SUAKA - Makan Bersama

Raka, Arsa dan Varsha masuk melewati pintu belakang, mereka langsung naik ke lantai dua. Varsha mengambil tempat duduk di sebuah sofa ruang tamu. Sementara Raka mengurusi Arsa, seperti biasa, menyuruh bocah itu mengganti pakaian sekolah lalu mengobati luka memar di pipinya.

Dari lantai dua, Varsha bisa melihat para pengunjung yang berdatangan di kafe lantai satu. Seorang pelayan wanita tengah sibuk mondar-mandir mencatat pesanan dan mengantar makanan.

Pekerja di kafemu cuman berdua, ya?Varsha melirik Raka yang sibuk menyiapkan makanan di meja makan.

Iya, begitulah. Pengunjung juga tidak begitu ramai, tapi nanti aku tidak tahu, mungkin aku akan mencari pekerja lain. Untuk saat ini, kami masih bisa mengatasinya hanya dengan bertiga,” kata Raka. 

“Ayo makan. Aku sudah memasak sebelum menjemput kalian,” kata Raka.

Varsha berdiri dari tempat duduknya dan menuju meja makan. “Hmm … ternyata selain menjadi seorang ayah tunggal, kau pandai memasak juga, ya,” kata Varsha menarik kursinya hendak duduk.

Raka tersenyum,

“Arsa,” panggil Raka.

Lalu bocah itu keluar dari kamarnya dengan pakaian bermain sambil membawa pistol mainannya. Di meja makan sudah tersaji beberapa menu makanan yang kelihatan lezat. Setiap orang yang melihat pasti ingin langsung melahap. Ada ikan dengan bumbu kuning dan saus kacang, juga ikan goreng, kuah sayur dan menu lainnya.

“Aku tidak tahu apakah ini sesuai dengan seleramu, tapi kuharap kau menikmatinya dengan lahap,” kata Raka yang menyedukkan nasi ke piring Varsha.

Mereka menikmati makan siang yang menyenangkan, sesekali Raka menyuruh Varsha agar menambah nasinya, Varsha hanya tersenyum dan sesekali mengangguk.

“Aku sudah begitu kenyang, kau tidak lihat aku hampir menghabiskan ikan dengan saus kacang ini?” kata Varsha melirik piringnya yang berisi tulang-tulang ikan.

Arsa tertawa, “Ibu guru suka dengan masakan ayah? Ayah pandai memasak, aku saja setiap kali makan selalu nambah nasi.”

 

“Bagus. Biar Arsa sehat, kalau sehat, kan bisa main dan hidupnya bahagia,” kata Varsha, Arsa kecil hanya mengangguk-angguk.

Setelah mereka selesai makan, Arsa menuju kamarnya dan bermain. Sebenarnya dia sangat ingin bermain dengan Varsha, tapi tidak diijinkan oleh ayahnya.

“Ada yang mau ayah bicarakan dengan ibu Varsha. Arsa di dalam kamar aja, ya,” kata Raka.

Mau tidak mau Arsa mengalah dan langsung meninggalkan mereka berdua.

***

“Sejak umur berapa Arsa kehilangan ibunya?” tanya Varsha hati-hati saat Raka memberikannya jus jeruk yang sudah dibuat di dapur. Varsha khawatir menanyakan hal itu, dia takut akan menguak masa lalu Raka dan membuat lelaki itu sedih, tapi bagaimanapun juga, Varsha wajib tahu karena dia adalah wali kelas Arsa agar tidak terjadi lagi pertengkaran seperti sebelumnya.

Raka mengambil duduk di sebelahnya, lelaki itu menghela panjang. Kelihatan berpikir.

“Tiga bulan setelah kelahiran Arsa,” katanya. “Saat itu, aku tidak sedang berada di rumah. Aku berada di daerah perbatasan menjalankan misi pengepungan pembunuhan berantai,” cerita Raka mengalir. “Siang hari, padahal misi belum selesai dan kami sedang istirahat, ibu mertuaku menelepon dari rumah ke pangkalan militer. Aku tahu Meera menyimpan nomor telepon pangkalan militer kami, dan dari sana aku mendapat kabar bahwa dia meninggal akibat tabrak lari,” kata Raka, “Lalu aku,” Raka diam sejenak, menatap kosong ke arah kafe. “Aku langsung memutuskan untuk keluar dari militer.”

“Bagaimana kau memberitahu Arsa kalau ibunya meninggal?”

“Sulit untuk memberitahunya. Sulit untuk membuat ia mengerti kalau dirinya hanya memiliki seorang ayah tanpa seorang ibu. Apalagi dia masih kecil, yah, dari pada dia tidak tahu apa-apa, akhirnya aku memutuskan memberitahunya ketika ia berumur enam tahun, aku mengajaknya mengunjungi makam Meera. Dan saat kami berkunjung, dia menangis.” Raka mengusap peluh di keningnya. Menceritakan masa lalu rasanya sangat berat baginya.

“Pasti sangat berat ya, mengurus anak sendirian di umur yang seperti itu?” kata Varsha, mengingat kalau Raka adalah seorang mantan militer yang tentu saja tidak mempunyai pengalaman apapun untuk mengurus anak.

“Awalnya iya. Tapi lama-kelamaan setiap hari bersama anak itu, aku jadi terbiasa. Hahaha, walau kadang tiap malam saat Raka sakit, aku harus menjemput ibu mertuaku dan menyuruhnya menginap di rumah,” kata Raka terkekeh.

“Baiklah, terima kasih atas ceritamu. Oh iya, sepertinya aku harus pulang ke rumah, dan terima kasih atas makan siangnya,” kata Varsha.

Raka mengantarnya lewat pintu belakang, mengawasi Varsha hingga wanita itu sampai di depan pagar rumahnya. Raka melambai dan wanita itu membalas lambaiannya.

***

Sudah tiga jam lebih Rauly Wara duduk di teras depan rumah itu. Dia tengah menunggui saudari perempuannya yang tak kunjung datang.

Ke mana dia? Batinnya.

Wajahnya tampak berkerut kesal. Apalagi dia sudah menghubungi saudarinya beberapa kali, tapi saudari perempuannya itu tak juga mengangkat telepon. Dia lega ketika melihat saudarinya itu sudah berada di depan gerbang dan tengah melambai pada seseorang.

Rauly Wara melayangkan pandangan pada sosok laki-laki yang berada di rumah sebelah, yang diduga adalah kenalan adiknya. Sejak kapan adiknya berkenalan dengan seorang laki-laki? Apakah dia sudah berhenti trauma pada masa lalunya? Memang, di lingkungan yang seperti ini, para tetangga harus saling bisa menjaga hubungan.

“Kakak sudah lama, ya?” wanita itu terkekeh mendekat, apabila adiknya itu memperhatikan kekesalan pada wajahnya, wanita itu tidak akan berani terkekeh begitu lama di depannya.

“Sudah tiga jam,” dan untungnya adiknya kelihatan baik-baik saja.

Varsha membukakan pintu untuknya, sementara Wara mengekor di belakang.

“Siapa laki-laki itu? Ku kira kau masih menjaga jarak dengan laki-laki lain akibat mantan suamimu itu.” Wara menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.

“Dia adalah tetangga sekaligus ayah muridku. Barusan mereka mengundangku makan di rumahnya, mau minum apa?”

“Oh, begitu? Kau masih punya lemon? Buatkan jus untukku,kata Wara, “Dia pemilik kafe yang ada di pinggir jalan itu, ya?” tambahnya.

“Iya.

Hening selama beberapa menit, lalu Wara mulai angkat bicara sekembali Varsha dari dapur dan membawakan jus lemonnya.

“Ibu mau bertemu denganmu,” katanya.

Wanita itu menghela panjang. “Kakak tidak bilang di mana aku tinggal,kan?”

“Tentu saja, tidak.”

“Terima kasih.”

Bukannya Varsha tidak mengijinkan ibunya agar datang menemuinya, tapi dia takut kalau ibunya akan memberitahu mantan suaminya di mana ia tinggal. Dan pastinya, mantan suaminya itu akan mencarinya, dia tidak mau lagi bertemu dengan mantan suaminya itu.

“Kapan kakak akan menikah? Mungkin kalau kakak sudah menikah, ibu tidak akan memaksa lagi untuk bertemu denganku,” kata Varsha.

“Hei, jangan ungkit soal pernikahan. Ini hanya masalah kangen antar keluarga. Kau tidak merindukan ibu? Padahal dia sangat ingin bertemu denganmu, temuilah ia sekali saja!” suara Wara sedikit meninggi. “Kalaupun ibu bertanya soal di mana kau tinggal, kau tidak perlu memberitahunya. Kau hanya bertemu dan menenangkan hatinya saja, ayah juga ... ingin bertemu denganmu,” tambah Wara.

Varsha menoleh pada saudara laki-lakinya itu. Dia tahu bahwa hubungan antara Wara dan ayahnya sejak dulu tidak pernah baik, mereka selalu bertengkar dan membuat ibunya sering menangis. Apalagi saat ini Wara yang belum juga mau melepas masa lajangnya, pasti ayahnya semakin membenci Wara. Saudara laki-lakinya itu hanya memikirkan soal pekerjaan-pekerjaan saja, padahal ayah dan ibunya sudah ingin mendapatkan cucu darinya.  

“Nanti sore, aku janji. Aku akan bertemu dengan ayah dan ibu,” desah Varsha pelan, seolah dia memang tidak pernah menginginkan pertemuan itu sama sekali.

Wara mengangkat kepalanya dari jus lemon dan memandangi adik perempuannya itu. Wajahnya amat sendu, sampai sekarang Wara tidak tahu apa yang menyebabkan Varsha belum mau menemui kedua orang tuanya setelah perceraian itu Padahal. Varsha tidak tahu bahwa ibunya sangat mengkawatirkan dan merindukannya.

“Kalau kau setengah hati sebaiknya jangan. Itu hanya akan menyakiti hati kedua orang tua kita. Temuilah mereka saat kau benar-benar baik-baik saja dan dalam keadaan bahagia, aku pergi,” pamit Wara.

Tapi sebelum lelaki itu sampai di pintu utama rumahnya, Varsha langsung mengatakan, “Aku ingin bertemu dengan mereka nanti sore. Jadi kau harus menjemputku, Kak!” katanya yang langsung diikuti oleh semburat samar di raut wajah Wara. Kemudian lelaki itu langsung keluar dari rumahnya tanpa mengatakan apapun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah