SUAKA - Kekesalan

“Sial,” rutuk Cakra sambil menendang mobilnya. Dia meremas rambutnya keras, karena semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Pertemuannya dengan mantan istrinya itu membuat ia hilang kendali. Apalagi mengingat perlakuannya barusan, dia tidak bisa mengendalikan diri karena terlalu marah.

Cakra mengambil sepuntung rokok dan menyalakan api. Dia bersender pada kap mobil sambil sesekali menarik nafas dan mengeluarkan asap di udara. Seketika matanya memicing pada seseorang yang datang dari arah yang berbeda. Sepertinya ia kenal, tidak salah lagi, gadis muda yang ada di bar. Gadis itu tengah menenteng plastik putih. Sejenak mereka bersitatap, tapi gadis itu langsung membuang pandang ke arah lain dan mengambil langkah buru-buru.

“Kau gadis bar itu, ya?” Cakra menarik lengannya.

Seketika gadis itu tengadah menatap Cakra yang berada di hadapannya, lalu dengan perlahan mengangguk.

“Kau tinggal di sekitar sini?”

Gadis polos itu mengangguk.

“Mau menemaniku minum seperti sebelumnya?”

Belum saja gadis itu memberikan kepastian, suara dering nyaring yang berasal dari ponsel Cakra berbunyi. Mau tidak mau lelaki itu mengambil ponselnya dari dalam mobil dan berbicara pada seseorang dari seberang sana.

Iya, aku sedang berada di luar. Iya, aku memang menemuinya. Tapi tidak berjalan sesuai rencana, dia menghindariku dan sepertinya tidak menginginkanku. Cakra sekilas melirik pada gadis muda yang masih berada di depannya itu. Gadis itu masih berada di sana dengan wajah polosnya. Tiba-tiba Cakra menariknya dan membawanya masuk ke dalam mobil.

“Ayo masuk, temani aku minum lagi,” katanya.

Sudah ya, aku mau bersenang-senang dulu. Cakra mematikan teleponnya dan membawa mobilnya dengan kecepatan penuh.

“Soal nama, kita belum berkenalan,” kata Cakra melirik ke arah gadis itu.

Gadis itu mengernyit, “Sekar,” katanya.

“Cakra. Sudah lama bekerja di sana?”

Gadis itu mengangguk.

“Kau yang menginginkan pekerjaan itu, ya?”

Gadis itu mengangguk, “Karena ada hal lainnya juga,” katanya lagi.

“O, begitu.”

***

Pengunjung sudah ramai setiba mereka di sana. Gadis itu yang tanpa mengenakan pakaian kerja hanya menurut dikala Cakra mengajaknya masuk. Mereka berpapasan dengan si pemilik bar, wanita paruh baya yang tengah merokok, memperhatikan salah seorang pekerjanya datang tanpa mengenakan riasan apapun bersama seorang pelanggan. Herannya, padahal hari ini bukan jadwalnya kerja.

“Bos, akan kusiapkan ruangan untuk kalian.” Wanita paruh baya yang biasa disapa Madam Laras itu mendekati Cakra dan Sekar.

“Tidak perlu. Dia hanya menemaniku minum,” sahut Cakra mengabaikan Madam Laras. Mereka mencari meja kosong, di sanalah Cakra menumpahkan kekesalannya pada gadis itu, mengajak gadis polos itu untuk minum bir bersamanya.

Awalnya Sekar menolak, tapi karena Cakra yang memaksa, belum lagi karena mendapat tatapan sinis dari Madam Laras yang tak unggah dari tempatnya mengawasi. Dia muntah sesaat ia meminum setengah gelas yang baru saja dituangkan oleh Cakra, tapi lelaki itu terus memaksanya. Cakra terus tertawa, memaksanya meminum bir yang baru pertama kali ia cicipi itu.

“Ayo, minum lagi.”

Mau tidak mau, Sekar menghabiskan bir yang selalu saja dituangkan oleh Cakra di dalam gelas.

“Varsha tidak akan pernah mau kembali bersamaku. Dia membenciku, tanganku menyakitinya. Aku selalu tidak bisa mengendalikan diri,” ujar Cakra di depan gadis yang juga teler karena sudah menenggak dua gelas bir itu.

“Siapa Varsha?” Sekar masih bisa mendengar perkataan Cakra meski ia sendiri sudah pusing.

Cakra menoleh ke arah Sekar.

“Minum lagi,” kali ini Cakra memaksakan botol minumannya ke mulut Sekar. Gadis polos yang sudah pusing itu dijejal dengan satu botol bir yang membuatnya mau muntah. Lagi-lagi Cakra terbahak seperti orang gila, sementara gadis polos itu menangis dengan mata merah memohon pada Cakra agar menjauhkan botol itu darinya. Sekar mendorong tubuh Cakra menjauh darinya, hingga botol bir itu pecah di dekat kakinya. Gadis polos itu berusaha menjauh. Mata Cakra berubah nyalang dan geram.

“Cakra.”

Panggilan seseorang membuat ia menoleh.

“Suwa.”

“Sudah kuduga kau berada di sini, kenapa kau suka sekali mengunjungi tempat ini,” kata Suwa geram. Kelihatan sekali kalau Suwa mengkhawatirkan Cakra, dia selalu menemui Cakra di tempat terlarang itu.

Suwa langsung menjauhkan Cakra dari Sekar yang tengah meringkuk ketakutan. “Apa yang kau lakukan? Mau bermain wanita? Bagaimana mungkin Varsha akan mau kembali padamu jika kau selalu melakukan hal yang menjijikkan seperti ini,” kata Suwa dengan nada marah.

Mata Cakra yang semula kelihatan ganas kini berubah jadi redup. “Varsha tidak menginginkanku. Aku tidak tahu harus bagaimana, tapi aku masih mencintainya,” kata Cakra.

Suwa terdiam.

Sekar yang sejak tadi meringkuk diam-diam berdiri hendak pergi sebelum Cakra berbuat semaunya, tapi kepalanya terasa pening, hingga baru beberapa langkah, gadis polos itu sudah jatuh di dekat meja. Suwa langsung membopongnya kembali ke sofa. Sementara Cakra duduk memperhatikan gadis polos itu.

“Seharusnya kau tidak melakukan hal itu pada gadis yang tidak tahu apa-apa ini,” kata Suwa.

Cakra hanya menghela, Keegoisannya menyebabkan ia hilang sadar dan menyakiti gadis yang tidak bersalah itu. Sementara Madam Laras yang sejak tadi mengawasi mereka, sudah datang bersama dua laki-laki kekar yang membawa Sekar pergi dari tempat itu.

Tadinya Cakra melarang mereka, karena yang membawa Sekar ke tempat itu adalah dirinya, tapi Madam Laras bilang, “Dia pekerjaku, aku berhak membawanya pergi. Lagipula anda sudah keterlaluan.” Madam Laras langsung pergi begitu saja bersama dua orang yang membawa Sekar itu.

“Memangnya apa yang dikatakan Varsha saat kau menemuinya?” tanya Suwa yang sudah duduk di sofa lainnya.

Cakra melirik ke arah temannya itu, “Dia bilang kami sudah bercerai secara hukum di pengadilan, dia tidak mau bertemu denganku. Saking ia benci padaku, ia menamparku,” Cakra terkekeh mengingat hal yang terjadi pada saat berkunjung ke rumah mantan istrinya itu.

Suwa mengambil gelas dan menuangkan bir ke dalam gelasnya, hendak menyimak dengan cerita temannya itu.

“Dia takut padaku,” gumam Cakra setengah berbisik. Lalu lelaki itu menghela. “Aku juga salah. Aku memperlakukannya dengan keterlaluan di pertemuan pertama kami,” katanya lagi.

Dia mengambil botol bir dan meneguknya hingga setengah. Beberapa menit setelahnya Cakra hilang kesadaran dan ia jatuh di sofa. Rasanya tak tega jika Suwa meninggalkan temannya di tempat itu sendirian, maka lagi-lagi Suwa harus mengantar temannya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah