Nakamura Akito dan Kodachi Anna.

Keadaannya menjadi hening saat mereka tengah berdua. Nakamura Akito dan Kodachi Anna. Mereka terus berjalan menuju ke stasiun dengan langkah pelan-pelan.

“Hari ini waktu cepat berlalu ya?” kata Nakamura Aito.

“Iya,” sahut Kodachi Anna

Nakamura Akito tidak sadar bahwa Kodachi Anna memelankan langkah di belakangnya dan menarik ujung bajunya.

“Aku, aku masih ingin bersama denganmu.”

Wajah Kodachi Anna jadi bersemu merah sesaat Nakamura Akito memutar setengah badannya

“Kalau begitu, ayo, Anna chan!”

 Nakamura Akito tiba-tiba menarik pergelangan tangan Kodachi Anna dan mengajak gadis itu berlari. Bukannya menuju ke stasiun melainkan sebuah taman bermain.

“Aku memutuskan untuk mengatakannya di sini.”

Wajah Nakamura Akito bersemu jadi merah. Sementara Kodachi Anna mengatur napasnya yang barusan diajak berlari oleh Nakamura Akito. Mereka saling tatap cukup lama.

Apa yang kau pikirkan tentang aku?

“Jadilah pacarku,” Kata Nakamura Akito dengan wajah serius. Kodachi Anna hanya membulatkan mata sesaat. “Aku suka Anna-chan.  Nakamura Akito canggung.

“Aku jadi uring-uringan karena tidak bisa mengatakannya pada Anna-chan. Aku jadi cemas terus,” terus terang Nakamura Akito. “Payah! Aku kebanyakan berpikir yang tidak-tidak,” katanya lagi dengan perasaan yang tidak karuan.

Kdachi Anna menggenggam tangannya. “Aku mau jadi pacar Nakamura-kun,” balas Kodachi Anna.

Lalu tanpa pikir panjang, Nakamura Akito langsung memeluk Kodachi Anna.

“Syukurlah, perasaan kita ternyata sama,” kata Nakamura Akito yang langsung dibalas dengan anggukkan oleh Kodachi Anna dan masih dalam pelukan Nakamura Akito.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah