SUAKA - Memancing

Aku mendapatkannya. Ayah, ayah, aku mendapatkannya,teriak Arsa. Dia menarik pancingnya yang sejak tadi bergerak-gerak, sepertinya umpan yang dipasang dimakan oleh ikan.

Hari minggu ini mereka Arsa dan ayahnyamemutuskan untuk memancing di Muara Aneka Ikan, nama salah satu kolam pancing umum. Semalam ayah dan anak itu memutuskan untuk pergi memancing bersama. Jadi hari ini Raka terpaksa menutup kafe, meliburkan Fazwan dan Laila. Sebenarnya Raka sudah mengajak Fazwan ikut, tapi laki-laki itu mengatakan kalau dia sudah ada janji dengan seseorang. Raka sudah menebak siapa yang dimaksud oleh sahabatnya itu, siapa lagi kalau bukan Lainla Anjani.

Raka dan Arsa berteriak, horee saat pancing mereka sudah naik ke permukaan. Seekor ikan yang menggelepar-lepar di udara, membuat tali pancing ikut bergerak. Raka langsung mengambil ikan itu dan memasukkannya ke dalam ember yang berisi air.  

Ayah, aku mau lagi. Pasangkan umpan untukku,rengek Arsa tidak sabaran.

Sebentar, sebentar,sahut Raka memilihkan umpan yang lebih besar dari sebelumnya.

Setelah memasang umpan, Arsa dan Raka menunggu pancing di pinggir kolam. Berharap agar umpan mereka dimakan oleh ikan. Arsa mendekati ember yang berisi ikan sambil sesekali memasukkan tangan ke dalamnya, tangannya mengejar ikan yang berenang. Dia tertawa saat satu-dua ekor melompat di depannya. Dia menyukai ikan hasil tangkapannya.

Ayah, kenapa kita tidak memelihara ikan-ikan ini saja?kata Arsa saat Raka memasukkan ikan yang baru saja di dapatkan ke dalam ember.

Memangnya kau tidak mau memakannya? Bukankah ikan-ikan ini kelihatan lezat kalau digoreng atau dibakar?kata Raka menarik sudut bibir saat melihat anaknya memonyongkan bibirnya, kesal. Dia memasang umpan dan melempar pancingnya ke kolam.

Kalau paman Fazwan ikut, kita bisa makan ini bersama-sama, semuanya, kata Arsa.

Arsa duduk di salah satu kursi panjang yang ada di pinggir kolam. Memperhatikan piring kecil yang berisi cacing-cacing sebagai umpan. Ah, bagaimana kalau kita memberikan sebagian hasil tangkapan pada Ibu Varsha juga?katanya lagi.

Arsa menarik kedua sudut bibirnya dan menggerakkan kedua alisnya, membuat bocah itu kelihatan lucu.

Sebelum itu, kau harus memeriksa apakah dia ada di rumah atau tidak,kata ayahnya dan kembali fokus pada pancingnya.

Siapp!seru Arsa dan bermain lagi dengan ikan-ikan hasil tangkapannya.

Ayah dan anak itu menikmati hari libur mereka. Setelah hari sudah siang, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah. Rupanya, di kafe mereka sudah ada Fazwan yang memiliki kunci cadangan sehingga lelaki itu bebas keluar masuk begitu saja. Padahal Raka sudah meliburkan pegawainya hari ini, tapi rupanya Fazwan mendapatkan pelanggan lagi. Tak usah ditanya siapa pelanggan mereka yang datang, Raka langsung menyuruh Arsa naik ke rumahnya, sementara Raka menghampiri Fazwan dan kedua orang yang tak pernah libur mengunjungi kafenya itu.

Karena tempatmu ini sangat nyaman, kata Ishan sambil menikmati teh rosalienya.

Raka menoleh pada Fazwan yang memasang wajah tertekuk mendampingi kedua orang dari kemiliteran itu. Sepertinya mereka sudah mendapatkan nomor ponsel milik Fazwan. Tidak susah bagi orang-orang seperti mereka melacak penduduk biasa, apalagi hanya sebuah kontak, alamat dan sebagainya. Raka duduk di samping lelaki bertubuh ramping dengan garis wajah tenang. Izul Danadyaksa, bawahan Letnan yang tidak banyak bicara dan jarang tersenyum.

Hari ini kami tidak melayani pengunjung. Setelah teh anda habis silahkan pergi!

Wah, Kapten. Kenapa galak sekali? Padahal kami ingin berlama-lama di sini.

Hari ini kami tidak menerima pelanggan,kata Raka.

Ishan dan Izul saling tatap, Ah, begitukah? Baiklah, kami akan segera pergi. Tapi, Caraka Kencana, sebelum kami pergi, pikirkan baik-baik untuk kembali,tegas Ishan sembari menaruh kembali gelasnya di atas meja. Sang Letnan menghadapkan tubuhnya tegap ke arah Raka.

Kau tidak tahu bagaimana gilanya bawahanmu karena dipimpin oleh kapten baru yang tidak becus. Empat bulan yang lalu, mereka ditugaskan mengawasi laut di bagian timur dari para perompak yang sering mengganggu nelayan dan kapal yang lewat, mereka diserang, dua dari mereka meninggal, juga lima yang luka-luka. Lalu mereka ditarik kembali. Setelah ketidakbecusannya, kapten mereka yang baru itu minta untuk di pindahkan ke misi lain,kata Ishan “Katanya, kapten baru ini naik karena ikut campur orang-orang atas.Ishan terdengar setengah berbisik.

Raka dan Fazwan saling tatap satu sama lain, lalu menoleh kembali pada sang Letnan.

Kalian berdua kembalilah, kapten dan wakil kapten!pinta Ishan.

Raka melirik ke arah undakan tangga, di sana, dia melihat Arsa duduk memeluk tiang tangga sambil memperhatikan mereka. Aku harus mengurus anakku, dan maaf karena  itu bukan urusan kami lagi,kata Raka lalu meninggalkan ketiga orang itu.

Pelan-pelan Raka menaiki tangga dan meenggendong anaknya naik, namun tatapan Arsa tidak lepas dari dua orang baru itu. Tidak. Bukan hanya orang baru, dia beberapa kali datang lalu satu yang lain baru dilihatnya.

Apa yang ayah bicarakan dengan orang-orang aneh itu?

Siapa?

Yang sedang bersama paman Fazwan.

Tidak apa-apa. Mereka hanya pelanggan kita. Kau pasti lelah ya? Mau mandi?

Arsa mengangguk.

Lalu Raka menunggui anaknya mandi di kamar. Raka menoleh saat suara pintu kamar diketuk, rupanya Fazwan. Lelaki itu menghampiri.

Mereka tidak akan berhenti kalau kita tidak mengikuti kemauan mereka,kata Fazwan duduk di samping Raka.

Mereka menghubungimu lalu kau membiarkan mereka datang ke kafe kita,Raka setengah menahan marah.

Izul menghubungiku. Dia mengancam akan mengebom rumahku saat aku tidur.

Izul, si brengsek itu. Tapi dia tidak akan berani membunuhmu. Tinggallah di rumahku, Arsa akan sangat senang kalau kau ada di sini. Kemas barang-barangmu, dan pindahlah ke sini!suruh Raka.

Ternyata Arsa mendengar obrolan mereka. Bocah berumur delapan tahun itu keluar dengan wajah gembira tanpa menggunakan handuk dan langsung menghambur pada Fazwan.

 “Yeay, Paman Fazwan akan tinggal di sini! Hore! Paman Fazwan akan tinggal di sini!teriaknya.

Raka dan Fazwan hanya tertawa melihat tingkah bocah itu.

Kadang Raka berpikir bahwa anaknya itu lebih menyayangi Fazwan dari pada dirinya. Karena Arsa lebih suka bermain bersama Fazwan, apalagi Arsa sangat bahagia setiap kali melihat Fazwan. Raka mencoba menghilangkan pikiran ragu itu, dengan berpikir, bahwa anaknya tetap darah dagingnya. Sementara Fazwan adalah orang lain atau salah satu dari segelintir orang yang dikagumi oleh Arsa. Rasa kecintaan anaknya tidak akan pernah lepas terhadap dirinya, karena Arsa adalah darah dagingnya sendiri.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah