SUAKA - Amarah
Cakrawala Adib geram. Dia sering melihat mantan istrinya itu bersama si duda pemilik kafe yang ada di samping rumahnya. Cakra cemburu, dia masih menyayanginya, tapi wanita itu tidak sadar betapa besar cinta Cakra padanya. Wanita itu egois dan tidak mau bersabar untuknya.
Wanita itu tidak mau menunggu dan memilih meninggalkannya.
Dan sekarang mantan istrinya itu tengah berbahagia bersama lelaki lain. Tertawa dan juga mengobrol dengan lelaki lain.
Sekarang Cakra berada di sini, tempat yang cukup jauh dari tempat mantan istirnya bekerja karena tidak tahan melihat kedekatan wanitanya bersama lelaki lain. Padahal sudah puluhan rencana terancang di kepalanya jika mereka bertemu. Dia akan menghampiri mantan istrinya dan membayangkan bagaimana perasaan mantan istirnya saat bertemu dengannya. Mereka akan pergi ke belakang sekolah dan mengobrol berdua, bila perlu Cakra akan minta maaf dan berjanji tidak akan membuat mantan istrinya menangis, Cakra akan memeluknya dengan penuh cinta, siapa tahu mantan istrinya tersentuh. Namun sudah satu mingguan ini dia datang ke sana dan rencana-rencana tersebut tidak pernah terealisasikan.
Itu semua karena mereka dekat. Batin Cakra.
Belum lama ini, dia juga sudah mengawasi mereka -si duda pemilik kafe dan mantan istrinya itu- karena sepertinya wanita itu sangat peduli dan menyayangi anak dari lelaki itu.
Lalu bagaimana dengan anaknya yang telah tewas sebelum lahir? Sial? Seharusnya darah dagingnya itu sudah sebesar anak si duda brengsek itu. Seharusnya darah dagingnya memanggilnya ‘ayah’, sehingga mereka bertiga bisa menjadi satu keluarga yang utuh. Itu hanya angan-angan saja. Dia menyusuri jalan, menendang batu asal sementara mobilnya ditinggalkan di pinggir jalan.
***
Rumah itu sedang sepi. Dia membuka pagar besi yang menimbulkan bunyi, lalu masuk begitu saja. Bukan detektif Cakra namanya kalau tidak bisa masuk ke dalam rumah yang tengah ditinggalkan oleh penghuninya. Cakra memutari ke belakang rumah, melihat jendela yang masih tertutup rapat. Dia mencari-cari kayu di halaman belakang yang sempit dan menemukan sebuah besi sepanjang setengah senti yang berkarat. Entah besi itu sudah lama berada di sana sebelum wanita itu pindah ke sana atau bisa saja si pemilik rumah yang lama sengaja menyandarkan benda itu di dekat pompa air yang sewaktu-waktu bisa ditancapkan disamping kran agar kran itu kokoh tertanam di tanah.
Dia mencongkel jendela itu hingga terbuka lalu melompat masuk. Matanya liar memperhatikan sekeliling, bau lemon bercampur bunga iris menyeruak di dalam ruangan. Cakra menajamkan penciumannya, bau yang disukai oleh wanita itu masih sama. Cakra kenal betul bauan itu. Dia berkeliling memeriksa isi dalam rumah itu, dan berhenti di depan sebuah kamar.
Dia tidak mengunci kamarnya saat pergi. Batinnya.
Cakra menarik knop pintu dan masuk begitu saja. Kakinya melangkah mendekati tempat tidur lalu merebahkan diri di atasnya. Dia merasa nyaman, seharusnya mereka berada di atas tempat tidur yang sama,kan?
Malam-malamnya sepi. Maka betapa senangnya dia jika wanita itu tidur di sisinya. Cakra tersenyum getir dan mimpi serta khayalannya menghilang begitu saja saat mendengar suara mobil dari luar, juga suara anak kecil yang mengucapkan ‘Selamat tinggal’, Cakra buru-buru bangun dan segera keluar dari kamar lalu mengintip dari jendela. Rupanya wanita itu sudah kembali, dia akan memberikan kejutan untuknya. Sebelum wanita itu masuk, Cakra bersembunyi di balik pintu dengan tenang.
“Hei ... apa kabarmu? Sudah lama kita tidak bertemu.”
Cakra mendekati wanita itu lalu hendak memegang wajahnya. Spontan wanita itu menghindarinya, Cakra menyipit kesal karena tidak diijinkan menyentuh wajah yang sangat dirindukannya itu.
“Bagaimana kau bisa ada di sini?”
Suara wanita itu terdengar parau dan ketakutan.
“Jangan takut. Aku tidak akan memakanmu, bukankah sebelumnya kita suami-istri?” Cakra tertawa, “Aku bisa melakukan apa saja untuk milikku, bukankah kau milikku yang melarikan diri?”
“Apa katamu? Aku tidak melarikan diri. Kita sudah resmi berpisah secara hukum di pengadilan. Aku bisa menuntutmu karena masuk diam-diam ke dalam rumahku.”
Wanita itu bersikeras.
Cakra mencoba mendekat ke arahnya, wanita itu sudah tidak ada ruang lagi untuk kabur. “Apa? Menuntutku? Kau sangat ingin sekali ya menjauh dariku? Sebegitu bencinya,kah kau padaku, Varsha?”
***
Varsha menempel di tembok. Tubuhnya di himpit oleh lelaki yang sangat ingin di hindarinya itu. Mata lelaki itu memerah. Varsha tidak tahan pada bau alkohol setiap kali lelaki itu membuka mulutnya. Rupanya dia belum menghilangkan kebiasaan lama. Varsha berusaha mendorong tubuh lelaki itu agar menjauh darinya.
“Jangan mengancamku. Aku tidak takut dengan ancaman seperti itu!” teriaknya tepat di depan wajah Varsha. “Ah ... kelihatannya kau sangat bahagia dengan duda itu ya? Kau juga sangat perhatian pada anaknya. Heh? Kau mau punya anak? Ingat Varsha, kau itu tidak bisa hamil. Kau tidak akan pernah punya anak lagi--”
Tiba-tiba Varsha melayangkan telapak tangannya dengan keras pada wajah lelaki itu Lelaki itu memegang wajahnya dan menatap marah padanya. Varsha sadar bahwa dirinya memang sudah tidak bisa punya anak. Setelah melakukan Histerektomi beberapa tahun yang lalu, dia sudah bukan apa-apa lagi. Dia tidak bisa jadi ibu sekaligus wanita seutuhnya. Seharusnya jika Cakra masih memiliki hati, lelaki itu tidak perlu mengatakan hal yang membuat dia teringat kenangan menyedihkan itu.
“Berani sekali kau menamparku.”
Lelaki itu menarik rambutnya dan mendorong Varsha hingga keningnya membentur kepala sofa. Dia meringis kesakitan saat lelaki itu menjambak rambutnya.
“Wanita sialan, aku sudah baik padamu tapi ini yang kau berikan? Kau tidak menyambutku dengan baik di rumah ini.”
Lelaki itu mendorongnya hingga terjatuh lagi, kali ini ke lantai. Varsha hanya menunduk ketakutan, lelaki itu mendesis geram dan pergi begitu saja. Mata Varsha hanya mengikuti punggung angkuh lelaki yang keluar dari rumahnya. Dia memeluk lutut dan terisak. Seharusnya dia tidak bertemu lagi dengan lelaki itu. Seharusnya tadi dia langsung menghubungi Wara agar melindunginya, tapi sudah terlambat. Lelaki itu menyakitinya –lagi.
***
Raka baru saja selesai membuang bungkulan sampah penuh dalam plastik hitam besar. Sudah tiga hari ini mobil pengangkut sampah belum juga datang, sehingga bak sampah di depan rumahnya sudah hampir penuh. Saat itu juga dia melihat seorang laki-laki yang keluar dari rumah Varsha. Rambut laki-laki itu urak-urakan dengan wajah marah, lelaki itu menendang pagar rumah tetangganya. Mereka bersitatap sejenak, Raka mendapat tatapan permusuhan dari kedua matanya yang merah, dia belum pernah melihat lelaki keluar-masuk dari rumah guru anaknya itu, kecuali, kakak kembarnya.
Karena merasa khawatir pada Varsha, akhirnya Raka mendekati pagar yang tidak tertutup rapat. Pintu rumah wanita itu terbuka lebar dan Raka langsung masuk begitu saja, di dalam sana, dia dapati Varsha tengah meringkuk di sudut ruangan.
Raka berlari mendekatinya, mengangkat wajah Varsha yang sedih dan mendapati darah segar mengucur di dahinya. Wanita itu dianiaya? Seketika Raka hendak bergegas keluar, memastikan lelaki yang berpapasan dengannya itu masih berada di sekitar rumah mereka, tapi tangan Varsha sudah menggantung di pergelangannya. Mencegah agar dirinya tidak meninggalkan wanita itu. Raka kembali duduk di hadapan Varsha, luka itu harus segera diobati. Lalu Raka mencari kotak P3K di dalam rumah, dan menemukan kotak putih. Raka memapah Varsha ke sofa dan mendudukkan wanita itu dengan pelan.
Varsha tidak mengatakan apa-apa, meski Raka benar-benar sudah sangat penasaran. Namun dia tidak akan memaksa jika wanita itu tidak mau membuka mulutnya. Setelah Raka selesai mengobati Varsha, dia mengembalikan kotak P3K ke tempatnya.
“Dia datang, mantan suamiku itu,” kata Varsha setelah Raka kembali duduk di sampingnya.
“Aku malu dengan keadaanku yang seperti ini.” Varsha terkekeh di tempat, padahal dia baru saja menangis dan sekarang dia berpura-pura tegar, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Raka menatapnya lama,
“Dia hanya datang berkunjung, katanya dia mau menjengukku, tapi ….” Varsha berhenti, menunduk.
Tiba-tiba Raka menarik tubuh Varsha. Membenamkan tubuh kecil wanita itu ke dalam pelukannya, mungkin dengan cara seperti ini, wanita itu akan merasa lebih aman dan tidak ada yang perlu ditakutkan. Raka mengelus wajahnya dan menghapus buliran air mata yang jatuh di pipinya, wanita itu juga tidak memberontak saat Raka menciumi keningnya lembut setelah mereka bertatapan cukup lama.

Komentar
Posting Komentar