SUAKA - Bertemu Ayah dan Ibu

Sore itu Varsha sudah bersiap-siap untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Dia masih menunggu saudara laki-lakinya, Wara, yang belum juga datang menjemputnya. Apakah kakaknya tidak mau membawanya bertemu mereka? Mengingat perkataan Wara tadi siang, ‘Kalau kau setengah hati, sebaiknya jangan. Itu hanya akan menyakiti hati kedua orang tua kita. Temuilah mereka saat kau benar-benar baik-baik saja dan dalam keadaan bahagia.’

Varsha merebahkan tubuhnya di atas sofa.

Kalau dia tidak mau membawaku, ya sudah. Batinnya.

Tiba-tiba suara klakson mobil di luar pagar langsung membuat dia yakin bahwa itu Wara, kakaknya telah datang. Varsha keluar begitu saja dan mendapati Wara tengah membuka pagarnya. Kakaknya nyelonong masuk begitu saja ke dalam rumah lalu berbaring di atas sofa sambil menaruh lengan kanan di atas kedua matanya.

Pasti telah terjadi sesuatu di rumah antara kakak dan ayahnya. Vasrha meghela panjang.

“Sebenarnya aku mau berkunjung ke kafe milik tetanggaku. Tempatnya lumayan bagus dan nyaman,” bohong Varsha melirik ke arah Wara.

“Jadi kau tidak mau bertemu dengan Ayah dan Ibu?” tanya Wara.

“Masih ada waktu yang lain.”

“Kalau begitu aku ikut, ayo kita ke kafe itu,” kata Wara segera bangun dari sofa.

Mereka berdua berjalan menuju kafe eudaemonia yang kebetulan sedang tidak terlalu ramai. Mereka memilih meja yang ada di dekat pintu dan seorang pelayan laki-laki datang menghampiri kedua kakak-beradik itu.

***

Dari tadi Arsa kisruh berkelarian di dalam kafe, dan kakinya hampir saja terpeleset di tangga karena tidak hati-hati, ia juga hampir mau menabrak Leila yang sedang membawakan nampan pesanan untuk pengunjung. Untung saja Leila bisa mempertahankan diri sehingga nampan pesanan tidak sampai terjatuh.

“Ibu guru,” panggil Arsa saat melihat wali kelasnya tengah duduk di meja paling depan dekat pintu bersama seorang laki-laki. Bocah itu langsung menghampirinya dan menyalami tangan wali kelasnya itu.

“Jadi dia muridmu, ya?” tanya laki-laki itu, sementara Arsa hanya memperhatikan gurunya dan laki-laki itu bergantian.

Arsa.”

Ketiga orang itu menoleh saat ada yang memanggil Arsa, ternyata ayahnya. Dia menghampiri meja Varsha dan bertegur sapa dengan wanita itu.

“Maaf karena anakku mengganggu kalian, selamat menikmati makanannya,” kata Raka saat Fazwan mengantarkan pesanan mereka.

“Oh, sebelumnya ... dia adalah saudara laki-lakiku, namanya Rauly Wara. Dan dia adalah Raka, ayah Arsa,” kata Varsha sebelum ayah dan anak itu meninggalkan meja mereka.

Caraka Kencana” kata Raka menjabat tangan kakak dari guru Arsa itu. Kemudian mereka meninggalkan pelanggan mereka, membiarkan pelanggan mereka itu menikmati menu-menu yang sudah mereka pesan.

***

“Aku tidak melihat istrinya,” Wara angkat bicara saat ia menyeruput kopi yang tinggal setengah.

“Dia seorang duda.”

“Dengan satu anak? Wah ... bagaimana mungkin seorang wanita yang baru saja bercerai kini bertetangga dengan seorang duda dengan satu anak. Apalagi anaknya adalah salah satu murid si wanita.”

Varsha menoleh pada saudara laki-lakinya itu, “Maksud Kakak apa?”

“Tidak. Hanya saja pertemuan kalian seperti kebetulan saja,” kata Wara sambil mengaduk-aduk kopinya yang tinggal sedikit. “Sha, sebenarnya, bukannya aku tidak mau membawamu bertemu dengan Ayah dan Ibu hari ini,” tambah Wara setelah sekian lama ia diam.

Varsha mengangkat kedua alisnya, menunggu jawaban Wara.

“Di sana ada mantan suamimu. Kau pernah bilang tidak mau bertemu dengannya lagi,kan? Dia menemui Ayah dan Ibu, kau tahu sendiri bagaimana hubungan antara keluarga kita dengan keluarga mantan suamimu, ayah dan mertuamu adalah sahabat. Aku langsung pergi saat melihat dia di ruang tamu sedang berbicara dengan Ayah dan Ibu. Jadi kupikir, dia datang ke rumah untuk mencarimu,” jelas Wara, “Sekaligus aku sempat adu mulut dengan Ayah. Kau tahu sendirilah bagaimana Ayah kita,” tambah Wara dengan wajah tertekuk kesal.

Mereka selalu adu mulut. Entah menyuruh Wara untuk menemani adik iparnya sebentar atau memberitahu di mana keberadaan adiknya sekarang. Tapi mungkin karena Wara menolaknya, akhirnya dia langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Jujur saja, Wara membenci mantan suami adiknya itu, orang pertama yang tidak setuju Varsha dan mantan suaminya kembali rujuk adalah dirinya.

“Setelah dari kafe ini, aku akan membawamu ke sana. Tidak apa jika agak malam,kan?” tanya Wara pelan-pelan.

Varsha mengangguk,

“Menu tambahan,” Raka tiba-tiba datang membawakan dua mangkuk salad buah untuk mereka berdua.

“Kami tidak memesannya,” heran Varsha.

“Untuk pelanggan yang baru datang di kafe kami. Juga untuk wali kelas Arsa yang sudah banyak membantu. Selamat menikmati,” ujar Raka tersenyum pada Varsha dan Wara, lalu pamit meninggalkan meja mereka.

“Laki-laki yang baik. Aku senang kau mempunyai tetangga seperti dia,” kata Wara yang langsung menikmati salad buahnya.

“Dia memang baik, juga ayah yang baik,” kata Varsha sambil memperhatikan Raka yang tengah sibuk ke sana kemari melayani para pelanggannya.

“Juga menarik, ya?”

“Apa? Tidak,” komentar Varsha cepat, “Aku sudah selesai, ini juga sudah setengah enam. Kita akan bertemu dengan Ayah dan Ibu,” tambah Varsha, dia pergi ke kasir meninggalkan kakaknya yang masih memakan salad buah yang dibawakan oleh Raka untuk mereka berdua.

Lalu dengan buru-buru Wara membawa mangkuk salad miliknya, juga milik Varsha ke tempat kasir dan menyuruh salah satu pelayan di sana untuk membungkuskannya. Varsha melambai pada Arsa yang tengah menatapnya hingga menghilang di pintu.

***

Varsha keluar dari mobil dan mendahului kakaknya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Untung saja mantan suaminya sudah pergi sehingga dia bisa leluasa masuk begitu saja. Di dalam rumah, dia tidak menjumpai siapa-siapa, Wara yang belakangan masuk mendahuluinya ke dapur dan menjumpai ibunya ada di sana.

“Lihat, siapa yang aku bawa,” kata Wara.

Rida Melati, sang ibu yang hanya duduk terpaku di depan meja makan menoleh pada anak pertamanya itu. Lalu Varsha muncul dari belakang punggung Wara dan langsung memeluk ibunya. Rida Melati menangis bahagia saat melihat anak keduanya berada di rumah, tapi Varsha tidak mungkin menjadi penghuni rumah itu lagi, dia tahu betul akan hal itu. Ada perasaan senang, kecewa bercampur sedih. Perasaan-perasaan itu bergejolak di hatinya, sang ibu lama memeluk Varsha. Sayang, Varsha mungkin tidak tahu betapa rindu ibunya itu.

“Kau tinggal di mana? Siapa yang mengurusmu? Ibu khawatir, nak.”

Wanita itu menarik salah satu kursi makan dan berhadapan dengan ibunya. Rida Melati menggenggam tangan putrinya erat, begitupun Varsha.

“Aku baik-baik saja, Ibu. Aku mengurus diriku dengan baik, oh iya ... aku juga bekerja. Jadi, Ibu jangan khawatir. Aku baik-baik saja,” kata Varsha menenangkan hati ibunya.

Wanita berumur lima puluhan tahun itu mengelus wajah putrinya lembut. “Kau tinggal di mana? Kakakmu tidak mau memberitahu alamatmu pada Ibu.”

***

“Kau tinggal di mana?”

Sebenarnya pertanyaan itu yang sangat di hindari oleh Varsha. Dia sengaja menyuruh Wara agar tidak memberitahu alamat rumah pada keluarganya. Tapi seketika melihat wajah sang ibu yang rapuh, seketika Varsha jadi terhenyuk.

Wara yang sejak tadi menyender di pintu dapur sambil menyilangkan tangan di bawah dada dan melihat pertemuan antara ibu dan anak itu angkat bicara, “Bukankah kau punya pekerjaan yang harus di selesaikan di rumah? Dan kau juga harus menemui ayah.”

“Iya benar. Di mana ayah?” kalimat Wara berhasil mengalihkan pembicaraan mereka.

“Dia ada di belakang, sedang memberi makan burung. Suasana hatinya sedang baik. Wara, jangan lupa minta maaf pada ayahmu,” kata ibunya berdiri dan membawa Varsha hendak menemui ayahnya. Wara mengekor di belakang kedua wanita itu.

“Kau memang tidak mau memberitahu Ibu di mana kau tinggal, ya?” lagi-lagi ibunya memberikan pertanyaan yang menohok hatinya. “Dan kau juga tidak mau rujuk lagi dengan Cakra?” tambahnya.

“Ibu ... kami tidak bisa bersama lagi. Aku benar-benar tidak bisa kembali lagi padanya.”

“Dia sering ke sini, menjenguk kami juga menanyakan keberadaanmu. Dia ingin kembali bersamamu, Sha.”

“Ayah.Varsha berlari ke arah ayahnya dan langsung memeluk lelaki berkopiah itu.

“Kenapa baru ke rumah? Ayah kangen padamu,” ayahnya membalas pelukan Varsha.

“Maaf baru mengunjungi kalian. Tapi aku baik-baik saja,” kata Varsha saat ayahnya mencium lembut keningnya.

“Makan malamlah di sini, kita tidak pernah makan bersama,” ibunya duduk di salah satu kursi rotan yang biasa tempat suaminya duduk saat mengawasi burung-burung kesayangannya. Wara berdiri di sebelah ibunya, sambil mengelus-elus bahu wanita tua itu.

“Tidak.”

Varsha akan makan malam di sini, Bu.”

Wara memotong kalimat Varsha, wajahnya menegaskan bahwa dia ingin agar kedua orang tua mereka itu, setidaknya bisa membalas rasa rindu pada putrinya walau hanya sebentar.

Lalu akhirnya Varsha mengangguk.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah