SUAKA - Mimpi

Sekembali Varsha dari rumah orang tuanya, wanita itu langsung menata bahan-bahan makanan yang dibungkuskan oleh ibunya di dapur. Padahal dia sudah menolak dengan halus agar tidak membawa apa-apa, tapi ibunya memaksa. Dan Wara yang seharusnya juga membantunya saat menghadapi sang ibu hanya mengatakan, “Sudah, tidak apa-apa. Bawa saja, kau bisa membaginya dengan tetanggamu.”

Wara tidak tahu bagaimana kedekatan antara dirinya dengan tetangganya itu, sementara ibunya terus membungkuskan bahan makanan untuknya.

Wara sudah pulang beberapa menit yang lalu. Setelah dia selesai membereskan semuanya, Varsha duduk di kursi dapur. Untung saja Varsha masih memiliki uang deposit di bank, sehingga dia bisa membeli rumah sendiri. Uang itu juga hasil jerih payahnya. Memang, mantan suaminya yang seorang detektif selalu memberikannya uang bulanan, tapi baginya tidak cukup. Yang namanya wanita pasti punya kebutuhan yang banyak,kan.

Suara bel dari luar mengagetkannya. “Siapa yang malam-malam datang ke rumah?” gumamnya. varsha segera menuju pintu utama dengan tetap awas dan antisipasi. Alih-alih setelah dari rumah orang tuanya, mantan suaminya tiba-tiba mengetahui alamatnya dan langsung datang menghampirinya.

“Ah  Avanti.”

Wanita dengan wajah bulat dan rambut bergelombang itu masuk begitu saja. Avanti melempar tas kecilnya di sofa dan duduk di sana.

 “Tadi aku datang mengunjungimu tapi kau tidak ada di rumah,” katanya, wajahnya tampak kusut.

Varsha menebak temannya pasti sedang ada masalah. Wanita yang mirip model itu berbaring dan menaikkan kakinya di atas bahu sofa.

“Aku putus dengan pacarku,” kata Avanti tiba-tiba.

Varsha pergi ke dapur hendak membuatkannya minuman.

“Tidak usah,” kata Avanti. “Aku tadi mampir di kafe sebelah rumahmu,” katanya lagi.

“Memangnya masih buka?” Setahunya di jam segini, kafe itu sudah tutup dan tidak menerima pelanggan lagi.

“Iya. Aku bilang menunggu temanku. Pemiliknya sangat baik sekali, kau pernah menyapa tetanggamu?” Avanti melirik sekilas ke arahnya.

Varsha mengangguk. “Anaknya adalah salah satu muridku,” katanya.

“Wah. Aku tadi juga melihat anak kecil, Pak Pemilik dan seorang pelayan.” kata Avanti. “Ah, mengenai pacarku,” katanya teringat kembali dengan tujuan utamanya menemui Varsha. “Dia punya wanita lain,” katanya singkat. “Laki-laki itu semuanya berengsek. Tidak mantan suamimu, tidak pacarku, mereka benar-benar tidak menghargai wanita,” tambahnya frustrasi.

Hubungan Varsha dan suaminya kandas bukan karena adanya orang ketiga. Hanya saja, semenjak mereka kehilangan anak di dalam kandungan Varsha, Cakra, sang suami sudah tidak menaruh perhatian dan kasih sayang lagi pada Varsha. Seolah, laki-laki itu berusaha menghindarinya. Mantan suaminya hanya memikirkan kerja, kerja dan kerja. Kalaupun pulang dari kantor, lelaki itu hanya bisa marah-marah terus pada Varsha. Sifat egois itulah yang membuat Varsha tidak bisa lagi mempertahankan hubungan rumah tangganya.

Sha, bolehkah aku menginap untuk malam ini saja? Sekali ini, ya … ku mohon. Aku malas pulang ke rumah,” rengek Avanti.

Varsha menggangguk.

Seketika Avanti ingat kalau mobilnya masih berada di tempat parkir kafe eaudaemonia. Kalau dipikir-pikir, lahan parkiran di rumah Varsha kosong. Untuk itu, kedua wanita itu pergi ke rumah Pak Pemilik kafe.

***

Raka, Arsa juga Fazwan berdiri memperhatikan dua orang wanita yang malam-malam bertamu ke rumahnya. Dua wanita itu tersenyum tipis, satu orang dengan wajah bulat khas Asia melambai seperti orang bodoh, tapi teman yang ada di sebalahnya langsung memukul bahunya yang kecil.

“Masuklah!” suruh Raka pada keduanya.

Arsa dan Fazwan melipir di dekat pintu, membiarkan kedua wanita itu masuk mengikuti Raka. Arsa dan Fazwan saling tatap, lalu Fazwan mengendikkan bahu kemudian diikuti Arsa.

“Bukankah itu wali kelasmu?” tanya Fazwan.

Arsa mengangguk polos. Lalu Arsa mendahului Fazwan menuju ruang tamu menemui dua orang tamu yang tengah bersama ayahnya.

“Seharusnya kami tidak usah masuk ke dalam, kami hanya ... ayo, kau yang bicara!” Avanti mencubit lengan Varsha hingga wanita itu meringis pelan. Padahal yang punya urusan siapa dan yang minta tolong siapa? Varsha hanya menggeleng, sementara Avanti tersenyum kikuk sambil memohon padanya.

Raka hanya diam dan memperhatikan kedua wanita itu, “Kalian mau minum apa?” katanya akhirnya.

“Tidak perlu,” Varsha angkat bicara. “Temanku mau menginap di rumahku.”

Memangnya kenapa kalau temannya itu mau menginap di rumahnya. Semua orang terdiam, menunggu Varsha melanjutkan kalimatnya. “Tadi dia mampir di kafe ini dan mobilnya masih di parkir di halaman depan.”

“Oh ... iya, aku menunggu seseorang mengambil mobil itu--”

“Begini,” potong Varsha, “Bolehkah mobil itu parkir untuk malam ini saja?” tanya Varsha “Aku tidak punya lahan tempat parkir di rumah. Jadi kami rasa, halaman rumahmu cukup luas dan aman,” tambahnya.

“Tidak apa, silahkan,” sahut Raka.

Lalu kedua wanita itu pun pamit, sesaat di pintu Varsha berujar, “Maaf mengganggu waktu istirahat kalian.”

Dia mengejar Avanti yang sudah mendahuluinya. Varsha baru saja teringat pesan Wara, kenapa tadi tidak sekalian saja membawa bahan makanan dari ibunya, ya? Varsha lupa.

***

Wajahnya begitu dekat dengan Styer SSG 69, matanya tampak awas ke sekeliling. Sesekali dia berbalik, alih-alih musuh mulai mendekat. Langit malam begitu terang oleh bulan yang besar. Musuh bisa saja muncul dari mana saja, rumput-rumput ilalang yang tinggi sampai pinggang tertiup angin. Mereka berlima, dua orang penembak jitu dan wakil kapten berada dalam radius tiga meter di atas mobil tank.

Kaki-kaki mereka berjalan di tengah-tengah rumput yang tinggi, suara tembakan empat kali terdengar, Si Kapten memasang aba-aba untuk tiarap di antara rumput-rumput yang tinggi. Dia menengok ke belakang, mengecek apakah seluruh anggotanya mengikuti aba-abanya atau tidak.

“Tiba-tiba ada serangan,” katanya pada walky talky, dia tengah berbicara pada wakil kapten yang tengah berjaga di mobil tank mereka. “Awasi sekitar, musuh bisa saja mendekat,” tambahnya.

“Siap, Kapten.” Suara dari wakil kapten yang keluar dari walky talky. Si Kapten kembali memasukkan walky talkynya ke dalam seragam dan memerintahkan anggotanya bergerak.

Mereka perlahan merayap seperti ular di tanah, suara tembakan kembali terdengar hampir sepuluh kali, tidak ada gerakan. Semuanya awas dan diam. Setelah tembakan berhenti, mereka kembali bergerak lagi. Lelaki itu membagi anggotanya jadi dua grub, mereka sembunyi di balik pohon-pohon besar, juga di samping gubuk kecil yang berada di tengah-tengah padang rumput itu. Untung saja tempat itu gelap, jadi keempat orang yang sedang berjaga di depan pintu gubuk tidak sadar saat mereka lewat. Di dalam sudah pasti ada musuh bersenjata. Tidak salah lagi, empat orang itulah yang membunyikan tembakan berkali-kali.

Si Kapten dan dua orang anggotanya menarik tiga orang penjaga ke samping gubuk dan mematahkan lehernya, sementara anggotanya yang lain menembak satu penjaga yang keheranan karena ketiga temannya menghilang. Sepertinya orang-orang yang ada di dalam gubuk tidak akan tahu kalau itu suara tembakan mereka.

Kapten memberi aba-aba pada anggotanya agar mengikutinya masuk, sementara dua anggota lainnya tetap berjaga di luar. Mereka bersembunyi di beberapa tempat yang tidak terlihat oleh musuh. Di sana, ada seorang laki-laki tawanan babak belur yang tengah diikat dan disumpal mulutnya. Ada empat orang bersenjata dengan wajah sangar di sebelah kiri, dua orang lainnya dengan wajah sangar berdiri di sebelah kanan. Selain itu, dua orang berjas duduk saling berhadapan di bawah lampu yang meremang.

“Apa yang menghalangi bosmu untuk menemuiku? Bukankah aku sudah membawakan orang penting untuknya? Anak buahku bersusah payah menangkap lelaki ini. Rasanya aku tidak dihargai sama sekali,” katanya dengan aksen Inggris sambil memukul meja. Dua orang yang sepertinya adalah anak buahnya yang tampak sangar melipat tangan di bawah dada.

“Kami harus memastikan apakah lelaki itu yang memegang chip itu atau tidak,” lelaki yang duduk di hadapannya masih tampak tenang.

“Kalian tidak percaya dengan anak buahku? Kami sudah mengirim mata-mata... oh atau kalian ingin membatalkan kerjasama kita yang sebelumnya? Kalau begitu--” belum saja lelaki blonde itu menyelesaikan kalimatnya, suara tembakan terdengar.

Rupanya dari pihak laki-laki berambut hitam yang tenang itu menembakkan peluru pada anak buah si lelaki blonde. “What are you doing?” teriaknya kesal sekaligus gemetar.

“Bos menyuruhku melakukan apapun yang kuinginkan. Aku bisa saja membunuh Haul Montana malam ini, tapi aku tidak mau membiarkan Stacey-ku yang malang menangis semalaman karena tahu ayahnya meninggal di sebuah gubuk reyot seperti ini.”

“Sialan. Apa yang kau lakukan pada anakku?”

Lelaki berambut blonde itu menarik jas lelaki berambut hitam, hingga wajah mereka saling berdekatan dan tatapan mereka intens penuh kebencian.

“Ayah yang baik--”

***

Dari kegelapan suara tembakan terdengar. Si Kapten dan dua orang anggotanya menyerang berkali-kali, hingga berhasil membunuh lima orang anak buah mereka. Sementara kedua orang penting itu kelihatan frustasi dan bingung, mereka segera ingin kabur. Si rambut hitam mengambil tembakan dan balas menembak ke arah persembunyian mereka yang gelap, hingga satu peluru mengenai bahu salah satu anggota mereka. Dua orang anggota lainnya masuk lagi dan menembak lelaki berambut hitam.

Sementara lelaki blonde bersembunyi di bawah meja ketakutan. Peluru lelaki berambut hitam habis. Kapten muncul dan menyerang lelaki berambut hitam hingga terpental mengenai gerobak yang penuh gerabah. Lelaki berambut hitam keluar dari kumpulan gerabah, lalu mengeluarkan pisau dan menyerang kapten.

***

Wajahnya kelelahan, nafasnya tidak beraturan. Dia baru saja bermimpi, sudah sepuluh tahun berlalu, tapi kehidupan lamanya masih saja terbayang-bayang di dalam mimpinya. Dia sudah berusaha dengan baik, sudah menjadi keputusannya untuk meninggalkan kehidupan lamanya yang sangat dikagumi oleh mendiang orang yang dicintainya. Alarm yang ada di atas nakasnya berbunyi, di sampingnya ada seorang bocah kecil yang masih tertidur pulas.

Dia membiarkan lampu mati, mengambil bingkai foto istrinya yang sedang menggendong seorang bayi. Sementara dia tengah berada di belakang orang yang dicintainya itu. Mereka berfoto saat dua minggu kelahiran anaknya. Itu adalah bingkai foto keluarga bahagia  mereka. Dia menunduk dan menangis sendirian, menutup wajah dengan tangan kirinya. Dia tersedu-sedu.

Tiba-tiba sebuah tangan kecil menyentuh bahunya, lalu dia mengangkat kepala. Dan sebuah tangan memeluk tubuhnya yang kekar. Dia menaruh bingkai foto keluarganya dan balas memeluk tubuh kecil itu.

“Ayah membangunkanmu, ya?” tanyanya.

Anak kecil itu menggeleng.

“Tidur lagi. Nanti ayah bangunkan.”

“Aku mau bertemu Ibu.”

Hatinya semakin pedih dikala bocah kecil itu tiba-tiba saja menangis karena merindukan ibunya. Begitupun dirinya yang tengah merindukan wanita yang dicintainya. Ayah dan anak itu menangis di kegelapan malam. Dari balik pintu, seseorang hanya menghela panjang, hanya merasa iba dan kembali ke kamarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah